Anda disini : Home » Reformed Theology » Injil Lukas » Titik awal pemulihan Kerajaan Allah
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Titik awal pemulihan Kerajaan Allah

Pdt. Jimmy Pardede

(Lukas 24: 30-35)
Kita sangat bersyukur karena melihat bagaimana Injil Lukas memberikan kisah mengenai Kristus. Mulai dari awal pelayananNya hingga waktu Dia sudah bangkit. Dan kalau Saudara melihat kisah perjalanan Kristus, selalu ada penyertaan dari crowd, orang banyak. Setiap kali ada orang banyak menyertai pelayanan Kristus sejak awal. Dari awal Dia melayani, Dia sudah memberikan begitu banyak khotbah, tanda-tanda dan begitu banyak hal yang membuat banyak orang tertarik untuk datang kepada Dia. Maka Saudara akan melihat ada sesuatu yang sangat beda, pada waktu Dia memulai pelayananNya, crowd, orang banyak semua ikut. Ketika Dia bangkit dan menyatakan diri, hanya sekelompok kecil orang yang mengenal Dia dengan sangat dekat, yang ikut. Sebelum ada ribuan orang ikut Dia, sesudahnya menurut kesaksian Paulus, paling banyak hanya sekitar 500an. Jadi ada perbedaan yang sangat besar Kristus melayani sebelum mati dan setelah Kristus bangkit. Mengapa hal ini terjadi, mengapa setelah Kristus bangkit Dia menyatakan diri kepada sedikit orang? Tanda Dia menyatakan diri senantiasa berkait dengan satu tema yaitu makan bersama. Lukas mencatat peristiwa makan bersama, Yohanes juga mencatat peristiwa makan bersama. Bahkan Lukas mencatatnya dua kali, Yohanes mencatatnya dalam satu peristiwa, ketika murid-murid sedang memancing ikan dan tidak mendapat, Yesus menyuruh mereka unutk melemparkan jala ke tempat lain. Setelah mereka mendapatkan banyak ikan, mereka baru sadar bahwa yang menyuruh mereka adalah Yesus. Setelah itu Yesus pun mengajak mereka makan bersama dan mengajak bicara personal kepada Petrus. Demikian juga dalam Injil Lukas ada peristiwa makan bersama dengan dua orang, hanya bertiga. Dua orang murid yang mau pergi ke Emaus, lalu mereka dan Yesus makan bersama, tapi mereka belum mengenal Yesus. Yesus berkhotbah kepada mereka dan mata mereka belum terbuka. Yesus menyatakan kebenaran firman kepada mereka dan mata mereka belum terbuka. Namun di ayat yang kita baca hari ini, dikatakan bahwa setelah Yesus memecah-mecahkan roti, baru mata mereka terbuka.

Apa yang Injil mau sampaikan, mengapa memecah-mecahkan roti begitu penting? Memecah-mecahkan roti merupakan satu perbuatan yang kita terus lakukan di dalam tradisi gereja melalui Perjamuan Kudus. Tetapi kita seringkali lupa betapa pentingnya Perjamuan Kudus itu. Kita mungkin tidak secara khusus mempersiapkan diri karena kita terbiasa mengikutinya. Bahkan kita tidak mengerti apa pentingnya roti kecil dan anggur masuk ke dalam tubuh kita. Kita hanya melihat ini sebagai upacara yang berulang dilakukan, dan kita mau memberikan makna tapi kita tidak tahu makna apa yang bisa diberikan. Namun Injil Lukas memberikan posisi sangat penting di dalam perjamuan, karena murid-murid terbuka matanya dan mengenal Yesus di dalam perjamuan, bukan waktu Yesus khotbah. Saya tidak mengatakan khotbah tidak penting, namun Lukas sedang mengatakan betapa pentingnya perjamuan itu, sehingga waktu Yesus memimpin perjamuan, baru murid-murid sadar inilah Yesus. Sebelumnya mata mereka seperti tertutup dan seperti ada sesuatu yang menghalangi mereka untuk mengenal Yesus. Setelah Yesus memecah-mecah roti, mereka mengenal Dia. Berarti kita mesti selidiki apa makna memecah-mecahkan roti, apa makna makan bersama di dalam tradisi Yahudi. Saya beberapa kali sudah membahas bagian ini, makan bersama sering diidentikan dengan perjamuan akhir. Waktu Tuhan datang, Dia akan mengundang kita ke dalam sebuah perjamuan yang indah. Makan bersama juga menyatakan bahwa ada ketenangan, setelah satu hari bekerja, saat makan merupakan saat khusus untuk bersekutu dalam pengertian orang Yahudi. Saat makan bukan hanya saat ketika kita mengisi kembali tenaga yang sudah hilang. Kita ada di dalam zaman yang sangat ingin efisien, apa gunanya makan? Makan itu untuk penuhi kembali energi, makan itu untuk hilangkan rasa lapar. Mengapa kita makan? Kita makan karena kita ingin mempunyai perasaan kenyang, kita ingin sehat, kita ingin kuat, maka kita makan. Itu sebabnya restoran yang bernama makana cepat saji menjadi restoran yang ada di mana-mana karena ini yang paling efisien, beli sedikit, kunyah beberapa detika dan kita sudah kenyang. Kalau belum kenyang, beli lagi dan makan lagi, hanya perlu beberapa menit untuk menjadi gemuk. Ini yang ditawarkan. Jadi Saudara akan melihat makan adalah sesuatu yang bernilai fungsi, tetapi yang tidak memunyai makna teologis dan tidak memunyai makna fellowship, tidak memunyai makna persekutuan dan tidak ada makna pengharapan di dalam tradisi makan zaman modern. Jadi sangat beda pengertian antara zaman ini dan zaman dulu. Itu sebabnya ketika Kitab Suci pakai gambaran makan bersama, kita sulit tangkap apa pentingnya makan bersama. Ini bahayanya kalau kita membaca Alkitab dan mendekatinya hanya berdasarkan budaya yang kita tahu saja. Kekristenan melatih kita untuk menghargai setiap budaya. Setiap budaya punya keunikan, keunggulan, dan keindahannya masing-masing. Tetapi setiap budaya setiap zaman tidak boleh dimutlakan. Zaman Alkitab tidak boleh dimutlakan, kalau Saudara memutlakan zaman Alkitab berarti kemana-mana Saudara harus jalan kaki, boleh bawa keledai untuk taruh koper Saudara. Saudara boleh singkirkan mobil Saudara karena itu tidak alkitabiah. Tentu kita tidak akan mengatakan demikian. Berbicara tentang teknologi, zaman sekarang jauh lebih baik dari pada zaman Alkitab. Berbicara soal obat, zaman sekarang jauh lebih baik dibandingkan zaman Alkitab, dengan tidak menyertakan mujizat Yesus dan para murid. Kalau itu disertakan, masih agak mending zaman itu. Zaman sekarang kalau Saudara sakit, pergi ke rumah sakit. Kalau zaman dulu mereka sakit dan panggil Petrus. Maka kita kecualikan mujizat, para murid dan Yesus, jadi zaman sekarang lebih baik dari pada zaman abad kesatu. Tapi kalau Saudara mau membaca Alkitab, maka budaya abad kesatu harus dihargai. Bagaimana menghargainya? Dengan belajar sejarah. Saya sangat ingat hal pertama yang terkenang waktu dengar khotbah Pak Tong adalah ketika Pak Tong mengutip dari Hegel, “kesalahan paling besar manusia adalah manusia tidak mau belajar dari sejarah”, atau lebih akurat lagi “pengajaran paling besar dari sejarah adalah bahwa manusia tidak mau belajar dari sejarah, inilah pengajaran terbesar dari sejarah”, ini kutipan Pak Stephen Tong dari seorang bernama Hegel. Hegel membuka kelas yang berjudul filsafat sejarah dan di hari pertama dia langsung bicara ini. Orang tidak menganggap penting sejarah karena itu sudah kuno. Berbicara tentang teknologi, memang zaman itu sudah kuno. Tapi berbicara tentang keindahan, kebaikan dan gaya hidup tidak tentu yang dulu lebih jelek dari pada sekarang. Bahkan ada hal yang sekarang jauh lebih jelek dari pada zaman dulu. Kekristena melatih kita untuk menghargai setiap zaman di mana zaman Tuhan bekerja. Adakah zaman dimana Tuhan tidak bekerja? Tidak, setiap zaman ada pekerjaan Tuhan. Maka waktu Saudara renungkan abad berapa pun, Saudara akan melihat keunikan dari pekerjaan Tuhan. Begitu juga ketika kita mempelajari budaya, mempelajari ekspresi seni, mempelajari ekspresi teologi, mempelajari bergereja, begitu banyak perbedaan dan keragaman. Tapi kalau saya mau teliti satu zaman, saya tidak boleh campur-adukan dengan zaman lain. Demikian kalau saya mau mengerti Lukas, jangan terlalu banyak masukan zaman kita lalu baca Lukas dengan cara yang menganggap bahwa setiap kalimat, istilah dan pengajaran dari Lukas pasti dapat dimengerti dengan gambaran sekarang. Kalau Saudara memikirkan Yesus yang muncul, bertemu dengan murid-murid, murid-murid mengenal Yesus karena makan bersama, Saudara tidak mungkin bisa mendapatkan pengertian ini dari abad 20-21. Mengapa murid-murid bisa tercerahkan matanya waktu melihat Yesus memecahkan roti? Mengapa waktu Yesus memimpin perjamuan, murid-murid dapat melihat? Apa yang dilihat para murid? Mengapa perjamuan itu sangat penting? Bagi orang Ibrani, orang Israel abad pertama, perjamuan sangat penting karena ini menunjukan siapa orang milik umat Tuhan. Ada persekutuan d imana masing-masing merasa orang lain adalah bagian dari umat Tuhan. Ada kedekatan yang intim, ada sharing, bukan hanya sharing hidup, tapi sharing posisi bahwa kami sama-sama mengharapkan Kerajaan Tuhan jadi. Ini merupakan sesuatu yang tidak bisa ditemukan waktu orang Yahudi berbagi kehidupan dengan bangsa lain. Itu sebabnya mereka sangat ketat melaran orang Yahudi tidak boleh makan satu meja dengan bangsa lain. Makan satu meja dengan bangsa lain sangat jarang, sangat dilarang. Karena ini melambangkan persekutuan, melambangkan suatu keadaan dimana orang saling memperhatikan, saling menyatakan satu bagian di dalam Tuhan. Maka waktu orang mengadakan perjamuan dan makan bersama pada abad pertama, mereka sedang menyatakan “inilah saudaraku seiman, inilah orang-orang yang kukasihi dan mengasihi aku, inilah orang-orang yang bersama dengan aku menantikan kehadiran Tuhan ketika Tuhan akan memulihkan segala sesuatu”. Dan ini yang akan membuat orang-orang mengerti mengapa Perjamuan Kudus sangat penting. Karena Perjamuan Kudus adalah saat dimana kita bersama orang-orang yang kita kasihi menantikan Kerajaan Tuhan yang besar itu. Kita harus rindu Kerajaan Tuhan dinyatakan. Beberapa waktu yang lalu saya baca tulisan dari seorang bernama Janet Soskice, dia mengatakan satu kalimat yang sangat indah “kalau engkau mengharapkan Tuhan memperbaiki dunia ini, Tuhan menjadikan langit dan bumi yang baru, waktu kita melihat Kitab Suci kita akan melihat Tuhan melakukannya dengan cara yang sangat banyak, sangat detail dan sangat sehari-hari”. Tuhan tidak melakukan dengan cara yang besar saja, Tuhan juga melakukan dengan cara sehari-hari. Perubahan yang terjadi adalah perubahan pengharapan saat ini, karena perubahan yang nyata belum ada, Saudara belum melihat tubuh yang baru, Saudara nanti akan tetap mati. Saudara belum lihat bumi yang baru, belum melihat kerajaan yang adil itu. Saudara belum lihat kerajaan yang baik terjadi. Sekarang kita melihat republik yang ada lumayan baiknya, tapi juga ada lumayan tidak baiknya. Ada lumayan baiknya, pembangunan sudah sedikit berjalan. Ada lumayan tidak baiknya, yang menginteraksikan segala hal yang berkait dengan politik. Saudara akan tahu kerajaan yang sempurna belum di sini, kerajaan yang sempurna belum genap terjadi. Tapi kita juga tahu Tuhan akan kerjakan perbaikan itu dengan sempurna. Ini menjadi pengharapan kita. Setiap pengharapan akan dimulai dengan titik awal di mana kita mulai. Demikian juga dengan pengharapan para murid “kami mengharapkan kerajaan baru itu datang”, dan Yesus bangkit. Maka mereka perlu starting point dan Yesus memberikan kepada mereka starting point dengan cara yang tidak disangka sama sekali, karena baik di dalam Injil Lukas mau pun Yohanes salah satu titik awal Yesus menyatakan diri kepada para murid adalah lewat perjamuan.

Mengapa lewat perjamuan, mengapa lewat persekutuan makan Yesus menyatakan diri? Karena perjamuan adalah lambang kegenapan kerajaan tetapi juga adalah sesuatu yang sehari-hari kita jalani. Makan bersama adalah lambang genapnya kerajaan, besar sekali. Tapi makan bersama juga perwujudan keseharian. Kita tidak bisa mengerti besarnya perkataan Paulus ketika dia mengatakan “baik engkau makan atau pun minum, lakukan demi kemuliaan Tuhan”, kita cuma berpikir makan dan minum itu berkait dengan jajan. Tapi bagi Paulus, makan dan minum selalu punya makna eskatologis, baik engkau makan atau pun minum lakukan untuk kemuliaan Tuhan. Maksudnya adalah pengharapan kerajaan datang harus diwujudkan dalam keseharian. Saudara tidak bisa mengatakan “saya berharap Kerajaan Tuhan segera datang”, apa hal besar yang akan kamu kerjakan? Saudara boleh kerjakan hal besar, tapi yang Tuhan mau perintahkan adalah hidup sehari-hari kita menjadi hidup yang menantikan kerajaan itu datang. Hidup sehari-hari, bukan hidup yang luar biasa. Ada peristiwa-peristiwa penting seperti pernikahan yang hanya terjadi sekali, Saudara pasti tidak akan lupa kapan akan menikah. Tidak ada orang yang menunda atau mengganti tanggal pernikahan hanya gara-gara ada satu tamu yang tidak bisa datang. Itu merupakan sesuatu yang dinyatakan pada waktu khusus, spesial. Tapi makan bersama bisa terjadi 3 kali dalam sehari. Saudara bisa makan berkali-kali dalam sehari, itu bukan suatu hal yang besar, bukan sesuatu yang penting. Tetapi Kerajaan Allah justru berusaha mengeratkan apa yang besar dan agung itu dengan apa yang terjadi sehari-hari. Kerajaan Allah adalah tentang hal yang sangat besar tapi juga tentang hal yang sangat kecil. Sehingga ketika kita berfokus pada yang kecil kita lupa mengaitkan pada yang besar. Atau berfokus pada yang besar lupa mengaitkan pada yang kecil. Kita akan kehilangan pengharapan akan kerajaan itu. Kita mengharapkan yang besar “Tuhan, kerajaanMu akan segera datang, pertobatkan seluruh Indonesia. Saya mau dari Sabang sampai Merauke takut akan Tuhan”, tapi itu juga belum terjadi. Namun Tuhan mengingatkan “hal besar kamu harapkan itu baik, tapi bagaimana dengan hal kecil? Bagaimana dengan keindahan berelasi dengan orang-orang terdekat?”, ini yang Yesus sedang tekankan. Dia bangkit dan Dia tidak membuat pameran menyeluruh di seluruh bumi. Dia tidak menyatakan terang dari bintang fajar yang gilang-gemilang itu sampai seluruh bumi. Waktu Dia datang kedua kalinya, Dia akan lakukan itu. Tapi waktu Dia bangkit, Dia memutuskan untuk bertemu dengan orang-orang yang dikasihi dulu. Dia ingin ketemu dengan orang-orang yang Dia kasihi, Dia menyatakan diri dengan orang-orang yang dekat denganNya. Mengapa ini terjadi? Karena Tuhan sepanjang hidupNya sampai waktu Dia bangkit, sangat mementingkan pentingnya relasi sehari-hari dengan orang terdekat. Ini sesuatu yang orang Kristen terlalu bodoh untuk mengerti. Tidak ada usaha menjaga relasi dengan orang terdekat. Selalu memimpikan hal yang besar, tapi tidak mengaitkan yang besar itu dengan yang kecil. Bagaimana relasimu dengan keluarga, bagaimana relasimu dengan suami, bagaimana relasimu dengan istri, engkau akan membusukan nama Tuhan kalau engkau tidak jaga relasi ini dengan baik. Semua orang hanya memikirkan diri dan diri, “saya sudah menikah, mengapa saya tidak bahagia. Saya sudah punya anak, mengapa saya tidak bahagia. Saya punya orang tua, mengapa saya tidak bahagia?”, tidak tahukah kita kalau hidup itu serangkaian tanggung jawab. Hidup itu serangkaian tanggung jawab, jangan terus tanya “saya dapat apa?”, Tuhan akan tanya “engkau sudah melakukan apa?”. Bagaimana engkau menjaga relasimu dengan orang terdekat, bagaimana engkau pelihara kasih Tuhan di sekitarmu, bagaimana mejamu penuh dengan cinta Tuhan dan pengharapan akan kedatangan Kerajaan Tuhan di dalam makan malam atau makan sehari-hari? Ini yang Yesus sedang tekankan. Dia bangkit dan Dia tidak pamerkan ke seluruh dunia, Dia makan bersama murid. Ini menjadi pengertian penting yang harus kita kejar terus.

Mengapa kita mempertahankan hal yang sehari-hari? Karena kita mengharapkan hari yang besar itu. Satu orang teolog pernah mengatakan mengapa Tuhan mengatakan saat Dia datang sebagai the day, mengapa Dia tidak mengatakan the age atau the year. Kalau Saudara baca Alkita, ditulisnya “kapankah hari itu Tuhan?”, pakai hari. Tidak pernah dikatakan “kapankah zaman itu?”, padahal kita hidup di dalam zaman. Tapi Tuhan tidak terlalu mementingkan zaman ketika Dia mau datang, Dia menyatakan “hari itu”, this is the day, hari ini. Dan hari selalu berkait dengan hal yang paling kita remehkan, “bagaimana harimu?”, “saya tidak melakukan apa-apa hari ini, untung masih ada hari esok”. Satu tahun ada ratusan hari, hari adalah sesuatu yang kalau kita lewati dengan buruk, kita selalu pikir ada redemption di hari berikut. “Hari ini saya gagal, besok masih ada hari”, ini perkataan orang gagal, “hari ini gagal, besok berhasil”, besok jadi hari ini. Kita selalu mengatakan besok, seperti anak kecil, “besok besar mau jadi apa?”. sekarang sudah sebesar ini tetap mengatakan “besok besar aku mau jadi apa?”, “kapan kamu bertobat?”, “besok”. Sekarang semua kacau “jangan khawatir, masih ada hari esok. Sekarang saya belum bertobat, masih ada hari esok”. Inilah sebabnya mengapa Tuhan mengatakan hari penghakiman, karena besok belum tentu ada. Kalau besok hari penghakiman, hari ini adalah hari terakhir. Kalau besok Yesus datang, ini hari terakhir Saudara. Dan Yesus tidak pernah mengatakan kalau Dia mau datang, Dia akan beri aba-aba dulu. Maka pakai kata hari itu sangat penting, hari menunjukan kalau Tuhan datang besok, berarti hari ini terakhir, sudahkah kita bertobat, sudahkah kita jadi Kristen hari ini? Kalau hari ini belum Kristen, mau kapan lagi? Besok? Kalau besok Tuhan datang, mau bagaimana? Kalau hari ini saya tidak Kristen, celaka. Maka jangan tunggu besok untuk bertobat, bertobat sekarang. Ubah hidup sekarang, kalau engkau tidak mau berubah sekarang, kalau Tuhan datang besok, engkau habis. Itu sebabnya Alkitab sangat menekankan hari penghakiman, bukan minggu penghakiman, bukan zaman penghakiman, bukan tahun penghakiman, tapi hari. Dan hari akan muncul dengan segera, dengan sangat cepat. Tapi hari juga adalah sesuatu yang familiar dengan kita, kita bertemu dengan keluarga sehari-hari, kita bertemu dengan orang dekat kita sehari-hari. Di dalam keseharian, anugerah kerajaan itu dinyatakan.

Pada bagian ini Yesus menyatakan hal yang penting, Dia bertemu dengan murid-murid dan Dia makan bersama mereka. Dia makan bersama mereka, karena mereka orang penting bagi Dia. Mereka makan bersama, Yesus mengucapkan berkat dan memecah-mecahkan roti, dan murid-murid sadar inilah Tuhan yang bangkit. Firman Tuhan dinyatakan supaya orang bisa mengenal Tuhan. Tapi perjamuan diadakan supaya orang bisa bertemu Tuhan. sekali lagi, firman Tuhan dinyatakan supaya orang bisa kenal Tuhan, perjamuan diadakan supaya orang bisa bertemu Tuhan. Perjamuan adalah saat dimana kita bertemu Tuhan, bertemu real bukan bertemu simbolik. Bertemu dengan real meskipun bukan roti dan anggur menjadi tubuh sebenarnya, tapi ada persekutuan satu meja dengan Tuhan secara real. Lukas menyatakan perjamuan membuat mereka bertemu Tuhan, mereka melihat Kristus, mereka menyadari “ini Tuhan kita”, lewat cara Tuhan memimpin perjamuan. Dan ini merupakan satu hal yang mengharukan, mereka melihat Tuhan. Saya sangat bingung, perasaan murid-murid kira-kira bagaimana, mereka sangat sayang Tuhan Yesus. Ketika Tuhan Yesus mati, tidak ada harapan, dan sekarang Tuhan Yesus muncul di depan mereka. Perasaan mereka campur aduk, penuh dengan sukacita, penuh dengan gentar, penuh dengan takut. Penuh dengan pengharapan tapi juga penuh dengan penasaran, apa yang akan terjadi selanjutnya. “Tuhan, kalau Engkau sudah bangkit, apa yang akan Engkau bawa?”, dan Tuhan dengan tenang memecahkan roti, mengucapkan doa dan menghilang, ini membuat heran, mengapa Dia menghilang? Karena Dia ingin membagi persekutuan yang kecil ini dengan lebih banyak orang dengan tetap mempertahankan keintimannya. Tuhan ingin mengundang lebih banyak orang lain untuk bergabung di meja perjamuan. Itulah yang Dia katakan di bagian sebelumnya, ketika Dia memimpin perjamuan sebelum Dia dimatikan, Dia mengatakan “Aku tidak akan minum lagi dari pokok ini sebelum hari yang baru itu”, jadi Tuhan menanti saat nanti sebelum makan dan minum itu. Itu sebabnya setelah Dia mengucapkan berkat, memecah-mecahkan roti, Dia tidak ikut minum anggur, Dia langsung hilang. Dia hilang bukan mau pamer, ini sedang menyatakan “waktu Aku pulihkan seluruh bumi, pada waktu itu kita akan mengadakan perjamuan”.

Pada waktu itu Saudara akan makan perjamuan dengan cara yang besar sekaligus intim, inilah kebesaran dan keintimannya disatukan dengan cara yang sangat indah. Ada yang pernah khotbah seperti ini waktu oma saya meninggal, pendetanya mengatakan “suatu saat nanti kita semua akan bertemu di pangkuan Tuhan”, saya tanya mama saya “pangkuan Tuhan sebesar apa? Kita semua sama-sama?”, mama saya mengatakan “sst..lagi khotbah”, saya tidak bisa dengar khotbah selanjutnya karena perkataan itu membuat saya bingung. Saya berpikir “oh iya, Tuhan kan Mahakuasa dan Mahabesar, maka pangkuanNya pun mahabesar”. Tapi ini tidak sedang bicara pangkuan secara literal, karena kata pangkuan di kita di dalam tradisi Israel bukan ditaruh di atas paha, pangkuan itu berarti tempat duduk yang cukup dekat untuk kita taruh kepala kita di dada orang. Taruh kepala di dada orang karena sedikit ingin menyatakan “aku bergantung padamu”. Seperti anak kecil yang meletakkan kepalanya di dada orang tuanya. Atau seperti perempuan yang meletakkan kepalanya di dada laki-laki, kalau kebalikannya agak kurang bagus. Harus yang menjadi kepala yang menanggung. Alkitab mengatakan kepala berarti ada hasilnya, Saudara menjadi kepala yang baik, ada hasilnya, yang dikepalai itu menjadi baik, itu namanya kepala yang baik. Kalau yang dikepalai semakin parah, yang salah itu kepalanya, ini pengertian Alkitab. Tuhan tidak akan bawa suami istri lalu memarahi istri, Tuhan akan memarahi suami. Alkitab mengatakan be a man, apa itu laki-laki? Laki-laki berhasil bimbing orang, itu pengertian Alkitab. Kamu diragukan kelaki-lakiannya kalau kamu gagal bimbing orang. Maka orang yang dipimpin akan menaruh kepalanya ke orang yang memimpin, bukan sebaliknya. Dekat dengan pangkuan Tuhan artinya kita bisa menaruh kepala kita di dadaNya, kita bisa nyaman dengan kedekatan yang luar biasa. Saya tidak tahu bagaimana ini terjadi, karena ini adalah satu perkataan yang simbolik. Tapi intinya adalah perkataan ini mau menjelaskan kedekatan dengan Tuhan akan kita miliki meskipun kerajaan ini sangat besar. Saudara tidak akan mendapat nomor antrian ketika bertemu Tuhan Yesus, lalu bagaimana? Saya pun tidak tahu, mari kita nantikan sama-sama besarnya kerajaan itu sekaligus intimnya kerajaan itu akan bersatu. Keagungan dan kedekatan akan bersatu. Sekarang kita bersusah payah untuk mempertahankan keduanya, mempertahankan keagungan sekaligus keintiman. Tapi ketika Tuhan pulihkan semuanya, besar dan intim akan secara sempurna bersatu. Sesuatu yang sulit kita bayangkan sekarang. Itu sebabnya Yesus menyatakan hal ini, selalu akan ada kedekatan antara Dia dan murid-murid. Murid-muridNya akan selalu bisa bersandar kepada Dia dan menyatakan “kami mengetahui Engkau, karena kami makan bersama dengan Engkau”. Para murid menikmati hal ini, mereka sadar “inilah Guru, inilah Yesus yang kami kenal”, setelah Yesus memecah-mecahkan roti dan mengucapkan doa. Ini menjadi bagian yang sangat indah karena Tuhan menyatakan diriNya bagi para murid di dalam hal seperti ini. Ini yang akan menjadi kekuatan bagi kita, Saudara akan tahu terus Yesus dekat dengan kita. Tahu dari mana Yesus dekat? Kita selalu mengucapkan kalimat-kalimat untuk menipu diri, ada orang mengatakan “kamu spesial, kamu spesial”. Ada orang yang pernah dilatih untuk mengatakan seperti itu terus “saya spesial, saya spesial”, saya tanya “mengapa kamu mengatakan itu?”, “karena tidak ada orang lain yang mau ngomong, maka saya sendiri yang mengatakan”, itu penipu diri. Demikian juga kalau kita mengatakan “Yesus dekat, Yesus dekat”, mana dekatnya? Saudara akan mengatakan “kok saya merasa Dia jauh, saya tidak merasa Dia dekat? Oh, mungkin karena Dia tidak kelihatan. Kita kan orang Kristen, percaya bukan karena melihat”m betul kan? Bilangnya sih betul, tapi Saudara susah mengatakan “Yesus bersama dengan aku”. Itu sebabnya Tuhan menyatakan firman membuat kita kenal dengan Dia dan perjamuan membuat kita tahu Dia dekat dengan kita. Kalau Saudara mengikuti perjamuan, Saudara harus tahu Yesus sedang memimpin perjamuan, menawarkan kepada kita suatu saat nanti kedekatan kita dengan Dia akan seperti kedekatan orang-orang di ruangan ini waktu mengikuti perjamuan. Yesus senantiasa dekat, itu sebabnya Dia panggil murid-murid untuk kenal Dia di dalam perjamuan. Dan Dia mengatakan kepada murid-muridNya, termasuk kepada Paulus, “perbuat ini untuk mengingat Aku”. Mengingat bahwa Tuhan bersama kita senantiasa. Bukan mengingat Yesus yang dulu. Saudara kalau mengenang pahlawan, apakah pahlawannya ada di sebelah Saudara? Tapi Saudara mengenang, bukan berarti “dulu 2.000 tahun lalu Yesus pernah hadir”. Yesus mau kita kenang Dia dengan mengingat perkataan Dia “Aku senantiasa hadir”. Maka murid-murid mendapatkan kelimpahan yang luar biasa, kemudian Yesus menghilang. Sudah dekat seperti jauh, karena Dia ingin kumpulkan semua orang untuk bersatu bersama dengan Dia. Dan sebelum saat itu tiba, kita senantiasa diberikan kesegaran akan dekatnya Yesus melalui perjamuan yang kita jalankan. Kiranya Tuhan memberkati dan memimpin kita untuk mengerti betapa Tuhan mengasihi kita, betapa Dia dekat dengan kita, betapa Dia ingin memanggil kita untuk satu meja dengan Dia.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)