Anda disini : Home » Reformed Theology » Injil Lukas » Tawaran yang lembut dari Injil
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Tawaran yang lembut dari Injil

Pdt. Jimmy Pardede

(Lukas 24: 13-29)
Kitab Lukas seringkali menulis Yesus melanjutkan perjalanan, lalu dalam perjalanan kemana, ada perjalanan yang Dia lakukan menuju kepada satu tujuan. Dan tujuan yang Yesus lakukan ketika Dia berjalan, sebelum Dia mati, adalah masuk ke dalam perjamuan bersama para murid. Jadi di Yerusalem, perjamuan malam, ditangkap, diadili, mati dan bangkit. Dan sekarang ketika Yesus menyatakan diri kepada murid-murid yang sedang berjalan ke Emaus, Lukas dengan cara yang sangat indah menuliskan pola itu dirangkum dari ayat-ayat 13-35. Yaitu Yesus berjalan dengan para murid, kemudian berakhir dengan makan bersama. Kita akan bahas berjalan dulu di hari ini, dan 2 minggu dari sekarang kita akan membahas ketika Yesus makan bersama murid. Pola ini menunjukan bahwa Yesus menyatakan diriNya hidup, dan Yesus yang sama dinyatakan sebelum Dia mati adalah Yesus yang sama yang menyatakan diri sekarang. Ini cara Lukas untuk menekankan ada yang sama dari Yesus sebelum Dia mati dengan setelah Dia bangkit, ini adalah Yesus yang sama. Sebelum Dia mati, Lukas menuliskan kehidupanNya dengan cara perjalanan sampai makan malam terakhir, maka di pasal 24 Lukas melukiskan hal yang sama, perjalanan sampai pada makan malam. Tetapi makan malam itu tidak terjadi sampai final, karena Yesus menghilang dari tengah-tengah mereka. Berarti kehadiran Yesus di tengah murid belum menjadi final di Kerajaan Allah. Akan banyak orang dipanggil Tuhan, percaya kepada Dia dan suatu saat akan berkumpul sama-sama, saat ini belum terjadi. Maka Yesus mengatakan “kita akan bersama lagi”, bersama seluruh umat yang akan dipanggil kemudian.

Ketelitian seperti ini harus kita miliki waktu kita membaca Kitab Suci, karena Kitab Suci penuh dengan pesan kalau kita teliti membacanya. Maka jangan membaca Alkitab dengan penghargaan hidup lebih besar dari pada pesan dari Alkitab. Seringkali kita begitu mengagumi hidup kita dan pergumulan kita, sehingga kita baca Alkitab demi mendapatkan jawaban untuk pergumulan kita. Itu tidak salah, tapi itu harus menjadi urutan kedua dari cara kita membaca Alkitab.

Maka Saudara bisa melihat di sini, di ayat 13-32, digambarkan para murid berjalan dengan Yesus, lalu diakhiri dengan mereka makan bersama Tuhan Yesus. Mengapa pola ini dipakai oleh Lukas? Karena Lukas menggambarkan bagaimana Yesus yang sudah bangkit menyatakan kerajaan itu kepada murid. Yesus sudah bangkit dan Dia harus menyatakan diri kepada para murid. Dan di dalam kisah Lukas, Yesus belum menyatakan diri kepada para murid. Yesus menyatakan diri kepada para murid di dalam catatan Lukas pertama kali adalah di dalam perjalanan menuju Emaus, kepada dua orang murid. Di sini ada keunikan yang luar biasa, Lukas dengan teliti mencatat apa yang Yesus mau sampaikan, bagaimana cara Dia mendeklarasikan kerajaan yang sudah datang karena Dia sudah bangkit. Ternyata cara Dia menyatakan kerajaanNya tidak dengan cara yang penuh kemegahan, tetap tersembunyi.

Ada orang sangat tidak peduli siapa Tuhan, “Tuhan mau seperti apa bukan urusanku. Kenal Tuhan bukan prioritas dalam hidup”. Saya mau tanya kalau kenal Tuhan bukan prioritas hidup kita, kalau begitu apa prioritas hidup kita? Ini harus kita tanya ke diri kita masing-masing. Kalau Saudara ditanya oleh Tuhan, “apa yang menjadi prioritasmu dalam hidup?”, jawab jurju sama Tuhan. Apakah kenal Tuhan adalah prioritas paling tinggi atau tidak. Kalau kenal Tuhan bukan prioritas paling tinggi, menurut Injil Yohanes, Saudara tidak mengerti apa itu keselamatan. Kita tidak mengerti apa itu keselamatan kalau kenal Tuhan tidak ada pada prioritas hidup kita. Apakah Saudara punya prioritas untuk kenal Tuhan? kalau tidak, bertobat, kembali kepada hati yang diarahkan kepada Tuhan dan ingin kenal Dia. Ingin kenal Dia bukan untuk alasan praktis, “kalau saya kenal Tuhan, kerjaanku lebih baik, keluargaku lebih baik, aku akan mampu mendidik anak, aku akan mampu kerja di masyarakat”, itu semua adalah sesuatu yang membuat kita kerdil imannya. Karena kita kenal Tuhan demi sesuatu yang lain. Tapi Injil Yohanes menekankan pengenalan akan Tuhan itulah hidup yang kekal. Yohanes mengatakan “mengenal Engkau satu-satunya Allah yang benar dan mengenal Yesus Kristus yang Kau utus itulah hidup yang kekal”. Ingin kenal Tuhan harus ada di prioritas utama hidup. Apa pun prioritas kita yang sekarang kita kejar, harus diturunkan sedikit, lalu keinginan ingin kenal Tuhan harus menempati tempat utama. Kita tidak kenal Tuhan, percuma melayani Tuhan. Saudara tidak ingin cinta Tuhan, percuma melayani Tuhan. Maka mari belajar cinta Tuhan dan pelayanan Saudara akan menjadi pelayanan yang limpah. Mari punya prioritas ingin kenal Tuhan dan Tuhan akan nyatakan diri. Kalau Tuhan sudah menyatakan diri, itu limpah sekali. Saya tahu keinginan untuk kenal Tuhan pun datang dari Tuhan. Tapi Saudara jangan salah berteologi, dorongan untuk orang bertumbuh tidak boleh menekankan kedaulatan Tuhan dulu, ini prinsip yang saya pelajari dari Jonathan Edwards. Jonathan Edwards mengatakan kekudusan hidup itu dari Tuhan, tapi jangan tekankan itu kepada orang yang sedang berada di meja judi atau yang sedang mabuk-mabukan. Kelimpahan dan keindahan yang membuat Saudara tidak ingin kembali ke kehidupan yang lama, betapa pun itu menyenangkan. Banyak orang dianiaya, disiksa, diambil rumahnya, bahkan dibakar oleh orang-orang yang benci Kekristenan dan mereka tetap tidak mau kembali ke penyembahan berhala. Mengapa tidak? Karena mengenal Tuhan jauh lebih menyenangkan dan indah dari apa pun yang saya miliki dulu.

Mari kita belajar untuk kenal Tuhan. Dan orang Israel bergumul untuk kenal Tuhan terutama di dalam periode ketika Israel dibuang ke Babel. Mereka sangat bingung “mengapa kami dibuang ke Babel? Kami ingin dipulihkan. Tuhan, maukah Engkau memulihkan kerajaan ini?”, mengapa mereka sangat ingin Israel dipulihkan? Karena kalau Israel tidak dipulihkan, Tuhan tidak punya tempat di kerajaanNya di bumi. Mengapa Tuhan hanya lewat Israel baru bisa menyatakan kerajaanNya? Karena itu yang Dia janjikan. Dia mengatakan di dalam Kitab Keluaran, “dari seluruh umat di bumi, engkaulah yang Aku pilih”. Di dalam Kitab Ulangan diulangi lagi “dari semua bangsa, engkaulah yang Aku tempatkan menjadi bangsa yang spesial, kerajaan yang imamat untuk menyatakan kemuliaan nama Tuhan di seluruh bumi”, jadi Tuhan pilih Israel. Apakah Tuhan pernah mengatakan di dalam Perjanjian Lama, Tuhan ubah, Tuhan tidak lagi pilih Israel dan Tuhan pilih bangsa lain, itu belum pernah terjadi. Jadi orang Israel tahu, kalau kerajaan di bumi mau dipulihkan harus lewat Israel. Itu sebabnya banyak orang-orang yang suci, yang baik hatinya, berdoa terus kepada Tuhan “Tuhan, pulihkan kerajaan ini”. Mereka mendoakan Israel lebih giat dari pada mendoakan apa pun yang mereka alami dalam hidup. Mereka terus berdoa “Tuhan, mengapa Engkau tinggalkan bumi ini? Pulihkan kerajaanMu”. Dan Tuhan tidak jawab mereka. Saya baca tulisan dari seorang rabi yang dia tulis pada abad ke-2 sebelum Masehi, dikatakan “Tuhan apakah Engkau sedemikian lelah mendengarkan doa kami? Kami tidak akan pernah lelah berdoa. Kami akan terus berdoa, meskipun Engkau sudah muak mendengarnya. Karena kami tidak tahu harus bagaimana lagi untuk hidup selain memohon kepada Tuhan memulihkan Israel”. Kalimatnya mengharukan “Tuhan, Engkau sudah capek mendengarkan kami? Tapi kami tidak tahu lagi mesti bagaimana, kami mesti tetap mengemis kepadaMu”. Di dalam Kitab Yeremia dikatakan “Tuhan sudah sedemikian marahkah Engkau, sehingga doa kami tidak Engkau pedulikan sama sekali?”. Bahkan Tuhan menyatakan kepada Yeremia, kalau ada orang dengan tingkat kerohanian mirip dengan nabi-nabi besar seperti Daniel dan lain-lain, “Aku tetap tidak akan dengar”, kalimat yang sangat keras. Tuhan sudah sangat muak dengan Israrl, karena Israel mengabaikan mezbah Tuhan dan baitNya lalu pergi berzinah dengan menyembah berhala lain. Ini penghinaan yang sangat parah, sehingga Tuhan sangat muak dan membuang mereka, tapi mereka terus memohon “Tuhan pulihkan”. Dan di dalam Kitab Zakharia akhirnya ada janji, Tuhan akan kirimkan Anak Daud. Di dalam Kitab Malekahi akhirnya dinyatakan “Aku akan utus yang mendahului Raja itu”. Lalu mereka tunggu itu sampai 400 tahun, sampai Yohanes Pembaptis berseru dan mereka mengatakan “inilah yang kami harapkan”. Ini adalah pengharapan Israel sudah dinyatakan. Bayangkan berapa penuh sukacitanya orang-orang Yahudi yang suci, yang menantikan Kerajaan Allah di bumi dipulihkan. Mereka pasti sangat senang waktu mereka melihat Yesus, karena mereka tahu inilah Mesias itu dan mereka tidak menemukan orang seperti Yesus, tidak ada seperti Dia yang punya kuasa demikian besar, tapi yang mendedikasikan kuasa itu demi kebaikan orang lain. Semua pemimpin terdahulu memanipulasi yang lain demi diri mereka. Memanipulasi rakyat, memanipulasi suara, memanipulasi rakyat demi mereka. Berkali-kali Alkitab mencatat, Yesus mengenyahkan penyakit, Yesus menghardik demam, Yesus membuat orang tuli mendengar, Yesus membuat orang lumpuh bisa berjalan. Dan yang kedua terakhir, Yesus mengampuni dosa. Yesus menyatakan dengan otoritas “dosamu sudah diampuni”. Dan yang paling besar, Dia bisa mengusir kematian. Tidak ada raja bisa melakukan ini, mengusir kematian, menyatakan tahtaNya berkuasa bahkan atas kematian sekalipun. Dan Yesus mengusir kematian dari banyak orang, dari orang yang baru mati, dari orang yang sudah lama mati, dari orang yang sudah mengalami kematian 4 hari, dan terakhir dari kematianNya sendiri. Yesus lebih berkuasa dari siapa pun, maka para murid tahu kalau Mesias itu datang, kalau bukan Yesus, tidak mungkin ada orang bisa kerjakan mujizat lebih banyak dari orang ini. Maka mereka mengatakan “inilah Mesias, kami bersukacita Mesias sudah datang”.

Dan waktu Yesus masuk Yerusalem, semua orang menyambut Dia, semua orang memuji, melambaikan daun palem dan berseru “hosana bagi Allah di tempat maha tinggi, hosana bagi Anak Daud. Ini tandanya sekarang kerajaan kami sudah dipulihkan”. Coba kita pikir baik-baik betapa menyenangkannya keadaan ini. Tapi Saudara jangan berpikir dari tempat Saudara yang aman dan damai. Kita kalau baca literatur apa pun mesti masuk ke dalam kisahnya. Bagaimana cara masuknya? Coba bayangkan kalau Saudara adalah orang Israel di abad pertama. Mereka sangat ingin kerajaan dipulihkan. Saya tidak tahu apa yang membuat kita tidak terlalu ingin Kerajaan Allah dipulihkan, mungkin karena hidup kita terlalu enak. Bagaimana kalau Tuhan terlalu marah dan mengatakan “Aku buat hidupmu sangat menderita dulu, supaya engkau benar-benar mengharapkan pemulihan dari Tuhan”. Israel benar-benar mengharapkan pemulihan dari Tuhan, karena mereka tidak melihat adanya jalan lain hidup mereka bisa diperbaiki. Dan ketika Yesus datang, mereka pikir “inilah saatnya, kami mendapatkan kelimpahan, kami mendapatkan jawaban, kami dapat kesempurnaan di dalam Raja yang hadir ini”. Tapi Raja itu mati, ini yang membuat mereka hancur imannya. Kalau kita belum mengalami kekecewaan sebesar ini, kita belum tahu apa yang Lukas sedang ajarkan kepada kita. Kekecewaan yang tidak lagi sanggup untuk jalani hidup seperti biasa. Adakah orang yang mengalami keadaan yang hancur seperti ini? Kadang-kadang orang yang mengalami banyak sekali sengsara, baru dia bisa mengerti bijaksana yang dibagikan oleh Kitab Suci. Tchaikovsky pernah mengatakan banyak yang mengkritik musiknya karena mereka tidak pernah mengalami sedikit pun sayatan hati yang dialami. Tchaikovsky mengatakan “kamu punya luka hati yang banyak, kamu akan mengerti musik saya”. Mungkin hal yang sama bisa kita katakan tentang Kitab Suci, kalau kamu mengerti lukanya Israel, “penderitaan kami sebagai bangsa, penderitaan kami umat Tuhan yang ditinggalkan oleh Tuhannya”, kamu akan mengerti Kitab Suci. Mari kita pahami penderitaan orang, jangan terus sibuk dengan penderitaan sendiri. Lalu ketika kita menggumulkan penderitaan orang lain, penderitaan Israel, baru kita tahu “mereka benar-benar perlu Mesias. Dan sekarang Mesias diambil dari mereka, mereka mati”. Bayangkan, mereka mengalami keraguan besar sekali, ragu apakah ini Tuhan yang benar, “apakah Tuhan menyayangi kami, apa jangan-jangan semua tradisi kami salah”. Pergumulan ini sangat menakutkan, keadaan yang gelap, keadaan yang tidak menentu lagi, “bagaimana saya tahu bahwa semua yang diceritakan nenek moyang kami itu benar? Mengapa Mesias ini mati? Tradisi kami begitu kuat tapi sekarang kami ragukan semuanya. Kami tidak tahu lagi apa yang harus kami percaya”.

Bagaimana cara Yesus menawarkan? Dengan cahaya besar di langit? Tiba-tiba ada malaikat berseru “hosana bagi Allah yang Mahatinggi”, lalu Yesus ada di awan mengatakan “hai umatKu”, semua terhibur. Apakah seperti itu? Ternyata tidak. Yesus pilih secara relasi yang tenang, bukan pengumuman yang dahsyat dari langit. Ini poin penting yang perlu kita pahami, mengapa Yesus lebih pilih pendekatan yang lebih tenang dari pada pengumuman yang super heboh? Padahal Dia sudah bangkit. Yesus berjalan ke orang yang sedang bergumul lalu masuk ke dalam pergumulan mereka. “Apa yang sedang engkau bicarakan?”, Yesus tidak mengatakan “engkau sedang bicara apa? berhenti. Aku ada sesuatu yang lebih penting, kalian diam”. Di ayat 17 dikatakan “ketika ada orang bercakap-cakap tentang apa yang terjadi, Yesus mendekati mereka dan menanyakan: apakah yang sedang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?”, Yesus datang untuk masuk ke dalam pergumulan orang-orang ini. Yesus datang dan bertanya “sedang ngomong apa?”, Dia tidak mengatakan “kalian berdua diam. Aku lebih penting dari apa yang sedang kalian bicarakan. Apa pun yang kalian bicarakan, berhenti sekarang. Aku punya pengumuman yang lebih penting, diam dulu”. Yesus datang dan mengatakan “apa yang kamu percakapkan?”. Lalu mereka dengan muka yang sangat muram, ini muka yang tidak tahu lagi ada pengharapan apa di depan. Masa depan sudah tidak ada. Maka mereka menjawab dengan mengatakan “mengapa Engkau tidak ikut muram?”, kira-kira seperti itu. “Mengapa Engkau tidak ikut depresi bersama kami. Apakah Engkau satu-satunya orang asing yang tidak tahu tentang apa yang terjadi belakangan ini?”, Yesus tanya “apa itu? Kasi tahu Aku”. Yesus tidak mengatakan “Aku maha tahu”. Dia mengatakan “apa yang terjadi”, “masa kamu tidak tahu?”, Yesus balik tanya “kamu dong kasi tahu”, ada relasi yang menghargai pendapat orang, ada relasi yang menghargai komunikasi yang seimbang. Ini komunikasi antara Allah yang penting dan manusia yang insignifikan, sehingga apa pun yang manusia mau katakan tidak ada maknanya bagi Allah. “Kamu tidak perlu bicara, Allah tahu semuanya”, tidak seperti itu. Allah bertanya, ini Allah yang menjadi manusia tapi dengan otoritas ilahi dari Dia yang sudah bangkit, Dia bertanya “apakah itu? Coba kamu ceritakan kepadaKu, mari kita berbicara”. Lalu mereka berbicara dengan pengertian yang salah. Yang membuat mereka depresi bukan karena Tuhan gagal, yang membuat mereka depresi adalah teologi mereka yang kurang cukup. Hati-hati, teologi yang salah bisa membuat orang depresi. Tapi juga teologi yang salah bisa membuat orang bersukacita tanpa alasan. Mereka percaya Israel akan dipulihkan dengan cara mulia, glorious way, bukan dengan cara salib. Mereka percaya Kerajaan Allah akan dinyatakan dengan mulia, bukan jalan salib, padahal Kitab Suci berulang-ulang mengajarkan jalan salib. Kitab Suci mengatakan Israel akan dipulihkan dari tunas Daud setelah tidak ada harapan, Yesaya 6. Semua akan dihancurkan berkali-kali, bahkan kalau ada sisa dari pohon Israel akan dihancurkan, tapi nanti akan muncul Tunas Daud. Dalam Yesaya 52 dan 53 dikatakan pengharapan bagi kamu akan ditemukan di dalam Dia yang menderita bagi kamu. Oleh karena kamu Dia kena bilur-bilur, oleh karena kamu Dia ditikam, oleh karena pemberontakanmu Dia ditikam dan mati. Di dalam Mazmur 22, “semua mengurung aku, semua menghancurkan aku”, tapi lihat di bagian akhir dari Mazmur itu, “Tuhan mendengar doaku dan memulihkan aku”. Tidak ada kemuliaan sebelum salib, ini yang menjadi tema Lukas. Pak Billy pernah membahas di SPIK yang lalu, Injil Yohanes itu unik, Lukas mencatat ada salib baru ada kemuliaan. Yohanes mencatat salib adalah kemuliaan. Maka di Injil Lukas ditekankan ada penderitaan dulu baru ada kemuliaan, ada kesulitan dulu baru ada kebangkitan. Dan engkau yang tidak melihat itu, engkau tidak tahu besarnya kuasa Tuhan. Karena kalau kita tahu Tuhan menyatakan kebangkitan dari kematian, maka kita tahu tidak ada apa pun yang bisa mencegah kuasa Tuhan untuk mendirikan kerajaanNya yang mulia, tidak ada yang bisa mencegah Dia. Tidak ada yang bisa menghentikan Dia, tidak ada yang bisa membuat Tuhan gagal, bahkan kematian pun tidak. Kekristenan menawarkan justru di dalam keadaan yang buruk Tuhan menunjukan tangan kuasaNya. Kita tidak mengatakan kita mesti buruk dulu baru Tuhan menunjukan kuasaNya. Maksudnya adalah dalam keadaan baik atau pun buruk, Tuhan tidak mungkin gagal. Dan ini yang Tuhan mau nyatakan, maka Tuhan mengatakan kepada mereka “masih juga kah kamu bodoh?”. Mereka mengatakan “kami berharap Yesus menjadi pemimpin tapi Dia mati, bagaimana ya? Pagi-pagi buta perempuan-perempuan bilang Dia bangkit, tapi kami tidak menemukan Dia, jadi mungkin perempuan-perempuan itu mimpi. Perempuan itu kalau lagi depresi pasti mulai membayangkan yang tidak-tidak”. Perempuan itu saksi yang tidak bisa diandalkan, karena mereka tidak objektif, menurut pemikiran zaman dulu. Orang dulu akan mengatakan perempuan tidak boleh menjadi saksi. Maka Yesus menyatakan kalimat di ayat 25, “hai orang bodoh betapa lambannya hatimu sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu yang dikatakan para nabi”. “Kamu tidak mengerti bahwa ini sudah dinubuatkan oleh para nabi”, tologi salib sebelum kemuliaan adalah teologinya Perjanjian Lama. Kalau kamu cuma melihat kemuliaan, kamu akan kecewa, teologinya tidak realistis. Tapi kalau kamu mengerti setelah salib baru ada kemuliaan, baru ada pengharapan yang benar. Maka Yesus menjelaskan kepada mereka apa yang terjadi di seluruh Kitab Suci, dari Kitab Taurat ke nabi-nabi. Bayangkan ini KTB, cuma 3 orang, lalu Yesus berbicara, mereka senang sekali, hatinya berkorbar-korbar “oh begitu ya menafsirkan Kitab Suci?”, selama ini hermeneutik mereka kacau, Yesus menjelaskan hermeneutik yang benar. Yesus mengajarkan bagaimana menafsirkan Alkitab, lihat ini bicara tentang Yesus, ini bicara tentang Mesias, menderita, mati, hamba Tuhan yang dianiaya, hamba Tuhan yang menderita, Anak Daud yang dianiaya, Pemazmur yang menderita, Pemazmur yang dianiaya, ini semua menggambarkan ada salib dulu, kematian, baru kebangkitan. Baru mereka sadar.

Dan ketika mereka berjalan lebih lanjut, sudah mulai gelap. Ironis, dikatakan pada hari ketiga, peristiwa ini terjadi setelah perempuan-perempuan mengatakan Yesus bangkit. Hari ketiga itu identik dengan penggenapan. Dan ketika Yesus menjelaskan, hari mulai gelap. Pemandangannya kurang cocok, Saudara kalau beritakan hal yang bagus, bukannya lebih bagus saat kalau matahari terbit, “saudara-saudara sebentar lagi kita akan menang”, matahari mulai terbit, itu bagus sekali. Ini gambaran yang sepertinya kontras, berita sukacita tapi hari akan malam. Lukas sedang menyatakan bahwa kegelapan malam tidak menghentikan revelasinya Yesus. Self revelation dari Dia yang bangkit. Yesus yang bangkit mewahyukan diri dan meskpun kelihatan gelap, wahyuNya tetap powerful. Ini yang sedang dikatakan hari sudah menjelang malam dan Yesus berbuat meneruskan perjalananNya, Dia ingin tetap menyatakan diri sebagai yang asing bagi dua orang ini. Dan entah mengapa Alkitab tidak memberi tahu dua orang ini masih belum sadar ini Yesus. Ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, kata Kitab Suci. Kita tidak tahu sesuatu itu apa, pokoknya mereka tidak kenal Yesus. Tapi mereka mulai mendengar kalimat dari orang ini penting sekali dan mereka mengatakan “tinggalah serta kami”. Mereka ingin Yesus tinggal beserta mereka, karena mereka perlu mengenal firman, mereka ingin tahu Tuhan, “dan Engkau bisa bukakan Tuhan kepada kami, tinggallah beserta kami”. Yang mereka inginkan adalah kenal Tuhan, makanya mereka ingin Yesus tinggal beserta mereka. Mereka belum tahu ini Yesus, kalau mereka kenal Yesus, mereka tidak akan mengatakan “tinggallah beserta kami”, tapi mereka akan mengatakan “kami ikut Engkau ke mana pun”. Mengapa mereka mengatakan “tinggal bersama kami”? Karena orang ini membukakan pengertian tentang Mesias kepada mereka, mereka mau dengar lebih lagi. Keadaan mereka yang sulit menjadi limpah karena Dia mengeksposisi Kitab Suci bagi mereka, “Engkaulah yang kami inginkan di tengah-tengah kami karena Engkau memperkenalkan Tuhan”. Siapa yang membawa firman Tuhan, dia akan diharapkan bangsa-bangsa, itu kata Nabi Yesaya. Yang dinyatakan Mesias diharapkan bangsa-bangsa, pulau-pulau menantikan kehadiran Tuhan. Siapa yang menantikan kehadiran dirman? Orang yang ingin kenal Tuhan. Orang yang ingin kenal Tuhan tidak mudah dihibur oleh kalimat-kalimat yang penuh retorika kosong atau penuh dengan janji-janji yang tidak realistis, atau hanya dengan lelucon. Mereka mengatakan “tinggallah bersama kami”, karena mereka mulai melihat pengharapan. Mereka mulai melihat “di dalam kalimatMu ada pengharapan, ayo tinggal bersama kami sebab hari sudah malam. Mari tinggal, kami perlu Engkau Sahabat yang baik”. Maka Yesus pun tinggal bersama mereka dan memimpin mereka di dalam perjamuan. Ada hal yang mengharukan di dalam perjamuan ini, ini akan kita bahas di dalam pertemuan selanjutnya. Hari ini kita sampai di sini, ketika Yesus menyatakan firman tentang siapa Dia dan orang-orang yang ingin kenal pengharapan dari Tuhan merasa terhibur oleh eksposisi Yesus.

Yang saya mau tekankan adalah Yesus tidak tiba-tiba datang memberikan eksposisi firman, Yesus datang berdiskusi dengan mereka. Kerajaan Allah yang genap ditawarkan dengan cara yang indah, Tuhan tidak dengan cara kasar menyatakan kerajaanNya untuk diterima oleh kita. Tuhan menyatakan kerajaanNya dengan cara yang kita perlu. Tuhan mengajak kita untuk masuk ke dalam kerajaanNya dengan cara yang penuh dengan persahabatan. Dia tidak dengan kasar memberikan pengumuman “hai orang-orang, yang mau ke neraka silahkan ke kiri, yang mau sorga ke kanan”, lalu kita terpisah. Dia menawarkan dengan cara mendiskusikan apa yang manusia perlukan di bumi ini. Dia bertanya “apa yang kamu perbincangkan?”, “kami stress karena kami pikir kami punya pengharapan”, “kamu salah mengerti, pengharapan sudah diberikan”. Tidak ada agama menawarkan berita pengharapan kerajaan seindah Kekristenan. Kekristenan pada abad ke-15 mencoba cara lewat penjelajahan dari orang-orang seperti Vasco Da Gama, Christopher Columbus, tapi cara itu tidak berhasil, Kekristenan tidak bisa maju dengan cara itu. Tuhan tidak memakai pedang untuk menunjukan kerajaanNya, Tuhan tidak memakai penaklukan untuk menyatakan InjilNya. Tuhan pakai pertanyaan “apakah yang kamu bicarakan? Aku ingin tawarkan versi yang benarnya. Apa yang kamu gumulkan, apa yang kamu jalani, apa yang kamu alami, Aku datang untuk memberikan kesimpulan kerajaan adalah solusi bagi apa yang engkau gumulkan”. Ini keindahan yang besar sekali, Kristus yang bangkit menawarkan Injil kerajaanNya dengan cara menjadi Sahabat. Kiranya kita boleh melilhat Tuhan sebagai Sahabat kita yang memanggil kita untuk mengerti kerajaanNya dengan cara yang sangat penuh dengan kelembutan. Mari cintai Tuhan, mari nikmati panggilan Dia, mari nyaman di dalam Dia, baik jiwa kita maupun pengharapan kita, semua akan dipulihkan dalam keadaan yang limpah. Hanya di dalam Kristus yang sudah bangkit. Kiranya Tuhan menguatkan dan memberkati kita.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)