Anda disini : Home » Reformed Theology » Injil Lukas » Tanda Kedatangan Kerajaan Allah
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Tanda Kedatangan Kerajaan Allah

Pdt. Jimmy Pardede

(Lukas 17: 20-37)
Bagian ini membahas tentang eskatologi, akhir zaman. Apa itu akhir zaman, apa yang terjadi pada akhir zaman, lalu apa tanda-tanda akhir zaman, ini yang ditanyakan orang Yahudi. Ketika orang Yahudi bertanya tentang sesuatu kepada Yesus, di dalam Kitab Suci, yang mereka tanya umumnya hal-hal yang ada perdebatannya di tengah-tengah orang Yahudi. Ketika mereka bertanya kepada Yesus, mereka berharap Yesus bisa konfirmasi dari perdebatan yang ada kelompok mana atau golongan mana dari Judaisme atau Yahudi yang memegang teori tertentu, yang benar. Banyak sekali konsep akhir zaman dari Yahudi. Salah satu yang menjadi perdebatan adalah siapa yang menjadi tokoh utamanya. Kalau Tuhan pulihkan kerajaanNya, akhir zaman itu, siapa yang jadi tokoh utamanya? Banyak yang mengatakan Mesias, Anak Daud. Tapi ada yang tidak setuju, mereka mengatakan tokoh utama harus Musa. Musalah yang datang, karena di dalam Alkitab dikatakan kubur Musa tidak diketahui, sebab Tuhan sendiri yang kuburkan Musa. Lalu yang kedua mengatakan yang harus datang adalah Henokh karena dia tidak mati ke atas, maka dia tidak mati ke sini lagi, umurnya sudah lama sekali, dia sudah lama tidak mati kemudian kembali. Ketiga mengatakan bukan Henokh karena Elia yang harusnya dimuliakan. Elia naik pakai kereta berapi, dia akan turun juga pakai kereta berapi. Akhirnya ada yang mengatakan Henokh, Musa, Elia, ini jadi perdebatan. Ada lagi yang mengatakan kalau akhir zaman datang, tanda-tandanya apa? Ada yang mengatakan tandanya Sang Raja, Anak Daud akan berperang, Israel akan dipulihkan dan lain-lain. Di tengah kebingungan ini mereka minta Yesus menjawab kira-kira teori mana yang benar. Maka Yesus menjelaskan dengan cara yang berbeda dengan pengertian Yahudi, tapi masih ada hal-hal yang cocok atau menyentuh kepercayaan dari orang Yahudi. Maka Yesus mengatakan Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah. Di dalam Alkitab, Kerajaan Allah itu datang kalau Sang Raja datang. Jadi ini maksudnya akhir zaman. Akhir zaman adalah periode dimana Sang Raja memerintah. Bagi Israel ada beberapa periode, pertama Israel di Mesir. Yang kedua adalah Israel di padang gurun. Ketiga, Israel di zaman hakim-hakim. Keempat, Israel dibawah pemerintahan Saul dan Daud, yang paling tinggi. Kelima, runtuhnya kerajaan itu, yaitu anak-anak Daud tidak setia. Yang keenam adalah pemulihan kerajaan itu. Ada yang usahakan supaya ketujuh adalah kembalinya Sang Raja, supaya pas tujuh. Jadi mereka percaya bahwa tahap terakhir akhir zaman adalah ketika Sang Raja datang. Sehingga akhir zaman itu tidak ada kaitan dengan sedikitnya waktu menuju kiamat. Maka jangan sampai orang mengatakan akhir zaman itu adalah titik dimana sudah mau kiamat, karena akhir zaman adalah Sang Raja datang. Jadi begitu Sang Raja itu datang, itulah akhir zaman. Sama seperti ketika Saudara ditanya kapan pemerintahan Jokowi dimulai? Ketika dia menjadi presiden. Kapan akhir zaman dimulai? Ketika Raja itu datang. Maka kalau Raja itu datang, akhir zaman pun tiba. Inilah yang menjadi pengertian yang sama dari seluruh orang Yahudi. Semua orang Yahudi percaya bahwa akhir zaman dimulai dengan kedatangan Sang Raja. Kalau Sang Raja datang pasti heboh, megah, Dia akan datang dengan segala kemuliaan, Dia datang dengan tentaraNya, dengan pasukan malaikat dan lain-lain. Menurut orang Yahudi ketika Sang Raja itu datang akan ada orang-orang kudus ikut menyertai kedatanganNya, itu pengertian mereka. Ketika orang Yahudi mempunyai konsep eskatologi, akhir zaman yang menjadi penanda akhir zaman adalah Raja itu datang. Siapa Rajanya? Mesias, dan Dia akan datang dari sorga. Karena Mazmur 2 mengatakan Raja itu dilantik di gunung Tuhan di sorga. Dan Dia akan datang disertai orang-orang kudusNya. Orang-orang kudusNya akan ikut dan menghakimi bumi bersama-sama Raja ini. Inilah konsep yang mereka pahami, Raja datang dan orang-orang kudus menyertai. Inilah yang Paulus jelaskan di 1 Tesalonika 4, yang mengatakan pada waktu tanda dibunyikan sangkakala Allah berbunyi dan suara penghulu malaikat dinyatakan, maka Anak Manusia akan turun. Yesus akan turun dari sorga. Dan kita yang masih tinggal pada hari itu, tidak akan mendahului mereka yang sudah meninggal. Tapi pada waktu tanda diberi, pada waktu malaikat berseru, maka mereka yang mati di dalam Yesus akan dibangkitkan Allah. Lalu kita yang masih hidup, yang masih tinggal, akan diubahkan dan diangkat dengan mereka berjumpa Tuhan di angkasa. Dengan demikian kita akan selama-lamanya bersama dengan Tuhan. Orang salah menafsirkan ini sebagai pengangkatan. Pengangkatan itu tidak ada dasar alkitabnya. Di 1 Tesalonika 4 dikatakan kita akan diangkat, itu benar, karena Paulus mempunyai konsep yang dibangun dari Perjanjian Lama yaitu ketika Tuhan datang mau menghakimi, Dia akan menghakimi bersama orang kudusNya. Datangnya Tuhan menjadi Raja di bumi adalah kedatangan disertai orang kudusNya. Maka orang kudusNya harus naik dulu supaya bisa turun bersama-sama Dia. Jadi maksud 1 Tesalonika 4, orang-orang di dalam Tuhan diangkat oleh Tuhan, berjumpa Tuhan di angkasa, berjumpa di angkasa karena Tuhan dalam perjalanan turun. Dan kita berjumpa Tuhan di angkasa supaya kita turun bersama-sama dengan Dia. Maka Surat Yudas mengatakan Henokh bernubut “lihat, Tuhan turun bersama-sama orang kudusNya”, itu maksudnya. Yesus turun bersama orang-orang kudusNya. Kita naik dulu untuk make our entrance, menyatakan kehadiran Tuhan bersama-sama dengan kitadan datang ke bumi untuk menghakimi. Jadi dalam pengertian orang Yahudi, Raja itu akan datang dan memerintah. Yang datang itu Sang Raja, bukan Elia, bukan Musa, bukan siapa pun, mereka hanya pendahulu sebelum Raja itu datang.

Maka waktu Yesus hadir di bumi, Dia mengklaim diriNya sebagai Sang Raja. Dan orang Yahudi bertanya “kalau benar Engkau Raja, tanda apa yang membuktikan kamu itu benar-benar sudah datang? Karena kalau Raja itu datang pasti heboh, tapi Engkau datang dan tenang-tenang saja. Tidak ada yang melihat Engkau datang dari sorga, tidak ada yang melihat orang-orang kudus menyertai Engkau, tidak ada yang melihat tanda-tanda apa pun dari langit ketika Engkau datang”. Maka Yesus mengatakan Kerajaan Tuhan datang dalam 2 cara. Ini adalah hal yang unik, di dalam Perjanjian Lama dikatakan bahwa kedatangan Tuhan itu selalu ada 2 aspek. Aspek pertama adalah mulia, karena waktu Tuhan datang kembali pada akhir zaman, Dia akan memberikan penghakiman bagi bumi. Tapi ada aspek kedua yang orang tidak sadar, yaitu ketika Tuhan datang, Dia akan menyatakan kerendahan diri, kerendahan diri dan kerelaan berkorban. Dan tanpa disadari periode ini ternyata sangat panjang. Itulah yang Perjanjian Lama bahas dengan ringkas dan orang Yahudi gagal memahami, sehingga mereka tahunya kalau Raja itu datang, Kerajaan Tuhan akan hadir, kerajaan yang palsu akan dihancurkan dan Tuhan akan angkat murid-muridNya, Israel menjadi satu-satunya kerajaan dan seluruh kerajaan bumi ditaklukan, itu yang mereka pikir. Tapi mereka tidak tahu bahwa kedatangan yang pertama harus ada dulu, baru menyusul kedatangan kedua. Mengapa kedatangan pertama perlu? Karena kedatangan pertama membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain dan bagi pertobatan serta pengampunan supaya Kerajaan Tuhan menyebar di bumi dulu. Sebelum Yesus datang, Kerajaan Allah terdiri dari sorga dan bumi, Tuhan adalah Raja di sorga dan di bumi, tetapi Kerajaan Allah secara real hanya mungkin terjadi di Israel. Apakah Tuhan Raja atas Babel? Iya. Tuhan Raja atas Mesir? Iya. Tuhan berkuasa atas Siria? Iya. Tuhan berkuasa atas Asyur? Iya. Mengapa Kerajaan Tuhan tidak secara real dinyatakan disitu? Karena Tuhan belum buka, hanya nyatakannya di Israel. Sehingga Kerajaan Allah secara fakta adalah seluruh bumi, tapi secara real sehari-hari hanya Israel yang mungkin menunjukan inilah kerajaan. Tapi ketika Sang Anak Daud datang, Dia membuat bukan hanya Israel tapi seluruh bangsa menjadi tempat dimana Kerajaan Tuhan dinyatakan sehari-hari. Itu sebabnya Kerajaan Tuhan datang di dalam dua mode ini. Mode pertama, Kerajaan Tuhan datang dengan sangat sederhana, dengan sangat diam-diam, sangat tidak kelihatan untuk mempengaruhi orang-orang yang dipilih Tuhan untuk menjadi bagian dari Kerajaan Tuhan. Baru kerajaan itu akan dinyatakan dalam bentuk penghakiman. Jadi kedatangan pertama adalah undangan untuk berbagian di dalam kerajaan, kedatangan kedua adalah penghakiman untuk mengusir yang tidak mau berbagian. Ini sebenarnya yang terjadi, pengertian yang utuh. Maka orang Yahudi mesti dibukakan tentang pengertian ini. Dan Yesus mengatakan kedatangan yang pertama adalah kedatangan yang tidak kelihatan. Maka ayat 21 dikatakan orang tidak dapat mengatakan “lihat, Dia ada di sini” atau “lihat, Dia ada di sana”. Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu, sudah datang. Tapi kamu tidak sadar. Ini kalimat yang sangat kuat sekali, “kamu sadar tidak yang kamu harapkan sudah ada di tengah kamu?”, “saya menantikan kerajaan itu dipulihkan”, “sudah, Rajanya sudah ada di tengah kamu. Tapi kamu tolak, kamu tidak lihat tanda-tanda. Kamu menuntut tanda-tanda yang lain, tapi itu tidak diberikan kepadamu”. Maka ketika Kerajaan Tuhan itu datang, orang salah mengerti, orang tidak tahu kerajaan itu sudah dibawa di tengah-tengah mereka. Yesus terus ada di tengah orang-orang ini dan mereka tidak tahu. Mereka minta tanda, Yesus mengatakan “tanda apa? Aku sudah datang”, “mana tandanya? Semuanya salah kalau tidak cocok dengan saya”. Yesus sudah hadir dan tanda kerajaan itu tetap tidak dipahami, maka Yesus mengatakan “tanda kerajaan itu tidak kelihatan, kamu tidak bisa lihat karena kamu tidak bisa melihat kerendahan hati, pengosongan diri dan pengorbanan yang dikerjakan oleh-Ku”. Kerajaan Allah datang bukan untuk menghakimi dulu tapi untuk menarik orang datang kembali ke dalam Kerajaan Tuhan. Bagaimana cara menarik orangnya? Dengan Yesus hadir mengosongkan diri. Maka kerajaan ini menyebar juga dengan usaha mengosongkan diri, bukan dengan merebut tapi dengan memberi, bukan dengan meninggikan diri tapi dengan mengosongkan diri, bukan dengan menghantam orang tapi mengundang orang dengan resiko diri dihantam. Prinsip ini berat sekali, tapi itu yang Yesus kerjakan. Maka orang tidak melihat kalau ini adalah prinsip kerajaan itu. Waktu Yesus datang, Dia menyatakan cara kerajaan yang beda dengan cara lain, dan inilah yang Dia bawa. Maka Dia datang pertama kali untuk disalib. Dia lebih besar dari siapa pun karena kedatanganNya untuk menyatakan begitu besar cinta Tuhan, maka untuk kerajaanNya disebarkan, Dia harus jadi korban dulu. Prinsip mencintai bukan membenci, prinsip mengampuni bukan mendendam, prinsip memberi diri bukan menuntut orang lain. Ini yang harus disebarkan dan ini yang akan disebarkan melalui Kekristenan. Waktu Kekristenan menyebar di akhir zaman, Yesus menjadi teladannya. Bagaimana menyebarkan kerajaan ini? Tanya pada Yesus. Apa yang Yesus kerjakan? Lihat cara Dia hidup. Bagaimana lihat Dia hidup? Lihat Injil, Matius, Markus, Lukas, Yohanes dan prinsip-prinsip yang dikerjakan oleh para rasul, inilah cara untuk kita memahami bagaimana kita harus hidup. Waktu kerajaan itu datang, pertama-tama memberi contoh bagaimana caranya memanusiakan sesama manusia, bagaimana caranya mengagungkan nama Tuhan dengan menjalani kehidupan seperti Kristus sudah hidup. Waktu kerajaan itu disebarkan, orang tidak sadar karena prinsipnya beda dengan prinsip yang dipahami. “Tuhan, kapan Engkau datang? Kami ingin kerajaan-kerajaan besar dihancurkan”, Tuhan mengatakan “tunggu, Aku mau undang kerajaan-kerajaan kafir itu untuk menjadi milikKu”. Inilah saat akhir zaman tiba ada undangan bagi bangsa-bangsa lain, undangan bagi orang yang belum percaya, undangan bagi orang yang tidak kenal Tuhan untuk kembali kepada Tuhan. Undangan seperti ini selalu indah, agung, tapi terlalu sering kali diremehkan. Yesus adalah Pribadi yang paling banyak diremehkan karena Dia pernah disalib. Orang terus mengatakan “orang Krsiten itu bodoh mau menyembah orang yang mati dipaku di kayu, kamu pikir Dia Allah, kalau Dia Allah, mengapa Dia mati di atas kayu salib”, terus dihina. Orang tidak mengerti bahwa penghinaan itu diberikan kepada orang yang rela mati bagi dia yang menghina.

Aspek kedua, ayat 22 dikatakan “Dan Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya” yaitu kedatangan yang kedua. Hati-hati, kedatangan yang kedua ini adalah sesuatu yang sangat jelas. Pertama, kedatangan pertama sangat tenang, sangat pelan, sangat sembunyi tapi mempengaruhi dunia. Kedatangan kedua, tidak lagi sembunyi, seperti petir yang memenuhi langit, memancar dari ujung langit yang satu ke yang lain, demikian ketika Anak Manusia datang kedua kalinya. Maka Yesus berbicara sekarang dengan pesan mengenai kedatangan keduaNya. Dan Dia mengatakan kedatangan kedua tidak mungkin tidak disadari, Ayat 24 “Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya”. Maka Tuhan berikan peringatan Dia akan datang kedua kali. Ketika Dia datang kedua kalinya, Dia akan menghakimi. Tapi sebelum Dia datang, ada peringatan yaitu peringatan Nuh dan peringatan zaman Lot. Dikatakan di ayat 26 “Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia”. Di dalam Kitab Suci, Nuh membangun bahtera. Di dalam Perjanjian Baru, di Petrus, dikatakan bahwa Nuh adalah pemberita kebenaran itu. Jadi Nuh berkotbah, sambil membuat bahtera, sambil berkotbah. Tapi apakah mereka mendengarkan? Tidak, Alkitab mengatakan mereka makan minum, kawin-mengawinkan dan lain-lain”, mereka tidak peduli, mereka menganggap remeh firman. Maka Yesus memberikan peringatan jangan seperti orang pada zaman Nuh, mereka dengar kotbah tapi tidak mau percaya, tidak ada perubahan hidup, jangan seperti itu. Karena ketika Tuhan marah, tidak ada yang bisa tenteramkan hatiNya lagi. Karena yang paling mungkin untuk tenteramkan hatiNya sudah diberikan yaitu Sang Anak sudah mati di atas kayu salib bagimu. Kalau itu pun tidak mengubah engkau, tidak ada harapan lagi.

Dan Yesus mengingatkan ayat 34-35.Ini bukan soal pengangkatan. Ini berbicara tentang orang yang diterima di dalam Kerajaan Tuhan, itu akan diterima tetapi yang ditinggal akan ditinggal meskipun mereka begitu dekat. Di ayat 34 dikatakan ada dua orang tidur di satu tempat tidur, ini pasti suami istri, yang seorang akan Tuhan ijinkan masuk kerajaanNya, yang seorang akan ditinggalkan, karena yang satu mengikuti Tuhan sedangkan yang satu tidak. Maka disini dikatakan bahwa relasi antar manusia yang dekat tidak bisa menolong lagi. Ada orang-orang yang bekerja di pengilangan, yang satu akan dibawa yang lain akan ditinggalkan. Ada orang-orang di ladang, yang satu akan dibawa, yang lain ditinggalkan. Yang boleh masuk ke dalam Kerajaan Tuhan, tidak tentu masuk bersama-sama orang dekatnya. Sehingga ini menjadi peringatan yang sangat besar dari Tuhan Yesus, hati-hati dengan hidupmu, hati-hati dengan imanmu, hati-hati dengan cara hidupmu. Biarlah Kerajaan Tuhan dinyatakan dengan cara hidupmu. Lalu murid-murid tanya, ini menjadi suati chiastic yang indah, di awal orang-orang tanya, di akhir murid-murid yang bertanya. Murid-murid bertanya “dimana, Tuhan?”, kalau sebelumnya bertanya “kapan, bagaimana?”, maka yang terakhir, “dimana tempatnya, Tuhan?”. Ada yang mengatakan di Yerusalem, ada yang mengatakan di tempat lain, yang mana tempatnya? Tapi Tuhan Yesus cuma mengatakan “dimana ada mayat, disitu berkerumun burung nasar”. Ada seorang penafsir mengatakan tanda penghakiman adalah sesuatu yang sangat jelek, tidak pakai tanda yang bagus. Tapi engkau akan sadar, ada mayat ada burung nasar, ini gambaran penghakiman yang mengerikan, ini gambaran kematian. Dan Yesus mengatakan penghakiman Tuhan akan terjadi dan kamu tidak akan gagal melihatnya. Tapi waktu engkau lihat, pada waktu itu sudah terlambat untuk menghindar dari penghakiman itu. Hari ini kita belajar peringatan yang sangat ketat mengenai hidup. Biarlah kita tidak menjadi orang-orang pada zaman Nuh yang terus mengabaikan firman. Biarlah hari ini menjadi hari dimana kita bertobat kembali kepada Tuhan, menginginkan kerajaan lebih dari apa pun, menginginkan hidup bagi Tuhan lebih dari apa pun.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)