Anda disini : Home » Reformed Theology » Injil Lukas » Sola Gratia
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Sola Gratia

Pdt. Jimmy Pardede

(Lukas 17:22-27, Roma 1:20-21, Kisah Para Rasul 14:8-18)
Di dalam Kisah Para Rasul baik di pasal 14 maupun 17, di situ ada berita yang sangat indah dari Paulus, berita tentang Tuhan yang baik, berita tentang Tuhan yang adalah sumber kebaikan, berita tentang Tuhan yang berdaulat. Dia bukan cuma memberikan kebaikan, tapi Dia juga yang berdaulat menentukan batas-batas bangsa. Dialah yang memberikan bangsa-bangsa tempat untuk mereka bisa hidup, Dia juga yang memberikan berkat untuk semua orang bisa bertahan hidup. Di dalam Kisah Para Rasul 14 dan 17, Paulus berbicara kepada orang kafir yang menyembah berhala. Mereka menyembah berhala karena mereka mendapatkan kebaikan dan karena mereka merasakan ada kekuatan besar, ada kedaulatan yang melampaui mereka yang ada di atas sana. Tapi mereka tidak tahu kekuatan siapakah itu, dan mereka tidak tahu berkat dari siapakah yang mereka terima setiap hari. Ini yang terjadi di seluruh dunia. Orang menerima kebaikan demi kebaikan dari Tuhan tapi tidak pernah tahu bahwa itu adalah Tuhan yang menyediakan. Orang-orang hidup dalam batasan hukum-hukum dan batasan negara yang ditetapkan oleh Tuhan tanpa mereka sadari. Sehingga mereka hidup tahu ada kuasa tapi tidak sadar siapa pemilik kuasa itu. Mereka hidup dengan kesadaran ada berkat, tapi mereka tidak sadar siapa pemberi berkat itu. Mereka tidak pernah sampai pada pengenalan personal, karena mereka tidak pernah mendapatkan pengertian atau pernyataan lebih lengkap tentang siapa Tuhan. Namun demikian, Tuhan tetap memberikan kebaikanNya, Tuhan tetap memelihara mereka, Tuhan tetap memberikan musim-musim yang terus berganti menyatakan kebaikan, keadilan dan keteraturan dari Allah, Pencipta langit dan bumi. Allah terus melakukan ini, tapi manusia tidak pernah tergerak sedikit pun untuk mencari siapakah sumber yang sejati ini. Dan ketika mereka berusaha mencari sumber itu, datanglah tipuan dari dunia maupun setan yang mengarahkan mereka untuk sembah ilah palsu. Mereka tidak menyembah Allah yang sejati, tapi mereka menyembah ilah yang palsu. Dan terlalu banyak orang merasa bahwa ilah yang mereka sembah itulah yang benar, agama yang mereka peluk itulah yang benar, kepercayaan yang dijalankan dari nenek moyang sampai mereka, itulah yang benar. Karena itu mereka tidak mencari Allah yang sejati, sebab mereka merasakan “kami sudah dapat, kami sudah menyembah Tuhan, kami sudah tahu berkat ini dari mana, kami sudah tahu siapa yang mengatur segala sesuatu”, dan mereka berhenti pada titik itu. Bagaimana kita bisa tahu kalau apa yang dipercaya orang-orang itu salah dan apa yang kita percaya benar? dari mana kita tahu waktu kita berdiskusi dengan orang lain bahwa kita sedang berdiskusi dengan orang yang menutup mata terhadap Tuhan yang sejati dan membuka telinga terhadap dusta yang dari ilah palsu? Bukankah mereka akan mengatakan sebaliknya kepada kita? “Kamulah yang buta tidak lihat tuhanku, kamulah yang tuli sehingga dengar firman aneh dari tradisi yang tidak pernah menyatakan kebenaran yang sejati”, semua orang klaim agamanya benar, semua orang klaim yang dikerjakan itu benar. Ketika Paulus mulai berjalan memberitakan firman keapda bangsa-bangsa lain, kita melihat ada bijaksana yang sangat penting, yaitu Paulus tidak pernah tidak, dia selalu membahas apa yang dinyatakan Tuhan di dalam firman kitab suci yaitu Perjanjian Lama. Paulus tidak pernah lari dari Perjanjian Lama. Dia bisa membahasakan kalimat yang dimengerti oleh orang kafir, tapi dia tidak pernah lari dari inti pembahasan siapakah Tuhan melalui Perjanjian Lama. Kalau kita mengerti apa yang dinyatakan Tuhan, baru kita tahu tidak ada Tuhan selain Tuhan yang dinyatakan kepada Abraham, Ishak, Yakub dan seluruh Israel. Mengapa kita bilang ini Allah yang sejati? Karena Allah yang sejati ini waktu Dia menyatakan diri, Dia menyatakan diri dengan dampak ibadah dan dampak sosial, dua hal yang tidak terpisah satu dengan yang lain. Saudara makin menyelidiki Allah yang satu ini, Saudara akan makin memiliki insight pengertian untuk kaitkan pengenalan akan Tuhan dengan segala pemikiran manusia sepanjang zaman. Saudara mengenal Allah yang sejati ini maka Saudara mengetahui bagaimana caranya waktu saya menggumulkan tentang hidup sehari-hari pergumulan ini akan semakin diberikan penerangan, jawaban dan pencerahan waktu saya merenungkan tentang Tuhan. Ketika Saudara mempelajari Tuhan yang satu ini, Saudara akan melihat realita sebagai sesuatu yang tidak terpisah dari Tuhan dan tidak menjadi aneh waktu dijalankan di dalam dunia ini. Banyak orang mempunyai iman yang kalau diterapkan menjadi sangat salah dan Tuhan sindir itu waktu Dia memanggil Israel keluar dari Mesir. Waktu Tuhan memanggil Israel keluar dari Mesir, Tuhan tunjukan bahwa kepercayaan Mesir itu palsu, kepercayaan mereka itu tidak ada isinya karena begitu mereka terapkan semua yang mereka percaya, semua hidup mereka jadi rusak. Hidup jadi rusak dan tidak ada lagi makna, karena iman mereka hanya akan mengganggu realita hidup mereka. Mereka percaya bahwa Sungai Nil adalah darah dewa, maka Tuhan benar-benar ubah menjadi darah. Waktu Tuhan mengubahnya jadi darah, mereka semua setengah mati. Tuhan yang limpah akan berani tantang orang untuk mengatakan “lihat kepadaKu dan akan kutunjukan”. Banyak orang yang berdoa kepada ilah yang palsu, agama yang salah, mereka tidak sadar berapa jahatnya itu. Orang pikir agama banyak boleh pilih salah satu, tapi mereka tidak sadar berapa jahatnya itu.

Kita sudah terlalu lama hidup mengabaikan Tuhan, sehingga kita tidak punya lagi kepekaan kapan Tuhan terluka hatiNya. Kita tidak pernah berpikir Tuhan bisa sakit hati, hatiNya Mahakuasa tidak mungkin dilukai, hati Dia terlalu kuat. Tapi Alkitab mengatakan memang Tuhan kuat, memang Tuhan Mahakuasa, tapi hatiNya bisa luka. Mengapa hati Tuhan luka? Karena cinta kasih yang dicurahkan kepada manusia dibalas dengan pengkhianatan. Ini kejahatan yang tidak ada orang pikir terlalu jahat. Ini biasa, karena bagi manusia berdosa mengkhianati Tuhan itu bukan suatu hal besar. Sama seperti orang jahat mengkhianati istri itu bukan hal besar atau mengkhianati suami itu bukan hal besar. Semua orang yang sudah terlanjur dalam di sebuah dosa, tidak merasa dosanya itu terlalu bahaya. Kita tidak rasa sudah salah kepada Tuhan karena kita tidak rasa sudah menyakiti hatiNya itu sesuatu yang penting, karena kita tidak anggap hatiNya penting. Bahkan kita tidak anggap keberadaan Dia penting, “Dia boleh ada, bagus. Dia boleh tidak ada, bagus. Dia boleh ada boleh tidak ada, hidupku akan tetap berjalan seperti itu”. Ini kita lakukan kepada Tuhan dan kita anggap ini biasa. Tapi kalau Saudara lakukan ini ke orang lain atau orang lain melakukan ini ke Saudara, Saudara baru tahu berapa sakitnya ini. “Kamu kok punya agama yang lain? Orang lain punya agamanya sendiri, mana yang benar?”. “Sama saja. Tuhan itu pemaklum, maka meskipun aku mengabaikan dia dan menyembah allah yang lain, Dia oke-oke saja”. Tidak ada orang yang oke-oke saja. Kita tidak pernah berpikir bahwa menyakiti hati Tuhan itu berarti, tapi Tuhan selalu berpikir pengkhianatan kita selalu berarti. Tuhan selalu berpikir berpalingnya kita kepada dewa-dewa palsu yang ilah-ilah yang lain, sangat berarti dan sangat menyakiti Dia.Ketika Paulus sampai di Athena dengan sangat sedih mereka melihat seluruh kota penuh dengan barang-barang pujaan dan patung-patung dewa. Alkitab mengatakan Paulus sangat terbakar hatinya. Di Alkitab dikatakan waktu Paulus melihat banyak patung berhala, sedih hatinya. Kalimat ini tidak tepat, katanya kurang tepat. Yang benar adalah Paulus merasa sangat terganggu dan terbakar hatinya, emosi kudusnya muncul. Dia dengan marah melihat patung-patung ini dan mengatakan seharusnya tidak ada patung-patung ini. Dia dengan marah melihat penyembahan berhala yang terjadi dan mengatakan “harusnya ini diberikan kepada Tuhanku”. Maka marah yang suci ini karena mau menghormati kemuliaan Tuhan dan mengasihi orang Athena mendorong Paulus untuk menginjili orang satu per satu, dia pergi ke tempat-tempat dimana dia bisa berdiskusi dengan orang-orang. Dan Paulus mengatakan “kamu tidak boleh berpikir seperti itu, kamu tidak boleh berpikir Tuhan itu gangguan karena Dia yang membuat kamu hidup. Apakah kamu merasa terganggu waktu Dia pelihara kamu dengan makanan, waktu Dia turunkan hujan untuk membuat tanah subur, terganggukah kamu dengan berkat Tuhan? Kalau kamu tidak terganggu dengan berkat Tuhan, mengapa kamu terganggu dengan kewajiban menyembah Dia?”. Banyak orang tidak terganggu waktu Tuhan baik menyatakan semuanya, tapi banyak orang terganggu waktu Tuhan menginginkan ada kesetiaan hidup, kekudusan dan ketaatan kepada Dia. Semua mengganggu kita kalau tidak menyenangkan hati kita yang sangat licik dan egois ini.

Maka Paulus menekankan bahwa Tuhan yang baik, Dia yang menyatakan semuanya ini supaya kamu cari Dia. Mudah-mudahan kamu benar-benar mendapatkan Dia, karena Tuhan menunggu kamu cari. Tuhan menyatakan kebaikan dan Tuhan mengatakan “mari cari”. Jangan pikir doktrin Calvinis Reformed tidak percaya hal ini, ini tertulis di dalam Alkitab. Prinsip Reformed kita mengakui bahwa Kisah Para Rasul 17:27 bisa dibaca dan diamini oleh kita, “supaya mereka mencari Dia (yaitu Tuhan) dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia”, ini tidak ada masalah. Karena doktrin Reformed percaya kedaulatan Tuhan yang mengatur segala sesuatu, bahwa Tuhan menetapkan segala hal, dan Dia dengan aktif menjalankannya menjadi real. Tapi ini tidak meniadakan keharusan kita untuk berespon tanggung jawab kita dan pergumulan kita untuk memilih. Dua-duanya disatukan di dalam pikirannya Calvin, Agustinus dan lain-lain, yang sangat menekankan kedaulatan Allah. Jadi saya tidak mengerti kalau Arminian berdebat dengan Calvinis dan mengatakan “teorinya doktrin Calvinis salah, coba lihat Kisah Para Rasul 17: 27, Tuhan cari manusia atau manusia cari Tuhan?”. Pak Tong mengatakan manusia bisa cari Tuhan karena Tuhan lebih dulu cari manusia, jadi kedua-duanya tidak ditolak. Lalu selanjutnya “karena Dia menetapkan waktu di mana Dia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan”, “amin”, mereka semua tepuk tangan. Paulus melanjutkan “dengan cara membangkitkan Dia dari antara orang mati”, begitu sampai momen ini, tidak ada suara amin dan tepuk tangan lagi. “Ini ada bukti jelas yang menyatakan membangkitkan Dia yang telah mati dari antara orang-orang mati”, “apa? bangkit? Maksudmu ada orang mati bangkit? Saya kira kamu punya teori yang baru, ternyata masih yang lama itu. Untuk yang lama seperti ini, kami kurang tertarik”, beberapa dari mereka ada yang pergi, tapi ada juga yang tetap berminat. Dikatakan “lain kali kami mendengar engkau berbicara tentang hal ini”, “lain kali” saja harusnya diterjemahkan dengan tepat “lain kali lagi kami mau dengar lagi, bolehkah engkau lanjutkan?”. Jadi ketika Paulus berbicara, ada intelektualnya yang terangsang “kami ingin tahu lebih banyak”. Tapi apakah ini berarti mereka mau datang untuk mengenal Kristus? Ternyata tidak. Mereka tetap mengeraskan hati. Seperti yang dinyatakan dalam Roma 1, Tuhan menyatakan kuasa dan kemuliaan dan segala yang menyatakan kekuatanNya yang tidak terlihat melalui ciptaan yang terlihat. Tapi yang dilakukan manusia adalah manusia melihat kekuatan itu dan manusia membuat berhala, manusia melihat baiknya Tuhan dan membuat agama lain, manusia melihat penyertaan Tuhan dan membuat ilah palsu. Maka di seluruh Alkitab diberitakan manusia tanpa harapan berespon kepada Tuhan. Tidak ada yang berespon dengan benar, kebaikan Tuhan dibalas dengan susunan agama yang palsu, kebaikan Tuhan dimanipulasi, diterima dan setelah itu tetap manusia menjadikan dirinya patokan dan sumber dan pusat dari segala hal baik yang mereka dapatkan. Jadi Alkitab mengunci semua manusia itu sesat, tidak jelas, semua manusia mencari semua hal yang berlawanan dengan Tuhan lalu pegang itu baik-baik. Satu kali ada seorang hamba Tuhan mengatakan bahwa kita ini benci pada pribadi yang berdaulat mutlak. Kalau yang berdaulat mutlak itu bukan pribadi, kita masih oke. Banyak manusia mau kuat-kuatan sama Tuhan. Dan herannya Tuhan tidak terpancing untuk ikut kuat-kuatan dengan manusia. Banyak contoh di dalam Alkitab dimana manusia mau kuat-kuatan sama Tuhan dan Tuhan biarkan mereka merasa menang. Ada kalanya Tuhan langsung tegur, itu anugerah Tuhan, ada kalanya Tuhan biarkan. Ada orang yang teriak mengatakan “Tuhan, aku tidak percaya Engkau”, kalau tidak percaya mengapa di awalnya memakai kata Tuhan? Ada orang berani menghujat Tuhan, Tuhan biarkan. Ada orang menunjukan keberanian melawan Tuhan, Tuhan biarkan. Tuhan tidak terpancing untuk beradu fisik dengan kita, tapi Dia adalah Hakim yang menghakimi.

Itu sebabnya tanpa anugerah Tuhan, manusia tidak mengerti anugerah Tuhan. Tuhan memberikan anugerah kepada kita dan Dia memberikan anugerah lain lagi yaitu anugerah untuk sadar anugerah, anugerah untuk tahu ternyata Tuhan baik, ternyata Tuhan yang memberikan ini semua, ternyata Tuhan yang memberikan saya hidup, ternyata Tuhan yang memberikan kebaikan yang diberikan setiap hari dari pertama kali saya ada di tengah dunia ini sampai saya meninggalkan dunia ini. Baru kita tahu Tuhan baik dan memberikan anugerah, itu semua anugerah Tuhan. Maka ketika para reformator menekankan prinsip sola gratia, yang mereka maksudkan adalah Tuhan itu tidak pernah tidak baik, tapi Tuhan memberikan anugerah untuk menyadarkan kamu bahwa Dia benar-benar baik. Hanya ketika Tuhan sadarkan engkau, baru segala kecurigaan sirna, baru engkau mengatakan “ternyata segala kebaikan yang saya miliki tidak mungkin bisa saya nikmati kecuali Tuhan berkenan memberikannya kepada saya”. Mari kita berharap Tuhan terus memberikan anugerah, tapi terutama kiranya Tuhan memberikan kita anugerah yang melunakan keras hatinya kita. Paulus berbicara di dalam Kisah Para Rasul 14 dan 17, dan dia bertemu dengan orang-orang yang tidak dilunakan hatinya oleh Tuhan. Tapi Saudara dan saya bukan orang-orang yang dibiarkan keras. Tuhan melihat kita dan Tuhan kasihan kepada kita. Mengapa Tuhan kasihan kepada kita? Kita tidak tahu. Tidak ada alasan apa pun Tuhan menunjukan belas kasihanNya kepada kita, tapi Tuhan tetap mengasihani kita. Tuhan mengasihani kita yang tidak layak walaupun kita tidak pernah berhak mendapatkan apa pun dari Tuhan. Pak Stephen Tong pernah mengatakan di dalam bukunya yang pertama kali saya baca, setelah baca buku itu saya berjanji kepada Tuhan “Tuhan, saya berjanji mau mengikuti Tuhan lebih baik lagi”. Di buku itu dikatakan “kalau kamu tidak sadar apa yang kamu dapatkan dari Tuhan, maka engkau akan terus mencela Dia”, kalimat itu mengena sekali. Jika engkau tidak sadar apa yang engkau terima dari Tuhan, engkau akan terus mencela Dia. Engkau akan mencela Dia karena keadaan ekonomimu, engkau akan mencela Dia karena keadaan relasionalmu yang buruk, engkau akan terus mencela Dia karena keadaan politik yang tidak kunjung baik, engkau akan terus mencela Dia karena kesehatan yang tidak pulih juga, engkau akan mencela Dia karena keadaan yang ada di sekeliling tanpa menyadari bahwa engkau tidak pernah berhak mendapatkan satu titik kebaikan pun dari Dia. Apa yang Tuhan tahan dari kita? Semuanya Tuhan berikan, Tuhan ijinkan dipelihara oleh Dia, bahkan Tuhan memberikan firman, Tuhan berikan Roh KudusNya, Tuhan berikan semua hal yang akan datang untuk menjadi bagian kita dan Tuhan memberikan Roh KudusNya sebagai materai, dikatakan dalam Efesus 1. Tuhan menjanjikan hal yang limpah nanti dan Tuhan berikan untuk kita sekarang. Maka di dalam Surat Efesus, Paulus mengatakan “saya berdoa supaya kamu mengerti pengharapan apa yang terkandung dalam panggilanmu, berapa besarnya anugerah yang Dia siapkan untuk orang yang percaya kepada Kristus”. Ini titik penting untuk kita memahami hidup. Waktu Saudara sadar anugerah, Saudara tidak pernah sama lagi. Ketika kita menyadari Allah yang baik yang memberikan anugerah kepada kita, kita tidak mungkin sama lagi. Tidak ada titik dari dalam diri kita yang mengatakan “Tuhan, mengapa begini?”, kita lebih banyak mengatakan “Tuhan, saya tidak layak terima apa pun. Engkau sudah begitu baik kepada saya dan memberikan begitu banyak anugerah”.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)