Raja Sejati | GRII Bandung
Anda disini : Home » Reformed Theology » Injil Lukas » Raja Sejati
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Raja Sejati

Pdt. Jimmy Pardede

(Lukas 19: 28-44)

Kalau seluruh bangsa mendapatkan kesempatan untuk mengenal Kristus maka Israel tidak lagi menjadi satu-satunya. Sehingga di bagian akhir dari Injil Lukas, Tuhan mulai menubuatkan posisi Israel yang akan hancur dan bangsa-bangsa lain yang akan masuk. Mengapa Israel harus hancur? Karena mereka tidak sesuai standarNya Tuhan. Meskipun mereka pernah jadi umat pilihan Tuhan, meskipun bangunan yang menjadi simbol kehadiran Tuhan pernah ada di tengah-tengah mereka, meskipun Sang Raja yaitu Kristus hadir sebagai salah satu orang keturunan Israel dan ada di tengah-tengah mereka, tapi mereka tidak cukup standar untuk jadi milik Tuhan, maka mereka akan dihancurkan. Kalau Israel bisa disingkirkan karena mereka tidak cukup standar, demikian juga Tuhan bisa singkirkan bangsa-bangsa karena tetap tidak cukup standar untuk mengikuti Tuhan. Tuhan memberikan anugerah memanggil orang menjadi umatNya, tapi setelah itu mengingatkan mereka akan standar yang Tuhan tuntut mengenai kekudusan dan perjuangan melayani Tuhan pada setiap bangsa yang menjadi milikNya.

Itu sebabnya kalau kita membaca dari Lukas bagian akhir ini, kita melihat ada pesan yang menakutkan bagi Israel, tapi ada berita sukacita bagi bangsa-bangsa lain. Mari kita lihat Lukas 19: 28-44, ketika Yesus akan masuk ke Yerusalem, Dia memberikan cara masuk yang sangat kontroversial karena di satu sisi kalau Dia masuk dengan cara seperti ini, orang langsung ingat dari Zakharia. Di Kitab Zakharia ada bagian yang mengatakan Tuhan akan memulihkan bangsa-bangsa. Bagaimana cara Tuhan pulihkan bangsa-bangsa? Dengan cara kirim raja masuk ke dalam Yerusalem. Raja ini akan pulihkan semua bangsa bukan dengan perang, bukan dengan kekerasan, bukan dengan senjata. Tapi dengan kerelaan untuk berkorban dengan penuh kelemah-lembutan, dengan penuh ketenangan, dengan penuh pengampunan Dia akan masuk ke tengah Yerusalem mengendarai seekor keledai. Ini menjadi lambang damai, Raja Damai itu datang dan Raja Damai itu akan bertahta. Adakah raja yang mengambil tahta dengan cara damai, bukan dengan cara perang, dengan cara menawarkan damai lalu menggulingkan semua yang menjadi musuh untuk tunduk kepada dia? tidak ada. Tapi Kristus menggenapi apa yang dikatakan Zakharia bahwa akan ada raja dengan damai masuk ke tengah Yerusalem lalu dari situ dia akan mendirikan kerajaanNya. Apakah ini berarti tidak ada penumpasan bagi raja-raja yang jahat? Apakah ini berarti tidak ada penghakiman? Bukan. Penghakiman akan datang, penghakiman akan dilakukan, penghakiman akan menjadi final pada waktu Kristus datang pertama kali dan kedua kali nanti. Kristus datang pertama kali, penghakiman mulai dinyatakan. Kritus datang kedua kali nanti, penghakiman akhirnya digenapi. Tetapi kedatangan yang pertama membuat penghakiman tertimpa pada dirinya sendiri. Yesus datang pertama kali bukan untuk menghakimi seluruh kerajaan dengan cara menghukum mereka, tetapi Yesus datang pertama kali dengan memberikan diriNya sebagai korban yang menanggung segala hal yang perlu untuk damai sejahtera. Kristus datang untuk menjadi korban dulu baru setelah itu kedamaian dan juga penghakiman akan menjadi sempurna. Korban untuk menjadikan damai, korban untuk membawa banyak orang kembali kepada Tuhan, korban untuk membawa bangsa-bangsa kembali menjadi milik Tuhan. Dalam Perjanjian Lama banyak sekali berita-berita seperti ini tersebar dalam Kitab Yesaya, Yeremia atau pun di dalam Kitab Zakharia dan Maleakhi. Di dalam kitab-kitab ini terus ada bagian yang menekankan tentang kerajaan damai yang akan datang. Tentang bagaimana Tuhan akan pulihkan semua, tentang bagaimana Tuhan akan menjadi Tuhan atas seluruh bangsa. Tuhan menjadi Tuhan bukan hanya atas Israel tapi atas seluruh bangsa. Dan penghakimanNya adalah penghakiman yang dengan adil dinyatakan lewat kedatangan kerajaan damai ini. Damai bukan berarti tidak ada penghakiman, damai bukan berarti dosa boleh ditoleransi, damai bukan berarti kompromi untuk hal-hal yang tidak boleh dikompromikan. Damai bukan berarti semua sama-sama benar, damai bukan berarti kejahatan boleh dibiarkan tanpa ada pengadilan dari Tuhan. Dalam Perjanjian Lama istilah yang dipakai untuk penghakiman adalam mishpat, dan arti dari mishpat bukan hanya penghakiman untuk menghancurkan musuh, tapi arti dari mishpat adalah penghakiman yang perlu supaya kedamaian bisa terjadi. Jadi untuk segala sesuatu menjadi baik kembali, Tuhan akan menghakimi. Penghakiman Tuhan berikan bukan karena Tuhan dendam atau marah lalu mau menghancurkan musuhNya saja, tapi penghakiman diberikan supaya kedamaian yang Tuhan mau benar-benar bisa terjadi. Maka ada harga yang perlu dibayar untuk kedamaian di bumi bisa terjadi, yaitu keadilan Tuhan mesti dinyatakan, keadilan mesti ditegakan, kebenaran mesti ditegakan, apa yang suci mesti ditegakan, apa yang cemar mesti dibongkar, apa yang hina mesti disingkirkan, apa yang salah mesti diterangi dinyatakan. Dan jika ternyata pertobatan tidak terjadi maka penghakiman final akan menghancurkan semua musuh Tuhan.

Alkitab mencatat semua bangsa tadinya adalah musuh Tuhan, semua bangsa melawan Tuhan, Israel adalah satu-satunya bangsa yang dipilih oleh Tuhan, baru mereka jadi. Mereka dipilih dulu baru mereka jadi bangsa. Tuhan pilih bangsa ini melalui janji kepada Abraham, Ishak dan Yakub baru setelah itu Israel terbentuk menjadi bangsa. Berarti Israel adalah satu-satunya bangsa yang belum pernah memberontak kepada Tuhan karena mereka memang belum terbentuk. Di dalam Kitab Kejadian semua bangsa sudah pernah melawan Tuhan dan Tuhan memilih Abraham untuk mempersiapkan sebuah bangsa yang tidak ada sebelumnya. Maka ketika Israel sudah terbentuk, Israel menjadi satu-satunya bangsa yang belum pernah mempunyai sejarah melawan Tuhan. Dan ketika mereka ditebus keluar dari Mesir, waktu mereka berkumpul di kaki Gunung Sinai, pada waktu itu adalah pertama kalinya mereka diresmikan sebagai umat Tuhan. Itu pertama kali mereka diresmikan menjadi umat karena pada waktu itu Tuhan akan memberikan hukum kepada Musa untuk dinyatakan kepada Israel. Dan pada waktu itu juga Tuhan akan memberikan perintah kemah suci untuk menjadi jaminan bahwa Tuhan akan selalu hadir di tengah-tengah Israel. Maka Musa pergi ke puncak gunung untuk menerima dua hal ini, hukum atau Taurat dan yang kedua adalah kemah suci, setelah itu Musa akan turun dan bangsa itu akan menjadi milik Tuhan yang resmi. Siapa raja atas bangsa ini? Tuhan sendiri. Mana peraturannya? Taurat, itulah ajaran dan juga peraturan untuk hidupnya Israel. Mana rajanya? Tuhan. Kalau Tuhan tinggal di sorga, bagaimana Tuhan bisa menjadi raja di Israel? Ada kemah suci yang menyatakan kehadiran Tuhan di tengah-tengah Israel. Itulah sebenarnya momen sangat penting untuk Israel secara resmi menjadi umatNya Tuhan, menjadi satu-satunya bangsa di antara seluruh bangsa yang menjadi milik Tuhan. Tetapi yang terjadi selanjutnya adalah ketika Musa sudah lama di atas gunung, mereka menyembah lembu emas. Mereka mengkhianati Tuhan. Sebelum inagurasinya komplit, bangsa pilihan Tuhan ini sudah berontak kepada Tuhan. Maka di seluruh bumi tidak ada bangsa bisa membanggakan diri sebagai bangsa yang belum pernah melawan Tuhan. Alkitab sangat jelas membicarakan bangsa-bangsa. Dan satu hal yang menjadi ciri dari bangsa-bangsa menurut catatan Alkitab adalah semua bangsa-bangsa sudah melawan Tuhan, sudah memberontak kepada Tuhan. Bagaimana dengan Israel? Dari awal mereka di padang gurun, mereka memberontak kepada Tuhan. Maka kitab-kitab nabi-nabi terus berkata kepada Israel, “kamu pikir kamu bangsa yang lebih baik dari yang lain? Tidak, karena kamu pun melawan Tuhan. Sama seperti bangsa lain pernah melawan Tuhan, demikian juga kamu melawan Tuhan”. Sehingga waktu Tuhan memilih Israel, Israel tidak beda dengan bangsa lain, mereka pernah memberontak. Dan Tuhan adalah Tuhan yang adil, kalau bangsa lain memberontak dan dihakimi, maka waktu Israel memberontak, pada waktu itu juga Tuhan harus menghakimi Israel. Mengapa mereka boleh memusnahkan orang-orang Kanaan yang berdosa, padahal mereka sendiri berdosa? Karena meskipun mereka pernah berdosa, Tuhan menghakimi mereka dan mereka diberikan kesempatan untuk terus melanjutkan hidup sebagai umat Tuhan, karena Tuhan menyertai mereka. Ini yang tidak diperoleh bangsa-bangsa lain. Bangsa-bangsa lain pernah memberontak dan Tuhan hukum, Tuhan tidak berikan kesempatan kedua kepada mereka. Tuhan tidak memberikan kepada mereka kesempatan untuk kembali. Lain untuk Israel, kepada Israel Tuhan berikan kesempatan untuk kembali kepada Tuhan. Mereka pernah memberontak kepada Tuhan, tapi Tuhan mengatakan “Aku punya belas kasihan yang besar dan kesabaran yang besar terhadap kamu”, sehingga Israel harus menerima hukuman demi hukuman, tapi Tuhan tidak menghancurkan mereka sebagai bangsa. Namun kesabaran Tuhan akhirnya habis, karena pada waktu zaman Kerajaan Yoyakhin, Yoyakhim dan Zedekia, ketiga orang yang cepat sekali beralih mengambil tahta Israel karena penghakiman Tuhan datang lewat Babel. Pada waktu zaman dari tiga raja ini, Tuhan menyatakan kesabaranNya sudah habis dan Tuhan akan menghancurkan sebagai bangsa. Maka mereka dihancurkan sama sekali sebagai bangsa, tetapi Tuhan kembali pulihkan mereka. Ini yang disebut dengan penebusan yang besar sekali. Kalau Saudara mengerti Injil hanya dari Perjanjian Baru, Saudara tidak bisa melihat totalitas dari berita Injil di dalam hidup di dunia ini.

Saya mesti menjelaskan kepada Saudara apa itu Injil. Banyak orang Kristen salah mengerti Injil karena hanya melihat Perjanjian Baru sebagai pemberi penjelasan tentang Injil. Apakah Injil menurut Perjanjian Baru? Injil berarti kamu dilepaskan dari neraka menuju kepada sorga. Itu bagian yang sangat remeh dari pengertian Injil. Pengertian Injil sejati jauh lebih dalam dari itu. Pengertian Injil yang sejati tidak bisa dipahami hanya dengan membaca Perjanjian Baru karena Perjanjian Baru merangkup apa yang tertulis dalam Perjanjian lama. Perjanjian baru tidak menjelaskan ulang apa yang sudah dijelaskan oleh Perjanjian Lama. Di sini kita sering mengalami miss, keluputan di dalam memahami secara akurat karena kita tidak hati-hati memahami Perjanjian Lama untuk menjelaskan Perjanjian Baru. Umumnya kita memakai Perjanjian Baru dalam pikiran kita, lalu kita baca Perjanjian Lama dari cara Perjanjian Baru. Ada orang pernah tanya saya “pak, kalau kita beriman sama Yesus, kita selamat ya?”, “iya, kita selamat”, “kalau begitu bagaimana dengan Musa, Abraham dan orang-orang sebelum Yesus datang, bisa selamat?. Bagaimana cara kita selamat? Beriman kepada Yesus. Lalu bagaimana orang Perjanjian Lama bisa selamat, kalau percaya Yesus adalah syarat untuk selamat, bagaimana dengan orang-orang Perjanjian Lama? Ini membingungkan pikiran banyak orang, karena biasanya orang akan mulai dari Perjanjian Baru lalu telusuri Perjanjian Lama. Padahal Tuhan mencatat Kitab Suci ini lewat Perjanjian Lama dulu baru ke Perjanjian Baru. PL dulu baru PB, jadi cara yang benar membaca dari PL ke PB. Yesus mengatakan “Aku menggenapi apa yang tercatat dalam Taurat, dalam kitab tulisan-tulisan dan dalam kitab nabi-nabi”, ini tercatat dalam Lukas 24. Mengapa Lukas 24 tidak mencatat apa yang dicatat dalam Taurat, kitab-kitab tulisan dan kitab nabi-nabi? Karena itu sudah sepaket dengan Kitab Suci kita, dari Kejadian sampai Maleakhi. Maka dari membaca Perjanjian Lama, baru Saudara mengerti apa yang Perjanjian Baru coba ungkapkan. Kalau begitu berita Injil itu maknanya dari Perjanjian Baru atau Perjanjian Lama? Saya akan menjawab dari Perjanjian Lama, bukan dari Perjanjian Baru. Perjanjian Baru menyatakan berita sukacita ini akhirnya genap, berita sukacita yang sudah tercatat di dalam Perjanjian Lama. Di dalam Kitab Lukas misalnya dikatakan “ada berita baik kuberikan padamu, ada kabar baik bagi para gembala”, ada kabar baik karena Sang Bayi itu sudah datang. Bayi yang menggenapi seluruh janji Tuhan di dalam Perjanjian Lama. Janji apa? Janji bahwa Tuhan akan menjadi Allah bagi semua bangsa untuk sekali lagi. Jadi kalau Israel pernah dibuang lalu mereka dipertobatkan kembali, pertobatan Israel dari pembuangan ke tanah perjanjian itu menjadi prototype untuk pemulihan bangsa-bangsa lain. Maka kalau Tuhan mengusir semua bangsa yang sudah berdosa dan belum pernah memberikan kepada mereka kesempatan untuk kembali kepada Dia, Tuhan melakukannya melalui berita Injil. Jadi sekarang semua bangsa yang sudah terserak di seluruh bumi tanpa kenal Tuhan, akan Tuhan panggil kembali.

Bagaimana cara Tuhan panggil kembali? Dengan cara memberi kesempatan yang sama kepada bangsa-bangsa lain seperti kesempatan yang diberikan kepada Israel. Apa kesempatan yang diberikan kepada Israel? Pemulihan dari pembuangan. Maka Israel akan dipanggil dari Babel untuk kembali ke Tanah Perjanjian dan di Tanah Perjanjian itu mereka akan dipulihkan. Lewat pemulihan mereka, semua bangsa di bumi akan mendapat berkat. Mengapa mereka harus pulih dulu baru bangsa lain mendapat berkat? Karena pemulihan yang diperoleh bangsa lain adalah pemulihan yang diadopsi dari pemulihannya Israel. Jadi Israel mesti dipulihkan dulu baru bangsa-bangsa lain boleh menikmati pemulihan itu. Lalu bagaimaan cara Tuhan memulihkan Israel? Caranya adalah dengan menjanjikan raja, raja ini akan datang dan raja ini akan meneguhkan tahta Daud yang sudah ratusan tahun dihancurkan oleh musuh. Ada anak Daud yang akan menjadi raja, kapan dia datang menjadi raja? Setelah Israel pulih kembali, Yerusalem kembali didirikan, kemudian Bait Suci berdiri, lalu sang raja itu datang. Perhatikan baik-baik urutannya, urutan di Perjanjian Baru akan dibalikan. Ada Yerusalem, Yerusalem lebih dulu pulih, tapi tembok belum boleh didirikan, Bait Suci belum boleh berdiri. Akhirnya Yerusalem sudah pulih, Bait Suci sudah berdiri, nanti raja keturunan Daud akan datang. Kalau raja itu datang maka pemulihan Israel menjadi sempurna. Tapi ternyata Yerusalem di dunia ini hanya simbol, Bait Suci hanya simbol. Tetapi raja yang datang itu bukan simbol. Daud adalah raja Israel, setelah itu Daud mati, anak Daud akan bertahta, dan setelah itu Salomo bertahta. Tapi akhirnya Salomo pun mati. Namun Tuhan sudah menjanjikan anak Daud akan menjadi raja sampai selama-lamanya. Berarti anak Daud yang pernah bertahta adalah simbol, sedangkan Sang Anak Daud itu adalah penggenapannya. Demikian juga dengan Yerusalem itu adalah simbol, dan apa yang akan didirikan oleh Anak Daud yang sejati itulah penggenapannya. Bait Suci adalah simbol dan Bait Suci yang didirikan oleh Anak Daud ini adalah penggenapannya. Jadi polanya adalah ada Yerusalem, ada Bait Suci, ada Anak Daud. Itu adalah tiga syarat untuk pemulihan Israel. Kalau ketiga hal ini sudah ada berarti Israel sudah pulih. Dan kalau Israel sudah pulih, Israel akan menjadi yang sulung untuk pemulihan bangsa-bangsa yang lain. Apa yang terjadi pada Perjanjian Lama? Di bagian akhir dikatakan bahwa Tuhan kembalikan Israel darI Babel kembali ke Yerusalem. Setelah mereka kembali mendirikan Yerusalem, mereka mendirikan Bait Suci maka Yesus pun hadir. Yesus hadir untuk menggenapi pemulihan bagi Israel. Namun yang terjadi adalah Israel menolak Dia. Israel tidak mau menerima Dia menjadi Raja mereka. Israel menyalibkan Dia di atas kayu salib, Israel menolak rasul-rasul yang dikirim kepada mereka, maka Tuhan hancurkan Israel dan tidak ada pertobatan lagi. Kali ini Tuhan membuang bangsaNya sendiri, dan Tuhan melakukan itu karena mereka menolak pemulihan yang Tuhan sudah janjikan dari awal. Bait Suci sudah berdiri, Yerusalem sudah berdiri, tapi penggenapan sejati Sang Anak Daud datang, ini mereka tolak. Dan kalau mereka menolak ini maka mereka akan menolak Yerusalem yang sejati dan Bait Suci yang sejati, yang akan didirikan oleh Anak Daud ini. Pemahaman ini mungkin sangat sulit, tapi ini akan menjadi semakin jelas ketika Saudara membaca Kitab Suci dengan hati-hati dan tekun. Ada Yerusalem, ada Bait Suci, ada Anak Daud, ini yang terjadi dalam Kitab Samuel dan Raja-raja. Lalu Tuhan menghancurkan ketiganya, Anak Daud dihancurkan, Babel menghancurkan Yerusalem, Babel juga menghancurkan Bait Suci, semua hancur. Lalu Tuhan berbelas-kasihan panggil mereka kembali, dirikan kembali Bait Suci, dirikan kembali Yerusalem, dirikan kembali Anak Daud. Ketiga ini Tuhan berikan kembali kepada Israel. Berarti dari pembuangan Tuhan mau pulihkan mereka. Berapa besar cinta kasih Tuhan kepada Israel. Dan dari cinta kasih yang sama, “kamu pernah dibuang ke Babel karena berkhianat, tapi Aku panggil kamu kembali”. Dengan cinta kasih yang sama, Tuhan juga akan panggil bangsa-bangsa lain. Dengan pertobatan yang Dia tawarkan bagi Israel, Dia sekarang tawarkan bangsa lain untuk kembali kepada Tuhan. Mari kembali kepada Tuhan, mari kembali kepada Allah yang sudah mengizinkan engkau mendapatkan kesempatan kedua. Pernahkah Mesir mendapatkan kesempatan kedua di Perjanjian Lama? Tidak. Pernahkah bangsa-bangsa lain selain Israel mendapat kesempatan dipulihkan dari keadaan hancur? Belum pernah. Tapi sekarang Tuhan berikan Kristus menjadi Injil bagi bangsa-bangsa lain, menjadi berita sukacita bahwa sama seperti pengampunan yang Tuhan berikan kepada Israel, demikian pengampunan akan Tuhan berikan kepada bangsa-bangsa lain. Inilah fondasi teologis yang perlu kita pahami untuk kita mengerti Kitab Injil dengan lebih akurat. Jadi berita Injil berarti Tuhan mau kembali menjadi Rajamu, Tuhan mau kembali menjadi Tuhanmu. Memang kita sudah berdosa, tapi Tuhan mau kelompok ini membentuk satu umat yang disebut dengan bait suciNya Tuhan. Jadi Kristus mati dan bangkit menebus sebagian dari Israel, bukan semua. Sehingga lewat Israel yang sebagian ini bangsa-bangsa lain dapat percaya kepada Kristus. Siapa pengabar Injil yang pertama? Orang Israel yang disebar oleh Tuhan mengabarkan Injil kepada bangsa-bangsa lain. Paulus pergi ke sinagoge, di sana dia mengkhotbahkan Kristus. Setelah itu dari orang-orang yang percaya di sinagoge, berita itu disebarkan ke bangsa-bangsa lain. Jadi Tuhan tidak gagal di dalam rencananya. Namun apa yang Yesus katakan adalah “kalau engkau menerima Aku, kamu akan dipulihkan. Damai sejahteramu akan menjadi komplit. Namun kalau engkau menolak Aku, damai sejahteramu tidak akan pernah tercapai, kamu akan dihancurkan”. Kapan Israel dihancurkan? Israel hancur sekitar tahun 70an, Yerusalem hancur tahun 70. Itu terjadi setelah Jenderal Titus bawa pasukan dari Romawi untuk menghancurkan mereka. Dan itu terjadi tidak terlalu lama setelah Paulus diusir oleh mereka. Yerusalem adalah tempat para rasul memberitakan Injil, tapi mereka tidak mau terima. Mereka mengadakan penganiayaan, mengusir orang-orang Kristen di sana. Dan banyak orang yang tetap Kristen akhirnya harus menderita karena dianggap pengkhianat, “kamu Yahudi mengapa percaya orang yang mati disalib itu?”, “karena Raja itu memang akan memulihkan kita, lewat kematian dan kebangkitanNya di kayu salib, kamu harus percaya”. Orang Yahudi tidak mau percaya, mereka membuat orang-orang Kristen miskin, tidak boleh punya usaha, tidak boleh punya pekerjaan, tidak boleh punya penghasilan yang baik. Maka orang Kristen di Yerusalem sangat miskin. Itu sebabnya Paulus mengusahakan boleh ada persembahan dari tempat-tempat lain untuk menunjang orang-orang Kristen di Yerusalem. Mereka melakukan penganiayaan lebih besar, orang Kristen mulai pergi dan pergi. Tapi ada satu yang membuat mereka pergi dengan cepat, yaitu pasukan Roma yang bersiap memerangi Yerusalem. Waktu pasukan Roma mendekat, mereka sudah melihat apa yang Yesus katakan di dalam Injil. Di dalam Injil, Yesus sudah menubuatkan “pergi, tinggalkan Yerusalem. Kalau kamu melihat pembinasa keji berdiri di tempat suci, waktunya bagi kamu untuk segera lari tinggalkan Yerusalem”. Yesus di dalam Lukas 19, Matius 20 bagian belakang, Yesus mengucapkan nubuat kehancuran untuk Yerusalem, inilah yang membuat orang Kristen segera pergi ketika Roma mendekat. Dan waktu orang Kristen pergi, Yerusalem akhirnya hancur. Orang Kristen pergi, selain karena Yesus menubuatkan kehancuran Yerusalem, juga karena mereka ditindas dan dianiaya berat sekali. Rasul terakhir yang masih bisa di Yerusalem yaitu Paulus. Paulus ketika sudah keliling kemana-mana, dia kembali ke Yerusalem. Waktu dia mau masuk Bait Suci untuk beribadah, seluruh bangunan disegel oleh orang Yahudi dan mereka mengatakan “pengkhianat, yang mengacaukan seluruh dunia sekarang ada di sini, di Yerusalem, tangkap dia, matikan dia”. Maka orang Yahudi tangkap dia, mau matikan dia, sampai akhirnya ada pasukan Roma yang mencegah dan mengamankan Paulus. Setelah itu Paulus diusir, dia harus naik banding ke Roma, Paulus ditolak oleh Yerusalem. Setelah Yerusalem menolak Paulus, tidak ada kesempatan Injil masuk ke Yerusalem. Paulus adalah rasul terakhir. Dan di Surat Roma, Paulus juga mengatakan “doakan aku yang mau masuk Yerusalem, karena aku adalah pengharapan terakhirnya Yerusalem. Kalau aku pun mereka tolak, aku yang mengabarkan Yesus mati dan bangkit, mereka tolak, mereka pasti hancur”. Maka Yesus mengatakan Dia akan diterima oleh orang-orang yang dipulihkan. Apa yang akan diterima dari Yesus? Kematian dan kebangkitanNya. Kalau engkau menerima kematian dan kebangkitanNya sebagai titik awal pemulihan Israel dan bangsa-bangsa lain, maka kamu akan mendapatkan damai sejahteramu. Tapi jika engkau menolak, kamu akan dihancurkan. Inilah yang terjadi, maka Yesus menubuatkan kehancuran Yerusalem karena menolak untuk memercayai Dia. Sehingga masuknya Dia sebagai Raja menandakan Dia akan segera memulihkan kaum pilihan, kaum sisa, tapi bukan semuanya. Mari kita belajar mengamini ini dengan tepat, mari kita belajar memahami ini di dalam hidup kita. Saudara dan saya dipanggil bukan untuk menjadi Kristen secara cover, kita tidak dipanggil menjadi Kristen secara catatan di kartu identitas. Saudara dan saya dipanggil untuk menjadi Kristen dan menghidupi kehidupan Kristen yang sejati. Kehidupan yang memercayai Kristus, kehidupan yang mengatahui tujuan dipanggil Kristus itu memulihkan kita.

Cara Tuhan memulihkan adalah dengan memberikan diriNya jadi korban. Maka setelah bangsa-bangsa lain Tuhan buang, Tuhan panggil Israel. Setelah Israel Tuhan buang, Tuhan memanggil Israel kembali dengan cara mengirimkan Kristus. Lalu setelah Kristus dikirimkan, Israel boleh dipulihkan. Dan setelah Israel, bangsa-bangsa lain boleh dipulihkan. Harap Saudara melihat chiasticnya, bangsa-bangsa lain sudah memberontak kepada Tuhan, Tuhan panggil Israel. Israel sudah memberontak kepada Tuhan, Tuhan pulihkan Israel. Bagaimana cara Tuhan memulihkan Israel? Dengan cara mengirimkan Bait Suci, Yerusalem dan Mesias yaitu Kristus. Setelah Israel dipulihkan karena Kristus hadir, sekarang bangsa-bangsa lain boleh ikut dipulihkan. Bangsa lain berontak, Tuhan bangkitkan Israel. Israel berontak, Tuhan kirimkan Kristus. Israel dipertobatkan, Tuhan pertobatkan bangsa lain. Jadi bangsa lain – Israel – Kristus – Israel – bangsa lain, ini indah sekali kalau kita pahami. Jadi bangsa-bangsa lain memberontak, Tuhan biarkan. Bukankah itu kasihan? Biarkan. Mereka membuat agama sendiri, biarkan. Mereka menyembah berhala, biarkan. Tuhan boleh membiarkan orang-orang di dalam kesesatan mereka karena mereka sudah memilih untuk menolak Tuhan. Waktu manusia memberontak melawan Tuhan, Tuhan tidak berkewajiban harus memulihkan mereka lagi. Di dalam doktrin Reformed ada prinsip predestinasi yang sering kali dikritik, “masa sih Tuhan hanya pilih sebagian?”, Tuhan tidak berkewajiban untuk menyelamatkan semua. Tuhan tidak harus mengampuni semua, kalau yang diampuni itu tetap tidak memiliki perubahan apa pun dan tidak datang kepada Dia, Tuhan berhak tidak mengampuni. Kalau ada teman saya terus berdosa sama saya, tidak mengembalikan uang yang dipinjam dari saya, tipu saya, fitnah saya, haruskah saya ampuni dia? Kalau Saudara mengatakan “harus mengampuni musuh”, benar memang harus mengampuni musuh tapi Tuhan mengatakan “kalau musuh itu datang kepadamu dan mengatakan: aku menyesal. Kamu harus terima dia lagi. Tapi kalau dia tidak pernah datang kepadamu dan menyesal, bagaimana mungkin pengampunan itu diberikan”. Banyak orang Kristen tidak mengerti pengampunan. Pengampunan itu apa? Pengampunan itu berarti Saudara siap hati untuk mengubah sikap ketika orang mengakui kesalahannya dan kembali kepada Saudara. Kalau orang mencuri harus dihukum, tapi bagaimana kalau dia bertobat? Pertobatan boleh, tapi hukuman mesti jalan. Keadilan dan cinta kasih mesti berhikmat dipadukan, mesti dengan tepat sesuai kitab suci diberlakukan. Itu sebabnya orang Kristen tidak boleh mengabaikan keadilan, tidak boleh mengabaikan kewajiban dan keharusan. Jangan mengumbar pengampunan dengan gampang kepada orang yang tidak kelihatan menyesal. Gereja harus keras kepada orang yang mengatakan bertobat tapi terus jatuh dalam dosa yang sama. Entah itu penyimpangan dalam hal seksual, keuangan, atau dalam moral yang lain, gereja mesti ketat mengatakan “kami bersedia mendisiplin engkau dan membimbing engkau ke jalan yang benar. Tapi jika engkau tidak juga bertobat, mungkin kami harus usir engkau keluar”, inilah prinsip yang harus kita pahami. Bangsa lain Tuhan buang, Tuhan tidak harus ampuni mereka, mereka sudah sangat menyakiti hati Tuhan dan mereka sudah berontak melawan Tuhan. Lalu Tuhan mendirikan Israel, Israel pun memberontak. Tapi Tuhan pilih untuk mengampuni mereka, karena dasar yang Tuhan berikan untuk mengampuni mereka akan Tuhan pakai untuk bangsa-bangsa lain. Maka kalau bangsa lain mengatakan “enak ya Israel diampuni, mengapa kami tidak?”, jangan salah, pengampunan Israel akan menjadi dasar pengampunan bagi bangsa lain.

Bagaimana Israel diampuni? Dengan tiga hal ini, Israel harus punya kota yang dari Tuhan, punya Bait Suci, punya Anak Daud. Mengapa tiga hal ini harus ada? Karena kota yang dari Tuhan adalah kota yang Tuhan dirikan untuk menyatakan damai sejahtera dan pimpinan dari kerajaanNya secara real. Kota akan menjadi contoh dari dampak pemulihan yang Tuhan berikan kepada Israel. Jadi harus ada kota. Ini boleh kita tarik pada zaman kita sekarang, orang Kristen dipertobatkan oleh Tuhan, harus berdampak kepada lingkungannya. Apakah sebuah kota menjadi baik dengan adanya Kekristenan atau tidak, itu menjadi ukuran apakah Tuhan dipermuliakan atau tidak, apakah penebusan kita berdampak atau tidak. Maka kota harus didirikan. Kemudian Bait Suci harus berdiri, karena Bait Suci menyatakan kesatuan antara umat dan Tuhannya. Dan ketiga yang paling penting, Kristus harus datang. Yang dilakukan Kristus adalah Dia mati di kayu salib. Mengapa mati di kayu salib? Karena Dia harus membebaskan Israel dari dosanya dengan menanggung segala hukuman Israel bagi diriNya. Dan dari situ Dia menanggung hukuman seluruh bangsa dan membuka jalan pendamaian baik bagi Israel terlebih dahulu, maupun kepada bangsa-bangsa lain yang akan Tuhan berikan kemudia. Ini sebabnya Injil harus kita pahami dengan cara yang tepat. Israel mendapatkan pemulihan dari Tuhan melalui pengorbanan Kristus, itulah inti dari Injil. Lalu bangsa-bangsa lain akan dipanggil Tuhan untuk menikmati bagian Israel yang dipertobatkan oleh Raja ini yaitu Kristus. Maka di Kitab Zakharia dikatakan “lihat, ada Raja datang, Dia mengendarai seekor keledai beban muda”, keledai yang sangat halus, bukan kuda yang dipakai berperang, tapi keledai yang dipakai untuk kegiatan sehari-hari orang Israel pada waktu itu. Keledai yang melambangkan damai, bukan kuda yang melambangkan peperangan. Keledai inilah yang menjadi tanda Raja itu memulihkan Israel, dan dari pemulihan Israel, Tuhan akan memulihkan bangsa-bangsa lain juga. Kalau mindset ini sudah beres, baru kita bisa mengerti apa yang Kristus lakukan di sini. Kristus suruh murid-muridNya dengan mengatakan “pergilah ke satu tempat, ada sebuah kampung di depanmu, kamu akan melihat ada seekor keledai muda tertambat. Ambil keledai itu lalu bawa kemari”. Yesus menyuruh mengambil keledai yang bukan milik mereka, juga bukan milik Yesus, untuk dipakai Yesus masuk Yerusalem. Bagaimana caranya? Tetapi Yesus mengatakan “ambil dan katakan Guru memerlukannya”. Dan mereka mengerjakan semua tugas yang harus mereka lakukan dengan mulus bukan main. Yesus menyuruh mereka hal yang sulit, tapi bisa terjadi dengan sangat simple. Mengapa mereka harus melepaskan keledai ini? Karena mereka sedang menggenapi Kitab Zakharia. Di dalam Kitab Zakharia dikatakan Raja itu datang mengendarai keledai dan murid-murid berbagian menggenapinya. Maka kalau Tuhan memerintahkan hal yang simple dan sepele, kerjakanlah. Karena dampak yang besar bisa terjadi kemudian. Di bagian ini dikatakan akhirnya mereka melepaskannya dan mereka mengatakan “Tuhan memerlukannya”, mereka memberikan itu kepada Yesus. Lalu Yesus mengendarai keledai itu masuk dalam Kota Yerusalem. Ketika murid-murid melepaskan keledai itu dan memberikan kepada Yesus, tidak ada hal aneh yang terjadi. Tapi waktu Yesus menunggangi masuk ke Yerusalem, tiba-tiba terjadi kehebohan karena berita Yesus masuk Yerusalem sudah menyebar besar sekali. Kita tidak tahu apa yang menyebabkan seluruh Yerusalem gempar karena Yesus datang kesitu, tapi Injil Yohanes memberikan penjelasan itu. Kristus menjadi sangat populer setelah peristiwa ini dan ketika Dia masuk ke Yerusalem semua orang langsung ingat Zakharia. Di dalam Zakharia dikatakan Raja itu datang dan sekarang Yesus sudah datang, mereka langsung penuhi Kota Yerusalem dengan penyambutan yang sangat meriah.

Lalu penyambutan ini bukan cuma mengingatkan mereka kepada Kitab Zakharia, tapi ini juga mengingatkan mereka kepada Kitab Raja-raja. Di dalam Kitab Raja-raja ada raja yang mengaku menjadi raja, raja menurut pengakuan diri, self-aclaim king, self-appointed king. Banyak orang menjadi siapa dirinya berdasarkan penunjukan diri. Ada orang yang mengangkat dirinya menjadi orang yang paling berbakat dalam seni, siapa yang mengakui? Dirinya sendiri, self-appointed expert. Maka ada 2 hal, Zakharia maupun Raja-raja yang sangat kental di dalam berita Lukas ini. Yesus dianggap sebagai Anak Daud yang sekarang boleh bertahta atas seluruh bangsa. Ini bisa berarti perang dengan Romawi. Israel saat itu sangat panas di bidang politik. Di dalam Israel pada waktu itu ada isu politik yang sangat hangat, yaitu banyak kelompok memberontak kepada Romawi dengan mengaku diri sebagai Mesias. Maka kalau ada huru-hara seperti ini, tiba-tiba ada yang mengatakan “diberkatilah dia, diberkatilah raja”, ini bisa membuat orang Roma marah. Sehingga orang-orang Farisi mengatakan “tolong Yesus, suruh murid-muridMu diam. Mengapa mereka teriak-teriak kalau Engkau adalah Raja? Nanti bisa heboh”. Lalu Yesus menjawab “jika mereka diam, batu yang akan teriak”. Maksudnya adalah tidak ada orang yang bisa mencegah memuji Raja yang datang ke Yerusalem, ini memang waktunya Dia ditinggikan, ini memang waktunya orang mengakui Dia adalah Raja yang akan memulihkan segala sesuatu. Maka Yesus dengan sangat besar pengaruhNya, memberikan suasana yang menggoncangkan seluruh Yerusalem pada waktu itu. Bahkan di dalam Injil Yohanes ada kalimat “kamu gagal membuat orang ini tidak diikuti, sekarang lihat seluruh dunia gempar mengikuti Dia”. Saudara bisa bayangkan berapa gemparnya Yerusalem pada waktu itu. Ketika Yerusalem begitu gempar, tiba-tiba Yesus mengatakan kalimat yang menakutkan sekali, Dia menangisi Yerusalem dengan mengatakan “wahai betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu. Tapi sekarang hal itu tersembunyi bagimu. Akan datang harinya musuh akan mengelilingi engkau, menghimpit engkau dari segala jurusan dan membinasakan engkau”. Mengapa waktu Yesus datang ke Yerusalem, menyatakan diri sebagai Raja yang sah, diakui oleh banyak orang di Yerusalem pada waktu itu, tapi Dia malah mengatakan “Yerusalem akan hancur”, ini aneh sekali. Mengapa Yesus menubuatkan kehancuran Yerusalem, padahal kedatanganNya harusnya memulihkan Yerusalem? Ingat yang saya khotbahkan tadi, bangsa-bangsa sudah memberontak, Tuhan pilih Israel. Israel sudah berontak, Tuhan selamatkan mereka. Mereka yang dipilih oleh Tuhan yaitu Israel, mau kembali kepada Kristus maka bangsa-bangsa lain akan diselamatkan karena Kristus yang sudah menggenapi keselamatan itu. Pola ini sangat indah, bangsa-bangsa berontak, Tuhan panggil Israel. Israel berontak, Tuhan pertobatkan. Pertobatan Israel menjadi fondasi bagi pertobatan bangsa lain. Tapi yang terjadi adalah Yesus mengatakan kalimat “engkau akan hancur”. Mengapa akan hancur? Karena waktu Yesus mau mempertobatkan Israel, Dia harus mengorbankan diriNya mati di kayu salib. Dan kalau Dia sudah mengorbankan diriNya mati di kayu salib, Dia akan bangkit dan memulai pemulihan itu lewat kebangkitanNya. Maka berita kematian dan kebangkitan Kristus menjadi titik sentarl untuk pemulihan Israel dan pemulihan bangsa-bangsa lain. Maka pola tadi harus dipahami terlebih dahulu, bangsa-bangsa semua memberontak, Tuhan bangkitkan Israel. Israel memberontak, lalu Tuhan pulihkan Israel lewat Kristus yang mati dan bangkit. Maka kalau Kristus yang mati dan bangkit diterima oleh Israel, pada waktu itu Israel pulih, dan pemulihan ini akan menjadi milik seluruh bangsa. Tapi Yesus menyatakan hal yang aneh “Israel akan hancur”, karena kematian dan kebangkitanNya tidak diterima oleh Israel. kalau begitu apakah skema tadi berhasil? Berhasil, karena seluruh bangsa memberontak, Tuhan panggil Israel. Israel berontak, Tuhan pulihkan. Dari pemulihan ini bangsa-bangsa lain ikut dipulihkan. Waktu Israel dipulihkan apakah seluruh Israel menerima Yesus? Tidak, hanya sebagian, hanya kaum sisa. Dan dari cara inilah seluruh bangsa akan dipertobatkan. Jadi skema Tuhan adalah seluruh bangsa memberontak, Tuhan panggil Israel. seluruh Israel memberontak, Tuhan pulihkan Israel, tapi yang pulih hanya sebagian kecil. Demikian juga dari seluruh bangsa, yang pulih hanya sebagian kecil dari setiap bangsa. Dan dari setiap bangsa yang dipulihkan, beserta dengan Israel yang dipulihkan, mereka akan membentuk umat yang disebut dengan baitNya Tuhan. Ini berita indah sekali, konsistensi Alkitab luar biasa dari Kejadian sampai Wahyu. Maka sama seperti hanya sebagian kecil Israel yang bertobat, demikian hanya sebagian kecil dari bangsa-bangsa yang akan bertobat. Dari Indonesia tidak banyak orang benar-benar Kristen hanya kecil. Di Amerika banyak orang menyebut diri Kristen, tapi tidak semua sungguh-sungguh pengikut Kristus. Demikian juga di Eropa banyak orang menganut Kekristenan hanya sebagai catatan di KTP saja. Banyak orang tidak peduli Kekristenan. Maka Saudara bisa melihat dunia ini mengajarkan bagaimana komitmen iman kepada Kristus itu sesuatu yang sekunder, bahkan tertier, bahkan mungkin nomor 4 atau 5 dan lain-lain, “yang paling penting itu bukan Tuhan, yang penting itu hal-hal lain”. Maka iman kepada Kristus selalu dikompromikan, selalu dianggap rendah, selalu dianggap remeh. Tapi orang yang benar-benar memegang teguh iman hanya sedikit, inilah umat yang sejati, inilah yang ditebus oleh Tuhan. Maka Israel dipulihkan hanya kaum sisa, hanya sebagian, demikian dari bangsa-bangsa lain akan masuk sekelompok orang yang menjadi milik Tuhan bersama dengan kelompok sisa dari Israel. Di dalam Surat Roma, Paulus mengatakan “saya Yahudi dan saya tidak menolak Kristus”. Demikian Tuhan belum buang Israel karena sebagian besar Israel menolak Tuhan, namun ada kelompok yang mau terima Dia. Kelompok inilah yang menjadi umat Tuhan yang asli, bersama dengan kelompok yang mau terima Dia, dari Italia, Romawi, Babel, Mesir, Anthiokia, Efesus, semua untuk apa, kehidupan yang mengetahui hidup suci itu penting, kehidupan yang mengetahui bahwa memperjuangkan kemuliaan Tuhan di dalam seluruh aspek hidup itu sangat penting. Kehidupan yang mengetahuai bahwa menikmati Tuhan secara pribadi itu sanga penting. Ini akan membuat Saudara menjadi manusia yang agung, manusia yang penuh damai sejahtera, manusia yang akan membagikan damai sejahtera di tengah-tengah lingkungan, di tengah dunia yang sudah berdosa ini. Maka biarlah kita mengetahui hal ini, Yesus datang untuk memberikan damai sejahtera untuk sekelompok orang yang benar-benar mengerti beriman kepada Dia. Apakah kita orang itu, apakah kita kelompok yang mengakui Dia atau hanya kelompok mayoritas yang cuma mau identitas di kulit saja tapi yang tidak benar-benar menjalankan hidup seperti yang harusnya dijalankan sebagai pengikut Tuhan.
Mari kita insyaf dan benar-benar sadar, Israel pernah diberikan kesempatan bertobat, tapi setelah mereka menolak mengenal Kristus dengan benar, mereka akhirnya disingkirkan. Kiranya Tuhan mengasihani kita dan memelihara kita menjadi milikNya selamanya.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)