Anda disini : Home » Reformed Theology » Injil Lukas » Menghargai yang Tuhan hargai
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Menghargai yang Tuhan hargai

Pdt. Jimmy Pardede

(Lukas 20: 45-47; 21: 1-6)
Dalam pasal 19 dan seterusnya Lukas mulai mempersiapkan kita untuk masuk dalam bagian akhir dari kehidupan Kristus. Kematian Kristus yang mendekat, yang dianggap sebagai puncak dari pekerjaan Kristus, itu sudah dekat. Lukas menuliskan kitabnya dalam bentuk perjalanan, ini sering disebut travel motive, ada pola perjalanan dari permulaan pelayanan Yesus dibaptis di Sungai Yordan, setelah itu Dia melanjutkan pelayananNya terus, dimulai dari Nazaret kemudian nanti akan berakhir di Yerusalem. Ini merupakan satu gambaran yang sangat jelas untuk menggenapi apa yang dikatakan Zakharia dan Maleakhi. Di dalam Kitab Zakharia dikatakan ketika Sang Mesias itu datang, Anak Daud itu datang, Dia akan datang dari daerah padang gurun, masuk dan Dia akan mengakhiri perjalananNya di Yerusalem. Dia akan membenahi semua yang salah dan Dia akan membersihkan Bait Suci. Mengapa Tuhan Yesus harus membersihkan Bait Suci? Karena praktek agama di Bait Suci sudah sangat rusak. Maka sebelum Yesus mati, Bait Suci harus tetap ada. Yesus harus berkhotbah di dalamnya, Yesus harus menyatakan bahwa Bait Suci ini sebentar lagi digenapi melalui kematian dan kebangkitanNya. Dan setelah Yesus mati dan bangkit, Bait Suci sudah tidak lagi mempunyai arti seperti yang dimiliki di Perjanjian Lama. Jadi arti Bait Suci sangat penting, tapi setelah Yesus bangkit arti itu dialihkan ke Kristus yang sudah bangkit. Tubuh Kristus yang bangkit dan tubuh Kristus yang ada di bumi yaitu gerejaNya, itulah Bait Suci yang sejati. Bagian-bagian dari Kitab Suci yang sangat penting salah satunya adalah bagian yang berbicara tentang Bait Suci. Bait Suci dari Kitab Keluaran sampai nanti Wahyu terus berbicara tentang kehadiran Tuhan. Bait Suci adalah simbol kehadiran Tuhan dan Kristus menyatakan diriNya sebagai Bait yang menggenapi bait yang lama. Sehingga setelah Dia menggenapi, bait yang lama boleh hilang. Tapi akankah Tuhan menghancurkan Bait Suci tanpa alasan? Tuhan mempunyai rencana Bait Suci akan digenapi oleh Kristus, tapi Tuhan tidak pernah bertindak kecuali tindakanNya merupakan hukuman yang adil. Jadi Tuhan tidak hancurkan Bait Suci karena Yesus sudah genapi, selalu ada alasan yang bersifat moral dan kesucian Tuhan ketika Dia menyatakan penghancuran. Sama seperti ketika Israel keluar dari Mesir, Israel keluar dari Mesir dan Tuhan hancurkan Mesir dengan 10 tulah. Tetapi sebelumnya Tuhan sudah berfirman, karena Mesir menindas Israel maka Tuhan akan hancurkan mereka, karena Mesir menolak Israel untuk pergi maka Tuhan akan hancurkan mereka. Sehingga kehancuran yang dialami Mesir adalah kehancuran yang adil. Tuhan menjalankan rencanaNya dan rencanaNya Dia jalankan terkadang dengan penghancuran dari sesuatu yang sudah lama stabil berdiri. Tapi penghancuran itu tidak pernah dikerjakan oleh Tuhan dengan semena-mena, selalu ada alasan yang adil. Demikian juga dengan Bait Suci, Bait Suci Tuhan hancurkan karena Kristus sudah bangkit, tapi Tuhan tidak menghancurkan tanpa alasan yang adil. Tuhan menghancurkan karena praktek agama Israel pada waktu sudah sampai tahap yang tidak bisa ditoleransi lagi oleh Tuhan, sehingga Bait Suci pun harus hancur. Maka sebelum Kitab Injil berbicara tentang matinya Yesus di kayu salib, Kitab Injil terlebih dulu mencatat kehancuran Bait Suci yang dikatakan oleh Yesus Kristus.

Pada bagian hari ini yaitu ayat 5 dan 6 yang berbicara tentang kehancuran Bait Suci. Nanti Saudara bisa lihat lagi di ayat 20-24, Yesus menyatakan kembali tentang penghancuran Bait Suci ini. Dimulai dalam peristiwa 45-47, Yesus sudah menyatakan hati-hati terhadap Ahli Taurat, hati-hati terhadap orang yang menjadi pemimpin dan pengajarmu. Yesus sangat anti terhadap pemimpin agama karena sifat mereka yang korup, tetapi Yesus tetap menjadikan diriNya jalan keluar kalau mereka mau bertobat. Minggu lalu saya sudah bagikan bahwa orang Farisi dibenci oleh orang-orang yang menganggap mereka munafik. Orang-orang Farisi dibenci oleh pemungut cukai yang menganggap orang Farisi munafik. Dan waktu orang Farisi mengatakan “pemungut cukai adalah orang berdosa”, pemungut cukai dengan sakit hati mengatakan “kamu pun berdosa, tapi kamu berdosa pakai jubah agama”. Sampai Yesus datang dan mengatakan “celakalah orang Farisi”, maka pemungut cukai seolah-olah mendapatkan pembelaan. Tapi Yesus tidak memihak, Dia tidak mengatakan “Aku berpihak kepada pemungut cukai dan Aku membenci para Farisi”, karena waktu pemungut cukai undang Dia makan, Dia mau datang. Dan waktu Farisi mengundang Dia makan, Dia pun tetap datang. Dia tidak menjadi orang yang menghantam satu kelompok demi menghantam kelompok yang lain. Dia menjadikan DiriNya Juruselamat bagi semua orang. Dia menjadi Juruselamat bagi orang berdosa yang mau bertobat. Entah itu dosa yang membuat dia diremehkan oleh masyarakat, atau pun dosa munafik yang membuat seseorang penuh dengan kepalsuan dan disanjung oleh masyarakat. Yesus tidak memilih siapa yang akan diselamatkan, tentu Dia memilih berdasarkan konsep pilihan Tuhan. Tapi alasan Tuhan memilih tidak pernah berdasarkan status sosial, tidak pernah berdasarkan pengertian atau pun kekayaan. Tuhan tidak pilih orang karena orang itu kaya, Tuhan juga tidak pilih orang dalam kekekalan karena orang itu miskin. Tuhan tidak pilih berdasarkan hal-hal seperti ini. Itu sebabnya ketika Yesus menjadikan diriNya jalan keluar dan Juruselamat bagi Israel, Dia tidak pilih siapa yang bisa diterima oleh Dia. Tapi terkadang manusia sudah punya mindset yang terpaku pada satu pola. Pola itu harus diruntuhkan. Ketika orang berpikir yang diselamatkan itu para pemimpin agama, orang Farisi, orang-orang hebat, orang-orang yang suci, Tuhan mengatakan “celakalah kamu orang-orang suci”. Lalu orang berpikir kalau begitu diantara mereka tidak ada yang selamat, yang selamat itu adalah nelayan-nelayan dari Galilea, orang-orang sederhana dari Nazaret, teman-teman dari Yesus Kristus ketika Dia memulai pelayananNya. Orang-orang sederhana, yang kecil, yang tidak dianggap, inilah yang dipilih Tuhan. Setelah orang berpikir “bukan yang itu tapi yang ini”, mereka mulai membangun kerangka yang seperti ini yang dipilih Tuhan. Sekali lagi Tuhan merombak dengan memanggil Paulus. Paulus adalah orang Farisi, dia seorang Ahli Taurat, dia seorang pemimpin agama, dan Tuhan pertobatkan dia. Jadi Tuhan mengambil dari banyak kelompok orang-orang yang akan menjadi milikNya, menjadi umat yang akan melayani Tuhan. Ini yang bisa kita lihat pada saat ini, kita dilatih oleh Tuhan untuk memunyai hati yang luas, untuk menerima siapa pun menjadi bagian dari Kerajaan Allah. Karena Yesus pun datang untuk menjadi Juruselamat segala bangsa. Kita mudah sekali bicara seperti ini dan mengamini, sampai kita sendiri harus mengambil keputusan untuk menampung orang yang asing bagi kita secara ras tapi tidak asing secara iman. Ini yang menjadi ujian, Saudara melihat orang dari imannya, bukan dari warna kulit, bukan dari keturunan mana, bukan dari warga mana atau bangsa mana. Satu-satunya kesulitan kalau kita pilih orang adalah bahasa, kalau bahasanya sudah beda itu mungkin satu pertimbangan lain. Yesus datang untuk menyatakan bahwa tembok pemisah antar kelompok yang dibuat oleh manusia sudah Tuhan hancurkan. Bahkan Richard Mouw di dalam bukunya When The Kings Come Marching In, dia mengatakan Tuhan bahkan meruntuhkan tembok antar bangsa yang dibangun oleh karena manusia ngotot bersatu melawan Tuhan. Waktu manusia memilih bersatu untuk melawan Tuhan, Tuhan bikin pecah. Tapi Tuhan tidak mau manusia terus pecah, akan ada saat dimana Tuhan kumpulkan orang-orang menjadi satu di dalam identitas, bukan bangsa, bukan ras, bukan suku, tapi identitas iman kepada Kristus.

Maka Kristus sedang mengajarkan kepada orang banyak, hati-hati kepada dosa yang sangat besar yaitu dosa pemimpin agama. Dosa pemimpin agama adalah dosa yang sangat berbahaya, karena ini adalah dosa yang memberikan makan keinginan untuk dihormati dan memberi makan untuk punya level hidup yang tinggi. Agama adalah jalan untuk orang punya keamanan di dalam status sosial, agama juga adalah jalan supaya orang mempunyai ketenangan di dalam kehidupannya dalam mendapatkan kehormatan, mendapatkan uang dan lain sebagainya. Ini yang Tuhan Yesus sedang tegur, bahwa ketika manusia yang hidup di dunia ini mencari pangkat, mencari kedudukan, mencari nama, mencari harta, dan menggunakan agama untuk melakukan ini, dia akan menjadi orang yang sangat jahat dan akan mengacaukan agama tersebut. Agama yang pemimpinnya korup, agama itu harus dihancurkan oleh Tuhan. Di dalam bagian-bagian sebelumnya kita melihat Tuhan menghancurkan bangsa-bangsa karena pemimpin yang korup, maka pada bagian ini ada pengajaran teologi yang sangat penting, Tuhan akan hancurkan institusi agama yang korup dan Tuhan akan hancurkan pemimpin-pemimpin agama yang menggunakan agama untuk mendongkrak status sosial dan kekayaan mereka. Ini peringatan yang tidak main-main, peringatan Yesus paling keras adalah untuk dosa seperti ini, dosa memanipulasi agama demi kepentingan sendiri. Dalam ayat 46 Yesus mengatakan “waspadalah, hati-hati terhadao ahli-ahli Taurat yang berjalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar”. Jubah dari seorang imam atau Ahli Taurat adalah jubah yang menunjukan status sosial, dibuat dengan semirip mungkin supaya orang mengingat kemegahan Imam Harun. Pada waktu Imam Harun memberikan korban, dia memakai bajunya, itu baju luar biasa megah, ada begitu banyak perhiasan, kain yang paling baik, dan juga ada permata yang ditulisi nama suku Israel yang ditaruh di baju itu. Sehingga ketika Harun berdiri untuk melayani Tuhan, orang bisa melihat betapa megahnya kemuliaan Tuhan yang diwakili oleh imam ini. Ini akhirnya membuat orang berpikir “kalau begitu waktu saya memakai jubah seperti ini, jubah ini akan membuat orang tahu siapa saya, akan membuat orang tahu level saya, dan akan membuat orang tahu bagaimana harus memperlakukan saya”, pemimpin agama adalah orang terhormat, pemimpin agama adalah orang penting. Maka ketika mereka memakai jubah ini, langsung ada pengesahan status bahwa mereka adalah pemimpin agama. Baju adalah sesuatu yang berkait dengan status. Pakaiannya bukan hanya untuk menutup supaya kita tidak merasa malu, tapi pakaian adalah simbol status. Di dalam Kitab Suci dikatakan Adam dan Hawa keduanya telanjang dan mereka tidak merasa malu. Ada dua hal mengapa mereka telanjang dan tidak merasa malu, pertama adalah perkataan dari Paus Yohanes Paulus ke-2, waktu itu dia mengatakan Adam dan Hawa adalah dua orang yang mempunyai kebebasan untuk tidak berpakaian karena mereka suami istri dan belum ada komunitas. Dia menulis buku tentang bagaimana mempersiapkan orang untuk menikah, dan dia mengatakan bahwa Adam dan Hawa itu suami istri, mereka tidak malu telanjang, itu menunjukan keintiman dari suami istri. Itu tidak menunjukan bahwa orang berdosa tidak perlu baju, orang berdosa yang perlu baju, bukan seperti itu. Kalau Adam dan Hawa sudah membentuk komunitas, tentu mereka akan memakai pakaian. Lalu pakaian seperti apa? Ini yang dikemukakan oleh Gregory Beale, dia seorang Reformed yang mengajar di Westminster. Dia mengatakan bahwa Tuhan merencanakan pakaian untuk Adam dan Hawa berdasarkan kemampuan mereka lulus ujian. Kalau mereka lulus ujian yaitu mengalahkan kejahatan, menaklukan ular, kemudian mereka taat firman tidak makan buah pengetahuan yang baik dan jahat, maka mereka akan mendapat pakaian kemuliaan. Pakaian kemuliaan yang Tuhan siapkan bagi manusia yang menang. Tapi mereka gagal, mereka gagal mengalahkan ular, mereka dikalahkan ular. Mereka mendapatkan firman, mereka gagal menaati firman, mereka menghina firman. Akhirnya mereka mendapat pakaian penebusan. Ini indah sekali. Jadi ada 2 cara, yang pertama kalau mereka berhasil mereka mendapat pakaian kemuliaan, yang kedua kalau mereka gagal mereka mendapat pakaian penebusan yaitu kulit binatang. Jadi Tuhan sudah siapkan pakaian sebagai status. Ketika Adam dan Hawa memakai pakaian dari kulit binatang, ini adalah lambang status bahwa mereka sudah gagal, tapi Tuhan tutup mereka dengan kemungkinan untuk mendapatkan penebusan. Jadi simbol yang dinyatakan oleh pakaian itu adalah sesuatu yang diajarkan Kitab Suci. Pakaian bukan hanya berguna untuk menutup, memberikan kehangatan tapi juga menyatakan simbol. Tuhan Yesus adalah pemimpin agama yang tidak punya model pemimpin agama. Dia tidak memakai jubah pemimpin agama, Dia tidak menyamakan diriNya dengan para imam, tapi Dia juga berpakaian dengan sopan, Dia memakai jubah. Dia adalah orang yang tidak terlalu menjaga namaNya karena Dia rela diundang makan oleh orang-orang berdosa. Tapi Dia tidak pernah jatuh dalam dosa apa pun. Ini satu yang harus kita teladani dari Kristus, yaitu menjalani hidup yang tidak menolak orang berdosa, tapi yang tidak pernah berbagian di dalam dosa mereka. Banyak orang gagal meneladani hal ini, karena berusaha untuk meneladani dengan cara yang separuh. Cara pertama, menerima orang berdosa tapi tidak menghindarkan diri dari dosa. Yang kedua, menghindarkan diri dari dosa tapi juga menghina orang-orang berdosa. Kedua hal ini tidak dimiliki oleh Kristus, Kristus bergaul dengan orang berdosa, tapi Dia tidak pernah terlibat dengan dosa apa pun dan tidak pernah ikut untuk melakukan dosa apa pun. Dia menarik orang berdosa untuk kembali kepada Tuhan. Maka di bagian ini Tuhan Yesus mengingatkan hati-hati terhadap orang yang suka dipuji karena mereka pemimpin agama. Kalau jalan kemana-mana, mereka pakai baju yang menunjukan bahwa mereka lebih suci dari pada orang lain. Banyak ciri-ciri baju pemimpin agama, kadang-kadang ada orang pakai baju dengan ada tanda putih di lehernya, itu bukan berarti salah. Tapi ada juga kelompok orang yang menggunakan ini untuk menyatakan “aku milik Tuhan dan kamu kafir”. Kalau pakai baju yang panjang-panjang lalu mengatakan “inilah baju orang-orang suci, inilah baju orang yang lebih dekat dengan Tuhan”, maka Tuhan dari sorga mengatakan “Aku akan menghancurkan institusi agamamu karena kamu mempunyai kesombongan yang sangat dibenci oleh Tuhan”.

Maka pertama yang ditegur oleh Tuhan Yesus adalah keinginan untuk mendapatkan penghormatan. Ingin dihormati, ingin dianggap hebat, ingin dianggap penting, ingin dianggap seseorang yang menjadi kunci dari agama tertentu. Ini terjadi juga di dalam gereja, banyak orang rebutan untuk menjadi pemimpin, menjadi majelis, menjadi penatua, atau menjadi ketua sinode. Tuhan Yesus mengingatkan hati-hati terhadap orang seperti itu, jangan kagumi mereka tapi hina mereka dalam hati. Alkitab mengajarkan untuk menghina orang yang patut dihina. Tapi Alkitab juga mengajarkan untuk meninggikan orang yang terhormat. Maka kita perlu memahami siapa yang layak dihormati dan yang tidak. Siapa perlu dianggap penting dan siapa yang tidak perlu dianggap penting. Tuhan tidak mau kita tidak tahu bagaimana menghormati orang terhormat. Tapi Tuhan juga tidak mau kita tidak tahu bagaimana menghina orang yang terhina. Pertama kali saya dengar kalimat ini dari Pak Tong, saya kurang setuju, dia bilang “kamu harus belajar menghina orang. Hina orang yang perlu dihina, itu ajaran Alkitab”. Tuhan mengingatkan hati-hati kepada orang yang rebutan tempat utama, mau duduk satu meja dengan tuan rumah, setelah itu menunjukan bahwa dia adalah orang penting di dalam jamuan ini. Ayat berikutnya, yang lebih menakutkan lagi, yang menelan rumah janda-janda dan yang mengelabui mata orang-orang dengan doa yang panjang-panjang, mereka akan menerima hukuman yang sangat berat. Apa maksudnya menelan rumah janda-janda? Ada beberapa penafsiran dari hal ini, yang pertama mengatakan bahwa mereka mengambil tarif untuk janda-janda yang mau perkaranya diadili secara agama. Ada tarif yang mahal yang janda-janda tidak mungkin bisa bayar. Tapi saya lebih setuju tafsiran kedua adalah ketika seseorang menjadi janda, maka tanah warisannya itu akan dipertentangkan. Apakah ini akan menjadi milik adik dari seorang yang meninggal itu atau menjadi milik janda itu? Ketika itu ada beberapa kontradiksi yang ada dalam Taurat, bukan karena Taurat berkontradiksi, tapi karena orang salah memahami apa yang beda di dalam Taurat. Satu bagian mengatakan bahwa ketika seseorang mempunyai tanah, orang itu meninggal, tanah itu harus diwarisi oleh anak atau saudara terdekat. Bagaimana kalau dia tidak punya anak dan dia sudah meninggal? Tanah itu akan diwarisi oleh orang terdekat. Tapi di bagian lain mengingatkan kalau ada seseorang menjadi janda dan dia tidak punya tanah karena suaminya meninggal, tanah itu harus diberikan kepada dia. Jadi Taurat memberikan kemungkinan untuk perempuan mewarisi tanah, hal yang tidak ada di dalam kebudayaan timur dekat kuno. Inilah yang sering menjadi perdebatan. Sehingga orang mengatakan “berdasarkan Taurat, tanah ini harusnya menjadi milik saya, karena yang meninggal adalah kakak saya dan dia tidak punya anak, tanah ini harus ke saya”. Tapi janda itu mengatakan “bukankah di bagian lain mengatakan kalau ini menjadi sesuatu yang akan mensupport hidup seseorang seperti saya. Maka sebaiknya diberikan kepada saya untuk menjadi tanah dimana saya bisa menanam sesuatu dan saya bisa makan dari situ”. Orang yang serakah akan mengatakan “tidak bisa, kita akan mengikuti peraturan ini”. Lalu mereka akan pergi ke pemimpin agama, imam atau Ahli Taurat, dan bertanya “menurutmu tafsirannya bagaimana? Harus kemana tanah ini?”. Lalu orang akan sogok imam dengan mengatakan “kalau kamu mau berikan ke saya, saya akan berikan bagian ke kamu. Lagi pula ini didukung oleh Taurat. Taurat memberikan pernyataan bahwa kemungkinan seseorang menjadi janda itu karena dosanya sendiri”, ini sering kali diungkapkan. Mengapa orang mendapat musibah seperti ini? Karena ada dosa. Itu cara picik yang Tuhan benci. Banyak orang berpikir kalau orang jadi janda pasti karena dosa, mungkin suaminya dikutuk, atau dia pernah melakukan dosa sehingga dikutuk menjadi janda, jadi tidak perlu ambil tanah ini, taat saja sama hukuman Tuhan. Ini keadaan yang kejam sekali. orang tidak lagi tahu belas kasihan, orang cuma tahu serakah. Dan pemimpin agama setelah disuap langsung mengadakan pembelaan, “baik, kamu ambil tanah ini berdasarkan Taurat”, maka janda itu kehilangan rumah. Itu kasus-kasus yang kemungkinan besar terjadi dan Yesus mengetahuinya, maka Yesus mengatakan “hati-hati kepada orang yang mengambil harta orang miskin seperti ini”. Maka sistem seperti ini tidak bisa bertahan, ketika agama tidak berpihak pada orang yang sulit, maka agama itu tidak mungkin diperkenan oleh Tuhan. Ketika agama tidak membela hak orang yang tidak tahu harus cari pembelaan kemana, agama itu tidak mungkin diperkenan oleh Tuhan. Mari kita doakan supaya gereja Tuhan mengerti isi hati Tuhan, jangan jadi gereja yang eksklusif dengan hanya memikirkan bagaimana menjangkau highclass, bagaimana menjangkau orang beruang.

Ini yang Tuhan ingatkan, hati-hati dengan pemimpin agama yang berpihak pada uang, yang ingin perputaran uang lebih banyak, yang ingin ambil keuntungan dengan menjadi pemimpin agama sekaligus memperkaya diri, celakalah dia. Jadi kita banyak mendapat contoh dimana orang yang serakah, yang mata dan pikirannya sudah terikat oleh uang, itu menjadikan gereja Tuhan sangat dekat dengan penghakiman. Sekarang kita bisa melihat gereja-gereja yang sangat kaya, yang berkembang dengan besar, waktu awal gereja-gereja seperti ini muncul, orang-orang yang jadi anggotanya adalah orang-orang yang tidak terdidik, orang-orang miskin. Saya sangat terharu ketika membaca asal mula gereja, di dalam abad-abad awal gereja Tuhan pun mulai seperti ini, yang mau terima Injil itu budak, orang-orang kecil yang tidak punya apa-apa di dalam masyarakat. Mereka cuma mendengar bahwa ada Juruselamat yang mengasihi mereka dan karena itu mereka punya kesempatan untuk mempunyai hidup yang baru, mereka tidak suka kehidupannya karena selalu ditindas, kurang uang dan lain-lain. Akhirnya orang-orang yang jadi Kristen adalah orang-orang miskin, kecil. Dan waktu mereka menjadi Kristen, mereka dibimbing oleh firman sedemikian bagus, sehingga mereka punya hidup lebih bagus dari pada yang lain. Dan ketika level hidup mereka lebih baik dari yang lain, orang-orang kaya yang bijaksana mulai tergerak, “apa ajaran yang membuat budak saya punya hidup yang elegan seperti ini? mengapa mereka tidak ikut dosa-dosa dan kecemaran seperti yang lain?”, maka orang bijak mulai masuk. Orang bijak ini adalah orang-orang yang mau hidup beres dan melihat budak mereka yang Kristen menjadi beres. Kekristenan pelan-pelan menyebar, makin lama makin menyebar sampai akhirnya Kekristenan masuk pada level tinggi, pemimpin-pemimpin militer mulai tergerak untuk menjadi Kristen.

Lalu bagian selanjutnya semakin menegaskan poin ini, karena Yesus mengangkat mukaNya dan melihat orang memasukan persembahan ke dalam peti persembahan. Orang-orang kaya masukan banyak, janda miskin masukan 2 peser ke peti itu. Yesus mengatakan “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka memberi persembahan dari kelimpahan, janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan seluruh nafkahnya”. Seringkali ayat ini dipakai untuk menekan orang memberi persembahan, “janda ini memberi 2 keping, 100% dari nafkahnya. Janji imanmu berapa persen? Belum 100% kan”. Meskipun saya tetap mendorong Saudara untuk memberi janji iman, terutama yang janji imannya masih sangat sedikit dibandingkan kemampuan Saudara berbagian, ayolah berbagian lebih berani. Tapi saya tidak mengatakan Saudara harus melakukan ini dengan cara yang merugikan keluarga sendiri. Karena Yesus membenci orang yang mengatas-namakan Tuhan untuk tidak merawat keluarganya. Ketika dikatakan “apa yang kuperlukan untuk merawat mamaku, sudah kuberikan untuk Bait Suci, jadi aku bebas”, Yesus mengatakan “firman Tuhan tidak kamu anggap berlaku karenaa firman Tuhan mengatakan hormatilah orang tuamu”. Maka kewajiban kepada keluarga harus dipenuhi, kewajiban keapda Tuhan harus dipenuhi. Ingat, Yesus tidak pernah membuat orang cuma memilih salah satu. Ada orang bertanya “bolehkah memberikan pajak kepada kaisar?”, Yesus tidak mengatakan “jangan, itu duniawi dan sekuler, dari setan, behemot dan leviatan itu tidak perlu diberi uang. Berikan semuanya ke Bait Suci”. Yesus mengatakan “apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, berikan itu. Apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, berikan itu”. Jadi apa wajib kita lakukan untuk keluarga, harus kita lakukan. Apa yang wajib kita lakukan untuk Tuhan, harus lakukan. Maka bagian ini sedang menekankan berapa kacaunya agama Yahudi yang tidak melakukan tugas yang Tuhan berikan yaitu menolong janda-janda. Janda miskin tidak ditolong, padahal orang ini yang paling cinta Tuhan. Janda miskin menjadi korban karena tanahnya direbut oleh orang-orang, padahal orang ini adalah yang paling cinta Tuhan. Mengapa gereja gagal melihat orang yang paling cinta Tuhan? Mengapa Bait Suci gagal melihat orang yang paling cinta Tuhan? Karena persembahannya sedikit. Kalau kita menilai orang berdasarkan persembahannya banyak atau sedikit, kita tidak bisa lihat siapa yang cinta Tuhan. Tapi kalau kita melihat siapa yang cinta Tuhan dan kita tahu mesti melayani orang-orang seperti ini, berarti kita adalah gereja yang beres. Bait Suci gagal lihat siapa yang cinta Tuhan, karena mereka melihat jumlah persembahan. Saya dengar satu cerita ada seorang petinggi Kristen, dia kalau masuk gereja tertentu, dia akan membuat heboh semua orang, dengan suruh orang cari kunci untuk buka laci perpuluhan. Karena uang yang mau dia masukan ke situ lebih besar dari pada celahnya. Setelah laci perpuluhan dibuka, dia akan keluarkan amplop yang besar sekali, tebalnya luar biasa, lalu orang tepuk tangan. Orang ini sangat senang dilihat seberapa besar jasanya untuk gereja, berapa besar yang sudah disumbangkan. Dan orang lain tinggikan orang ini. Yesus sedang mengatakan lihat berapa kacaunya institusi Bait Suci ini, karena mereka menghina dan meremehkan orang yang paling cinta Tuhan. Yang paling rela berkorban untuk Tuhan, mereka anggap bukan siapa-siapa. Yang cuma tahu membanggakan diri, mereka anggap orang penting. Maka Tuhan mengatakan dalam ayat selanjutnya, Bait Suci harus hancur. Ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah dan mengagumi bangunan yang dihiasi dengan batu yang indah-indah ini, berkatalah Yesus “apa yang kamu lihat di situ, akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun yang terletak di atas batu yang lain. Semua akan diruntuhkan”. Dan waktu Saudara baca ini, Saudara tahu alasannya. Bayangkan, mereka menipu tanah dari janda untuk keuntungan mereka sendiri, karena siapa yang mau membela janda? Mereka akan hantam orang yang tidak mampu membalas dan mereka akan menarik keuntungan. Setelah itu dikatakan oleh Tuhan Yesus, ternyata orang-orang model begini, sudah ditpu dan lain-lain adalah orang yang paling cinta Tuhan, memberi lebih besar dari yang lain. Siapa yang diperhatikan oleh pemimpin-pemimpin dan imam-imam di Bait Suci? Orang-orang agung, dan orang yang cinta Tuhan disingkirkan oleh mereka. Dan Tuhan mengatakan “kalau begitu Bait Suci harus aku singkirkan”. Mengapa Tuhan menyingkirkan Bait Suci? Orang Kristen tahu jawabannya karena Yesus sudah memberi tahu, karena institusimu korup luar biasa, karena pemimpin-pemimpinmu terlalu jahat, maka Tuhan singkirkan. Tapi kalau tidak ada Bait Suci bagaimana, apakah Tuhan tidak hadir di tengah-tengah kita? Tidak, sekarang Tuhan hadir di tengah-tengah kita karena Kristus datang. Dan Kristus yang lemah lembut, penuh belas kasihan dan memperhatikan siapa yang mau datang kepada Tuhan meskipun tidak ada yang perhatikan. Orang-orang yang tidak dianggap penting tapi datang kepada Tuhan, diterima semua oleh Tuhan Yesus. Mari kita jadi gereja yang belajar menghargai siapa yang Yesus hargai, menikmati kasih yang Tuhan berikan kepada siapa pun dan belajar memperhatikan siapa pun bukan karena status, kedudukan, keuangan, tapi karena Tuhan mau menerima mereka. Kiranya kita menjadi gereja yang terus bertumbuh dengan cara Tuhan dan boleh diberkati oleh Tuhan.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)