Anda disini : Home » Reformed Theology » Injil Lukas » Menghargai Manusia Bukan dari Hartanya
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Menghargai Manusia Bukan dari Hartanya

Pdt. Jimmy Pardede

(Lukas 16: 19-31)
Injil Lukas penuh dengan cerita yang sangat ekstrim. Ini adalah Injil yang menekankan pesan dengan sudut yang tidak kompromi sama sekali, dengan sisi yang menuntut perubahan total. Sehingga Injil Lukas mengingatkan kita siapa yang ikut Tuhan Yesus tidak mungkin ikut dengan separuh kekuatan atau separuh komitmen. Siapa yang ikut Tuhan Yesus harus mengabaikan seluruh komitmen sebelumnya kepada yang lain dan menyerahkan semuanya untuk Tuhan. Tapi di dalam komitmen yang diberikan kepada Tuhan, Saudara akan melihat kelimpahan dari hidup yang justru akan diberikan oleh komitmen kepada Tuhan.

Cerita ini memberikan 2 kelompok orang yang berbeda, mewakili 2 kelompok orang, yang satu orang kaya yang tidak disebutkan namanya, satu lagi adalah orang miskin yang bernama Lazarus. Semua orang yang cinta uang akan menganggap orang kaya ini adalah impian yang dituju “saya mau seperti ini”. Sedangkan Lazarus yang miskin adalah mimpi buruk “aduh, kalau hidup saya seperti itu, lebih baik saya mati”. Tetapi Amsal 23 mengatakan justru di sini kamu akan digoda oleh berbagai macam cara untuk cepat kaya. Itu sebabnya teguran kepada orang kaya yang sangat keras salah satunya adalah Lukas 16. Maka pada bagian ini, ada kisah tentang orang yang super mewah. Yang makannya berlebihan secara fakta kemahalan, secara mewah, secara begitu banyak orang yang dia undang setiap hari. Orang kaya ini ingin seperti ini, dia pakai baju yang begitu mahal dan dia atur makanan seperti pesta setiap hari untuk tunjukan status dia, identitas dia sebagai orang penting. Lalu dalam kisah ini dikatakan ada juga seorang bernama Lazarus. Dan di sini mengejutkan, kalau orang kaya ingin seperti orang yang mewah ini dan menganggap orang yang miskin ini sebagai mimpi buruk, Allah sebaliknya. Allah tidak menyebutkan nama orang kaya ini, seolah dia adalah orang yang tidak penting, banyak orang yang seperti ini di dunia dan Tuhan kurang hargai. Tapi orang miskin itu dinamai oleh Tuhan. Orang ini bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, Saudara bisa bayangkan orang seperti apa ini. Dikatakan dia berbaring di tempat pintu rumah orang kaya itu, bisa juga diterjemahkan dekat gerbang, dia tidak boleh masuk ke rumah itu. Dia cuma ada di gerbang dan dikatakan dia menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Istilah jatuh dari meja jangan Saudara bayangkan dia berada di bawah meja dan membuka mulutnya untuk makan makanan yang jatuh dari meja. Jatuh dari meja artinya makanan yang sudah tidak akan dimakan lagi, makanan yang akan berakhir di tempat sampah, itulah makanan yang jatuh dari dosa. Jadi ketika Yesus mengatakan “tidak layak memberikan roti untuk anak lalu lemparkan ke anjing”, perempuan Sirofenesia itu mengatakan “memang Tuan, tapi anjing itu boleh makan yang jatuh dari meja tuannya”, maksudnya orang sudah tidak mau makan dari pada dibuang kasi ke anjing masih oke, itu maksudnya. Jadi jatuh dari meja tuannya artinya ini makanan yang akan masuk tong sampah. Dan sangat mungkin Lazarus tunggu di pintu gerbang dekat tempat sampah, mungkin dekat pembuangan dapur dari orang kaya ini, sehingga ada makanan lebih dilempar keluar, dia akan berusaha kais untuk dapatkan. Dan Alkitab memberikan kesan dia adalah orang yang dibaringkan di dekat pintu rumah, berarti dia orang lumpuh. Dia lumpuh dan ada penafsir mengatakan mungkin tangannya kurang kuat sehingga dia tidak bisa membersihkan dirinya dan dia benar-benar seperti sampah bagi orang yang melihatnya, penuh penyakit kulit, borok dimana-mana. Dan Alkitab mencatat dia ingin makan makanan yang dibuang orang kaya itu tapi anjing datang dan menjilat boroknya. Ini berarti dia bertarung dengan anjing-anjing untuk dapat makan. Bayangkan ada satu tempat sampah dimana disitu ada satu manusia yang bersaing dengan anjing-anjing untuk berebut makanan. Ini pemandangan yang sangat memilukan. Seringkali kita memiliki kehidupan yang lebih enak, lalu kita selalu melihat ke atas, selalu lihat ke orang yang lebih baik, lupa fakta bahwa di dunia ini begitu banyak penderitaan. Orang kalau lihat penderitaan, responnya selalu salah. Kalau lihat penderitaan sering mengatakan “untung saya tidak seperti itu”. Tapi tidak punya ucapan syukur kepada Tuhan. Ada juga orang melihat penderitaan dan balik salahkan Tuhan. Tidak tahukah kita bahwa Tuhan yang paling mengerti bagaimana menangani penderitaan seperti ini. Jangan hakimi Tuhan sebelum waktunya. Karena Tuhan mengingatkan sebelum waktunya jangan hakimi siapa pun. Tuhan akan membuat segala hal menjadi baik di dalam waktunya. Dan Tuhan akan memberikan keadilan yang tepat di dalam caranya dan di dalam waktunya. Ini adalah hal yang Saudara harus imani. Jangan benci Tuhan karena keadaan yang Saudara lihat sepertinya tidak beres, karena yang sanggup jadikan beres cuma Tuhan. Tapi Saudara tidak boleh atur Dia lalu mengatakan “kalau Engkau mau jadikan beres, jadikan sekarang. Saya tunggu beberapa menit, Engkau harus jadikan seluruh bumi beres”, apakah engkau lebih hebat dari Tuhan? Apakah engkau berhak untuk atur Tuhan? Apakah engkau berhak untuk punya otoritas atas Tuhan? Jawabannya tidak. Maka biarlah kita beriman, penderitaan adalah fakta nyata di dunia ini dan kita belajar punya hati untuk melihat orang yang menderita, dan belajar punya cara untuk beriman kepada Tuhan untuk bantu tangani apa pun kesulitan yang ada di sekitar kita. Ini fakta yang menyedihkan, tapi terjadi.

Akhirnya Lazarus itu mati, ayat 22. Dan lihat apa yang terjadi, Alkitab mengatakan dia dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Betapa menakjubkannya ini. Di dalam pengertian tentang zaman akhir, tentang end-time, tentang waktu ketika Tuhan membereskan segala sesuatu, orang Yahudi mempunyai konsep ketika Tuhan sudah bereskan semuanya, KerajaanNya datang, Tuhan akan undang makan di dalam pesta besar. Dan bagi orang Yahudi, pesta besar berarti kita akan makan di meja. Siapa makan satu meja dengan Abraham, itu akan diatur. Siapa duduk dekat Abraham itu juga akan diatur. Di dalam budaya Mediterania, mulai dari Italia sampai ke Israel, bahkan sampai daerah utara ke daerah lebih ke selatan, itu ada kebiasaan etika duduk yang ketat. Kalau kita makan, kita duduk dimana pun boleh. Tapi zaman itu, siapa duduk dimana itu diatur ketat sekali. Maka Tuhan mengijinkan Lazarus duduk di tempat utama. Dan sekali lagi, ini bukan bicara tentang doktrin keselamatan. Ini sedang korek hati nurani kita untuk sadar bahwa selama ini kita salah lihat orang. Kita lihat orang dari hartanya dan kita remehkan orang seperti Lazarus. Tapi Tuhan tidak pernah remehkan orang seperti Lazarus, bahkan Tuhan memberikan tempat yang teristimewa kepada dia. Maka kita jangan nilai orang berdasarkan status ekonominya, jangan nilai orang berdasarkan keuangan yang dia miliki. Seorang Sosiolog, dia mengatakan jangan pikir bahwa kemiskinan di dunia ini sangat ringan, ini perkara yang sangat berat. Karena ada orang yang harus kehilangan anggota keluarga karena diculik demi uang. Ada orang yang harus masuk ke dalam prostitusi karena jerat yang begitu menakutkan. Di tempat-tempat miskin, premanisme akan berkuasa. Orang akan ambil keuntungan dengan membuat kekerasan, ancaman kepada mereka, dan tidak ada orang yang mau tolong mereka. Kalau tanya kepada mereka, mereka pun tidak ingin dalam kondisi seperti ini, tapi Tuhan mengijinkan kondisi seperti ini bisa terjadi. Dan Tuhan mau orang Kristen mulai pertimbangkan bagaimana cara Tuhan memandang mereka supaya saya boleh belajar memandang mereka juga, tidak melihat manusia dari sisi apa yang dia dapat tapi dari sisi Tuhan. Bagaimana Tuhan menilai manusia demikian saya mau belajar untuk menilai manusia. Bagian ini sangat menakutkan bagi kita karena ada orang yang diremehkan oleh semua orang, Tuhan taruh di tempat yang paling istimewa di Kerajaan Sorga.
Bagaimana dengan orang kaya itu? Dikatakan orang kaya itu mati dan dikubur. Ayat 22 “matilah orang miskin itu lalu dibawa malaikat ke pangkuan Abraham”, tidak dikatakan tentang penguburan. Mungkin tidak ada orang yang mau urus mayatnya. Karena orang yang sakit borok seperti ini mati, mungkin dia mati dikutuk Tuhan. Kalau dia mati dikutuk Tuhan, tidak ada yang mau sentuh. Akhirnya dibiarkan dulu, tidak dikubur. Dan orang pikir kalau begitu jiwanya pasti dibuang Tuhan, karena tubuh di buang maka roh dibuang. Ternyata tidak, orang ini tidak mendapatkan penguburan yang layak, tapi jiwanya diambil Tuhan, dibawa oleh malaikat. Orang ini sangat spesial, jiwanya diangkat malaikat, lalu didudukan di pangkuan Abraham di dalam pesta di sorga. Saya tidak tahu bagaimana perasaan Lazarus waktu dibawa, dia kaget sekali “baru kali ini saya lihat kemewahan seperti ini”. Lalu dia didudukan di pangkuan Abraham, Abraham bilang “sekarang makanlah”, tidak perlu cari di tempat sampah, tidak perlu berkelahi dengan anjing. Bagaimana dengan orang kaya?

Dikatakan orang itu dikubur, mungkin di atas kuburannya ditaruh permata, mutiara. Orang kaya itu mati dan dia meninggalkan kuburan yang mewah. Tanda kita mendewakan harta adalah kita mulai ribut soal harta. Kalau yang jadi soal kita ribut itu harta berarti kita menyembah harta. Kalau mengenai harta, mari pilih mengalah, jangan berantem. Kalau kita pilih berantem itu tandanya kita jauh sekali dari Tuhan. Ini yang dikatakan orang bijak itu, kalau orang sangat kaya mati, dia meninggalkan kuburan besar dan meninggalkan perseteruan, semua mau harta. Orang ingin harta, orang ingin jadi seperti orang kaya itu. Cerita ini mengingatkan kita, dia memang kaya tapi dia mati pada akhirnya, dia dikuburkan baik-baik, tapi justru Tuhan ijinkan dia masuk dalam dunia orang mati yang menderita. Maka dikatakan dia ada di tengah-tengah penderitaan. Ayat 24 mengatakan dia berseru-seru kepada Abraham, “Bapa Abraham kasihanilah aku, suruhlah Lazarus”, orang kaya selalu memberikan perintah, “suruh Lazarus begini, suruh Lazarus begitu”. Dia terbiasa menyuruh, orang kalau terlalu banyak menyuruh itu pasti akan dibenci, yang suka perintah-perintah tapi tidak suka kerja itu akan menimbulkan kebencian. Coba bayangkan betapa tidak tahu diri, “Abraham, suruh Lazarus, dia kan orang miskin. Orang miskin memang tugasnya untuk disuruh-suruh. Coba celupkan tangannya ke air kemudian teteskan ke sini, suruhlah dia”. Lalu Abraham memberi jawaban “maaf, antara kamu dan saya ada tembok yang tinggi”, mirip tembok pemisah yang memisahkan Lazarus dan rumah orang kaya itu ketika masih hidup. Ketika di dunia, dia dan orang miskin itu terpisah, ketika di akhirat, terpisah lagi. Tapi kali ini yang untung adalah si miskinnya. Akhirnya orang kaya itu mengatakan “kalau memang tidak bisa ya sudah. Saya minta satu permintaan lagi”, perintahnya pun banyak. Orang itu mengatakan “aku meminta kepadamu supaya engkau menyuruh Lazarus ke rumah ayahku, sebab masih ada 5 saudaraku, supaya dia memperingatkan mereka sungguh-sungguh, supaya nanti tidak masuk ke penderitaan”, tiba-tiba dia peduli dengan saudaranya. Orang kaya ini masih punya hati nurani, tapi terlambat. Siapa yang hati nuraninya muncul di neraka tidak ada menolong apa pun, makanya munculkan hati nurani di sini, sebelum semuanya terlambat. Orang kaya itu mengatakan “kasihan 5 saudara saya, jangan sampai mereka masuk ke sini. Tolong suruh Lazarus bangkit lalu nasihati mereka”, permintaan orang ini tidak realistis, menyuruh orang mati bangkit. Tapi Abraham mengatakan “kan ada kesaksian Musa dan para nabi, Taurat”.

Saudara dan saya seringkali meremehkan Taurat dengan mengidentikan Taurat hanya sebagai larangan-larangan. Apa itu Taurat? “Taurat itu perintah anti babi, masa tidak boleh makan babi? Untung Yesus membebaskan kita dari kutuk Hukum Taurat, sekarang kita boleh makan babi”. Apakah Taurat hanya mengurusi apa yang boleh dan tidak boleh? Tidak, Taurat itu punya intisari di dalam belas kasihan. Salah satu hal yang sering berulang di dalam Hukum Taurat adalah perintah Tuhan untuk memperhatikan orang miskin. Maka kalau kita melihat dalam konteks yang tepat, Hukum Taurat yang dimaksud Yesus, Taurat dan kesaksian para nabi adalah perintah untuk memperhatikan orang, perintah untuk mengorangkan orang. Jangan lihat orang miskin sebagai non-orang, mereka orang juga. Jangan lihat orang kaya sebagai super orang, mereka bukan super, mereka orang biasa. Mereka orang biasa yang kebetulan uangnya banyak, orang miskin adalah orang biasa yang kekurangan uang, itu saja. Maka jangan nilai orang dari hartanya. Kadang-kadang kita mengatakan “saya tidak pernah nilai apa pun, saya tidak pernah menghakimi apa pun”, tapi kalau itu berkait dengan Saudara, tanpa sadar Saudara akan melakukan ini. Misalnya hal yang paling dekat ketika anak Saudara bertemu dengan seseorang, lalu mulai dekat, mulai jatuh cinta, hal pertama yang Saudara tanya kemungkinan adalah uangnya banyak tidak? “Baru saja dengar kotbahnya Pak Jimmy”, “iya, kotbahnya saya amini, tapi ini urusannya lain”. Kita akan kelihatan belangnya pada waktunya. Waktu di gereja semuanya, termasuk saya, keliahtan suci, tapi waktu praktek hidup baru mulai kelihatan jahatnya, ekornya kelihatan, tanduknya mulai muncul. Baru kelihatan kita adalah setan-setan yang sembunyi di dalam malaikat, kelihatan malaikat tapi ternyata jatuh juga. Maka jangan menilai orang berdasarkan harat. Bolehkah kita menilai orang? Harus. Nilai integritasnya, nilai tanggung jawabnya, nilai bagaimana dia berelasi, nilai ketepatan perkataan dan perbuatannya, itu jauh lebih penting. Dan memang benar-benar orang seperti ini akhirnya mendapatkan kesuksesan, itu cerita lain. tapi meskipun dia tidak atau belum mendapatkan kesuksesannya. Itu sebabnya Alkitab mengajarkan kepada kita jangan nilai orang dengan sembarangan.

Dan Hukum Taurat mengajarkan kasihani mereka yang perlu dikasihani, nilai manusia dengan nilai yang tinggi dan kasihani mereka yang kurang. Hukum Taurat mengingatkan jangan terlalu kagum dengan orang kaya dan jangan terlalu bela orang miskin, karena tidak semua layak dibela. Tapi ada bagian yang mengatakan jika ada orang asing di tengah-tengah kamu atau orang miskin yang susah sekali makannya, kamu harus tolong dia. Maka di dalam Taurat dikatakan, Israel ketika masuk Kanaan tidak akan kekurangan, Tuhan janji tidak ada orang miskin. Mengapa Tuhan janji demikian? Karena setelah Tuhan berjanji, Tuhan berikan perintah untuk pelihara orang-orang yang kurang. Itu sebabnya di dalam Hukum Taurat, hukum yang utama mementingkan Tuhan dan kasih kepada sesama. Dan inilah yang Abraham sedang katakan, kalau mereka baca kisanya Musa dan juga firman para nabi, baiklah mereka juga dengar kesaksian itu. Orang kaya itu bilang “tidak Bapa Abraham, kalau ada orang mati bangkit lagi, baru mereka akan menghargai”, Abraham mengatakan “tidak mungkin”. Karena kalau kesaksian para nabi tidak dihargai, mereka juga tidak mungkin menghargai orang yang bangkit dari antara orang mati.

Di sini ada berita Injil yang Tuhan mulai munculkan. Siapa orang mati yang Tuhan bangkitkan? Yesus. Seperti apa matinya Dia? Seperti orang miskin yang tidak ada apa pun di dunia ini, tidak punya keunggulan apa pun, tidak punya kenikmatan apa pun, tidak punya mulia apa pun, tidak punya hak apa pun, lalu Dia mati dan semua orang hina Dia. Tapi Yesus justru bangkit dan Dia menjadi pokok keselamatan bagi semua orang. Maka Abraham sedang mengatakan kalau kamu tidak mengerti Taurat dan para nabi, kalau kamu tidak mengerti bagaimana nilai manusia, kamu pasti hina Yesus. Karena Yesus hidup seperti orang hina, hidup seperti orang miskin, seperti orang yang tidak punya apa pun. Dan siapa yang mendewakan mamon, tidak mungkin suka Yesus. Dia adalah orang yang hidupnya miskin dan kurang, tapi inilah sumber keselamatan bagi seluruh dunia. Maka Injil Lukas ini sedang mengingatkan siapa yang menghina orang karena kedudukannya, karena dia miskin, pasti dia akan menghina Tuhan Yesus. Jangan anggap Tuhan Yesus sebagai orang yang agung, Dia memang agung tapi bukan agung karena kekayaan. Itu sebabnya siapa yang menghina Lazarus, dia akan menghina Yesus juga. Dan orang kalau membaca Taurat baik-baik tidak mungkin menghina Lazarus dan tidak mungkin menghina Yesus. Maka hari ini kita diingatkan untuk tidak menjadi penyembah berhala. Dan salah satu aspek yang berbahaya dari penyembahan berhala adalah kita akan nilai orang berdasarkan berhala kita yaitu uang. Akhirnya kita jadi orang picik yang hanya melihat keuangan sebagai standar mengukur manusia. Tapi kalau kita mau kembali ke Taurat, kita lihat satu hal, Tuhan mengasihi manusia, memberikan wibawa kepada manusia, yang melampaui segala hal yang berkait dengan harta. Biarlah ini menjadi dorongan bagi kita untuk tunduk kepada Tuhan, menghargai sesama kita dan tidak dibutakan oleh harta saja

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)