Anda disini : Home » Reformed Theology » Injil Lukas » Memimpin Seperti Kristus
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Memimpin Seperti Kristus

Pdt. Jimmy Pardede

(Lukas 22: 14-38)
Kita tiba pada bagian yang sangat penting dalam persiapan untuk masuk ke dalam sengsara Kristus, yaitu di dalam percakapan ketika perjamuan malam. Di percakapan ini Yesus mempersiapkan murid-murid untuk menjadi raja. Ini adalah kelompok yang Tuhan persiapkan untuk menjadi pemimpin mewakili Kristus di dalam dunia ini. Dan ini adalah pembicaraan yang penting karena pesan yang Yesus berikan bukan hanya penting untuk para murid pada saat itu, tetapi juga penting untuk para murid setelahnya, termasuk kita pada saat ini. Sebab apa yang Tuhan mau para murid jalankan juga adalah sesuatu yang Tuhan mau kita jalankan pada saat ini.

Hal pertama yang ditekankan pada ayat-ayat yang kita baca adalah mengenai menjadi pemimpin. Di dalam ayat 24 dikatakan terjadi pertengkaran di antara murid-murid Tuhan Yesus. Murid-murid Yesus tidak mengerti apa yang Yesus katakan, karena mereka membaca setiap kalimat dari Tuhan Yesus di dalam pengertian kemenangan Israel. Mengapa kemenangan Israel? Karena dari kitab nabi-nabi dinyatakan bahwa kalau Mesias itu sudah datang, Mesias itu akan membawa Israel ke dalam kemenanganNya. Jadi Israel akan menang dan raja yaitu keturunan Daud akan memerintah atas Israel, dan Israel akan memerintah atas bangsa-bangsa lain. Tetapi Yesus adalah seorang tokoh biasa, seorang yang tidak punya kemegahan seorang raja, namun Dia punya banyak sekali tanda yang membuat para murid yakin inilah Raja, Dia sanggup menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, tidak ada raja lebih berkuasa dari Tuhan Yesus. Maka mereka yakin ini Raja. Meskipun kelompok lain tidak mengakui, orang lain tidak setuju, orang lain tidak terima, mereka tetap terima. maka ketika Sang Raja yang mereka percayai ini duduk makan bersama mereka, lalu menyampaikan pesan yang sangat penting, Dia memberikan roti yang terpecah dan mengatakan “ini tubuhKu”, Dia mengangkat cawan anggur dan mengatakan “ini darahKu”, Dia sedang berbicara tentang Raja, yaitu diriNya sendiri, yang akan bertahta dengan cara mati. Ini tidak dapat dipahami para murid karena menjadi raja dan mati itu adalah dua hal yang sangat berseberangan. Kalau ada raja maka dia hidup dan dia tidak perlu mengalami kekalahan apa pun waktu dia sudah bertahta dengan kuat. Tetapi ketika raja itu dikalahkan, diturunkan dari tahtanya, maka sangat mungkin dia dibunuh oleh raja lain yang mengalahkan dia. Jadi kejayaan berkait dengan hidup, sedangkan kekalahan berkait dengan kematian. Kalau Raja ini muncul, yaitu Yesus, menjadi Mesias yang sudah dijanjikan, maka Dia tidak mungkin mati, Mesias tidak mungkin mati. Tapi orang-orang tidak melihat yang dicatat oleh Kitab Suci. Di dalam Mazmur 103 dikatakan Tuhan memberikan kebaikan, Tuhan memenuhi hasrat kita dengan kebaikan, Tuhan yang menebus kita dari lobang kubur, kalimat ini penting untuk kita pahami. Tuhan menebus kita dari lobang kubur, tidak mencegah kita untuk masuk ke lobang kubur. Tuhan menebus kita dari keadaan kacau, bukan mengecualikan kita dari keadaan kacau. Tuhan memberikan kita kemenangan dari perjuangan dan pergumulan, bukan membuat kita mendapatkan jalan tol yang melewati perjuangan dan pergumulan. Kalau kita tidak mengerti apa yang difirmankan dari Kitab Suci, kita selalu salah dan mengeluh kepada Tuhan, “Tuhan, mengapa hidupku selalu seperti ini? Mengapa saya harus mengalami ini, mengapa perjuangan saya berat di sini?”, berarti kita masih juga belum mengerti bahwa kita memang harus berjuang. Kita memang harus mengalami kesulitan yang Tuhan mau percayakan, bukan kesulitan yang dicari sendiri. Mereka tidak mengerti, tapi mereka sendiri minta sesuatu yang tidak mereka pahami. Kalau mereka ingin dekat Yesus, maka mereka mengklaim apa yang Yesus alami juga akan mereka alami lebih dulu dari yang lain. Kalau Yesus menjadi Raja, mereka akan menjadi the next pemimpin di bawah raja yang paling utama selain Yesus. Tapi kalau Yesus sedang bicara tentang kematian, maka mereka tidak sadar mereka sedang minta penderitaan yang nomor 2 setelah Yesus. “Kalau Yesus akan menjadi korban di kayu salib, maka kami ingin di sebelah kanan atau di sebelah kiri”, ini permintaan yang mereka tidak mengerti. Mereka cuma pikir kalau nanti Yesus menjadi raja, mereka juga mau. Mereka mempunyai sesuatu yang Martin Luther katakan, teologia kemuliaan, theology of glory, kemuliaan diri bukan kemuliaan Tuhan. Murid-murid mengatakan “saya ingin mulia. Kalau Yesus itu mulia, saya ingin ada dekat Yesus, karena saya ingin menikmati kemuliaan yang sama”. Tapi Yesus justru mengajarkan teologia salib, teologia penyangkalan diri dan teologia pengosongan diri, inilah konsep yang Yesus ajarkan selama Dia ada di bumi, tapi murid-murid tidak bisa mengerti. ini juga konsep yang diajarkan melalui perjamuan, Dia duduk bersama para murid dan memberikan simbol untuk membuat murid lebih mengerti apa yang Dia katakan. Tapi para murid tetap tidak mengerti, mereka tetap tidak tahu bahwa Yesus sedang menubuatkan tentang diriNya menjadi korban.

Kita juga bisa jatuh dalam kesalahan yang sama, kalau kita berpikir bahwa Yesus berkorban supaya kita tidak harus, konsep ini salah total. Ada seorang pendeta mengatakan “karena Yesus sudah dicambuk, kita tidak perlu dicambuk. Karena Yesus sudah dipaku di atas kayu salib, maka kita tidak perlu dipaku di atas kayu salib. Karena Yesus sudah menderita, maka kita tidak perlu menderita. Karena Yesus sudah menanggung luka, maka kita tidak perlu terluka lagi. Karena Yesus sudah menanggung segalanya, maka kita tidak perlu menanggung segalanya lagi”. Tapi bagian mana dari Injil yang menyatakan hal ini? Saudara boleh cari dengan lebih teliti. Justru ajaran Yesus mengatakan “karena Aku sudah mengalami, maka engkau harus bersiap untuk mengalami juga. Karena Aku sudah melewati dan menang, maka Aku menawarkan cara yang sama, engkau melewati kesulitan yang sama dan mengalami kemenangan yang sama”. Itu sebabnya Paulus yang mengerti sekali perkataan Yesus, mengatakan “saya ingin sekali menjadi sama dengan apa yang ada pada penderitaan Kristus dan kematianNya supaya apa yang sama dengan kebangkitanNya boleh menjadi milikku juga”. Paulus mengatakan “aku ingin ikuti jalan salib supaya kebangkitan juga menjadi milikku”. Tidak ada orang merancangkan hidup susah, dan Alkitab pun tidak pernah mengajarkan Saudara untuk merancangkan hidup yang susah. Tetapi Alkitab mengingatkan bahwa hidup tidak ada di tangan kita, kita merancang yang baik untuk kita, tapi keadaan bisa terbalik. Bagaimana ini bisa terjadi, lalu bagaimana kita harus menghadapi? Di dalam Alkitab dikatakan apa pun yang terjadi itu di dalam rancangan Tuhan karena Tuhan sedang menyiapkan kerajaanNya. Ini mungkin sesuatu yang mungkin kita tidak bisa mengerti, kalau Tuhan menyiapkan kerajaanNya dan apa pun yang Dia siapkan akan terwujud dalam rancangan yang Dia berikan dalam hidup, mengapa rancangan itu seringkali menjadi begitu kacau? Mengapa rancanganNya seringkali berbeda dengan apa yang kita mau? Karena Tuhan sedang menyiapkan kita untuk mempunyai keyakinan akan pekerjaan Tuhan yang akan memunculkan orang-orang dalam kerajaanNya melalui keadaan sulit. Keadaan sulit yang tidak terduga, keadaan sulit yang tidak dirancang, ini akan muncul dan orang yang melaluinya dengan kemenangan itulah orang-orang yang akan berbagian dalam Kerajaan Allah. Hal pertama yang Yesus lawan dalam perkataan ini adalah mengenai kepemimpinan. Yesus mengatakan bahwa “kamu akan menjadi pemimpin”, dan Yesus tidak ingin mengoreksi keinginan mereka untuk menjadi pemimpin. Murid-murid bertengkar siapa paling besar, berarti murid-murid ingin mendapat kedudukan yang besar semua, ini tidak rendah hati sama sekali. Lalu apa yang Yesus katakan? Apakah Yesus mengatakan “murid-murid, jangan mau jadi pemimpin, tidak baik. Kamu tidak boleh punya ambisi sebesar itu, itu berdosa”, apakah Yesus mengatakan “kamu mau jadi pemimpin? Susah, jadi orang kecil saja, untuk apa jadi pemimpin, untuk apa punya peran”, Yesus bilang seperti itu? Tidak. Maka orang seringkali salah menafsirkan tentang kerendahan hati. Kerendahan hati itu berarti tidak perlu punya peran, tidak perlu menonjol, tidak perlu punya pengaruh di masyarakat, kamu bukan siapa-siapa, biar saja tetap begitu. Itu bodoh, itu adalah tipuan dari setan. Kalau Saudara bisa berpengaruh, mengapa tidak memberikan pengaruh? Mengapa tidak ingin menjadikan diri orang yang penting di dalam masyarakat? Orang Kristen kalau semuanya cuma mau jadi nobody, terus memendam diri dalam lumpur supaya tidak diketahui siapa pun, itu tidak akan mungkin membuat Kerajaan Tuhan dipermuliakan. Orang Kristen harus berani ambil peran. Yesus tidak pernah mengkritik kemampuan murid, keinginan murid-murid untuk jadi pemimpin. Yang Yesus kritik adalah konsep kepemimpinan mereka yang salah, karena mereka pikir pemimpin itu adalah orang yang paling mulia, paling besar, paling hebat. Yesus mengatakan “salah, pemimpin itu adalah yang paling rela menjadi kosong”. Maka meskipun orang ingin punya peran yang besar dalam masyarakat, dia juga harus siap untuk menjadi kosong, bukan karena kosong peran tapi karena kosong pengakuan. Saudara jangan mengatakan “konsep kepemimpinan di dalam gereja pasti lain dengan dunia. Mau jadi pemimpin dunia harus beda prinsip dengan pemimpin di dalam gereja”, itu salah. Semua sama dalam hal kerelaan untuk mengosongkan diri. Yesus bukan hanya Pemimpin atas gereja, Yesus adalah Pemimpin atas Kerajaan Allah baik yang di sorga maupun di bumi. Dan Yesus sedang mengajarkan bahwa cara pimpinan Kerajaan Allah menjadi pemimpin adalah dengan sangkal diri dan pikul salib.

Dalam bagian selanjutnya Yesus menegur Simon, Dia mengatakan “Simon, Simon lihat iblis telah menampik kamu seperti gandum, tapi Aku berdoa untuk engkau supaya imanmu jangan gugur dan setelah engkau insyaf, sadarkanlah saudara-saudaramu”. Kita masuk ke poin ke dua. Saya menafsirkan meskipun tidak tertulis di sini, ketika Yesus berbicara tentang kerelaan berkorban, Simon orang yang paling siap berkorban, dia rasa begitu. Maka ketika Yesus mengatakan “kamu harus rela berkorban, raja-raja dunia mengorbankan orang lain, tidak demikian dengan kamu. Raja dunia ingin menjadikan dirinya paling besar, tidak demikian dengan kamu”, lalu apa yang harus dilakukan oleh para murid? Bersiap untuk melayani, bersiap menjadi korban. Petrus merasa dirinya sudah siap menjadi korban, karena itu dia merasa dirinya paling layak untuk menjadi yang paling penting. Maka Yesus menegur dengan mengatakan “Simon, iblis sedang menghancurkan kamu. Dan saya berdoa supaya kamu tidak hancur”. Ini hal kedua yang kita pahami, mengikut Kristus berarti menyadari kekosongan diri, menyadari ketiaadaan makna dari diri selain di dalam salib Kristus. Petrus merasa diri rela berkorban, tapi dia lupa bahwa kerelaan untuk dia berkorban itu membuat dia jatuh. Kerelaan dia berkorban membuat dia dimiliki oleh setan. Yesus menginginkan kita menjadi pemimpin, menjadi yang rela berkorban. Tapi Tuhan mengingatkan “iblis sudah siap untuk mengambil kamu”. Ini hal kedua yang harus kita waspadai, Yesus mau tekankan, jadi pemimpin berarti menyadari diri bukan siapa-siapa, jadi pemimpin menyadari bahwa diri itu tidak berarti kecuali di dalam Tuhan, karena kerelaan berkorban dan sumbangsih yang besar akan membuat orang berpikir dirinya penting di dalam masyarakat dan itu berarti dia sedang ditangkap oleh setan. Semua murid merasa diri sanggup untuk berada dalam level yang sama dengan Simon yaitu menjadi orang yang agung karena kerelaan berkorban. Tapi secara paradoks Yesus mengajarkan orang yang mengagumkan adalah orang yang tidak pernah merasa dirinya mengagumkan. Di dalam tradisi dari Martin Luther ada perkatan bahwa kita diselamatkan bukan karena perbuatan baik. Perbuatan baik itu bernilai, tapi bukan untuk keselamatan. Kalau Saudara menganggap perbuatan baik itu penting untuk keselamatan, maka ambisi kita untuk dibenarkan karena perbuatan kita membuat kita menjadi hina. Di dalam Kitab Suci ada perkataan “perbuatan kami seperti kain kotor”, apakah perbuatan baik itu kain kotor? Kalau Saudara tolong orang miskin, itu kain kotor atau bukan? Bukan, Yesaya tidak pernah bilang perbuatan baik itu kain kotor, Yesaya mengatakan efek dalam dirimu, setelah kamu berbuat baik, kamu merasa diri layak, itu kain kotornya. Martin Luther mengatakan perbuatan baikmu adalah mortal sin, karena setelah kita berbuat baik, kita merasa berjasa, ini yang bahaya. Kita merasa diri kita something karena kita sudah melakukan sesuatu. Ini yang Simon pikir, “Tuhan jadi orang Kristen itu berarti harus pikul salib, rela berkorban. Saya rela mati bagi Engkau, saya lebih hebat dari yang lain”. Yesus mengatakan “itu perkataan iblis, iblis sedang menggenggam engkau. Maka Aku berdoa supaya imanmu tidak runtuh”.

Bagaimana cara Tuhan menjaga supaya iman Petrus tidak runtuh? Caranya adalah dengan Tuhan membongkar betapa nothing-nya dia. Ketika dia mengatakan “aku rela mati bagiMu’, setelahnya dia menyangkal Tuhan 3 kali, itu malu sekali. Orang yang terlanjur bicara berani lalu ketahuan penakutnya, itu kasihan sekali. Lebih baik dari awal tidak pernah ngomong. Harga diri Petrus dibanting oleh Tuhan, “kamu anggap dirimu penting, ini dirimu yang asli. Kamu ada di level ini, rendah seperti ini”. Hal kedua yang harus kita pahami dari teks yang kita baca adalah Yesus mengajarkan kita untuk menjadi orang-orang yang berpengaruh di tengah dunia, tanpa kita sadar kita adalah orang yang berpengaruh. Tidak sadar diri, ini sulit untuk dipelajari, tapi penting untuk kerohanian kita. Kalau Saudara sadar diri itu bahaya, makin sadar diri makin tidak bisa menjadi berkat. Waktu Saudara mau bersumbangsih dalam masyarakat, Saudara tidak ingat diri, yang Saudara harus tahu adalah Kerajaan Tuhan harus dinyatakan dalam prinsip hidup yang benar. Kerajaan Tuhan itu masuk di dalam semua, di dalam segala hal. Saudara mau bertindak dalam masyarakat, ada prinsip yang benar yang harus dijalankan. Waktu Saudara sibuk menawarkan prinsip ini, menghidupinya dan menyebarkannya untuk orang lain juga, Saudara sendiri tidak sadar, Saudara sedang berperan. Maka orang penting itu yang baik adalah orang yang tidak sadar dirinya penting. Kalau orang sadar dirinya penting lalu dia mau diperlakukan sebagai orang penting, dia sudah jatuh. Saya tidak bilang bahwa kita semua harus pura-pura tidak sadar kalau kita penting, itu salah. Tapi kalau Saudara sadar diri Saudara penting, tapi tidak mau ambil privilege untuk dihormati sebagai orang penting, itu yang paling indah.

Ketiga, di dalam ayat 35 dan seterusnya, Kalimat ini sulit ditafsirkan kalau kita tidak mengerti permainan kata dari orang Yahudi, ini adalah peribahasa dalam Bahasa Aramaik, ada peribahasa seperti ini “jika kamu adalah tentara, kamu harus bawa uang berarti kamu adalah tentara yang sangat kasihan”. Maksudnya di dalam zaman ini, abad ke-1, orang kalau mau perang itu karena diutus oleh orang lain, ada raja yang mengatakan “silahkan kamu berperang”, maka prajurit atau tentara yang pergi berperang tidak lagi khawatir soal keuangan. Tidak ada orang berperang dengan biaya sendiri. Tapi Yesus mengatakan kepada murid-murid, “sekarang kamu menjadi tentara yang berperang dengan membawa pundi-pundi”, ini kasihan. Tapi Yesus mengatakan demikian karena selama ini murid-murid pergi berjuang, mereka tidak perlu takut kekurangan apa pun karena selalu ada Yesus. Yesus selalu ada dekat mereka, sehingga mereka tidak kekurangan apa pun. Tapi Yesus mengatakan “kamu akan dipanggil untuk melayani Kristus dengan keadaan seolah-olah Kristus tidak ada”, ini poin penting yang saya ingin Saudara ketahui. Kita adalah orang-orang yang mengalami keadaan seperti tidak ada Kristus waktu kita berjuang untuk Dia. Tapi Kristus menjanjikan penyertaan yang berbeda, yang sama dengan waktu murid-murid disertai oleh Yesus. Maka penyertaan Yesus itu tidak pernah berubah, tidak pernah beda, tidak pernah berubah, tapi pengalaman yang dialami para murid dan kita itu beda. PenyertaanNya tidak beda, tapi pengalaman disertaiNya beda. Karena murid-murid melayani, Yesus ada di tengah-tengah mereka waktu mereka melayani. Tapi sebentar lagi Yesus akan mati di kayu salib. Dan sejak Yesus mati sampai nanti Dia datang kembali, Dia tidak pernah menyatakan kehadiranNya secara fisik di tengah-tengah murid. Murid-murid akan berjuang seperti tidak ada Yesus. Kalimat ini sangat mengharukan bagi saya, karena Yesus akan mengatakan kepada para murid “kamu tahu dulu kita tidak pernah kekurangan apa pun”, “betul Guru, karena Engkau ada bersama dengan kami”, “sebentar lagi Aku akan diambil dari kamu”, lalu bagaimana, haruskah murid-murid tetap bersikap sama? Tidak bisa, sekarang mereka harus bersiap untuk masuk ke dalam konflik yang besar. Apa yang harus mereka lakukan? “siapkan pundi-pundi, bawa bekal. Yang tidak punya bekal siap dengan cara menjual jubah dan membeli pedang”. Apa maksud menjual jubah dan membeli pedang? Artinya seorang yang punya kedudukan baik, dengan jubah, sekarang harus lepas jubahnya dan pegang pedang. Orang yang keadaannya tidak perlu berperang, sekarang harus perang. Seorang raja akan berperang kalau tentaranya sudah berhasil menaklukan, raja zaman itu seperti itu. Yesus mengatakan “kamu yang seharusnya tidak perang, sekarang harus perang. Jual jubahmu dan bawa pedang”. Berarti akan membawa pedang untuk menghantam orang? Ini salah tafsir. Yesus tidak mengatakan “jual jubah supaya kamu bisa bunuh orang dengan pedang”, tapi menjual jubah dan membeli pedang artinya bersiap dalam keadaan konflik. Kamu tadinya tidak harus masuk konflik seperti itu, tapi kamu sekarang berada dalam keadaan seperti ini. Ini pepatah yang sering diulangi oleh Lukas. Lukas mengatakan dalam bagian awal, Simeon mengatakan kepada Maria “kamu akan mengalami banyak hal, Anak ini akan membuat kamu ditikam pedang yang akan menikam jiwa”. Ditikam pedang artinya akan masuk dalam keadaan yang sangat menyengsarakan jiwa. Kita percaya yang dimaksudkan adalah waktu Yesus disalib. Waktu disalib, kita percaya jiwa Maria sangat tersiksa pada waktu itu melihat Anaknya sendiri tersiksa di kayu salib. Itu yang dimaksudkan dengan pedang. Lalu pada bagian lain Yesus mengatakan “Aku datang bukan membawa damai, tapi pedang”, apakah berarti orang Kristen akan perang? Bukan, maksudnya adalah karena seorang jadi Kristen, hidupnya akan penuh konflik. Maka pada bagian ini Yesus mengatakan “kamu akan Aku sertai, tapi bukan dengan cara yang kamu pikir. Aku tidak berada di tengah-tengah kamu untuk mengambil kamu dari keadaan sulit. Kamu harus siap sulit, siap konflik, siap mendapatkan keadaan yang sangat susah, dan kamu harus tahu bahwa Tuhan menyertai meskipun tidak kelihatan”. Para murid akan masuk di dalam cara melayani yang baru, sekarang tidak ada lagi Tuhan Yesus. Kalau tidak ada Tuhan Yesus, maka hantaman yang mau diberikan kepada Yesus, sekarang kena kepada murid-muridNya. Kalau dulu yang kena adalah Yesus, yang ditangkap adalah Yesus, maka Yesus mengatakan “kalau Aku yang kamu cari, biarkan mereka ini pergi”. Tapi setelah Yesus tidak ada, target dari musuh Kerajaan Allah adalah murid-muridNya. Sekarang yang menjadi target dari musuh-musuh Tuhan adalah orang-orang Kristen. Tuhan dimusuhi oleh musuh-musuhNya, dan musuh-musuhNya akan serang orang Kristen. Mereka tidak akan serang Yesus, sekarang Dia sudah ada di sorga, dulu Dia sudah diserang. Dia diserang danmati, tapi Dia bangkit. Maka Yesus mengatakan kepada murid-murid, “sekarang kamu adalah target serangan. Kamu akan dibuat kacau, menderita, kamu akan dibuat imannya menjadi goyah”.

Maka biarlah kita mempersiapkan diri untuk mengingat hal-hal seperti ini, bahwa meskipun keadaan kita damai dan tenang, tidak tentu keadaan akan terus begini. Akan ada saat di mana kita mempunyai keadaan sangat sulit dan kita mengerti satu hal bahwa Tuhan menginginkan kita untuk percaya kepada Dia karena kita diutus oleh Tuhan. Tuhan mengutus kita dan dalam keadaan paling sulit pun, Tuhan adalah Tuhan yang akan menyatakan penyertaanNya. Tapi bukan penyertaan yang sama dengan sebelumnya. Sekarang murid-murid akan melayani dan mereka akan menghadapi semuanya sendirian, tidak ada Yesus yang hadir secara fisik. Tapi Tuhan memberikan Roh KudusNya untuk mendampingi dan menyertai. Di poin ketiga ini yang penting untuk kita pahami adalah Tuhan mau kita mempersiapkan hati. Kalau kita ada dalam keadaan sulit, penuh konflik karena kita orang Kristen, kita harus tahu bahwa kita mengalami keadaan ini karena kita diutus oleh Tuhan. Bukan karena kita cari sendiri. Saya mau kita mengerti hal ini, mari persiapkan hidup yang baik, bukan penuh konflik. Mari kita siapkan keadaan yang damai dan aman, mari kita ingin hidup yang baik, yang tidak musuhan dengan siapa pun. Mari kita persiapkan kehidupan untuk kita dan anak-anak kita, generasi selanjutnya dalam keadaan yang aman dan damai, itu yang kita inginkan, dan itu tidak salah. Tapi ada saat di mana keinginan kita menjadi goyah dan hancur, lalu yang terjadi adalah apa yang kita takutkan. Ketika itu terjadi, Yesus ingin mengingatkan kepada kita bahwa itu terjadi karena Dia mengutus kita. Dan kalau kita diutus oleh Dia, maka kita harus ingat dua poin pertama tadi. Pertama, saya memang harus berjuang di sini, ini tempat perjuangan saya. Yang kedua adalah saya tidak boleh melihat diri sebagai yang paling penting. Konflik Saudara apa, saya tidak tahu. Mungkin Saudara sedang mengalami konflik sekarang, ada kesulitan besr di dalam hidup. Mungkin Saudara sedang mengalami konflik karena keadaan rumah tangga yang buruk, atau keadaan pekerjaan yang buruk, keadaan sosial yang buruk, mungkin Saudara punya daerah yang penuh konflik, saya tidak tahu. Tapi seumpama itu pun terjadi, Saudara ingat satu hal ini adalah kondisi tidak baik yang memang Tuhan izinkan terjadi. Lalu bagaimana kalau kondisi tidak baik ini saya alami? Saya harus ingat saya adalah orang yang dipanggil oleh Tuhan untuk memberikan pengaruh besar dengan meletakan diri paling kecil. Saya bukan siapa-siapa, saya mau jadi yang melayani, saya ingin menjadi berkat. Di dalam keadaan yang Tuhan percayakan, saya mau berjuang untuk mendatangkan kedamaian Kerajaan Tuhan, dan kiranya Tuhan memberikan kekuatan supaya saya tidak jauh dalam dosa menjadi lemah, atau dosa menjadi sombong. Inilah yang kita bisa kita pelajari hari ini. Maka Yesus mempersiapkan para murid, “Aku akan segera pergi, sekarang tugasmu untuk melanjutkan apa yang Aku kerjakan”. Yesus membawa Kerajaan Allah dengan berjuang di tengah dunia ini, sekarang Yesus pergi ke sorga, dan kita yang akan melanjutkan di dalam hidup kita sekarang. Saudara adalah orang-orang yang Tuhan angkat untuk makan semeja dengan Dia. Dan Saudara adalah orang-orang yang Tuhan angkat untuk menjadi kepala dari orang-orang di dunia ini. Menjadi hakim yang menyatakan penghakiman, bukan dengan keinginan untuk membesarkan diri tapi dengan keinginan utnuk menjadi berkat. Kiranya ketiga hal ini memberikan kekuatan kepada kita dengan menyadarkan kita bahwa apa pun yang kita alami semuanya adalah tangan Tuhan yang kerjakan. Kalau itu adalah sesuatu yang terjadi karena tangan Tuhan, maka saya harus berespon dengan benar. Bagaimana berespon dengan benar? Berespon dengan ingin menjadi berkat dalam keadaan ini apa pun yang terjadi, dan yang kedua berespon dengan mengosongkan diri supaya keadaan menjadi keadaan yang memuliakan nama Tuhan. Biarlah ini menguatkan kita dan memberikan kita anugerah untuk hidup bagi Tuhan.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)