Anda disini : Home » Reformed Theology » Injil Lukas » Kesaksian Kebangkitan yang Menebus
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Kesaksian Kebangkitan yang Menebus

Pdt. Jimmy Pardede

(Lukas 23: 55-56; 24:1-11)
Ada begitu banyak hal yang mengagumkan di dalam cara Lukas menuturkan kisah kebangkitan Yesus. Dan cara ini adalah cara yang bisa kita lihat banyak terdapat di Perjanjian Baru. Cara di mana semua pesan yang disampaikan berkoneksi dengan Perjanjian Lama. Yesus sebagai penggenap Perjanjian Lama harus kita pahami dengan tepat, karena kita tidak akan lihat kebesaran Yesus, keagungan Dia dan juga hebat dan mulianya Dia, jika kita tidak menelusuri pergumulan dari Perjanjian Lama terlebih dahulu. Kalau Saudara dan saya tidak lihat bagaimana Perjanjian Lama memutuskan tentang pengharapan Israel, tentang bagaimana Israel berjuang untuk menjadi umat Tuhan, bagaimana mereka gagal dan bagaimana janji Tuhan tetap diberikan, dan bagaimana rencana Tuhan pulihkan itu kita pahami. Maka kita melihat bahwa semua janji yang besar dari Tuhan dan semua pengharapan Israel, semua pergumulan yang mereka kerjakan itu akan mencapai puncak di dalam kematian dan kebangkitan Yesus. Kematian dan kebangkitan Yesus tidak boleh dilekatkan pada cerita yang lain, tidak boleh dilekatkan pada tradisi yang lain, tidak boleh dilekatkan pada worldview yang lain, hanya melalu cerita Perjanjian Lama, tradisi Perjanjian Lama dan worldview yang dibangun oleh Perjanjian Lama saja, kita bisa melihat bahwa Yesus yang mati dan bangkit memuncakan Kerajaan Allah dinyatakan di bumi.

Bagian ini sangat indah karena waktu Saudara membaca ada kisah yang seperti mengulangi kembali kisah Kejadian. Ini yang sudah kita lihat ketika membaca tentang penyaliban Yesus. Di dalam Kejadian 1, penciptaan itu dimulai di dalam keadaan yang kacau-balau dan kosong. Banyak orang membaca Kejadian 1 mempermasalahkan dari mana ini keadaan yang kacau-balau dan kosong, gelap gulita dan laut yang menutupi seluruh bumi. Mengapa bumi penuh dengan laut? Dan di dalam kebudayaan Timur Dekat Kuno, laut itu adalah simbol dari banyak hal yang jahat, termasuk salah satunya adalah kekuatan politik yang jahat. Kerajaan bangsa-bangsa yang jahat seringkali disimbolkan dengan lautan atau samudera. Itu sebabnya ketika Saudara membaca Kitab Wahyu, dikatakan di situ binatang yang sangat mengerikan itu yaitu naga mencoba menghancurkan umat Tuhan, berdiri di pantai. Lalu tidak lama dikatakan ada binatang besar keluar dari dalam laut. Ini tidak boleh kita ikatkan atau eratkan dengan cerita dari Jepang, sehingga Saudara mengatakan “ini godzilla dari laut, lihat dia keluar dari pulau tempat percobaan nuklir dan sekarang dia menghancurkan Amerika”, tentu tidak cocok mengaitkan cerita ini dengan cerita godzilla. Lalu bagaimana cerita ini dikaitkan? Dengan Perjanjian Lama, dimana laut itu identik dengan monster atau setan, kuasa jahat atau aspek lain dari Perjanjian Lama tentang laut, laut itu diidentikan dengan pemerintah yang jahat, raja-raja yang kuat yang menindas umat Tuhan itu sering dikaitkan dengan samudera atau lautan. Jadi di Kitab Kejadian ada permulaan yang kosong, kacau-balau, gelap dan penuh dengan laut atau air. Mengapa Tuhan menciptakan dengan cara seperti ini? Karena Tuhan mau menunjukan pola akhir zaman nanti. Dan bayang-bayang ini sudah dinyatakan di dalam Kejadian 1, ada kacau-balau, kosong, gelap gulita, samudera, tapi setelah itu muncul Tuhan yang menyatakan anugerah, menyatakan kuasa penciptaan yang memuncak di Taman Eden. Ini sebenarnya gambaran dari seluruh kerangka dan rangkuman dari apa yang akan Tuhan kerjakan. Tentu kita tidak bermaksud kisah di Kejadian 1 itu tidak benar-benar terjadi, yang dinyatakan Kejadian 1 pernah terjadi, tapi Tuhan seringkali pakai peristiwa yang pernah terjadi untuk menggambarkan peristiwa belakangan yang akan muncul, dimana peristiwa belakangan itu jauh lebih indah, jauh lebih sempurna dan jauh lebih total dari peristiwa yang menyimbolkannya. Peristiwa penciptaan benar-benar terjadi, penciptaan benar-benar terjadi, inilah awal mula langit dan bumi. Tapi penuturan dari Kitab Kejadian dilakukan dengan cara yang membuat kisah ini akan digenapi di dalam peristiwa akhir zaman.

Dan kita bisa melihat dalam Kejadian 2 ada karya puncak dari Tuhan yang namanya Taman Eden, serta ada janji puncak dari Tuhan yang namanya Sabat. Taman Eden sudah terjadi di bumi, Sabat belum. Tuhan menjadikan Taman Eden dan Sabat dari keadaan yang kacau-balau, kosong, gelap, dan penuh dengan air. Dan peristiwa ini diulangi oleh Yesaya 24-27 dan diulangi kembali oleh narasi dari Injil, terutama di dalam bagian penyaliban Yesus. Lukas menceritakan gelap menutupi seluruh daerah itu, dari jam 12-3, bahasanya mirip ketika dikatakan gelap-gulita menutupi seluruh permukaan air, seluruh samudera. Gelap gulita menaungi seluruh daerah itu dari jam 12-3. Lalu dikatakan bangsa-bangsa, diwakili oleh Pilatus dan semua tentara Roma, sudah mengelilingi Tuhan Yesus. Dan ini menggenapi apa yang sudah dikatakan oleh Pemazmur dalam Mazmur 22, “seluruh binatang buas mengelilingi Aku, air laut seperti mau menenggelamkan Aku”. Ini hal-hal yang seirngkali Tuhan nyatakan sebagai penghukuman, kekacauan baik di dalam bentuk penyakit, riot, perang. Kemudian kekosongan di dalam keadaan tidak ada makna hidup, di dalam keadaan yang sepertinya baik tapi kosong, sepertinya sejahtera tapi tidak ada makna, perasaan depresi, perasaan kosong, perasaan tidak mengerti mengapa hidup mulai muncul. Lalu diserang oleh keadaan lain dan kegelapan karena tidak mengenal Tuhan, seringkali dipakai Tuhan untuk menghukum bangsa-bangsa di mana pun. Tetapi yang paling mengharukan dari Yesaya adalah bergerak makin belakang, Yesaya semakin memberikan fokus bukan kepada penghukuman bangsa-bangsa, tapi kepada janji datangnya Sang Hamba, Yesaya 42. Dan di dalam Yesaya 42, hamba ini akan menjadi saksi karena dia dipenuhi Roh Kudus, dia akan membawa berita kepada bangsa-bangsa lain. Jadi Yesaya 24-27 menyatakan penghukuman bagi bangsa-bangsa, Yesaya 42 menyatakan pengharapan bagi bangsa-bangsa, dan Yesaya 52 menyatakan korban bagi bangsa-bangsa ada dalam diri Yesus. Kita kalau melihat Yesaya itu seperti melihat biografinya Yesus, baik di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Seperti melihat Yesus yang dinubuatkan dan digenapi dalam satu buku yang sangat indah. Itu sebabnya Yesaya sangat perlu dimengerti untuk kita membaca Roma. Saudara dan saya akan mendapatkan kelimpahan membaca Paulus kalau kita mengerti Yesaya, karena Paulus adalah orang yang sangat banyak dipengaruhi oleh Yesaya. Bisa dikatakan dia ahli Yesaya dalam gereja Perjanjian Baru. Dan dia bagikan begitu banyak poin dengan cara merangkum semua yang ada pada Yesaya, lalu melekatkannya pada pribadi Kristus. Paulus mempunyai keunggulan luar biasa dan keunggulan ini baru kita pahami kalau kita mengerti Yesaya. Saya sangat tertarik untuk membahas Surat Roma setelah selesai eksposisi Lukas, kita akan masuk dalam eksposisi Surat Roma. Dan di dalam pengertian-pengertian yang indah dari Paulus, ada kaitaan yang bisa kita lihat dalam Kitab Yesaya dengan indah sekali. Yesaya 52 dan 53 bercerita tentang bagaimana keadaan kacau-balau, kosong, gelap gulita dan ditutupi samudera bukan dialami oleh Israel dan bangsa-bangsa saja, tapi juga dialami oleh Sang Hamba. Hamba yang diutus oleh Tuhan yaitu Sang Mesias bisa juga mengalami periode kosong, kacau, gelap dan ditutupi samudera. Yesaya 53 mengatakan tapi Dia lakukan ini, Dia alami ini oleh karena pemberontakan kita, Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita. Bilur-bilurnya terjadi supaya kita sembuh, ganjaran yang seharusnya ditimpakan kepada kita menjadi milik Dia. Yesaya membahas seri penghukuman Tuhan bagi Israel, bagi bangsa-bangsa lain dan bagi Sang Hamba. Dan Yesaya mengatakan hukuman bagi Sang Hamba menegasi hukuman bagi bangsa-bangsa lain dan menegasi hukuman bagi orang-orang percaya di Israel. Oleh karena dosa kita Dia tertikam, berarti oleh karena Sang Hamba ini ditikam, yang tadinya kita alami yaitu pembalikan dari ciptaan menjadi kacau, sekarang kita alami kebalikannya lagi. Dari kacau kembali masuk ke keadaan yang baik. Ini gerakan yang indah sekali, kalau kita mengerti. Alkitab berusaha mengajarkan kepada kita bahwa seluruh rencana Tuhan itu saling berkait dan menuju kepada puncak, dan akhirnya menjadi sempurna di dalam Kristus. Kristus adalah yang menyempurnakan semua nubuat yang dikatakan dalam Yesaya 52 dan 53. Itu sebabnya penyaliban Kristus dinyatakan seperti ini, ada gelap kemudian bangsa-bangsa kafir menghukum Dia, lalu umat Tuhan mengkhianati Dia, “bahkan saudara-saudaraKu pun yang makan rotiKu mengangkat tumitnya terhadap Aku”. Kisah pengkhianatan, kisah keserakahan politik, kisah kepengecutan seorang pemimpin, kisah kebodohan rakyat yang mudah dihasut, kisah kejahatan dari setan-setan pemimpin agama yang pintar menghasut manusia, kisah pengecutnya murid-murid, dan kisah kerelaan seorang Hamba maju ke kayu salib, semua dirangkum dengan indah dalam peristiwa penyaliban. Ini keindahan yang menakutkan, keindahan yang membuat kita ngeri karena di sini ada cermin untuk melihat diri kita dan keberdosaan kita. Kita dapat melihat berapa kacaunya kita melalui melihat kacaunya manusia di dalam peristiwa penyaliban Tuhan Yesus. Orang-orang yang seharusnya membela Yesus lari, orang yang harusnya melanjutkan pengajaran Yesus sekarang mengkhianati Dia, orang yang harusnya tunduk pada ajaran Yesus sekarang menuduh Dia. Lalu tentara bangsa-bangsa asing yang mau Tuhan berikan belas kasihan, sekarang menjadi alat untuk menghakimi dan memakukan Sang Anak Allah. Peristiwa penyaliban seperti menyatakan atau menjelaskan keadaan kacau balau, kosong, gela gulita dan penuh air yang dinyatakan dalam Kejadian 1. Tapi Saudara bisa melihat keadaan itu bukan keadaan terakhir, karena setelah itu Tuhan mulai menata kembali. Dan Kitab Kejadian 1 menggambarkan cara Tuhan mencipta itu dilakukan dengan cara yang sangat indah. Ciptaan itu seperti masterpiece yang dikerjakan oleh tangan sang ahli. Sebab Kejadian 1 tidak menggambarkan penciptaan dengan cara yang mudah, misalnya pada mulanya bumi belum berbentuk dan kosong, kacau-balau, gelap gulita menutupi semua samudera, dan samudera menutupi semua permukaan bumi. Lalu berfirmanlah Tuhan “jadilah semua”, dan semua itu jadi, selesai. Tidak, digambarkan ada pergumulan yang sangat baik, ada master, ada Sang Ahli yang mulai menata ciptaan lapis demi lapis. Demikian juga masterpiece Tuhan bukan hanya manusia, tapi juga wadahnya. Manusia perlu wadah, maka Saudara tidak bisa mengatakan “kita ini manusia yang penting di hadapan Tuhan, bumi tidak penting”, tidak demikian. Tuhan siapkan wadah dan siapkan manusia satu dengan wadahnya. Itu sebabnya manusia dikatakan diambil dari tanah, wadah kita adalah bagian dari kita juga, tapi dihembuskan nafas hidup, hidup dari Tuhan bukan dari bumi. Yang menjadi masterpiece dari Tuhan adalah Adam, Hawa dan Taman Eden, ini tiga masterpiece dalam pengertian orang Yahudi. Tapi the best is yet to come, karena Tuhan menjanjikan Sabat. Sehingga ketika orang melihat masterpiece ini Adam, Hawa dan Taman Eden, orang akan sangat kagum, kalau ini saja demikian sempurna bagaimana nanti ketika Sabat itu terjadi, pasti agungnya bukan main. Jadi di dalam Kitab Kejadian, kisah Sang Master membuat masterpiece ini menjadi genap ketika Adam dan Hawa diletakan di Taman Eden. Taman yang sangat berlimpah, ketika orang melihat ke kiri ke kanan akan melihat banyak sekali keterkaitan yang erat antara taman, pohon-pohonan, hutan dan perkembangan di dalam budaya. Ada seni yang indah, ada batu-batu perhiasan yang mahal, ada emas yang baik sekali, ada air yang mengalir sangat baik, dan ada tanaman-tanaman yang menghasilkan buah yang bisa dimakan oleh manusia. Kalau kita bayangkan ini pasti indah, itu sebabnya Tim Keller mengatakan semua orang punya sense mau kembali ke Taman Eden. Kita menciptakan keinginan untuk kembali ke Taman Eden. Tapi lebih dari itu, Taman Eden tidak hanya bisa dijadikan taman untuk bumi. Taman Eden perlu heavenly beings ada di situ, perlu makhluk-makhluk yang non-bumi tapi sorgawi. Yang dari sorga tapi juga berdiam di Taman Eden, ini yang ada di budaya atau tradisi Yahudi. Sayang setelah manusia jatuh dalam dosa, heavenly beings itu yaitu manusia turun untuk mengusir manusia. Bukan turun untuk berdiam dengan manusia, tapi turun untuk mengusir manusia. Lalu heavely beings yang lain yang masuk bukan malaikat, tapi si ular yaitu mantan heavenly beings. Masuk ular, kemudian Adam dan Hawa jatuh. Tapi sebenarnya taman itu harus merangkum persekutuan antara bumi dan sorga. Tempat yang akan menampung makhluk-makhluk di bumi dan di sorga. Tim Keller pernah mengatakan di khotbahnya, manusia itu punya imajinasi yang selalu berfantasi tentang dunia fantasi. Dunia fantasi itu menjadi bagian dari anak-anak atau remaja. Ada bayangan lain tentang dunia ini. Saudara kalau lihat game-game yang dimainkan oleh anak remaja, Saudara akan bingung “ini posisinya dimana, keadaan bagaimana?”, kebanyakan akan menggambarkan keadaan yang fantasi sekali, yang tidak ada di bumi. Jarang ada perusahaan game yang membuat game setting-nya di bumi. Ada banyak game yang bersifat fantasi. Atau film-film yang bersifat fantasi, menginginkan adanya duani alternatif, ada universe yang lain selain universe ini. Dan ini sebenarnya harapan nanti ketika Taman Eden dipulihkan. Manusia punya sense itu di dalam hatinya. Maka Tim Keller berani mengatakan kita bukan cuma punya sense of worship, punya sense ingin menyembah Tuhan, tapi kita juga perlu sense ada tempat yang bisa menampung sorga dan bumi. Kita ingin ada wadah dimana kita bisa bersekutu dengan kita sesama manusia, kita bersekutu dengan alam, dengan binatang, dengan pohon-pohonan, kita bisa bersekutu juga dengan para malaikat. Dan yang terutama di atas segala-galanya, kita bisa bersekutu dengan Tuhan. Jadi Tuhan tidak menciptakan manusia tanpa konteks, tanpa tempat, dan Tuhan tidak hanya menyiapkan tempat khusus bumi. Jadi Taman Eden adalah taman yang penuh keindahan karena ada sesuatu yang hanya bisa dipikirkan secara fantasi tapi belum bisa dialami dalam dunia ini yaitu persekutuan antara sorga dan bumi di sebuah tempat yang dipulihkan oleh Tuhan. dari kacau-balau menjadi Taman Eden, tapi Taman Eden gagal menuju kepada kesempurnaan Sabat karena manusia jatuh dalam dosa.

Kalau begitu adakah harapan untuk pemulihan? Ada, karena Tuhan panggil Adam, Hawa dan ular, hakimi mereka satu per satu. Dan penghakiman dalam Ibrani selalu bernuansa positif, maksudnya adalah selalu ada yang terbaik terjadi padanya. Ketika Tuhan menghakimi pembunuh, tujuan adalah supaya manusia yang menghargai nyawa bisa terbentuk dalam sebuah komunitas. Tuhan menghakimi pencuri supaya suatu saat nanti setelah pencuri dihakimi, manusia bisa belajar menghargai kepemilikan orang lain di dalam komunitasnya. Jadi penghakiman Tuhan selalu menuju ke keadaan yang lebih baik. Maka ketika Tuhan menghakimi Adam, lanjut menghakimi Hawa, terus menghakimi ular, ada kalimat yang mengatakan “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini. Antara keturunanmu dan keturunannya, keturunanmu akan meremukan tumitnya, tapi keturunannya akan meremukan kepalamu”, Tuhan menjanjikan kemenangan. Tuhan mengusir Adam dan Hawa keluar, lalu taruh malaikat dengan pedang yang menyala-nyala. Di sini pun ada tindakan anugerah, karena setelah manusia diusir, ada malaikat menjaga dengan pedang menyala-nyala, menjaga supaya manusia tidak masuk kembali. Berarti taman ini tidak Tuhan hancurkan, Tuhan tidak menyuruh malaikat “malaikat, dengan pedang di tanganmu, bakar taman ini”, lalu Tuhan suruh Adam dan Hawa lari. Ketika mereka melihat ke belakang, mereka melihat asap membumbung tinggi dari Taman Eden dan taman itu tidak ada lagi. Tidak, tamannya masih ada tapi disembunyikan oleh Tuhan. Itu sebabnya oleh orang Yahudi diubah namanya dari Eden menjadi Firdaus, karena Firdaus itu artinya taman bertembok. Dulunya tidak ada tembok, sekarang jadi bertembok. Bertembok karena sekarang manusia tidak boleh masuk balik kembali, “kamu diusir keluar, tidak boleh masuk. Kamu dilarang masuk, tapi suatu saat kamu akan masuk kembali ketika taman ini menuju kepada kesempurnaannya”. Taman ini harusnya dikembangkan oleh manusia, manusia tinggal di taman bukan hanya untuk ambil buah dan makan, manusia tidak pernah puas dengan sense seperti ini. Saudara tidak akan puas hanya makan buah setiap hari, Saudara mulai pikir “mungkinkah kita bangun rumah, mungkinkah dari kayu-kayu yang ada kita bangun pondok, mungkinkah kita cari teknologi yang ada di bawah tanah ini, mungkinkah ada zat di bawah ini yang bisa kita bentuk”, dan lain-lain. Akhirnya manusia mengembangkan teknologi. Dan dari taman, manusia bisa mengusahakannya untuk menjadi kota. Bahkan bukan dari taman, tapi dari hutan menjadi kota. Dan orang yang benar-benar mempunyai bijaksana akan merancang keadaan harmonis dimana ada pembangunan kota yang sangat teratur dengan hutan dan juga dengan tanaman. Kota yang sangat baik bersatu dengan keadaan alam, ini yang akan menjadi pencapaian yang hebat dari manusia. Kalau manusia membuat kota dan menyingkirkan alam, itu bodoh. Kalau manusia tinggal di alam tapi tidak bisa mengembangkan budaya yang akhirnya membentuk kehidupan yang lebih baik, itu pun bodoh. Yang bijaksana adalah pembangunan yang tetap menyatukan keadaan alam yang baik. Alam ditaklukan manusia, manusia membangun kota dan tempat yang alami dan kota yang dibangun bersatu dengan indah. Dan ini salah satu keindahan dari istana Salomo.

Bagaimana cara Tuhan pulihkan? Lewat sejarah keselamatan, dimana Israel adalah bagiannya. Tapi sekarang sejarah keselamatan itu menjadi semakin kelam bukan main. Bangsa yang seharusnya taat, sekarang dibuang di Babel. Mesias yang dinanti-nantikan tidak datang juga. Setelah Mesias itu datang, malah dipaku di kayu salib. Kegelapan dari matinya Yesus di kayu salib dirasakan oleh para murid sebagai hantaman yang menghancurkan iman mereka sampai ke dasar. Iman mereka hancur-lebur karena mereka melihat Mesias terpaku di kayu salib. Mereka tidak mengerti kapan pemulihan bisa terjadi. “Kalau Tuhan mau pulihkan manusia dan konteks hidupnya, manusia dan alam sekitarnya, manusia dan bumi ini, bagaimana itu mungkin terjadi jalan Yesus mati di kayu salib. Tadinya kami berharap Dialah yang akan memulihkan segala sesuatu, tapi sekarang Dia mati”. Tapi para murid tidak lihat bahwa Kitab Kejadian pun dimulai dengan keadaan ini, kacau-balau, samudera raya dan kematian. Tetapi Yesus masuk ke dalam keadaan kacau ini untuk memulai keadaan baru yang indah. Kebangkitan Yesus dimulai dalam keadaan yang sangat indah, tenang dan tidak ramai. Coba kita pikirkan baik-baik, kalau Saudara mau jadi Tuhan, Saudara mau mengutus Mesias menggenapi seluruh Perjanjian Lama, lalu pekerjaan final Dia adalah kebangkitan, Dia mati kemudian bangkit, kira-kira Saudara mau kebangkitan itu dirayakan seheboh apa? Pasti heboh sekali. Dan waktu Saudara ingin misalnya merancang kehidupan Mesias, lalu menginginkan ada peristiwa puncak yaitu kebangkitan Dia, harus dirayakan dengan sangat megah. Saudara pasti ingin perayaannyabegitu megah, kalau perlu malaikat-malaikat libur dulu untuk turun ke bumi dan merayakan perayaan ini. Ketika kubur Yesus terbuka, Yesus keluar, semua orang sudah menunggu di situ, ramainya bukan main. Dan ketika Yesus melangkah keluar, semuanya tepuk tangan “hore, akhirnya bangkit”. Tapi itu tidak terjadi, yang terjadi adalah keadaan yang sangat sepi yang sangat suram. Pagi-pagi buta perempuan-perempuan pergi ke kubur, ini bukan gambaran klimaks kalau kita lihat. Pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu para perempuan pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan. Bagi orang-orang Yahudi perempuan tidak boleh menjadi tokoh utama, apalagi menjadi tokoh utama di dalam klimaks dari sebuah cerita, itu bodoh sekali. bahkan kalau orang cerita hanya memakai tokoh perempuan, itu bisa dianggap sebagai orang yang tidak pintar bercerita. Mengapa tokoh utamanya perempuan? Pagi-pagi pertama pada hari pertama minggu itu perempuan-perempuan pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka. Orang yang mati dimasukan ke dalam kubur biasanya akan ditangisi sampai berhari-hari, kalau orang penting bisa sampai 1 bulan. Jadi tangisan lalu pergi ke kubur untuk memberikan rempah-rempah itu bisa dilakukan berhari-hari kemudian dan menangisi orang yang mati itu bisa dilakukan sampai satu bulan kemudian. Tapi ketika Yesus mati tidak ada yang melakukan ini, kematian Yesus dianggap sebagai kematian orang yang cepat ingin dilupakan. “Ini kontroversi, layakkah Dia mati atau tidak, manusia sejati atau bukan, ini masih kontroversi. Maka lebih baik kita tutup kasus ini, kita masukan peti es dan tidak kita bahas lagi. Jangan ada lagi yang menangisi orang ini, lupakan Dia. Kalau Dia bangkit berarti kita harus ingat dan bertobat. Kalau Dia tidak bangkit, kita lupakan sekali untuk selama-lamanya”. Maka kubur Yesus dijaga dan orang-orang memberikan kabar harus jaga baik-baik karena nanti murid-muridNya akan curi mayatNya lalu mengatakan Dia bangkit. Tapi bagian ini digambarkan dengan sangat sedih sekali, hanya beberapa orang perempuan saja, terhitung dengan jari. Hanya beberapa dari mereka yang datang dan nama mereka pun dicatat. Hanya tiga perempuan yang datang dan juga perempuan-perempuan ini membawa rempah-rempah dan minyak untuk meminyaki Yesus, karena mereka tidak sempat melakukan itu waktu Yesus mati, sebab hari persiapan masuk ke Sabat sudah mulai. Jadi mereka dengan sangat sedih datang ke kubur, keadaan sangat sepi tetapi kubur itu sudah terbuka. Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu dan setelah masuk, mereka tidak menemukan mayat Tuhan Yesus. Ini titik yang indah sekali, dari kubur yang kosong Tuhan memulai pekerjaanNya, memulai ciptaan baru yang akan digenapi pada kedatangan Yesus kedua, ciptaan baru sedang dimulai. Dan permulaan dari ciptaan baru ini mengadopsi cerita Taman Eden sebagai tema utamanya.

Cerita Taman Eden berkait tentang perempuan, orang Yahudi anti meletakan perempuan di cerita tapi mereka lupa bahwa Kejadian 3 adalah catatan dimana perempuan memegang peran utama, karena dikatakan ular berbicara dengan perempuan, langsung perempuan menjadi tokoh. Lalu berdiskusi dengan perempuan ini, perempuan itu mengabaikan firman dan memberitakan pesan dari dirinya sendiri. Memberitakan pesan, menjadi saksi bagi setan, menjadi saksi bagi kebobrokan, menjadi saksi bagi diri. Perempuan ini yaitu Hawa tidak menyaksikan perkataan Tuhan, dia menyaksikan apa yang menjadi pendapat dia setelah dipengaruhi oleh setan. Ini bagian yang menyatakan ada penebusan, perempuan yang membawa kepada kekacauan, sekarang ada perempuan yang membawa kepada keindahan berita Injil. Maka ada perbaikan. Kitab Kejadian 3 diulangi di dalam cara yang sangat indah di pasal 24 ini, kalau dulu Taman Eden dimulai dan tidak diakhiri, tidak menjadi genap karena baru Taman Eden dimulai, manusia sudah jatuh dalam dosa. Sekarang ada taman yang dipulihkan, Tuhan sedang memulihkan Taman Eden yang dulu, tidakkah engkau sadar? Lukas sudah mulai menggambarkan ini, Yohanes lebih gamblang sekali. Yohanes itu vulgar sekali kalau memberikan pesan, apa yang dicatat Injil sinoptik secara narasi, dicatat Yohanes dengan menunjukan poin-poinnya. Yesus menggenapi kisah penciptaan dari keadaan kacau-balau sekarang ada Taman Eden. Dan pada bagian ini Tuhan mengirimkan para perempuan lalu mereka melihat kubur Yesus sudah kosong, mayat Yesus tidak ada di situ. Dan ayat selanjutnya mengatakan sementara mereka berdiri, tiba-tiba ada orang berdiri dekat mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan. Dan kalau Saudara tidak menangkap ini adalah malaikat, Yohanes menjelaskan kembali ada malaikat datang berbicara kepada perempuan itu. Jadi orang yang berdiri dengan pakaian berkilau-kilauan adalah malaikat. Mengapa harus ada malaikat? Karena Taman Eden tadinya dimaksudkan untuk menjadi tempat persekutuan antara Tuhan, makhluk-makhluk di bumi dan di sorga. Itu sebabnya doa berkat yang dimiliki gereja Kristen pun menyatakan berkat bagi Tuhan dalam nyanyian doxology pun menyatakan puji bagi Tuhan Allah yang Maha Tinggi, baik makhluk sorgawi maupun makhluk bumi. Perlu ada tempat yang akan mewadahi keadaan penyembahan ini. Dan tempat inilah Firdaus yang disempurnakan itu. Tempat ini adalah titik awal kebangkitan Tuhan Yesus, kubur yang kosong adalah titik awal dimana kesempurnaan penyembahan makhluk sorgawi dan makhluk bumi akan terjadi. Ini yang Lukas coba nyatakan, “lihat ada dua malaikat”, orang Yahudi kalau membaca ini akan mengatakan “segera” bukan cuma dua tapi seluruh makhluk sorgawi akan kumpul, “segera” bukan cuma perempuan tapi seluruh kaum pilihan akan, ini titik awal. Dan titik awal tidak ramai, Tuhan tidak menciptakan di Taman Eden ada Adam, Hawa, Kain, Habel, Set, dan lain-lain, ini tempat yang hanya ada dua manusia. Di situ tidak ada komunitas manusia yang ramai. Bagi orang Yahudi membaca ini ada pengharapan besar sekali “lihat, ciptaan sudah mulai dipulihkan”. Lalu mereka melihat kubur kosong dan malaikat mengatakan kepada mereka “mengapa kamu mencari Dia yang hidup di antara orang mati. Dari kematian Dia sendiri yang muncul sebagai yang hidup. Dia tidak ada di sini, Dia telah bangkit. Ingatlah apa yang telah dikatakan kepadamu ketika masih di Galilea bahwa Anak Manusia akan mati dan bangkit”. Malaikat mengingatkan perempuan akan perkataan Yesus. Kekristenan menyebar adalah dari kubur melalui mulut-mulut para perempuan. Ini benar-benar indah, perempuan-perempuan yang tidak dianggap sekarang menjadi tokoh utama dalam penyebaran berita Injil. Dan kalau kita pikir Lukas di sini hanya sekedar menulis tulisan kontroversial biar laku, karena masyarakat pada umumnya akan menganggap ini kontroversial, dia menulis yang kontroversial supaya laku. Tapi sebenarnya Lukas sedang mengingatkan perempuan yang ada di Taman Eden menjadi penyebab kekacauan, sekarang menjadi penyebab keteraturan. Yang menjadi sumber awal kekacauan, meskipun tetap yang bersalah adalah Adam, tapi perempuan yang memulai dengan perkataan yang sudah diselewengkan, dia menerima perkataan yang sudah diselewengkan. Sekarang para perempuan ini bekerja untuk melanjutkan adanya ciptaan baru dengan mengatakan apa yang dikatakan Yesus. Mereka menjadi saksi pertama dari Kekristenan, mereka menjadi orang pertama yang membawa kabar baik. Maka Lukas di sini mengingatkan gereja mula-mula kalau engkau begitu eager ingin menjadi seperti Petrus, ingin menjadi seperti Stefanus yang kalau berkhotbah begitu menghancurkan banyak hati orang-orang, atau menjadi seperti Apolos yang pintar berapologetik, atau menjadi seperti pemimpin-pemimpin lainnya, menjadi seperti Yakobus saudara Yesus yang menjadi soko-guru di Yerusalem, atau seperti Paulus yang tidak gentar menghadapi apa pun, menghadapi ombak, binatang buas, dia tetap memberitakan Injil. Tapi Lukas mengingatkan ada juga orang yang berperan penting sekali tapi mungkin tidak sekeren yang lain yaitu para perempuan yang melihat dan menceritakan. Kegiatan yang simple, melihat dan menceritakan, melihat kubur yang kosong, mendengar perkataan Yesus, menerima yang Yesus katakan dan membagikan apa yang Yesus sudah katakan. Dan ini yang dilakukan oleh para perempuan itu.

Lukas meramu kegiatan penginjilan para perempuan ini, kesaksian yang diberikan kepada para murid, di dalam konteks cerita yang sangat paralel dengan Taman Eden. Taman Eden harusnya bertumbuh, berkembang menjadi limpah, tapi gagal. Sekarang Yesus tidak akan gagal, Taman Eden yang baru ini akan datang ke bumi melalui kedatangan Yesus dan Yesus akan perbaiki semuanya. Sehingga nanti ada makhluk-makhluk sorgawi bergabung dengan umat pilihan Tuhan sama-sama sujud menyembah Sang Raja yaitu Kristus demi kemuliaan Bapa. Ini akan terjadi dan ini dimulai dari perempuan yang membawa cerita tentang kebangkitan Yesus. Bagi perempuan ini, ini adalah berita yang indah. Tapi lihat ayat ke-11, bagi orang-orang itu, bagi para rasul, para laki-laki, perkataan ini adalah omong kosong, mereka tidak percaya kepada perkataan perempuan-perempuan itu. Kata omong kosong seringkali ditujukan kepada kata-kata dari orang yang terlalu emosional sehingga tidak lagi teratur kata-katanya. Yang seringkali dianggap emosional itu perempuan, meskipun ada laki-laki yang emosional dan perempuan yang tenang. Saya tidak mengerti, stereotype seperti ini seringkali dilakukan tapi kita juga seringkali menemukan perbedaan-perbedaan di masyarakat. Kita terlalu terpaku dengan pola yang lama, perempuan itu selalu emosional, laki-laki itu selalu kuat. Tapi Saudara akan melihat stereotype itu tidak akan berhasil, bahkan tidak disetujui oleh Alkitab. Tapi budaya akan mengakui perempuan itu emosional, kalau sudah ketakutan ngomongnya tidak teratur, sehingga mereka menganggap perempuan itu karena terlalu takutnya maka ngomongnya tidak teratur. “Yesus…Yesus..bangkit..bangkit”, padahal itu bukan yang mereka lakukan, mereka bicara dengan tenang, mereka menyampaikan “Yesus sudah bangkit”. Karena begitu senangnya, mereka mengekspresikan perasaan mereka karena Yesus sudah bangkit. Tapi mereka tidak percaya. Yang membuat mereka tidak percaya ada dua hal, pertama “sudahlah, Yesus sudah mati”, yang kedua “kamu kan perempuan”. Ini yang Lukas mau lawan ketika kita mengatakan “kamu kan perempuan”. Lukas mau mengingatkan lewat bagian ini, Kerajaan Tuhan di bumi dimulai dengan berita Yesus yang bangkit, lewat perempuan ini. Mereka penginjil pertama. Pemberita tentang Injil yang pertama akan selalu diingat. Orang pertama yang membawa berita Injil ke Samosir akan diingat, orang pertama yang berhasil membangkitkan banyak orang Kristen di Batak, dibuatkan tugunya, penginjil pertama di Tanah Sunda diingat, penginjil pertama di Jawa Timur diingat, penginjil pertama di Afrika diingat, karena yang pertama. Lukas mau mencatat hal yang sama, penginjil pertama dari Kerajaan Allah dipulihkan adalah tiga perempuan ini. Tidak ada orang yang akan mengingat 3 perempuan ini atau membuat bukunya karena data tentang mereka kurang sekali.

Tapi ini yang Lukas katakan, ada bagian ini dalam Kerajaan Allah, ada bagian melihat, mengalami dan memberitakan. Ada bagian para saksi yang penting dalam Kitab Suci. Sehingga Kerajaan Allah dimulai dari kesaksian para murid-murid ini, dan laki-laki tidak percaya pada omongan perempuan-perempuan ini, ini sindiran. Karena dalam Kejadian 3, laki-laki percaya kepada dusta ular, “ini ada buah, makanlah”, dan laki-laki langsung makan tanpa kritik sama sekali. Laki-laki yang tidak punya pendirian dan cuma terima apa pun yang perempuan tawarkan, itu laki-laki yang mirip Adam, Adam tidak punya pendapat apa pun. Hawa punya pendapat yang salah dan itu dosa, Adam tidak punya pendapat apa pun dan itu tetap dosa bagi Tuhan. Saudara mengerti teologi yang salah, itu dosa. Saudara tidak tahu teologi yang benar, juga dosa. Contohnya jika ada orang yang mengatakan “istri saya Saksi Jehovah, jahat, itu kan bidat, itu tidak sesuai dengan ajaran Kristen yang sejati”, lalu orang tanya “kamu sendiri apa?”, “saya juga tidak tahu saya apa, tapi yang penting saya bukan sesat. Memang saya tidak mengerti teologi, tapi yang penting saya bukan Saksi Jehovah”, Tuhan akan mengatakan “sama saja. Istrimu punya teologi yang kacau dan kamu tidak punya teologi sama sekali, dua-duanya salah”. Hawa punya pendapat yang salah tentang buah ini, dan Adam netral tidak punya pendapat apa pun, keduanya salah. Adam terima apa yang Hawa percaya sebagai berita kebenaran, padahal palsu. Sedangkan berita kebenaran yang ditawarkan oleh perempuan ini ditentang oleh para laki-laki ini. Ini sindiran, laki-laki mudah sekali percaya dusta tapi sulit percaya kebenaran. Ada sindiran dari Lukas, mengapa ketika Hawa menawarkan buah tidak ada kritik sama sekali, langsung diterima. Mengapa pemberitaan dari Taman Eden dinyatakan, para murid ini tidak percaya? Tapi sungguh pun demikian, Petrus tergerak untuk cari tahu. Tuhan tetap beranugerah sehingga berita ini tidak diam atau berhenti pada perempuan saja, tapi berita ini akan menjadi berita yang menyebar secara cepat sekali dan orang-orang yang percaya Yesus bangkit mulai dipanggil dan mereka mulai membentuk gereja Tuhan yang mengharapkan pulihnya Firdaus di hari Sabat ketika Yesus datang kedua kali. Kiranya peristiwa kebangkitan Yesus yang penuh dengan kemenangan ini boleh kita ingat dan boleh kita renungkan dalam kehidupan kita bahwa Tuhan sedang memperbaiki ciptaanNya. Mengapa Yesus bangkit? Karena Tuhan sedang perbaiki ciptaanNya. Tuhan sudah memulai ciptaan yang baru. Ciptaan yang akan memperbaharui kita, kita yang lama akan dijadikan baru melalui penebusan Kristus yang mati bagi kita dan bangkit menyatakan kebenaran bagi kita. Dan ciptaan yang baru di seluruh alam akan terjadi karena Yesus sudah menggenapinya di atas kayu salib. Kiranya Tuhan menguatkan kita semua.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah