Anda disini : Home » Reformed Theology » Injil Lukas » Kematian Kristus yang Agung
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Kematian Kristus yang Agung

Pdt. Jimmy Pardede

(Lukas 23: 44-56; 24:1)
Peristiwa kematian Yesus adalah peristiwa yang sangat agung di dalam sejarah. Tapi peristiwa yang banyak tidak dimengerti. Orang Kristen menganggapnya penting, tetapi tidak semua orang Kristen tahu mengapa kematian Yesus penting. Tidak semua orang Kristen mengerti apa yang Alkitab coba nyatakan di dalam peristiwa kematian Yesus. Seluruh Perjanjian Lama dirangkum dalam bagian ini. Kalau kita belajar mencintai membaca Alkitab, kita akan mendapat banyak sekali kelimpahan dari membaca bagian-bagian yang ada. Saudara tidak bisa menggantikan pembacaan Alkitab dengan belajar satu atau dua doktrin. Kita tidak bisa menggantikan pembacaan Kitab Suci dengan membaca satu dua poin pengakuan iman saja. Kita harus mengenal seluruh kisah Kitab Suci, dari Kejadian sampai Wahyu berkali-kali untuk mendapatkan gambaran seperti ini. Saya sudah membaca dari Kejadian sampai Wahyu sudah puluhan kali, Saudara harus coba lakukan itu. Setiap tahuan harus selesai satu kali baca, tahun depan baca lagi satu kali. Dan saya temukan setelah saya membaca delapan satu sembilan kali bolak-balik, baru saya mendapatkan gambaran yang jelas. Tapi ada orang satu kali baca pun belum, lalu mengatakan “kok saya tidak bisa mengerti Kitab Suci? Mengapa kalau saya dengar khotbah sepertinya limpah sekali, tapi kalau saya baca sendiri, mengapa saya tidak mendapat apa-apa?”. Tapi kalau Saudara membaca seluruhnya, lalu kembali lagi membacanya, ketika sadar pada bagian yang kita tidak mengerti sebelumnya, mulai ada pencerahan mengapa kalimat ini ditulis”. Saya mengalami ini, ini pengalaman pribadi yang juga akan menjadi pengalaman komunal, karena ini pengalaman dari gereja Tuhan, bukan hanya saya. Banyak orang mulai mengalami ada banyak hal menjadi semakin jelas karena keseriusan dalam membaca Kitab Suci.

Mengapa Yesus mati begitu penting? Karena seluruh Kitab Suci menjadi bermakna karena kematian Tuhan Yesus, bukan hanya karena Dia mati menggantikan dosa saya, tapi karena seluruh peristiwa dari Kejadian sampai Maleakhi menjadi bermakna karena di puncakan dalam peristiwa salib. Bagaimana seluruh Perjanjian Lama memuncak dalam kisah salib? Bukankah ini sesuatu yang sangat sulit dipahami? Tapi Injil Lukas berusaha membagikan kepada kita apa yang perlu dipahami mengenai hal ini. Saudara bisa melihat di ayat 44, “ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga”, siang hari tapi gelap total. Kegelapan meliputi segala sesuatu, matahari tidak bersinar dan tabir Bait Suci terbelah dua. Sesuatu di Bait Suci seperti rusak, kemudian dikatakan seluruh terang tidak terlihat karena matahari tidak bersinar. Tidak penting membahas mengapa matahari tidak bersinar, ada yang mengatakan ini karena gerhana, ada yang mengatakan ditutup awan, yang mana pun tidak masalah karena Injil Lukas tidak memberi tahu. Kita tidak perlu bertanya hal yang tidak perlu karena tidak diberi tahu, tapi kita perlu tangkap apa yang Alkitab mau beri tahu. Mengapa hari gelap, bukan bagaimana hari bisa gelap. Mengapa hari gelap? Karena Injil Lukas ingin menyatakan apa yang ada di dalam Kitab Kejadian. Di dalam peristiwa penciptaan di Kejadian 1, sebelum ada baik, semuanya gelap. “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi, bumi belum berbentuk dan kosong, gelap gulita menutupi samudera raya, bumi penuh dengan air dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air”, ini merupakan kalimat yang ada di Kejadian 1 dan diulangi oleh Yesaya 27. Di dalam Yesaya 27, Yesaya mengatakan “karena kamu melanggar perjanjian dengan Tuhan, maka Tuhan akan balikkan ciptaanNya”, maksudnya kalau semula gelap sekarang jadi terang, di dalam Kejadian 1, “maka karena kamu tidak setia Aku akan membalikan terang menjadi gelap”. Di dalam Kejadian 1, tadinya kacau-balau, tapi kemudian Tuhan jadikan teratur, “maka karena kamu tidak setia dengan perjanjian ini, Aku akan membuat bumi kembali tidak teratur”. Sebelumnya kosong, kemudian Tuhan berikan kelimpahan, Tuhan ciptakan begitu banyak hal, baik binatang mau pun tumbuhan yang sangat limpah. Setelah manusia melanggar perjanjian, Yesaya 27 mengatakan “Aku akan balikan ke dalam keadaan kacau-balau dan kosong”. Gelap dan kacau akan terjadi di bumi karena penduduk bumi sudah melanggar perjanjian. Ini merupakan pernyataan Tuhan bahwa kalau manusia tidak setia kepada Tuhan, manusia tidak berhak menikmati kelimpahan dan damai sejahtera ciptaan. Jika kita mengusir Tuhan dari hidup kita, maka Tuhan akan usir ketenangan dan damai sejahtera bumi dari bumi. Tapi sayang sekali kalau kita menafsirkan kekacauan hanya di dalam aspek-aspek yang kita suka saja. Apa itu hidup kacau? “hidup kacau itu kalau kurang uang. Puji Tuhan, saya tidak terlalu hidup suci, saya tidak mau terlalu ikut Tuhan, tapi tetap kaya. Uang saya tetap banyak, usaha saya tetap maju, perusahaan saya tetap baik. Puji Tuhan, saya kurang setia tapi perusahaan saya baik”, orang ini orang bodoh, karena dia pikir yang membuat damai sejahtera di bumi itu cuma uang atau usaha yang maju. Kemurkaan, kemarahan Tuhan dan juga penghakimanNya yang besar Dia nyatakan dengan cara membalikan ciptaan, membuat yang teratur menjadi kacau, yang penuh menjadi kosong, yang terang menjadi gelap.

Yesaya mengatakan di pasal selanjutnya, “tetapi Tuhan tidak pernah lupa perjanjianNya”, manusia lupa perjanjian, tapi Tuhan tidak. Maka dikatakan di dalam keadaan kacau, Tuhan akan balikan jadi baik lagi. Ini seperi ada gerakan yang unik sekali. Dalam Kejadian 1 gerakannya dari kacau menjadi sangat baik. Di dalam Yesaya dikatakan karena engkau tidak setia gerakannya dari baik menjadi kacau. Sekarang Yesaya mengatakan sudah kacau, balik lagi ke Kejadian, jadi baik lagi. ada seorang ahli Perjanjian Lama bernama Walter Brueggemann, dia menyelidiki kemudian mengatakan ini indah sekali, ternyata di dalam Kitab Yesaya, Yeremia, Yehezkiel ada satu nasihat yang baik, luar biasa penting. Nasihat bahwa Tuhan adalah Tuhan yang menjadikan rencana finalNya setelah keadaan menjadi kacau dulu. Jadi rencana final Tuhan akan masuk, bahkan menerobos dengan sangat perkasa melalui keadaan yang sangat buruk. Semua peristiwa jelek itu seperti membuat tembok besar bahwa rencana Tuhan sudah terhenti. Saudara bisa bayangkan pengharapan Israel, “kalau kami berharap Tuhan mengatasi semua kekacauan ini, sekarang Tuhan sendiri yang mengatakan Aku justru bikin kacau, kamu mau apa? Kamu sendiri yang tidak setia kepadaKu, maka Aku membuat kacau”, kalau kekacauan itu ternyata dari Tuhan, apa harapannya Israel? Mereka mengatakan “Tuhan segeralah datang, kekacauan ini tidak bisa kami terima lagi. Kami terlalu sulit hidup di tengah kacau balau seperti ini”. Dan ketika keadaan kacau-balau seperti ini, Tuhan mengatakan “Aku yang membuat kacau”, kalau Tuhan yang membuat kacau, berarti saya punya harapan apa? Saya tidak berseru kepada Tuhan, karena Tuhan penyebab kekacauan ini. Di Yesaya ada ayat yang sangat penting “Aku Pencipta terang, Aku juga Pencipta gelap”, demikian firman Tuhan. Maksudnya periode baik dari Israel itu dari Tuhan, periode buruk dari Israel itu juga dari Tuhan. Maka Brueggemann mengatakan dari seluruh Perjanjian Lama peristiwa paling penting bukan Israel keluar dari Mesir, bukan Daud menjadi raja, bukan Bait Suci didirikan, tapi bagi Brueggemann peristiwa paling penting adalah pembuangan. Mengapa pembuangan itu penting? Karena pembuangan akan memberikan gambaran paling negatif tentang hidup. Saudara punya hidup negatif dan mengatakan “bagaimana bisa hidup di tengah negara kacau-balau?”, maka Saudara akan menyadari kekacau-balauan ini membuat Saudara tidak bisa hidup. Tapi kekacau-balauan yang kita alami tidak bisa disamakan dengan kacau-balaunya pembuangan. Pembuangan itu menjadi wakil dari seluruh kekacau-balauan yang mungkin dialami oleh manusia. Yang mati di pinggir jalan itu bukan tentara Israel saja, yang mati di pinggir jalan adalah para pemuda yang seharusnya tidak pergi berperang, perempuan-perempuan, bayi-bayi yang di lempar sampai hancur ke tembok. Ini penderitaan besar sekali. Maka pembuangan adalah peristiwa yang sangat mengharukan, membuat pilu dan membuat kita tahu bahwa penderitaan berat sedang dialami oleh Israel. Dan mereka dibawa ke Babel di mana mereka tidak punya pemerintahan sendiri, mereka dipaksa ikut agama orang. Saudara tahu rasanya jadi minoritas, tapi Saudara belum tahu rasanya minoritas tertekan sebelum merenungkan Israel di Babel. Di Babel mereka ditantang bahkan ditantang mati “jika engkau menyembah Tuhan yang sudah kalah itu, maka kamu akan dikucilkan dari masyarakat ini”. Bayangkan betapa sulitnya mereka ketika Darius mengatakan “tidak boleh ada dewa di luar Babel yang boleh engkau sembah”, tapi Daniel tetap berdoa kepada Tuhan dengan menghadapkan jendelanya ke arah Yerusalem, akibatnya dia dilempar ke goa singa. Kita terus mengeluh “Tuhan, mengapa di Bandung ini keras, banyak kaum radikal?”, tapi itu tidak ada bandingannya dengan tekanan Babel kepada Israel, “kamu tidak boleh beribadah, kamu tidak boleh melakukan apa pun”. Kalau Tuhan tidak intervensi, mereka akan berada dalam keadaan yang memprihatinkan. Kehancuran dalam bidang agama, dalam bidang politik, kehancuran dalam kehidupan sehari-hari, semua kehancuran dialami oleh orang paling tinggi maupun rendah. Tidak ada yang tidak menderita pada waktu itu. Maka Brueggemann mengatakan pembuangan adalah peristiwa paling penting karena ini menggambarkan keadaan kacau balau dan kosong di dalam level yang belum pernah disamai oleh keadaan apa pun di Perjanjian Lama. Tidak ada peristiwa lebih menyakitkan, lebih mengharukan, lebih membuat kasihan dan lebih membuat hati hancur dibandingkan pembuangan. Yang menderita bukan cuma raja tapi juga rakyat, bukan cuma rakyat tapi juga nabi. Yeremia berada dalam keadaan sangat takut, dia berkhotbah tapi diserang oleh pemerintahan sendiri, dia berkhotbah mendukung penjajah yang akan datang. Dan penjajah itu mendatangkan penderitaan yang sangat besar bagi anak bangsanya. Maka para nabi berseru “Tuhan, Babel menghancurkan anak-anak kami, saudara sebangsa kami, keluarga kami, tetangga kami, orang-orang yang karib dengan kami, semua dihancurkan oleh Babel. Kami sangat benci Babel”. Bayangkan berapa hancurnya Yeremia harus berkhotbah mengatakan “Nebukadnezar dan Babel itulah alatNya Tuhan. Kalau Babel datang, taat sama dia, kalau mereka mau ambil kamu dibuang ke Babel, ikutlah”. Yeremia tidak mengkhotbahkan ini dengan mudah, karena dia benci sekali kepada Babel. Tapi dia harus berkhotbah Tuhan pakai Babel dan Tuhan buang Israel, Tuhan mencintai musuh Israel dan membuang umatNya sendiri karena dosa mereka sudah terlalu besar. Penderitaan yang besar bisa kita renungkan waktu membaca peristiwa di pembuangan. Mulai dari tulisan Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, lalu Saudara membaca setiap kata dari Ktiab Ratapan, dan Saudara akan tahu sedihnya, hancurnya, habisnya hidup benar-benar dicurahkan dalam kitab itu. Banyak kali kita mudah mengeluh, tapi ketika membaca Ratapan Saudara baru tahu “saya tidak punya alasan untuk meratap”. Yeremia yang punya alasan untuk meratap.

Semua kehancuran yang sepertinya tidak masuk akal, terjadi pada Israel. Sehingga mereka berseru “dimana dulu janjiNYa Tuhan, dimana dulu peritiwa Musa dan Israel di padang gurun. Tuhan begitu cinta kami di padang gurun”. Orang Israel di padang gurun sering mengeluh, tapi orang Israel di pembuangan mengatakan “andaikan kami kembali di zaman padang gurun, kami lebih suka Kitab Keluaran, kami lebih suka di padang gurun, kurang makan kurang minum tapi ada Tuhan. Dibandingkan dengan pembuangan ini, sepertinya Tuhan sudah membenci kami dengan total”. Ada kehancuran di situ. Tapi Brueggemann mengatakan ketika kehancuran itu sepertinya sudah menutup jalan Tuhan untuk memperbaiki bumi, pada waktu itu firman Tuhan di Yesaya 40 muncul “betapa bahagianya kedatangan orang yang membawa kabar baik. Hai Israel, Allahmu itu Raja, Allahmu datang, Allahmu bertahta”. Di tengah keadaan sangat kacau, tiba-tiba muncul pesan seperti ini. Saya tidak habis pikir kalau ada orang mengatakan “saya membaca Alkitab, tapi saya tidak mendapat penghiburan”. Saya mendapat hiburan luar biasa besar dengan kalimat Injil ini, bayangkan di tengah kehancuran tanpa harapan tiba-tiba ada kalimat dari Tuhan “hai Israel, lihat ada kabar baik”. Ini kabar baik apa? Mana mungkin ada kabar baik di tengah keadaan rusak seperti ini? Tetapi itu yang dikatakan Yesaya “hai Israel, lihat kedatangan orang yang membawa kabar baik, sambut karena orang ini akan berseru “lihat Allahmu sudah datang”. Jadi keadaan dari Kerajaan Allah tidak semakin memuncak akhirnya final, paling besar, tidak ada jalan mulus ke atas. Yang ada adalah jurang seperti hancur, tapi tiba-tiba datang perbaikan yang indah dari Tuhan. Maka Kitab nabi-nabi ini seperti Yeremia, Yehezkiel, Yesaya mempunyai kandungan penghiburan yang besar sekali. Sekali lagi ini mesti dibaca tekun, karena ini dimaksudkan untuk dibaca seterusnya. Kita baca dua atau tiga ayat lalu tidur, besoknya baca lagi tiga ayat, lalu lanjut lagi besok. Akhirnya apa yang kita baca sekarang sudah kita lupakan besoknya. Tapi kalau Saudara mendapatkan benang merahnya, Saudara akan kaget, karena dikatakan kabar baik baru Tuhan berikan ketika keadaan tidak mungkin lebih buruk. Ketika keadaan sudah masuk dalam rock bottom, paling bawah, tidak ada lagi keadaan lebih buruk dari ini. Maka Tuhan mengatakan “lihat Aku pulihkan kerajaanKu”, dan semua orang heran “yang benar saja, keadaan seperti ini kok masih mengatakan kabar baik”. Maka Yesaya mengatakan “orang yang percaya tidak akan dipermalukan”, karena dia percaya kepada perkataan dari Allah yang akan membuat semuanya benar. Itu sebabnya dalam Roma 1 Paulus mengatakan “aku tidak mau akan Injil”, karena Injil adalah gambaran yang ternyata lebih parah lagi dari pada pembuangan. Ketika pembuangan digambarkan sangat parah, Tuhan memberikan kabar baik.

Sekarang penulis Injil menggambarkan ada hal lebih buruk dari pada pembuangan. Apa yang bisa lebih buruk dari pembuangan? Pembuangan dialami oleh orang Israel yang memberontak kepada Tuhan. Salib dialami oleh Allah yang menjadi manusia. Ini benar-benar tidak masuk akal, kalau orang Israel mengatakan “Tuhan, keadaan ini tidak masuk akal, apakah umat Tuhan dibuang seperti ini? Kami diperlakukan seperti sampah, kami diperlakukan seperti makanan ternak yang busuk, kami diperlakukan seperti pupuk di ladang, kami diinjak-injak, dihancurkan, kami umat Tuhan. Mengapa kami diperlakukan seperti ini?”. Tapi di kayu salib ada Anak Allah yang diperlakukan lebih buruk. Inilah yang coba digambarkan oleh Lukas. Lukas coba mengaitkan Yesaya 27 dengan Kejadian 1, dan ini bukan karangan Lukas karena ini benar-benar terjadi pada peristiwa Yesus disalib. Ketika hari harusnya paling terang, pada waktu itu kegelapan meliputi daerah sampai jam 3. Saudara mesti tahu bahwa the third hour atau jam ketiga mempunyai makna penting sekali dalam konsep Israel. Jam ketiga sering diidentikan dengan hari itu. Maksud dari jam ketiga itu kan jam tiga? Bukan, meskipun ini berbicara tentang peristiwa waktu jam 3 sore, tapi bagian ini sedang mengatakan ada jam di mana Tuhan akan menggenapi semua. Hari itu menjelaskan tentang hari penggenapan. Saudara kalau baca kata hari itu dalam Alkitab, ini bukan bicara tentang semua hari. Demikian juga dengan the third hour, jam ketiga, ini berkait dengan the hour atau jam itu. Jam ketika penghakiman Tuhan terjadi dan di dalam jam ini semua beres. Saudara mesti tahu kata mispat dalam Perjanjian Lama artinya penghakiman, itu bukan hanya mengenai penghakiman Tuhan, tapi ini berkait dengan perbaikan yang Tuhan akan kerjakan. Setelah penghakiman akan ada perbaikan. Maka kalimat-kalimat dari Lukas ini benar-benar kaya makna. Kalau kita tidak mengerti kebiasaan budaya dari Yahudi, kita akan lewatkan kalimat-kalimat penting begitu saja. Hari sangat gelap mengingatkan kita akan Yesaya 27 dan Kejadian 1. Matahari tidak bersinar dan tabir Bait Suci terbelah dua. Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring “ya Bapa ke dalam tanganMu, Aku serahkan nyawaKu”, ini adalah bagian yang kita bisa lihat di dalam Mazmur. Kitab Suci kita mengutip dari Mazmur 31, di situ ada seruan berani dari orang yang beriman kepada Tuhan, mengatakan bahwa “Tuhan pemilik hidup saya. Ke dalam tanganMu kuserahkan nyawaku, maka saya bisa hidup dengan tenang”. Mazmur 31: 6 “Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia”. Kembali ke Lukas 23, Saudara bisa lihat apa yang Lukas lakukan di sini, dia membagikan satu gambaran yang mengerikan luar biasa. Llau dia memberikan gambaran berikutnya respon yang indah luar biasa. Yesus selalu berespon dengan sangat indah, bahkan ketika keadaan tidak mungkin bisa lebih buruk lagi. Ketika Sang Anak Allah terpaku di kayu salib, semua orang akan heran “keadaan ini jauh lebih buruk dari pembuangan”. Tapi Yesus mengatakan “ke dalam tanganMu, Aku serahkan nyawaKu”. Sesudah berkata demikian, Dia menyerahkan nyawaNya dan mati. Lagi-lagi ada seruan baik dilanjutkan dengan kabar buruk. Lukas terus memberitakan kabar buruk. Kabar buruk apa? Yang menyerahkan nyawa ke dalam tangan Tuhan ternyata mati. Di dalam Mazmur 31 dikatakan “aku serahkan nyawaku kepada Tuhan, Tuhan akan luputkan aku”, kalau jaring akan kena ke aku, tapi aku mengatakan “Tuhan, ke dalam tanganMu, kuserahkan nyawaku”, maka aku akan diluputkanNya. Tapi Lukas melanjutkan dengan mengatakan “sesudah berkata demikian, Ia menyerahkan nyawaNya”, mati. Jadi Sang Anak Allah mati, Raja ini mati, yang harusnya perbaiki Israel sekarang tergantung tanpa nyawa di atas kayu salib. Mana mungkin keadaan ini disebut kabar baik? Tapi Lukas mengatakan “Ia menyerahkan nyawaNya”. Mazmur 31 seperti tidak berlaku pada Yesus. Ayat selanjutnya kepala pasukan melihat apa yang terjadi, ia memuliakan Allah dan mengatakan “sungguh orang ini adalah orang benar”. Di dalam Kitab Suci orang Israel percaya orang benar dalam keadaan apa pun akan membuat bangsa-bangsa memuji Tuhan. Sekarang ada orang kafir melihat Yesus mati, di dalam keadaan Yesus mati pun, orang kafir ini mengatakan “sungguh orang ini adalah orang benar”. Ini kalimat indah, ada jalinan kalimat menakutkan dan kalimat indah, dan setelah kalimat menakutkan “Anak Allah mati”, sekarang ada kalimat indah dikatakan yaitu orang kafir, pemimpin pasukan melihat matinya Yesus lalu mengatakan “ini orang benar”. Orang benar akan membuat bangsa-bangsa memuliakan Tuhan. Saudara tidak akan membuat orang memuliakan Tuhan dengan teologi sukses, “saya mau sukses, kaya supaya orang yang bukan Kristen mau menjadi Kristen. Tapi Alkitab mengatakan orang benar dalam segala keadaan akan membuat orang memuji Tuhan. Saudara sakit atau sehat, kaya atau miskin, sukses atau sedang hancur hidupnya, orang benar selalu akan mampu membuat orang memuji Tuhan. Dan ini yang Lukas mau gambarkan, Yesus mati pun bisa membuat orang menyerukan “orang ini orang benar”. Maka pengakuan tentang Yesus adalah orang benar muncul dari kalimat seorang kafir. Dan orang kafir ini yang justru bisa melihat paradoks, “mengapa orang benar ini mati?”, itu yang akan dilihat oleh orang Israel. Ini orang benar kok mati? Tapi pemimpin pasukan mengatakan “karena Dia mati maka saya tahu Dia orang benar”, kalimat ini bijaksana yang tidak bisa dipahami Israel. Israel cuma tahu teologi sukses “kalau saya diluputkan Tuhan, itu namanya orang benar”. Tapi pemimpin pasukan ini melihat suatu yang paradoks dari Tuhan yang tidak dilihat dari umat Tuhan sendiri, yaitu “karena kematian orang ini, saya tahu Dia orang benar. Sungguh orang ini adalah orang benar”, kalimat yang tidak bisa diucapkan oleh orang Israel.

Dan ketika orang banyak berkerumun di situ, melihat apa yang terjadi, pulanglah mereka sambil memukul-mukul diri. Crowd atau orang banyak di Lukas selalu diceritakan oleh Lukas dengan cara seperti tidak penting. Orang banyak itu siapa? Tidak penting. Orang banyak itu mengikuti Yesus, Lukas mengatakan itu tidak penting, karena sebentar lagi mereka akan berteriak “salibkan Dia”. Sekarang mereka melihat Yesus mati di kayu salib, mereka memukul-mukul diri, padahal sebelumnya mereka mengatakan “biar orang ini mati, kami pilih Barabas sebagai orang yang dibebaskan”, mereka sudah pilih Barabas, sekarang mereka menangisi kematian Yesus. Ini orang-orang yang tidak perpendirian, orang-orang yang tidak tahu iman sejati, orang yang cuma ikut arus, orang yang tidak mengerti mengapa ikut Tuhan. Banyak orang Kristen seperti ini, ikut Tuhan tapi cuma sebentar. Dan Lukas menenkankan crowd itu bukan kelompok yang diselamatkan. Ini adalah kelompok yang cuma ikut hura-hura, begitu orang suka Yesus mereka cuma ikut suka, begitu orang benci Yesus, mereka ikut-ikut benci. Mereka tidak punya pendirian kepada Tuhan. Maka jangan pikir orang Kristen semuanya sudah aman, sudah baik, ada orang yang cuma ikut-ikutan. Mau ikut setia ketika keadaan baik, begitu keadaan berubah sedikit, langsung berubah. Ini adalah peristiwa yang sangat menakutkan karena crowd ini seolah digambarkan sebagai umat Israel. Lukas mengatakan inilah Israel, sekarang mereka menyesal tapi sudah terlambat. Karena merekalah Yesus disalib. Mereka yang berteriak-teriak “salibkan Dia”. Sekarang setelah kematian Yesus disertai dengan tanda-tanda alam yang dahsyat, mereka mengatakan “kami menyesal Dia mati”, lalu pukul-pukul diri. Di dalam bagian Kitab Suci, di dalam kitab-kitab nabi kecil, berkali-kali dikatakan orang yang pukul diri adalah orang yang sudah tidak lagi punya harapan untuk diperbaiki karena penghakiman sudah datang, itu maksudnya pukul diri. Jadi pukul diri itu apa? “saya menyesal”, lalu pukul diri, tapi itu terlambat, penyesalanmu harusnya sebelumnya, harusnya datang sebelum Yesus dipaku di kayu salib, sebelum kamu berani teriak “salibkan Dia”. Israel seperti tidak bisa lagi menjadi umat. Sekarang Israel punya Raja yang digantung di kayu salib dan sekarang Israel melihat Raja dengan cara yang terlambat “ini Rajaku, tapi terlambat. Kami yang salibkan dia, kami yang teriak-teriak supaya Dia mati”, maka semua orang ini tidak bisa menggambarkan keadaan pemulihan Israel. Israel rusak, bukan cuma keadaan yang dialami Yesus yang parah, tapi keadaan umat Tuhan seperti tidak bisa diperbaiki lagi. Tapi Saudara bisa lihat di ayat lain, ayat 49 dikatakan ada perempuan-perempuan dan orang yang mengenal Yesus berdiri jauh-jauh melihat semuanya itu. Lagi-lagi ada pengharapan, di tengah kekacauan, gelap, kacau-balau muncul harapan. Di tengah orang Israel yang tidak mengerti Mesias, di tempat jauh ada orang-orang melihat. Mereka ada di tempat jauh, mereka tidak punya akses mendekat, tapi mereka melihat dengan perasaan haru, dengan air mata yang turun mengatakan “yang tergantung di kayu salib itu adalah Rajaku, dan kami mau menantikan terus”, ada harapan.

Lalu bagian selanjutnya adalah ketika Yesus akan dimasukan ke dalam kuburan. Ada seorang bernama Yusuf, dia tidak setuju dengan keputusan tindakan majelis. Dia berasal dari Arimatea, sebuah kota Yahudi, dan dia menanti-nantikan Kerajaan Allah. Bayangkan hancurnya hati orang ini. Tapi dia masih ingin menyatakan penghormatan kepada Yesus, “Engkau Raja, tapi sudah mati. Aku tidak biarkan Engkau dipermainkan”. Kadang-kadang orang Romawi akan menurunkan mayat orang yang mati disalib, lalu akan cincang dan dipermalukan ke mana-mana. Yang paling sering adalah setelah orang disalib dan mati, diturunkan, kepalanya dipenggal, badannya akan dibiarkan dan kepalanya ditaruh di satu tempat untuk menjadi peringatan “jangan memberontak kepada Romawi. Lihat kepala ini, ini kepala dari orang yang disalib karena memberontak kepada Romawi”. Yusuf tidak ingin Yesus dipermalukan seperti itu, meskipun tidak tentu Dia akan dipermalukan seperti itu. Maka Yusuf berjuang dengan mengatakan “saya akan tangani mayat ini”. Dan kalimat yang mengatakan “biar saya yang menguburkan”, ini kalimat bisa membuat orang Roma marah. “Kalau engkau mau menguburkan orang yang memberontak melawan Roma, mungkin engkau adalah pengikutnya”. Yusuf dari Arimatea membahayakan diri dengan mengatakan “biar aku kuburkan orang ini”. Dia mau ambil Yesus dari tangan orang Romawi yang mungkin mau mempermalukan mayatNya, maka dia mengatakan “saya mau ambil”, “siapa kamu?”, “saya pengikutNya, ini Guru saya. Berikan Dia kepada saya, supaya saya berikan penghormatan dan penguburan yang layak, Dia orang yang benar”. Maka Yusuf melakuan ini, menunjukan masih ada harapan. Banyak orang tidak mengerti teriak “salibkan Dia”, tapi ada orang yang dari jauh melihat dan seperti tidak melakukan apa-apa. Tapi orang yang melihat dari jauh dan tidak melakukan apa-apa inilah yang akan meneruskan Kekristenan. Yusuf dari Arimatea yang menyatakan “saya murid Yesus”, di tengah-tengah masa sulit inilah harapan dari Kekristenan. Jangan lihat anak muda yang pintar, jangan lihat anak muda yang banyak bakat, jangan lihat anak muda yang sepertinya punya karier yang begitu besar. Lihat anak muda yang berani mengklaim bahwa dia mengikut Yesus dan hidupnya mencerminkan itu. Kadang-kadang orang yang Tuhan pakai melanjutkan Kerajaan Tuhan adalah orang yang sepertinya tidak terlihat dan belum kelihatan seperti orang yang berguna untuk melakukan apa pun. Kadang-kadang kita terlalu cepat memberikan penilaian pada orang, “ini ada anak muda yang pintar, bakatnya begitu banyak, kami sangat perlu orang seperti ini”. Memang benar orang-orang berbakat harus tunduk kepada Tuhan, gereja harus bilang kepada orang-orang yang punya banyak pengetahuan, banyak bakat, banyak kemampuan, “engkau hamba Tuhan, engkau milik Tuhan, tundukan diri kepada Tuhan”. Tapi kalau kita mengatakan “Tuhan cuma pakai orang-orang ini”, lalu kita mulai melihat “kamu bakatnya apa?”, “bakat saya belum ketahuan”, “bagaimana nilaimu di sekolah?”, “lumayan, saya berjuang keras untuk mendapatkan nilai yang lumayan”, “dari semua angkatanmu, kamu di level mana?”, “tengah”, “jadi kamu bisa apa?”, “kurang bisa apa-apa”. Ini seperti kelompok yang berdiri dari jauh cuma melihat, perempuan lagi, perempuan berdiri jauh dan melihat. Sedangkan orang-orang potensial semua teriak “salibkan Yesus”, orang-orang yang punya gairah untuk menggerakan massa, orang-orang yang punya kemampuan untuk mempengaruhi, orang yang bisa menjadi pemimpin yang baik, pemimpin di dewan rakyat, pemimpin yang luar biasa berpengaruh, semua berteriak “salibkan Dia”. Sekarang orang-orang yang tidak berguna di masyarakat seperti perempuan-perempuan ini, cuma melihat dari jauh. Tapi Tuhan mengatakan “Aku akan membuang pemimpin-pemimpin ini dan Aku akan pakai perempuan-perempuan ini untuk meneruskan Kekristenan”. Tuhan akan pakai orang yang berani mengakui Yesus, sebagai penerus Kekristenan. Beranikah kita mengakui Yesus? Atau jangan-jangan Saudara ingin membuat agama Saudara samar-samar. Tapi kalau Saudara malu diakui sebagai orang Kristen, ada sesuatu yang salah dengan rohani Saudara. Maka Yusuf dari Arimatea menyatakan “saya murid dari orang ini, berikan saya mayatNya, supaya saya perlakukan dengan pantas”.

Lalu ayat 54 ada satu pernyataan yang benar-benar besar, yang menghancurkan segala keraguan bahwa Tuhan tidak sanggup bertindak. Ayat 54 ini penting sekali, hari itu adalah hari persiapan dan Sabat hampir mulai. Lukas tidak memaksudkan bahwa sebentar lagi hari Sabat, karena bagian sebelumnya dia terus menceritakan tentang keadaan kacau balau. Keadaan kacau balau, sebelum penciptaan 6 hari dilakukan seperti terjadi lagi di atas kayu salib. Kejadian 1 kacau balau, gelap gulita. Yesaya 27 kacau balau, gelap gulita. Tapi Yesaya 40, lihat kabar baik sudah datang. Kejadian 1 semua kacau balau, kosong, gelap gulita, tapi diakhiri dengan mengatakan “dan Tuhan pun beristirahat pada hari yang ke-7”. Pada hari ke-6 Dia selesaikan semua dan pada hari ke-7 Tuhan beristirahat dari segala pekerjaanNya. Apa arti beristirahat? Artinya berarti menikmati kesempurnaan karya. Tuhan melihat karya penciptaan yang sempurna dan Dia bersabat, karena ciptaanNya sudah genap. Lukas sedang memberikan insight penting sekali, Yesus mati disalib, orang-orang Israel semua pukul-pukul diri, tapi sudah terlambat, harapan apa bagi Kekristenan? Lukas mengatakan harapan paling besar justru terjadi di sini. Kematian Yesus adalah titik terakhir keadaan hancur dari umat Tuhan. Inilah rock bottom yang sejati, inilah keadaan zero point, inilah keadaan paling rendah. Tapi setelah itu akan muncul keadaan paling agung yaitu Sabat. Sabat hampir mulai, “hai pengikut Kristus jangan lupa Sabat hampir mulai”. Keadaan kacau tetapi sebentar lagi Sabat, sebentar lagi waktu pemulihan, sebentar lagi Kristus akan menggenapi seluruh rencana Bapa, sebentar lagi semua akan menjadi baik dan kabar baik itu akan menjadi genap dengan sempurna. Ini kalimat yang indah sekali. Sehingga Lukas merangkum seluruh Perjanjian Lama di dalam peristiwa penyaliba. Apa inti Perjanjian Lama? Intinya adalah kacau-balau, kosong, gelap. Kejadian 1 kacau-balau, kosong, gelap, tapi Kejadian 2 dimulai dengan Sabat. Yesaya 27 mengatakan “kacau-balau, kosong, gelap, pembuangan”, tapi setelah itu dikatakan di pasal 40 lihat kabar baik itu. Lukas mengadopsi ini dalam peristiwa yang hanya berapa jam di Golgota. Peristiwa yang hanya berapa jam ini sudah merangkum semua Kitab Suci. Kacau-balau, kosong dan gelap, Mesiasmu digantung di kayu salib, Anak Allah mati, tapi sebentar lagi adalah Sabat.

Maka Saudara bisa melihat Tuhan adalah Tuhan yang tidak mungkin membatalkan rencanaNya dan tidak mungkin dibatalkan rencanaNya. Apa yang Dia siapkan akan menjadi genap justru ketika keadaan semakin kacau dan hancur. Pola ini pola besar, tapi Kitab Suci senantiasa menyatakan bahwa pola besar ini menjadi inspirasi bagi kita untuk kuat ketika kita menjalani pola lebih kecil. Pola besar adalah Mesias, pola kecilnya adalah Salomo. Pola besar adalah sorga turun ke bumi, pola kecilnya adalah Bait Suci. Pola besar ini seringkali mewujud dalam kehidupan kita dalam bentuk-bentuk yang lebih kecil. Mungkin Saudara mengalami keadaan yang sepertinya mulai kacau-balau, gelap, meskipun Saudara tidak berani mengatakan “ini keadaan kacau-balau, gelap mirip pembuangan”, tentu tidak. Apalagi kalau berani mengatakan “ini mirip peristiwa salib”, itu terlalu lancang bicaranya. Tapi kalau Saudara menyadari “memang benar saya tidak sama menderitanya dengan Israel di pembuangan. Memang benar saya tidak sama menderitanya dengan Yesus di atas kayu salib. Yang saya alami bukan rock bottom, yang saya alami bukan keadaan paling suram sepanjang sejarah, bukan keadaan paling menakutkan di seluruh alam semesta. Tapi saya mendapatkan sedikit cicipan ketakutan karena sepertinya kehidupan saya tidak lebih baik. Sepertinya kacau-balau terjadi. Saya mencoba pertahankan iman, tapi makin kacau. Saya coba setia sama Tuhan, tapi makin kacau. Bagaimana menjalani hidup seperti ini?”. Peristiwa salib akan sangat menguatkan karena Tuhan mengatakan di saat Yesus mati di kayu salib, di saat mayatNya dimasukan ke dalam kubur, pada waktu itu Lukas mengatakan “Sabat hampir mulai, Sabat sudah dekat”. Dosa yang begitu menghancurkan sudah dihancurkan, Sabat sudah dekat. Keadaan hidup yang begitu kacau diperbaiki, Sabat sudah dekat. Keadaan tak berpengharapan menjadi penuh pengharapan, Sabat sudah dekat. Kiranya kematian Kristus terus-menerus memberikan kita kekuatan karena Tuhan kita adalah Tuhan yang mengerjakan hal paling indah setelah ada keadaan yang sepertinya tidak ada yang lebih buruk lagi. Tuhan memberkati dan menyertai kita untuk semakin mengagumi peristiwa penyaliban Yesus yang memuncakan rencana karya Tuhan memperbaiki semua yang jelek menjadi sangat indah.

(Ringkasan ini belum diperiksa pengkhotbah)