Anda disini : Home » Reformed Theology » Injil Lukas » DIA menderita untuk kita
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

DIA menderita untuk kita

Pdt. Jimmy Pardede

(Lukas 23: 26-34)
Kita sudah sampai pada bagian ketika Tuhan Yesus menuju kayu salib. Ini adalah bagian yang sangat mengharukan karena Yesus harus memikul salibNya dalam keadaan sangat sulit. Dia sudah mendapatkan hukuman cambuk yang anggapan dari Pilatus akan membuat orang Yahudi berhenti menuntut penyaliban Yesus. Cambuk yang dialami Yesus sangat berat, sebab ini adalah cambuk Romawi, bukan cambuk Yahudi. Cambuk Yahudi adalah cambuk yang hanya boleh mendapatkan cambukan maksimal sampai 40. Tapi cambuk Romawi tidak demikian, cambuk Romawi sering kali dilakukan dengan cara kompetisi. Para tentara Roma akan menunjukan kemampuannya mencambuk lebih dari yang lain. Cambuk yang berat dengan ujung yang banyak tali, di ujungnya ada tulang, gigi dari binatang buas dan ada juga kait yang sangat tajam, sehingga waktu ini dicambukan ke badan, badan akan terkoyak oleh karena banyaknya benda-benda tajam di ujung tanduk ini. Lalu tentara akan mencambuk dengan kekuatan besar sampai mereka tidak sanggup lagi. Dan mereka akan adu, terakhir teman mereka mencambuk sampai 100 kali, “saya akan lewati rekor itu, saya akan sampai 105 kali”, jadi mereka akan menunjukan kehebatan dengan mencambuk. Ini bukan cambuk 40 kurang 1, ini adalah cambuk yang bisa mematikan orang. Dengan harapan setelah orang Israel melihat punggung Yesus yang sudah tercabik, mereka akan tenang dan pulang ke rumah masing-masing. Pilatus berharap orang-orang haus darah ini sudah puas waktu lihat darah Yesus dari punggungNya mengalir begitu banyak. Tapi ketika Pilatus mengatakan “lihat Manusia ini”, ini bisa kita lihat di dalam Injil Yohanes, setelah Pilatus mengatakan demikian, seluruh rakyat berteriak makin keras “salibkan Dia”. orang-orang itu sangat kejam karena mereka sudah dilanda kebencian mau menyingkirkan Yesus dari dunia ini, sehingga mereka terus teriak “salibkan Dia, salibkan Dia”. Peristiwa penyaliban Yesus adalah peristiwa yang paling memberikan dukacita.

Ini memberikan dukacita bukan karena penderitaan yang Dia alami adalah penderitaan yang paling besar, tapi penderitaan yang Dia alami adalah penderitaan yang paling rela berkorban dan paling penting. Di seluruh dunia tidak ada pengorbanan paling besar dibandingkan pengorbanan Yesus karena apa yang Dia lakukan merubah sejarah, apa yang Dia lakukan memberikan berkat limpah sekali kepada banyak orang. Sehingga Saudara harus mempunyai perasaan hati yang mengagumi apa yang Yesus sudah lakukan. Dalam persekutuan Remaja dan Pemuda, saya membahas tentang bagaimana berjumpa dengan dukacita yang sejati. Yesus mengatakan berbahagialah orang yang berdukacita karena mereka akan dihibur. Apa maksudnya berbahagia orang yang berdukacita? Maksudnya adalah kita harus belajar mampu berdukacita dengan cara yang benar, orang-orang di dalam Perjanjian Lama berdukacita dengan cara yang menjadi teladan. Elia berdukacita, Elia mengatakan “lebih baik saya mati”, mengapa dia pilih mati? Karena kebangunan tidak juga terjadi. Sebelum dia ada Musa, Musa mengatakan “hapus aku dari kitab kehidupan”, Musa sudah sangat sedih, sangat kosong hatinya karena Israel menyembah lembu emas dan Tuhan mau menghancurkan Israel. Ini adalah dukacita yang besar bukan main. Tapi seringkali kita dilanda oleh dukacita yang sifatnya kurang agung, kita berdukacita kalau uang kita kurang, kalau kita mengalami apa yang kita inginkan tidak terjadi, kita berdukacita dengan cara yang kerdil. Tetapi Tuhan mengajarkan kepada kita bahwa ada orang-orang yang berdukacita karena hal yang agung. Dukacita karena mengharapkan Tuhan, tapi Tuhan seperti tidak mau menyatakan berkat. Berdukacita karena dunia rusak dan tidak mau kembali kepada Tuhan. Berdukacita karena ada orang berdosa dan tidak mau kembali kepada Tuhan, berdukacita karena nama Tuhan dipermalukan, berdukacita karena kehendak Tuhan tidak ditaati, berdukacita karena kedegilan hati. Ini dukacita-dukacita yang agung sekali. Alkitab membedakan ada dukacita yang bisa ditanggung, ada dukacita yang tak mungkin ditanggung. Dukacita yang masih bisa ditanggung adalah benar-benar dukacita tapi yang masih bisa kita lewati sebagai manusia. Orang yang masih muda bisa menyukai orang lain yang lawan jenis, tapi ternyata kemudian tidak capat, langsung hatinya penuh dukacita. Menginginkan seseorang tapi tidak dapat, ini dukacita, tapi ini bukan dukacita agung. Ini adalah dukacita yang wajar untuk dijalani tanpa reaksi berlebihan. Orang sering bereaksi berlebihan untuk dukacita yang sifatnya bukan agung.

Yesus adalah Nabi sejati dan di tengah kesulitan hidup, Dia masih berseru sebagai orang nabi. Ini bisa kita lihat dalam ayat ke-26, waktu punggungnya sudah rusak itu mengganggu Dia dengan sakit yang sangat berat, Dia harus pikul salib. Di tengah-tengah kesakitan dan juga penderitaan, Dia dengan tenaga yang tersisa masih pikul salib. Karena tenaga yang sangat lemah, maka orang bernama Simon dari Kirene dipanggil untuk membantu Yesus pikul salib. Maka Yesus dan Simon dari Kirene pikul salib ini, mereka berjalan menuju tempat kematian Yesus. Bayangkan berapa hancur hati kita kalau kita menjadi murid Tuhan Yesus pada waktu itu. Bayangkan orang yang kita kasihi, orang yang kita jadikan guru, orang yang kepadanya cinta dan dedikasi kita berada, sekarang sudah ditangkap, nasibNya begitu tragis Semua akan menangis karena ketidak-adilan. Berapa banyak lilin yang dinyalakan waktu Ahok masuk penjara itu menunjukan sifat manusia masih sama, sangat berduka kalau ketidak-adilan terjadi. Murid-murid Yesus ada yang melihat dari jauh, para perempuan yang mengikuti Yesus juga melihat dan mereka sangat terharu, sedih melihat Guru yang sangat mereka cintai, sekarang rupaNya sudah seperti orang yang sangat hina. Kitab Yesaya mengatakan kalau engkau melihat Hamba Tuhan ini, engkau akan sangat sulit menganggap Dia sama dengan manusia lain karena keadaan yang terlalu hina. Bayangkan betapa kotornya tubuh Yesus, bayangkan betapa penuh dengan darah yang sudah mengeras di punggungNya, bayangkan betapa penuh dengan luka dan kotor wajahNya, bayangkan dengan keadaan ini Dia pikul salib, lambang paling hina pada zaman itu. Lalu Dia pikul bersama dengan Simon, waktu orang lihat, mereka tidak tahan untuk tidak menangis, “saya tidak mau menangis, tapi waktu saya melihat apa yang saya lihat di depan saya, saya harus menangis”, maka mereka semua menangisi Yesus “oh Yesus, inikah akhirnya? Mengapa Engkau harus mengalami ini?”. Tangisan demi tangisan mengiringi langkah Yesus berjalan. Tetapi Yesus adalah seorang nabi, Dia tidak mengatakan kepada para perempuan “iya, tangisilah Aku. Aku memang sengsara, Aku memang menderita, Aku memang kasihan”, Yesus bukan seperti itu. Yesus tidak seperti orang di zaman ini yang mengeksploitasi dukacita, yang membuat penderitaan itu dibesar-besarkan untuk mendapatkan perhatian dari orang lain, “tidak tahukah kamu kalau aku adalah orang yang sangat menderita? Hatiku penuh penderitaan, kasihani aku”, Yesus bukan orang seperti itu. Karena waktu Yesus melihat Yerusalem, Yesus melihat kota yang akan menjadi puing-puing. Dukacita Yesus bukan pada diriNya, dukacita Yesus ada pada Yerusalem, kota megah, kota perjanjian Tuhan itu sudah akan sampai pada akhirnya. Ketika orang melihat Yesus, sepertinya Yesus sudah sampai pada akhir, tapi Yesus melihat Yerusalem dan Yesuslah yang paling tepat mengatakan “Yerusalemlah yang sudah sampai akhir. Tidak tahukah kamu bahwa dukacita yang Aku pikul saat ini akan ditimpakan kembali kepada engkau”. Segala ketidak-adilan yang dialami Yesus saat ini akan ditumpahkan balik kepada Yerusalem. Di dalam khotbahNya, Yesus tidak pernah ucapkan celaka kepada kota di luar Israel, semua kota di dalam Israel, “celakalah Betsaida, celakalah Korazim, celakalah Yerusalem”, celakalah kota-kota yang tidak mau menerima Dia. Orang seperti Yesus melihat dengan sangat jelas berapa rusak hidup dari umat Tuhan dan itulah sumber dari tangisan Yesus. Yesus tidak menangisi keadaanNya, Dia menangisi Yerusalem. Yesus menangisi Yerusalem dengan air mata yang lebih murni dari pada orang-orang di sekelilingNya yang menangisi Dia. Maka Dia berseru “hai puteri-puteri Yerusalem, jangan tangisi Aku, tangisi dirimu dan anak-anakmu. Tidak tahukah kamu bahwa kamu sampai pada kesudahanmu?”. Tuhan akan melanjutkan program keselamatanNya dan Yesus tahu di dalam jangka waktu yang tidak lama lagi, program keselamatan Tuhan akan tiba kepada banyak kota, tapi tidak kepada Yerusalem. Waktu bagi Yerusalem sudah habis. Orang selalu berpikir Tuhan itu penuh dengan kesabaran dan kesabaranNya tidak terbatas. Tapi Alkitab berkali-kali mengatakan kesabaran Tuhan ada batas. Ada saatnya Tuhan bilang “cukup, jika engkau terus keraskan hati dan terus memberontak, Aku akan membuang engkau”. Tuhan adalah Tuhan yang akan menghukum. Dan Tuhan tidak peduli kalau tindakanNya seolah-olah bukan politically correct, ini tindakan yang kurang populer secara politik, Tuhan itu harus baik, masa ada pengertian seperti neraka? Ada satu orang tanya kepada saya di internet, “kamu adalah seorang pendeta, beri tahu kepada saya mengapa orang Kristen sampai sekarang masih percaya ada neraka. Saya sudah lama tinggalkan ide neraka dari pemikiran saya. Saya mau tanya pendapatmu, apakah engkau masih percaya ada neraka?”. Lalu saya menjawab “saya percaya semua yang Alkitab katakan, saya percaya murka Allah, saya percaya Tuhan menciptakan neraka, saya percaya Tuhan menyiapkan hukuman yang sangat mengerikan”. Kemudian dia membalas dengan mengatakan “kalau begitu diskusi saya sudah selesai. Saya tidak siap berdiskusi dengan orang yang sempit”. Saya balas untuk terakhir kali, karena setelah itu dia tidak membalas lagi, saya mengatakan “kebenaran tidak selalu enak, tapi orang sering sembunyi di balik dusta yang menyenangkan”, dengan itu saya selesaikan kalimat saya. Orang pikir kalau dia percaya sesuatu itu pasti terjadi, itu naif sekali. Kalau kita mengatakan “tidak ada neraka, tidak ada kesulitan, tidak ada bahaya”, jangan jadi orang yang tidak realistis. Kita lihat lingkungan kita sekarang pun sudah tahu kejahatan adalah hal serius yang pasti akan Tuhan tanangi dengan cara Dia. Itu sebabnya kita tidak boleh mengurung Tuhan dalam definisi yang kita suka, tapi kita harus belajar memahami apakah realita yang ada di sekelilingku, bagaimana dunia ini berjalan, hari-hari manusia itu seperti apa, seperti apakah sejarah berjalan. Dan kita akan menemukan bahwa dunia penuh dengan pemberontakan kepada Tuhan, penuh dengan dosa, penuh dengan perasaan benci Tuhan dan menolak Tuhan. Maka akan ada saat dimana Tuhan menghakimi.

Inilah yang dinyatakan oleh Yesus, “hai puteri Yerusalem, berhenti menangis. Tangisi dirimu, berhenti tangisi Aku”. Dia mengingatkan kepada orang-orang Yerusalem, “kesudahanmu lebih mengerikan dari pada Aku”. Yesus ingin mengatakan “kamu lihat Aku ini hina, Aku kasihan. Coba lihat dirimu, kamu jauh lebih kasihan”. Yesus sedang mengingatkan kita betapa kasihannya kita, kita yang hidup di dunia sambil menghina Tuhan, kita yang hidup tanpa Tuhan terus putar di dalam dukacita kita yang tidak kita sadari. Hidup tanpa Tuhan itu hidup yang kering dan kasihan sekali. Kita ini miskin tapi kita tidak sadar kita ini miskin, kita ini kasihan tapi kita sadar kita ini kasihan, kita ini sengsara tapi kita tidak sadar kita sengsara. Kita lihat Yesus, kita lihat Dia sengsara, tapi Yesus mengatakan “engkau yang sengsara, karena engkau tidak ikuti Tuhan, engkau jalani jalanmu yang bobrok dan rusak”, sedangkan Yesus sedang menjalani jalan salib demi menaati Tuhan. Yesus sedang menangisi Yerusalem yang merasa boleh menangisi Yesus. Maka Yesus mengatakan di dalam ayat 29, “sebab lihat akan tiba masanya orang berkata: berbahagialah perempuan mandul yang rahimnya tidak pernah melahirkan dan susunya tidak pernah menyusui”, mengapa perempuan yang tidak melahirkan dan tidak menyusui dikatakan bahagia? Bukankah tidak punya anak adalah dukacita besar bagi perempuan, bukankah mempunyai anak adalah sukacita bagi seorang perempuan? Tapi Yesus sedang mengatakan kalau Yerusalem banyak orang, lalu Tuhan hancurkan seperti Sodom dan Gomora, bukankah akan lebih banyak orang jadi korban? Maka kalau kita tidak berbagian membawa kehidupan yang baru di tengah kota Yerusalem, kita tidak turut dalam kehancuran kota yang besar. Jadi Yesus sedang mengatakan lebih baik Yerusalem kosong dari pada penuh orang, lebih baik Yerusalem tidak banyak orang karena Tuhan akan segera hancurkan. Ini kalimat yang menakutkan sekali karena Tuhan sedang mengatakan Yerusalem akan berakhir. Berakhir karena menolak Tuhan, karena tidak pernah peduli apa yang Tuhan mau. Akhir dari Yerusalem begitu tragis, kalau kita lihat di dalam Kitab Suci, Yerusalem menjadi kota perjanjian Tuhan. Dan kota perjanjian itu membuat Yerusalem punya posisi aman, karena Tuhan tidak akan berbalik dari perjanjianNya. Tuhan adalah Tuhan yang mengikat perjanjian dan kalau Tuhan sudah ikat perjanjian, Tuhan tidak akan tarik balik. Berarti Yerusalem akan terus menjadi kota yang akan bertahan di hadapan Tuhan, Yerusalem akan menjadi tempat utama. Lewat Yerusalem keselamatan akan tiba di dunia ini, lewat Yerusalem Tuhan akan pulihkan kerajaanNya, berarti Yerusalem aman. Dan Tuhan mengajarkan di sini bahwa orang yang merasa diri aman, justru adalah orang yang paling bahaya karena dia tidak pernah sadar berada di dalam bahaya besar. Alkitab mempunyai bahasan yang unik, yaitu Yerusalem yang sedang Tuhan siapkan, bukan Yerusalem di bumi ini. Lalu Tuhan siapkan dimana? Tuhan sedang siapkan Yerusalem yang di sorga. Mengapa di sorga? Karena Sang Raja akan meninggalkan Yerusalem dan Dia akan pergi ke sorga. Yerusalem yang baru itu ada di sorga dan dari situ Dia akan datang ke sini. Yerusalem memang tidak akan Tuhan hancurkan, tapi bukan di bumi, yang di atas yang akan Tuhan nyatakan waktu Yesus datang kedua kali. Tuhan akan buang Yerusalem yang di sini, karena tidak pernah mau setia. Mari kita selidiki diri dan coba cari tahu “saya orang yang seperti apa ya? Apakah saya aman dalam relasi dengan Tuhan? di dalam relasi saya dengan Tuhan, karena saya orang Reformed yang baik, saya rajin ke gereja, saya ikut pelayanan, saya kerjakan apa yang biasanya dikerjakan oleh orang-orang saleh, saya ada di dalam posisi aman”. Tapi Tuhan Yesus berseru kepada Yerusalem, “kamu akan celaka, lebih baik kalau kota kamu kosong, lebih baik kalau kota kamu tidak banya orang”, mengapa? Karena ayat 30, “maka orang mulai berkata kepada gunung-gunung: runtuhlah menimpa kami. Dan kepada bukit-bukit: timbunilah kami. Sebab jika orang berbuat demikian kepada kayu hidup, apakah yang akan terjadi dengan kayu kering?”, ini adalah ungkapan penghakiman, ini puisi yang dikenal orang Yahudi sebagai puisi penghakiman.

Apa maksud puisi penghakiman ini? Maksudnya adalah kami lebih suka dapat mati dari pada dapat penghakiman. Kalimat ini berat sekali, Yesus sedang mengatakan bahwa “jauh lebih baik jika engkau mati dibandingkan engkau mendapatkan penghakiman dari Tuhan”. Murka Tuhan sangat mengerikan, murka Tuhan sangat menakutkan, murka Tuhan bukan untuk main-main. Jangan timbun bahaya bagi diri sendiri, mari kembali hidup dengan benar. Tinggalkan kehidupan yang menghina Tuhan dan belajar takut akan Tuhan. Belajar gentar kepada penghakimanNya. Yesus dalam keadaan sangat sengsara melihat Yerusalem dengan mengatakan “Yerusalem, tangisi dirimu. Kamu masih belum sadar kalau waktumu tidak banyak lagi. Kamu masih belum tahu bahaya yang kamu hadapi. Kamu masih terlalu bodoh. Kamu terlalu kosong pikirannya, terlalu penuh dengan keberdosaan, sehingga kamu tidak melihat kapan waktu Tuhan akan selesai”. Waktu Tuhan bagi Yerusalem sudah selesai tapi mereka masih membanggakan diri, mereka masih mengatakan “kami akan menyalibkan mesias palsu karena kami saleh, kami akan hancurkan mesias palsu karena kami mengerti mana yang palsu dan yang tidak”. Tapi dengan menyalibkan Mesias yang asli yang mereka pikir palsu, mereka berada dalam bahaya akan dihakimi. Maka Tuhan mengatakan “ingat kalimat ini akan ada orang mengatakan: lebih baik saya mati dari pada menghadapi murka Tuhan, murka Tuhan begitu menakutkan”.

Banyak orang berpikir dirinya sudah belajar banyak lalu kritik orang yang sebenarnya sudah mengerti pergumulan itu jauh sebelum dia menjadi Kristen. Saya sudah bergumul tentang hal ini sampai belasan tahun yang lalu. Waktu saya masih SMA pun saya sudah bergumul dengan tema ini. Maka saya tahu pasti apa yang saya katakan itu tidak melanggar tradisi Reformed. Tuhan mengatakan “mari kembali, kalau kamu tidak kembali, pasti kamu akan binasa”. Kita tahu orang yang tidak kembali memang dari awal tidak dipilih Tuhan. Tapi kita tidak siapa yang dipilih dan yang tidak. Maka saya minta mari lihat hidup kita dan kembali kepada Tuhan. Mengapa kita harus kembali kepada Tuhan? Karena kalau tidak, kita tidak mungkin luput dari murka Tuhan.

Dan Alkitab mengatakan di ayat 32, “ada juga digiring orang lain yaitu dua penjahat untuk dihukum mati bersama-sama dengan Dia”. Yesus ditempatkan bersama para penjahat, karena Dia ambil tempat kita yang adalah penjahat. Ketika sampai di Bukit Tengkorak, Yesus pun disalibkan. Inilah momen ketika Sang Anak Domba menjalankan tugas imamatNya. Tugas jadi imam dari Yesus tidak dilaksankan di Bait Suci, tapi di luar pelataran, di luar tembok Bait Suci, di tempat dimana orang dibunuh. Imam yang sejati tidak melayani di tempat mulia. Imam yang sejati melayani di tempat kematian ada di situ. Yesus mulai menjadi Imam ketika paku menghujam tangan dan kakiNya. Ketika paku mulai masuk di kaki dan tanganNya, pada waktu itu Dia sedang menjadi Imam. “Inilah Imam yang sejati hai Israel. Imammu bukan yang bawa darah dari binatang lain. Imammu bukan imam yang sembelih sapi dan domba. Imammu adalah Imam yang persembahkan diri oleh karena cintaNya kepadamu”. Yesus persembahkan diriNya dan Dia mulai jalankan tugas imamat. Ini adalah pelantikan Yesus sebagai Imam. Lukas menggambarkannya dengan cara yang sangat menakutkan, Dia beda dengan anak-anak Harun waktu ditahbiskan. Harun pakai baju begitu mulia, anak-anak Harun ditahbiskan dengan cara yang sangat mulia. Yesus menjadi Imam dengan cara yang penuh dengan kesakitan. Orang disalib dengan cara yang berbeda-beda, tapi ada penyelidikan dari oswari yang ditemukan tahun 27 yang tidak terlalu jauh dari peristiwa Yesus disalibkan. Pada waktu itu kebiasaan Roma menyalib adalah memasukan paku dari tangan kemudian menembuk ke pergelangan, ini cara pada waktu itu. Ini ditemukan di dalam osuari dari seorang bernama Yakobus, bukan murid Tuhan Yesus. Ditemukan osuarinya dengan tulang yang masih ada paku dari salib. Paku akan masuk dari tangan menembus ke pergelangan tangan. Dulu ada cara lain yaitu taruh di pergelangan tangan. Tapi zaman Yesus mati, bukan itu caranya, jauh lebih sakit, akan dihujamkan dari depan menghancurkan pergelangan kemudian masuk ke belakang. Lalu kaki akan ditaruh di samping salib, kemudian paku akan ditusukan dari samping kanan tumit kanan dan samping kiri tumit kiri, dari luar ke dalam. Itulah yang ditemukan di oswari dari Yakobus yang mati di tahun 27. Maka Saudara bisa bayangkan di tengah kesakitan seperti itu, Yesus mulai menjalankan imamatNya. Ketika salibNya diberdirikan, Dia segera menjalankan tugas imamNya dengan mengatakan “ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”. Yesus menderita bagimu, Yesus mati bagimu, Yesus berdoa bagimu dan Yesus berkorban bagimu. Mari jangan sia-siakan pengorbanan Tuhan. Kalau kita tidak mencintai Tuhan, terkutuklah kita. Sebab Sang Imam Besar kita berdoa bagi kita ketika Dia dipaku. Saudara memberi apa untuk Dia? Saudara mau hidup untuk apa, Saudara mau jalani apa, Saudara senang apa, Saudara punya impian apa, semua akan ditentukan dengan bagaimana kita melihat salib. Mari lihat kayu salib dengan benar, coba lihat siapa yang tergantung di situ. Yang tergantung di situ adalah orang yang berdoa bagi engkau, yang berdoa mengatakan “jangan biarkan orang itu binasa, jangan biarkan mereka binasa”, jangan biarkan pendosa-pendosa yang baru memakukan Dia di atas kayu salib binasa. Ini cinta kasih yang luas biasa besar. Tapi jangan lupa, Kristus juga yang mampu memurkai Yerusalem sampai hancur. Jadi di tangan Dia yang mampu murka juga ada pengampunan yang besar kepada Bapa di sorga. Yesus berdoa sebagai Imam di atas kayu salib dan Dia mengatakan “Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”. Biarlah kalimat doa dari Imam Besar kita ini boleh menggugah hati kita untuk mengagumi Dia lebih lagi.

Mari hidup bagi Tuhan, mari cintai Dia. Mengapa kita terlalu dipesonakan hal lain, mengapa kita terlalu kagum dengan apa yang kita bisa peroleh dari dunia ini, mengapa kita terlalu kagum dengan apa yang kita dapatkan di sekeliling kita? Tidak ada yang mencintai kita lebih besar dari pada Kristus. Mari belajar untuk mengagumi penderitaanNya dan boleh menikmati bahwa Dia menderita untuk kita, cintaNya yang besar yang terlihat di sini. Dan tugas imamNya yang sangat mulia itu, yang sedang Dia jalankan di atas kayu salib. Kiranya Tuhan memberkati kita, memberikan hati yang terus-menerus bertobat kembali kepada Tuhan dan mau diperbarui oleh Dia.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)