Anda disini : Home » Reformed Theology » Injil Lukas » Berdoa dengan tidak jemu – jemu
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Berdoa dengan tidak jemu – jemu

Pdt. Jimmy Pardede

(Lukas 18: 1-8)
Bagian ini merupakan dorongan dari Tuhan Yesus sendiri supaya orang Kristen pengikut Kristus dengan tekun berdoa. Tetapi ada satu aspek, ketika doa dikaitkan dengan ketekunan, maka doa yang dimaksud adalah doa untuk pemulihan Kerajaan Tuhan. Ini adalah pelatihan yang Tuhan berikan bagi orang Israel, mereka harus bergantung pada Tuhan dan mereka begitu concern supaya Tuhan menyatakan kerajaanNya di bumi, supaya Tuhan membenarkan mereka. Apa yang dimaksud dengan Tuhan membenarkan? Itu berarti Tuhanlah yang mengkonfirmasi umatNya dan Tuhanlah yang menyatakannya kepada dunia bahwa Tuhan sudah menyatakan keperkenananNya kepada umat. Sehingga ketika umat Tuhan sepertinya ditinggalkan umat Tuhan, mereka doa mati-matian mau mohon Tuhan kembali, mohon Tuhan pulihkan keadaan bangsa ini supaya orang tahu kami adalah umatNya Tuhan. Jadi doa seperti ini adalah doa dari orang milik Tuhan yang tidak lihat konfirmasi kepemilikan Tuhan di dalam kehidupannya. Israel waktu dibuang ke Babel adalah kelompok umat yang merasa sedang ditinggalkan Tuhan. Maka mereka berdoa siang dan malam, berseru kepada Tuhan, terus berdoa supaya Tuhan pulihkan Israel. Inilah doa yang dilatih oleh Tuhan kepada Israel, mereka senantiasa memohon supaya Tuhan pulihkan kerajaannya. Tuhan mendidik mereka untuk melihat hal yang Tuhan sangat perhatikan. Hal yang Tuhan istimewakan, mereka harus belajar istimewakan. Di dalam lecture of calvinism, di dalam kuliah tentang calvinisme, Abraham Kuyper membahas tentang calvinisme dan agama. Dan dia mengatakan bahwa agama yang sejati adalah agama yang bersumber dari sorga tapi mempunyai fokus pandangan ke bumi, dan itulah orang Kristen. Gereja Tuhan adalah gereja yang terdiri dari orang percaya yang ada di sorga maupun yang ada di bumi. Sorga menjadi sumber terang, tapi bumi menjadi target dari terang itu. Orang Kristen mesti mengerti hal ini. Meskipun kewarganegaraan kita adalah sorga, tetapi beban dan pekerjaan kita ada di bumi. Meskipun sumber terang adalah sorga, tetapi fokus dari terang itu adalah bumi. Tuhan di sorga tapi matanya melihat ke bumi. Bumi diciptakan oleh Tuhan dengan satu perasaan penuh gairah, penuh kecintaan dan penuh perhatian dari Tuhan.

Itu sebabnya narasi penciptaan di Kejadian 1 menceritakan usaha yang luar biasa dari Tuhan untuk menciptakan ini. Dikatakan Tuhan memisahkan, ini tindakan yang sangat sulit. Tuhan memisahkan air supaya muncul daratan, Tuhan memisahkan air di atas dan di bawah supaya muncul cakrawala, Tuhan memisahkan terang dan gelap supaya terang boleh dinikmati oleh manusia. Semua ini menggambarkan usaha. Bisakah Tuhan menciptakan semua hanya dengan menjentikan jari? Bisa, tapi Dia tidak lakukan itu. Dia ingin menyampaikan kepada kita berapa penting ciptaan ini di dalam pandangan Tuhan. Meskipun Dia sanggup ciptakan bumi dengan sangat cepat, tapi Dia memutuskan untuk memberikan seluruh konsentrasinya untuk ciptaan ini. Maka Tuhan punya hati pada ciptaan ini, ada pada manusia, ada pada kemuliaanNya dinyatakan untuk bumi ini. Itu sebabnya orang yang mengerti hati Tuhan tidak mungkin tidak mengerti perjuangan Tuhan menyatakan kemuliaanNya di bumi. Dia akan punya beban yang sama dengan Tuhan untuk menyatakan kemuliaanNya di bumi. Itu sebabnya orang Israel berdoa untuk Kerajaan Tuhan dipulihkan lewat Israel karena inilah kesenangannya Tuhan. Kalau kita mengatakan “Tuhan, saya mau ikut Tuhan”, maka hal yang paling penting yang harus kita ambil adalah apa yang menjadi isi hati Tuhan, itu juga yang jadi pergumulan hati kita. Dan ketika orang mendoakan sesuatu yang besar ini, dia akan belajar untuk tekun mempunyai beban seperti bebanNya Tuhan. Tapi banyak sekali orang yang sangat kerdil karena berpikir segala hal yang ada di dalam kosmos, di dalam seluruh ciptakan bekerja demi kebaikan saya, itu tidak ada di dalam Roma 8. Roma 8 mengatakan segala sesuatu bekerja demi kebaikan orang-orang yang dinyatakan sebagai umat Tuhan, orang-orang yang mencintai Tuhan, orang-orang yang dipanggil sesuai dengan kehendakNya. Apa pun yang terjadi orang yang menjadi milik Tuhan akan dimunculkan dan mereka akan menjadi umat Tuhan dengan kerelaan untuk melayani Tuhan, dengan kerelaan untuk hidup kudus dan ikut Tuhan. Itu sebabnya orang yang berpusat pada diri, hanya pikir diri, sulit untuk menjadi orang yang mengerti bebanNya Tuhan. Kadang-kadang kita menjadi orang yang sangat egois dalam doa kita. Tentu tidak salah kita berdoa untuk diri, Tuhan izinkan bahkan dorong untuk minta apa pun kepada Tuhan. Bolehkah saya minta dapat istri atau suami atau pacar, lalu berdoa kepada Tuhan? Boleh. Tapi bolehkah ini menjadi pergumulan yang paling utama? Alkitab mengatakan jangan, karena ada hal yang sangat penting yang Tuhan mau kerjakan, meskipun Saudara punya beban yang Saudara jalani dalam hidup, tapi Saudara juga bagian dari umat Tuhan. Dan Saudara mesti mempunyai beban yang luas, sehingga hati Tuhan boleh teradopsi dalam hati Saudara. Terkadang kita menjadi egois dalam doa kita, hati kita menjadi sempit, sehingga penghiburan yang Tuhan berikan secara luas tidak pernah masuk dalam hati kita. Kita sulit terhibur dengan pekerjaan Tuhan yang semakin jadi, tapi kita terhibur kalau pekerjaan Tuhan itu terasa efeknya secara personal dalam diri kita. Saudara kalau belajar perhatikan dan mulai menjadikan beban apa yang sedang terjadi di dunia ini, lalu Saudara merasa sebagai bagian, Saudara akan merasa punya doa benar-benar memberkati, menguatkan Saudara. Saudara akan semakin rindu mendoakan terus untuk pekerjaan Tuhan jadi, gereja Tuhan dibangkitkan dan lain-lain. Lalu Saudara akan sadar pergumulan yang dimiliki oleh orang-orang kudus, yang tidak berfokus ke diri adalah pergumulan yang real. Ini pergumulan dari umat Tuhan yang tertindas, bukan orang yang punya mental victim.

Orang kalau punya mental victim, itu lain sekali dengan pengertian korban. Saya ingat apa yang Pdt. Billy katakan lalu saya coba lihat lagi apa yang dikatakan Pak Billy. Pdt. Billy mengatakan bahwa di dalam Bahasa Ibrani, korban tidak sama dengan victim dalam bahasa Inggris. Victim tidak cocok diterjemahkan korban, karena dua itu berbicara tentang pengertian yang berbeda. Victim itu berarti keadaan seperti ini, saya kena, saya dirugikan karena keadaan ini, saya adalah victim. Lalu kalau korban itu berarti saya tahu ini harus dikerjakan, tapi waktu saya kerjakan ini demi tujuan ini, saya mungkin akan hancur, mungkin saya akan mati, mungkin saya akan luka, mungkin saya akan rugi, itu namanya korban. Jadi korban itu diberikan tujuan dan dengan aktif diberikan. Yesus Kristus itu korban, bukan victim. Dia korban, Dia memberikan diri untuk mati di kayu salib, demi penebusan dosa untuk Saudara dan saya digenapi. Tapi kadang-kadang kita mengalami situasi yang membuat kita putus asa, kita tidak tahu harus melakukan apa. Kita tidak merasa diri victim, kita tidak salahkan orang lain untuk keadaan ini, tapi kita tahu keadaan ini tidak benar. Kita mengatakan harus berhenti, harus berubah, tidak boleh seperti ini, maka kita minta Tuhan nyatakan keadilan, ini permintaan doa yang agung sekali. Bukan hanya “Tuhan tolong saya”, tapi lain lagi “Tuhan, nyatakan kebenaranMu, nyatakan keadilanMu”. Atau pengertian lain “nyatakan siapa saya kepada orang-orang lain”, ini doanya orang benar. “Tuhan, biar orang lain tahu siapa saya di hadapanMu, nyatakanlah. Biar orang tahu saya orang benar, biar orang tahu saya difitnah, biar orang tahu saya ditindas, biar orang tahu kami seperti menjadi victim di tengah masyarakat padahal kami sedang mengalami ketidak-adilan. Maka Tuhan, nyatakanlah kebenaranMu”. Ini doa-doa orang benar. Maka dari dulu orang Israel mendoakan hal seperti ini, “Tuhan, kami setia kepadaMu, mohon pulihkan kami. Kami mau Tuhan nyatakan kemuliaan lewat hidup kami, tolong kami”. Inilah doa-doa dari orang Yahudi. Waktu mereka berada di dalam pembuangan, mereka berdoa seperti ini. Waktu mereka sudah kembali, mereka tetap berdoa seperti ini, karena mereka belum dapat Raja, Mesias, Anak Daud yang mau dikirimkan oleh Tuhan. Mereka terus berdoa. Lama-lama doa mereka menjadi doa yang indah-indah. Ada buku-buku yang menuliskan doa para rabi, indah sekali. Mereka berdoa dengan kalimat-kalimat agung yang bisa dinyanyikan. Doanya benar-benar menggerakan jemaat. Rabi biasanya berdoa, sebelum berdoa selesai, jemaatnya sudah menangis, ini kebangunan di dalam doa. Tapi doa dipakai untuk saling merebut jemaat, ini yang membuat Yesus marah sekali. Maka Yesus katakan “jangan seperti orang munafik itu yang doa di pinggir jalan untuk rebut murid, jangan seperti mereka. Tapi kalau kamu mau berdoa, doalah seperti ini”. Yesus tetap mau mengajarkan berdoa supaya kerajaan itu dipulihkan, jangan lelah berdoa. Jangan berhenti berdoa supaya ketidak-adilan pergi, jangan berhenti berdoa supaya pemerintahan yang korup ditaklukan oleh Tuhan, jangan berhenti berdoa untuk orang-orang yang menjadi victim, yang dihancurkan oleh sistem yang tidak adil, yang sedang menderita meskipun mereka mengikuti Tuhan dengan setia, doakan mereka dengan setia. Dan kalau kamu menjadi korban dalam keadaan seperti ini jangan lelah berdoa dan memohon kepada Tuhan.

Jadi isu di dalam umat Israel pada abad ke-1 adalah mereka ragu apakah Tuhan masih mendengar doa mereka, masihkah mereka harus berdoa? Maka Tuhan jawab ini dengan mengatakan perumpamaan yang sangat ekstrim. Di ayat 2 dikatakan perumpamaannya, di sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati siapa pun. Ini hakim yang punya kedudukan tinggi sekali, sehingga dia tidak bisa dipaksa, ditindas atau pun disogok untuk lakukan apa pun. Dia benar-benar hakim yang powerful, dia tidak bisa disuruh untuk berpihak kepada siapa karena dia tidak takut pada siapa pun. “Kamu mau bawa nama raja, saya tidak takut. Kamu mau bawa nama jenderal, saya tidak takut”, orang tidak bisa intimidasi dia. Orang ini levelnya sudah lebih tinggi dari siapa pun. Orang itu dapat kekuasaan dari berbagai cara, dan orang ini menjadi hakim dan punya kuasa. Banyak orang mempunyai kuasa karena pengetahuan, mempunyai kuasa karena tahu informasi, mempunyai kuasa karena mengerti lebih dalam dari pada orang lain. Hakim ini punya kedudukan tinggi sekali dan dia tidak bisa diganggu siapa pun. Tetapi di dalam kasus yang harus ditangani, ada seorang janda yang kalau tidak dibela, dia mungkin akan dihancurkan. Kita tidak tahu kasusnya apa, Yesus tidak cerita, mungkin hartanya akan diambil, mungkin hutangnya harus dilunasi, atau apa pun yang terjadi. Janda ini kesulitan, dia sangat terjepit, dia mau tidak mau mesti minta tolong kepada hakim ini, supaya hakim ini bela dia. Tapi dia seorang janda. Di dalam abad pertama, janda itu kelompok yang sangat rendah karena pada zaman itu kalau seorang sudah tidak punya suami entah karena meninggal atau karena diceraikan, orang itu adalah orang yang diberi waktu 2 tahun untuk menikah lagi. Kalau sudah 2 tahun tidak menikah lagi, kaisar Roma akan terapkan pajak pelacur bagi dia. Karena bagi orang abad pertama di dalam kebudayaan itu, perempuan kalau tidak menikah berarti pelacur. Mesti menikah untuk menunjukan diirnya bukan pelacur, karena tidak mungkin dia tidak menikah tapi tidak melacurkan diri, makanya cepat menikah. Bayangkan ada seorang janda, kalau dia tua berarti tidak punya kemampuan, kalau dia muda berarti dibuang oleh suaminya, dia kesulitan sekali dan dia tidak punya cara lain untuk lepas dari kesulitannya selain minta tolong hakim ini. Maka dia mulai ganggu hakim ini “pak hakim, belalah perkara saya”, hakim itu bilang “jangan ganggu saya, kamu perempuan hina begini, jauh-jauh dari saya”. Perempuan ini masih menunggu di luar, ayat 5 ini perkataan yang provokatif sekali, “namun janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia supaya jangan terus saja dia datang dan akhirnya menyerang aku”. Kata terus datang dan menyerang, ini bahasa untuk pertandingan tinju menurut commentary. Dulu saya susah melihat kaitannya. Supaya bisa berdoa, diberi tahu cerita, dan ceritanya ada janda dikabulkan permintaannya karena memaksa si hakim. Sehingga sepertinya kita paksa Tuhan sampai Tuhan tidak tahan lagi, seperti itukah? Bukan. Tuhan Yesus mengatakan di ayat ke-7, “tidakkah Allah akan membenarkan orang pilihannya yang siang malam berseru kepadanya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?”. Yesus tidak pakai contoh, “Allah seperti ini dan kamu seperti janda itu”, ini perbandingan bahwa yang kamu alami adalah totally different dari ini, Allah tidak seperti ini. Tetapi yang mirip bukan hakimnya, karena hakim di sini hakim yang kejam, yang tidak peduli orang, dan dia tidak peduli si janda ini, tidak ada relasi dengan si janda. Tapi yang Yesus mau katakan adalah “kamu terjepit seperti janda ini”, keadaan orang Kristen sedang terjepit, umat Tuhan sedang terjepit. Sebelum Kerajaan Allah datang, kita senantiasa berada dalam keadaan terhimpit. Kita tidak merasa terhimpit karena hidup kita baik. Saudara baru merasa terhimpit ketika apa yang Saudara dihalangi, ketika apa yang Saudara mau tidak didapat, ketika kita sendiri dalam bahaya, maru kita merasa terhimpit. Tapi umat Tuhan senantiasa terhimpit ketika Sang Raja belum datang. Dan keadaan kita mirip dengan si janda itu, kita sedang terhimpit dankita tidak bisa tidak teriak, kita tidak bisa tidak mengeluh, kita tidak bisa tidak panjatkan permohonan ini.

Maka Yesus sedang mengatakan “kamu mirip janda itu, tapi kamu harus bersyukur kepada Tuhan karena Allahmu berbeda dengan hakim itu. Kasusmu adalah kamu dipertemukan dengan hakim yang mencintai engkau, yang sudah tidak sabar membenarkan engkau. Permohonanmu dan beban hati hakim sama”, ini yang Yesus mau bagikan. Maka apakah ini menjadi alasan untuk berdoa atau alasan untuk malas berdoa? Kita mengatakan “puji Tuhan, Tuhan dengarkan doa saya”, maka kita doa satu kali “Tuhan tolong, saya percaya kepadaMu”, selesai. Orang yang berdoa seperti itu tidak sadar sense bahwa dia sedang terhimpit. Saudara dan saya tidak bisa tenang dan nyaman sebelum kehendak Tuhan menjadi nyata di bumi ini. Maka kita terus diganggu dengan keadaan yang terhimpit. Baru waktu lalu kita mengalami tindakan yang tidak adil, seorang yang baik memimpin Jakarta lalu disingkirkan begitu saja. Saudara merasa ada keterhimpitan, lalu Saudara berseru kepada Tuhan. Kalau ke depan ada keadaan yang lebih menghimpit lagi, Saudara berseru lagi kepada Tuhan. Teror yang menyebabkan banyak orang mati, membuat Saudara berseru kepada Tuhan. Atau diri yang mengalami ketidak-adilan membuat Saudara tidak tahan untuk berseru kepada Tuhan.

Bagaimana cara berserunya? Alkitab mengajarkan berserulah dengan terus-menerus, memohon, memanggil Tuhan untuk segera tolong. Ini seruan panggilan yang tidak pernah berhenti nyatakan, sampai kita lihat jawaban dari Tuhan tiba. Ini namanya beban sejati. Saudara kalau minta sesuatu yang Saudara sangat inginkan, Saudara akan terus akan pastikan yang Saudara inginkan itu Saudara dapatkan. Sebab Tuhan akan tetap pulihkan kerajaanNya tapi waktu Dia pulihkan, Dia bertanya “adakah iman di tengah dunia?” Adakah orang yang tekun yang terus meminta hal seperti ini kepada Tuhan? Atau kebanyakan orang-orang di dunia sudah sangat egois, sangat berfokus ke diri. Segala hal kecil yang menjadi pergumulan yang kurang penting, hanya itu yang menjadi beban doakah? Atau ada orang yang beriman yang siang malam berseru untuk pemulihan Yerusalem baru, yang siang malam berseru untuk pemulihan gereja Tuhan, yang siang malam berseru nama Yesus ditinggikan? Kalau ada orang beriman seperti ini, Yesus mengatakan ketika Tuhan datang, orang-orang itu akan dinyatakan benar “ini umatKu yang setia”, yang terus-menerus menanti kedatangan Tuhan, yang dengan tekun berdoa siang malam demi Kerajaan Tuhan dinyatakan di bumi ini. Biarlah kita adopsi sifat ini, tekun berdoa untuk untuk pokok doa ini. Sekali lagi, saya tidak menegasi pokok doa Saudara yang lain, Tuhan tidak hina doamu memohon dapat pekerjaan, Tuhan tidak hina doamu memohon dapat pasangan hidup, Tuhan tidak hina doamu memohon bisa lulus, Tuhan tidak hina doamu memohon supaya relasi keluargamu jadi baik. Tapi jangan lupa pokok doa yang sangat penting ini, doakan pemulihan Kerajaan Tuhan, doakan kesucian, kebenaran, keagungan dan dirinya yang setia pada perjanjian boleh dinyatakan di dunia ini. Ketika doa ini menjadi pokok doa Saudara siang dan malam, maka Saudara akan dinyatakan “inilah orang beriman yang benar”, dan dunia akan melihat orang benar ini dinyatakan oleh Tuhan. Kiranya Tuhan menggerakan kita menjadi bagian dari orang-orang yang senantiasa berdoa demi pekerjaan Tuhan dinyatakan.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkotbah)