Anda disini : Home » Reformed Theology » Injil Lukas » Apakah kita masih peka ketika Allah menggenapi firman-Nya?
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Apakah kita masih peka ketika Allah menggenapi firman-Nya?

Pdt. Jimmy Pardede

(Lukas 21: 37-38, 22:1-6, Habakuk 2: 1-20)
Ada perkataan yang indah di sini bahwa Yesus mengajar di Bait Allah, Dia hadir di tengah-tengah BaitNya. Kristus ada di Bait dan ini menggenapi apa yang kita baca di dalam Kitab Habakuk. Kitab Habakuk menyatakan tentang pengharapan yang akan Tuhan berikan pada waktu akhir, Tuhan akan pulihkan kerajaan, akan memberikan anugerah yang besar dan akan memberikan kesempatan damai sejahtera boleh kembali dinyatakan. Ini bagian yang sangat penting. Kalau kita paham Habakuk 2, kita akan sulit melihat apa pentingnya Yesus ada di Bait Suci, mengapa Dia harus mengajar, mengapa Dia harus masuk ke Bait Suci? Di dalam Maleakhi 3 dikatakan bahwa ada suara berseru-seru di padang gurun, siapkan jalan bagi Tuhan. Lalu dikatakan setelah itu Tuhan akan hadir di bait. Jadi harus ada persiapan jalan karena Tuhan akan hadir dan Tuhan punya tujuan untuk hadir di bait. Waktu Yesus dinyatakan sebagai yang menggenapi hal ini, Yesus harus pergi ke Bait Suci. Saudara kalau melihat di Injil, Saudara akan menemukan hidup Yesus adalah hidup yang menggenapi apa yang Kitab Suci Perjanjian Lama katakan. Yang dilakukan oleh Yesus menggenapi apa yang dikatakan di Perjanjian Lama. Yesus menggenapi janji Tuhan untuk keadaan damai yang akan terjadi di bumi, bumi akan penuh dengan kedamaian, penuh dengan pengenalan akan Tuhan, penuh dengan kehormatan dari orang-orang yang takut akan Tuhan, penuh dengan kesucian yang Tuhan mau nyatakan, bumi akan penuh kemuliaan Tuhan. Bagaimana caranya bumi penuh dengan kemuliaan Tuhan? Caranya adalah kalau Tuhan datang di BaitNya, apa yang Tuhan akan lakukan? Beberapa bagian dari Kitab Suci menjelaskan ini di dalam Perjanjian Lama, yang pertama Tuhan akan meninjau segala sesuatu dari BaitNya, mataNya akan melihat seluruh bumi karena Dia sudah hadir di BaitNya. Kehadiran Tuhan di BaitNya akan memberikan penghakiman, mataNya akan emmandang dan melihat, menembus apa yang salah di tengah dunia ini, akan membongkar segala motivasi tersembunyi di dalam diri manusia. Jadi Tuhan akan mengamati dan memberikan penghakimanNya. Kedua, di Kitab Habakuk dikatakan Tuhan akan hadir di firmanNya dan pengenalan akan Tuhan akan memenuhi seluruh bumi. Tuhan akan hadir di firmanNya dan hal yang besar akan terjadi yaitu bahwa Tuhan akan menyatakan firmanNya bagi seluruh bumi. Bagaimana kalimat-kalimat ini bisa digenapi? Kitab Perjanjian Baru dengan teliti membagikan bagaimana satu per satu janji ini digenapi, bagaimana satu per satu seluruh penggenapan ini akan dipahami oleh orang-orang yang rendah hati. Injil Lukas menyatakan penggenapan ini, ada seorang yang sangat kontroversial bernama Yesus dari Nazaret sekarang berkhotbah di Bait Suci menyatakan pengajaranNya dari tengah-tengah Bait Suci. Ini merupakan bagian awal dari penggenapan Habakuk 2, Tuhan hadir di BaitNya yang suci dan Dia memberikan firmanNya. Saudara bisa bayangkan indahnya ini, Yesus hadir di Bait Suci menggenapi apa yang orang Israel sudah baca terus selama ratusan tahun, kapan Israel akan dipulihkan? Dan Yesus sudah hadir di tengah-tengah Bait Suci. Ini bagian harus kita kaitkan, dua hal ini, Yesus mengajar di Bait Suci, Tuhan hadir di BaitNya, tidak boleh kita lepaskan hubungannya. Waktu kita memahaminya dengan cara Yahudi, kita akan mengharapkan Tuhan segera hadir dengan segala kemuliaan, kita akan mengingat peristiwa kemah suci, karena di dalam peristiwa itu dikatakan setiap kali Tuhan mau menyatakan diri, kemuliaanNya akan penuhi Kemah Suci. Mereka punya pikiran kalau dulu seluruh gunung bisa penuh kemuliaan, maka yang nanti akan terjadi adalah seluruh bumi akan penuh dengan kemuliaan yang sama dengan kemuliaan di atas gunung. Kemuliaan yang menakjubkan, kemuliaan yang akan membutakan mata, kemuliaan yang akan membuat kita semua gentar dan sujud dan tidak bisa melakukan apa pun selain menyembah Tuhan karena begitu besarnya kekaguman kita pada kemuliaan Tuhan ini. Waktu Israel menantikan pemulihan, mereka terus menantikan kapan nubuat, kapan berkat, kapan tanda ajaib, kapan pernyataan yang hebat dari Tuhan akan menyegel, memeberikan seal terhadap pemulihan yang Tuhan akan lakukan. Mereka terus menantikan, dan di dalam penantian itu banyak tokoh kontroversial yang muncul, “akulah mesias, akulah anak Daud”, itu terus muncul sampai tahun 130an sampai seorang bernama Bar Kokhba muncul lalu memimpin pemberontakan kepada Kerajaan Roma. Ketika Bar Kokhba dihancurkan, orang percaya “inilah titik di mana Israel hancur”, Israel tidak ada lagi sejak tahuan 130an, sejak pemberontakan terakhir Israel ditumpas oleh Romawi. Yerusalem hancur sejak tahun 130 dan tidak pernah lagi dikembalikan ke Israel sampai masuk abad 21. Runtuhnya Yerusalem seperti menamatkan cita-cita Israel untuk adanya pemulihan berdasarkan Kitab Maleakhi dan juga Kitab dari Habakuk yang tadi kita baca. Di dalam Kitab Habakuk, Tuhan hadir di BaitNya, setelah itu seluruh bumi akan penuh dengan pengenalan akan Tuhan. Banyak orang Israel yang salah menafsirkan Alkitab, juga menanti-nanti seperti orang Israel, “kapan Tuhan datang ke bait?”. Orang Israel sampai sekarang masih menantikan kapan Tuhan memulihkan Israel, Tuhan datang ke baitNya dan seluruh bumi akan penuh dengan kemuliaan Tuhan. Itu sebabnya masih banyak orang Kristen yang juga ikut dalam dongeng yang sama, berharap Yerusalem dipulihkan, Bait Suci akan dibangun lagi. Lukas sedang mengajarkan kemuliaan yang dinantikan Israel sudah terjadi. Terjadinya dengan kehadiran Yesus di Bait Suci. Kehadiran Yesus di Bait Suci menggenapi itu, bahkan membangunkan Bait Suci yang baru. Inilah misteri yang sulita kita padukan, Maleakhi mengatakan sekarang Anak Daud akan datang, Dialah Mesias itu, siapkan jalan bagi Dia dan Dia akan ada di Bait Suci. Lalu Zakharia mengatakan Sang Mesias akan datang dan Dia akan membangun Bait Suci. Dua ini seperti kontradiksi, Zakharia mengatakan Mesias datang akan membangun Bait Suci, Maleakhi mengatakan Mesias datang dan akan datang ke Bait Suci, Kitab Habakuk mengatakan Tuhan akan datang ke baitNya, di Kitab Zakharia dikatakan Tuhan akan mengutus orang untuk membangun kembali bait. Jadi Mesias yang diutus itu akan membangun bait atau akan datang ke bait yang sudah jadi? Ini membingungkan. Tapi waktu kita membaca Injil Lukas, kita lihat bahwa Kristus melakukan keduanya, Dia datang ke Bait Suci yang sudah jadi, seperti yang dikatakan di dalam Maleakhi. Dia juga datang membangun Bait Suci, seperti yang dikatakan dalam Zakharia. Bait Suci mana yang akan dibangunkan? Yohanes 2 mengatakan Bait Suci itu adalah tubuh Kristus. Yesus mengatakan “rombak Bait Suci ini dan Aku akan dirikan kembali dalam 3 hari”, orang-orang kaget, “perlu puluhan tahun untuk membanun Bait Suci dan Engkau mengatakan akan membangunnya dalam 3 hari?”, kalimat ini dianggap kalimat yang sangat menista Tuhan. Yesus melakukan penistaan agama Yahudi, karena Dia berani berkata “rombak Bait Allah”. Perintah yang mengatakan “rombak Bait Suci itu” pasti keluar dari orang kafir. Tapi Yesus sedang mengatakan Bait Suci akan berpindah, bukan gedung ini tapi tubuhNya. Peralihan dari gedung ke tubuh menandakan penggenapan dari Bait Suci, karena kalau hanya bangunan, bagaimana nubuat dari Daniel bisa digenapi? Di dalam nubuat Daniel dikatakan batu akan terguling menjadi gunung yang besar, akan memenuhi semua. Ini adalah bait, Bait Suci akan dibangun dan akan memenuhi bumi.

Bagaimana bangunan batu bisa memenuhi bumi? Maka di dalam Injil Lukas dan Yohanes dikatakan bahwa Kristus yang menggenapi nubuat, bahwa Tuhan akan pulihkan Israel bahkan seluruh bumi melalui baitNya, Tuhan akan hadir di tengah baitNya dan Tuhan akan membangun bait. Bagaimana Dia melakukan itu? Lukas mengatakan melalui kehadiran Yesus, Yesus hadir datang ke Bait Suci. Lalu bagaimana Bait Suci akan dibangun kembali? Melalui Tuhan Yesus. Bagaimana Bait Suci akan memenuhi bumi? Bagaimana firman Tuhan akan penuh, bagaimana pengenalan akan Tuhan akan hadir di seluruh bumi? Jawabannya adalah melalui turunnya Roh Kudus. Kedatangan Kristus, kematianNya, kebangkitanNya dan hadirnya Roh Kudus menjadi 4 poin sangat penting untuk penggenapan nubuat di dalam Kitab Habakuk yang kita baca. Kedatangan Kristus, kematianNya, kebangkitanNya, terangkatNya Dia ke sorga dan turunNya Roh Kudus inilah hal-hal penting. Itu yang membuat janji di dalam Kitab Habaku menjadi genap. Kita mesti membaca Alkitab dengan perasaan satu dengan umat di dalam Kitab Suci. Kita mesti punya perasaan “ini umat Tuhan, ini bagian dari saya, ini adalah saya yang sedang bergumul. Bukan hanya Israel yang zaman dulu bergumul, saya juga bergumul”. Kalau Israel zaman dulu bergumul, “Tuhan kapan Engkau memulihkan KerajaanMu, kapan Engkau kembali dihormati?”, maka kita juga berdoa untuk hal yang sama. Satu kali Richard Pratt pernah mengadakan satu kelas intensif di STTRII dan setelah itu dia mengadakan tanya jawab, ada satu orang yang bertanya “pak, bagaimana kita menjelaskan bahwa pengharapan kita beda dengan pengharapan Israel di Perjanjian Lama, karena banyak orang Kristen masih percaya pengharapan kita dengan pengharapan Israel Perjanjian Lama itu masih sama?” Richard Pratt menjawab “memang sama pengharapannya, beda dari mana? Apa yang diharapkan Israel dalam Perjanjian Lama, itu juga yang harus kita harapkan”. Kalau mereka mengharapkan Kerajaan Allah secara fisik datang, memang itu yang kita harapkan. Kalau Kerajaan Allah tidak datang secara fisik, kita jadi platonis yang hanya percaya Kerajaan Allah itu bersifat spiritual saja. Kalau begitu bagaimana memahami ini? Memahaminya dengan cara yang jelas dari Kitab Suci. Tuhan mengatakan seluruh kerajaan akan Tuhan gantikan dengan Sang Anak bertahta secara politik, secara real. Jadi waktu Israel mengharapkan kerajaan dipulihkan, kerajaan kembali di tengah dunia ini, itu harus jadi pengharapan kita. Kalau tidak, kita sulit bersukacita karena Yesus sudah datang. Saya mau tanya apa dasar orang Krsiten bersukacita ada bayi lahir di palungan? Kita bersukacita ada bayi lahir di palungan karena kita mengatakan “keselamatan kita sudah genap”, itu pengertian yang sangat egois karena hanya memikirkan diri dan harapan setelah mati. Saya tidak mengatakan harapan itu salah, tapi kalau hanya itu yang kita pikirkan maka kelahiran Yesus tidak ada kaitan dengan Perjanjian Lama. “Yesus datang menebus dosa saya”, selesai. Tapi Alkitab mencatat kelahiran Yesus adalah puncak dari seluruh berita yang ditulis di Perjanjian Lama. Maka Matius berkali-kali mengatakan “ini terjadi supaya genaplah ini, ini terjadi supaya genaplah apa yang dikatakan firman Tuhan”. Jadi kelahiran Yesus menggenapi Kitab Suci. Demikian juga pengharapan Kitab Habakuk, Tuhan kapan pulihkan Israel? Ini pengharapan yang dibangun di dalam banyak sekali sudut pandang. Sudut pandang pertama adalah sudut pandang spiritual, rohani. Sudut pandang spiritualitas ini yang Habakuk ingin. Habakuk mengatakan di pasal 2 “Tuhan, begitu banyak orang Israel yang tidak punya kesalehan yang seharusnya mereka miliki”. Banyak orang membangun rumahnya dengan cara menipu orang. Banyak orang membangun kariernya dengan cara mengorbankan orang lain. Ini kerinduan hati Habakuk, kalau nanti Tuhan datang memenuhi bait, orang-orang seperti ini akan dihakimi dan orang-orang yang tertindas akan diangkat. Jadi Habakuk sangat mengkritik cara orang membangun kehidupannya. Apakah dia membangun atas dasar penderitaan orang lain, apakah dia mengambil keuntungan orang lain untuk memperkaya dirinya? Banyak orang yang tidak sadar bahwa usaha yang dijalankan menghancurkan begitu banyak orang. Mari kita pikir baik-baik, kita hidup dengan cara apa, uang yang kita dapat itu dari mana. Siapa dicipta, dia harus sembah pencipta. Ini konsep biblika yang terus ditekankan melalui halaman Kitab Suci. Tahukah bahwa Tuhan adalah Pencipta? Kalau engkau tahu Dia Pencipta, sudahkah engkau jalankan tanggung jawab kepada Dia? kalau kita berhutang keberadaan kepada Dia, maka kita terikat dengan kewajiban untuk menyembah Dia dengan seluruh hati. Itu sebabnya Habakuk berseru, “Tuhan hadir, tolong ada di tengah-tengah kami, tolong tilik apa yang sedang terjadi”, dan Tuhan berjanji kepada Habakuk “jangan takut, kalau waktunya masih lama, pegang firmanKu”, kalimat ini indah sekali. Kalau pun masih seperti tertunda-tunda, bahkan kalimat yang dipakai seolah Tuhan enggan berjalan, ada keengganan untuk segera tiba. Kalau pun seolah-olah Tuhan enggan tiba cepat-cepat, seolah-olah waktunya diulur terus, masih lama belum terjadi, “engkau tetap memegang firmanKu karena apa yang Aku janjikan pasti terjadi”. Itulah sebabnya Habakuk mengatakan orang benar akan hidup oleh percayanya, orang benar akan hidup oleh iman. Iman bahwa Tuhan akan pulihkan semua, itu konteksnya Habakuk.

Sekarang di dalam Lukas ini digenapi. Lukas mengatakan Yesus menggenapi ini, Dia ada di Bait Suci dan Dia mengajar. Bukankah ini penggenapan yang indah? Tapi orang Israel mengatakan “mana api yang turun dari langit, mana tanda-tanda besar itu? Kalau Tuhan menggenapi semua, bukankah semua harus menuju ke puncak, bukankah penggenapan itu harus lebih besar dari sebelumnya, bukankah penutup harus lebih mulia dari sebelumnya?”. Tapi yang tidak disadari oleh orang-orang Yahudi adalah sejak awal Tuhan sudah menyatakan kemuliaanNya dalam kerelaan untuk hadir. Ini yang gagal dipahami oleh orang Israel. Tuhan mulia bukan karena Dia memenuhi gunung dengan api (api adalah lambang kehadiran Tuhan dan lambang malaikat). Malaikat adalah pelayan yang penuh dengan api. Lalu Tuhan tutup juga dengan awan, mengapa ada awan dan api, mengapa api harus ditutupi oleh awan? Dikatakan supaya manusia tidak hancur karena melihat kemuliaan itu secara langsung. Jadi Tuhan menutupi kemuliaanNya, mengizinkan kemuliaanNya tidak sempurna dinyatakan karena manusia akan mati. Kalau Tuhan mau pamer kemuliaan, Dia bisa menyatakannya sampai Israel mati, tentu Dia tidak akan melakukan itu. Karena concern-Nya Tuhan menyatakan kemuliaan lewat kehadiran, the present of God, itulah tema Kitab Keluaran. “Tidak tahukah kamu hai bangsa-bangsa kafir, Allahku adalah Allah yang hadir”. Jadi kemuliaan Tuhan ada pada kerelaanNya untuk hadir. Kalau begitu sangat tepat yang dikatakan Habakuk, bagaimana kita bisa berharap dunia akan diperbaiki? Ketika Tuhan hadir di baitNya. Kehadiran Tuhan itulah tanda kemuliaan Tuhan. Tuhan bukan seperti kita yang sangat suka hal spektakuler yang sifatnya kekanak-kanakan. Anak kecil kalau lihat balon akan senang sekali, kita orang dewasa yang biasa lihat balon terbang akan merasa biasa saja. Tapi kita punya penyakit mencari hal-hal yang spektakuler di dalam cara yang kekanak-kanakan. Misalnya banyak orang yang beragama atau kagum dengan Kekristenan karena pertunjukan mujizat yang sebenarnya juga sangat kekanak-kanakan. Lihat ada orang buta bisa melihat. Tidak ada yang jelek dari orang buta bisa melihat, itu indah sekali. Tapi menjadikan ini sebagai propaganda supaya orang datang dan menyaksikan, itu hal yang bodoh. Mengapa banyak orang sehat datang ke kebaktian kesembuhan ilahi? Karena ingin melihat show. Kalau kebaktian itu diadakan, seharusnya yang datang adalah yang sakit, yang sehat untuk apa datang? “Kebaktian kesembuhan ilahi. Yang sehat dilarang datang”, itu baru kebaktian kesembuhan ilahi yang benar. Ketika ada seorang dokter mau mengoperasi mata pasiennya, apakah dia akan mempertontonkan itu semua ke orang lain? Tidak. Dan ternyata ini bukan penyakit zaman ini saja, dari dulu juga begitu. Apa yang spektakuler dari Tuhan? “lihat seluruh gunung penuh dengan asap, penuh dengan api”, apakah tidak tahu asap dan api itu justru menyelubungi kemuliaan Tuhan. Kemuliaan Tuhan lebih dari itu, tapi mengapa ada asap dan api? Karena itu kehadiran malaikat dan ada awan yang menutupi, Tuhan tidak mau wajahNya langsung dinyatakan karena itu akan membunuh manusia. Jadi pemandangan yang spektakuler di Gunung Sinai adalah Tuhan yang rela turun. Tapi ini gagal dipahami oleh orang Israel sehingga mereka berpikir kalau nanti Tuhan hadir di Bait Suci apinya harus lebih besar dari yang di Gunung Sinai, ketika Tuhan datang seluruh Yerusalem on fire. Mereka berharap kalau Allah hadir di baitNya, hal spektakuler terjadi. Tapi hal yang spektakuler itu tidak penting bagi Tuhan. Yang Tuhan mau tunjukan adalah kerelaanNya untuk hadir. Di dalam Perjanjian Baru ada hal baru yang tidak ada di Perjanjian Lama yaitu kerelaan Tuhan untuk hadir di dalam level yang sama dengan manusia dalam segala hal. Ini yang menggenapi Habakuk, ada Tuhan yang rela hadir di segala aspek menjadi manusia. Dan setelah Dia menjadi manusia, Dia datang ke baitNya, berarti Dia datang dengan sempurna. Kehadiran Tuhan bukan lagi datang kemudian meninggalkan, datang lagi kemudian meninggalkan lagi, tapi kehadiran sempurna. Kehadiran sempurna itu ada di dalam Yesus, Dialah Sang Allah yang hadir itu. Dia berkhotbah di Bait Suci dari pagi sampai sore, setelah itu Dia pergi. Perhatikan hal yang penting sekali, kehadiran Dia di Bait Suci menggenapi apa yang diharapkan Habakuk, tapi belum merupakan penggenapan total, masih ada hal yang lebih indah yang akan terjadi. Kehadiran Kristus menggenapi nubuat Habakuk. Tetapi Dia meninggalkan Bait Suci pada malam hari, lalu berdiam di sebuah bukit bernama Bukit Zaitun, bukit yang sangat unik karena menjadi tema kedatangan Tuhan. Dalam Perjanjian Lama bukit ini adalah bukit yang menandai kedatangan Tuhan, Tuhan akan datang dan membelah bukit ini. Jadi kehadiran Tuhan bukan hanya di Bait Suci, tapi juga di di Bukit Zaitun, Dia bolak-balik ke tempat yang dinyatakan menjadi site penting untuk kehadiran Tuhan, menjadi situs penting untuk Tuhan hadir kembali. Dia ada di Bukit Zaitun dan Bait Suci, menyatakan kasih, firman dan menyatakan penghakiman. KehadiranNya sangat simbolik. Kehadiran Dia di Yerusalem, Bait Suci dan Bukit Zaitun merupakan tanda bagi para murid bahwa Dia adalah Mesias yang hadir. Tapi bagi orang lain ini bukan apa-apa, kehadiran Yesus sangat tidak dipahami sehingga mereka justru mencari jalan untuk membunuh Dia.

Di pasal 22 dikatakan hari raya roti tak beragi yang disebut Paskah sudah dekat, ayat ke-2 dikatakan imam kepala dan Ahli Taurat mencari jalan bagaimana dapat membunuh Yesus. Yesus akan dibunuh justru ketika Dia menggenapi nubuat Habakuk. Ini menunjukan berapa rusak dan berapa kacaunya budaya pada waktu itu. Penggenapan dari Tuhan ditanggapi dengan hati yang menyepelekan, bukan dengan hati yang penuh perayaan, bukan dengan kerinduan besar yang membuat kita ingin hidup dengan limpah, tapi justru dengan kertak gigi, amarah, dengan keinginan untuk membunuh dan menghancurkan orang ini. Saudara bisa lihat berapa jahatnya para imam itu, mereka mencari jalan bagaimana membunuh Yesus. Tapi yang jauh lebih jahat dari semua adalah Yudas yang mengikuti Yesus baik di Yerusalem maupun di Bukit Zaitun. Yang menjadi saksi dari penggenapan nubuat Habakuk, tapi dia tidak pernah memiliki perasaan bahwa ini adalah kegenapannya. Mengapa imam kepala dan Ahli Taurat tidak lihat ini kegenapan dari Habakuk, karena justru merekalah yang ditegur Habakuk. Merekalah orang-orang yang membangun rumah kemegahan dari penderitaan orang lain. Mereka membangun diri dan karier mereka dengan jalan membuat manipulasi firman untuk menipu banyak orang. Di bagian sebelumnya dikatakan mereka menelan rumah janda-janda. Kalau ada janda menginginkan tanah suaminya yang sudah mati lalu debat dengan keluarga suaminya yang juga ingin tanah, mereka langsung datang kepada imam dan bertanya “menurut Taurat tanah ini milik istrinya atau kami keluarganya?”, mereka akan sogok imam untuk mengatakan “katakan dari Taurat bahwa perempuan tidak boleh mendapat harta, perempuan tidak boleh dapat tanah, yang boleh dapat tanah laki-laki”. Kalau satu orang meninggal, tanah ini bukan milik janda dari orang yang mati itu, tapi milik keluarganya. Bagaimana janda ini bisa hidup kalau tidak ada tanah? Suruh dia menikah lagi, dia akan dapat suami dan dapat tanah lagi, tapi tanah ini bukan untuk janda itu. Setelah disogok tanah itu akan dibagi juga ke imam kepala, imam menerimanya dan mengatakan “menurut Taurat, perempuan tidak boleh menerima warisan”. Dan janda-janda itu habis karena mereka tidak mungkin menikah lagi dalam usia seperti itu, sehingga mereka tidak ada yang menjaga dan tidak ada yang pelihara. Dalam keadaan tidak ada yang menjaga dan memelihara, mengalami kesulitan uang, mereka masih mengeluarkan sedikit dari apa yang mereka punya, 2 peser, masih masukan ke persembahan Bait Suci yang nanti akan dikelola oleh para imam ini. Ketika Yesus melihat pemandangan ini, Dia mengatakan “Bait Allah harus hancur”, karena sistem agama di sekitarnya sudah terlalu korup, terlalu jahat dan terlalu mementingkan diri. Orang jahat tidak bisa melihat kemuliaan Kristus. Kalau kita tidak mengagumi Kristus, hati-hati mungkin hati kita jahat. Hati jahat itu tidak tentu dilihat dari tindakan jahat. Ada orang sangat sopan, sangat santun, tapi hatinya jahat bukan main, tidak mudah mengampuni, simpan dendam dalam-dalam meskipun dari luar kelihatan baik. Tapi yang paling menyedihkan dan menakutkan adalah Yudas. Kita tidak boleh melihat Yudas sebagai orang yang sudah ditetapkan untuk menjadi penjahat yang akan menyerahkan Yesus. Memang benar dia sudah ditetapkan Tuhan untuk menjadi pengkhianat. Tapi jangan lupa ketetapan Tuhan adalah sesuatu yang sulit kita pahami, bagaimana pun kita memahami ketetapan Tuhan, kita tidak boleh memahaminya sambil membuat tanggung jawab manusia itu direduksi. Mengurangi tanggung jawab manusia bukan solusi untuk memahami kedaulatan Tuhan. Yudas pergi ke imam kepala dan pengawam Bait Allah, dan mengusulkan “saya dapat menyerahkan Yesus kepadamu”. Mengapa solusi Yudas ini penting? Karena imam kepala sedang mencari jalan untuk menangkap Yesus tanpa membuat huru-hara.

Orang jahat sulit untuk menerima tema dari firman Tuhan karena segala penerimaannya akan terdistorsi oleh gairah keinginannya untuk kehendak diri. Ini yang dialami Yudas. Yesus pergi ke Bait Suci, Yesus pergi ke Bukit Zaitun, ini pertanda Tuhan sudah mau hadir. Bait Suci menandakan kehadiran Tuhan, Bukit Zaitun menandakan penghakiman Tuhan, Tuhan akan berjejak di Bukit Zaitun dan bukit itu akan terbelah, itu yang dikatakan Kitab Suci. Berarti Yesus mengatakan “Akulah yang akan menggenapi, lihat Aku di Bait Suci, lihat Aku di Bukit Zaitun”. Dia pilih 12 orang ini sebagai teman dekatNya. Dia tidak sengaja pilih hanya karena menggenapi saja. Semuanya mendapat perlakukan karib dari Yesus. Sehingga Saudara bisa tahu berapa jahatnya orang ini, maukah Saudara menjual teman dekat, sahabat Saudara? Maukah Saudara demi keuntungan menikam teman sendiri? Yudas mau, orang ini sangat jahat karena cuma lihat uang, bagi dia persahabatan itu nothing. Mengapa berteman dengan Yesus? Karena teman dekat, Yesus yang pilih. Mengapa jual Yesus? Karena teman paling dekat itu namanya uang. Uang membutakan dia sehingga tidak melihat persahabatan, uang membutakan dia meskipun Tuhan sudah sindir dia berkali-kali tentang uang. Saya percaya tujuan Tuhan menyindir tentang uang adalah untuk banyak orang dan juga untuk Yudas, “tidak tahukah kamu bahwa mamon itu dipergunakan untuk persahabatan”. Mamon untuk persahabatan bukan persahabatan untuk mamon. Tapi Yudas bersahabat dengan Yesus untuk mendapatkan uang. Yesus berkata uang dipakai untuk mencari sahabat, maksudnya sahabat lebih penting dari pada uang sehingga kalau pun engkau harus mengeluarkan uang demi persahabatan, itu bukan masalah. Yesus sudah memperingatkan ini berkali-kali kepada Yudas, “engkau adalah sahabat karibKu, jangan memutuskan yang salah”. Tapi Yudas tidak punya tuan lain selain uang. Uang sudah mengikat dia dengan sangat berat, sehingga dia menggenapi apa yang Habakuk katakan, “orang-orang sebangsaku membangun rumahnya dengan cara menghancurkan temannya sendiri”. Yudas ingin uang dengan cara menghancurkan temannya sendiri, mungkin dia berpikir (hanya kemungkinan saja karena tidak ada di Alkitab) Yesus tidak mungkin dimatikan karena malaikat akan menolong Dia. Jadi sama-sama dapat untung, Yudas dapat uang, malaikat tolong Dia, selesai. Maka waktu Yesus mati di kayu salib, dia hancur tapi tida bertobat. Dia hancur karena merasa sudah melakukan hal yang salah, dia melemparkan kembali uangnya tapi tidak ada pertobatan bagi dia. Dia adalah orang yang tetap mencintai kehidupan lamanya, hanya memunyai penyesalan yang besar karena temannya. Yudas mencintai Yesus kah? Ada hati yang hancur ketika melihat Yesus mati, tapi cintanya kepada uang membuat dia mengambil keputusan yang salah. Orang mengambil keputusan yang salah, mengutamakan uang dari pada teman sulit untuk perbaiki lagi. Hancurnya hati Yudas setelah Yesus ditangkap tidak bisa memperbaiki keadaan. Uang yang dia lempar, dia kembalikan, tidak bisa mengembalikan apa yang dia sudah lakukan. Yudas mengkhianati Yesus dan menjualNya pada saat Dia menyatakan “inilah tanda Aku yang akan menggenapi janji Tuhan” seperti yang difirmankan dalam Habakuk.

Hari ini kita melihat kejahatan dunia yang sangat besar, termasuk kejahatan yang berpotensi muncul dalam hati kita. Jangan menjadi orang yang membangun diri atas orang lain, yang membangun rumah, keuangan, kekayaan, kejayaan kita dengan mengabaikan keadilan, kesucian, kasih. Jangan memperkaya diri dengan menipu, menghancurkan dan merugikan orang lain. Siapa berbagian dalam hal ini, dia bukan orang bijak. Saya sangat senang bertemu dengan teman kuliah saya sebelum saya masuk STT. Dia kos sambil kerja, hidupnya sangat sulit. Dia bekerja sampai malam, pagi-pagi kuliah. Saya tanya “mengapa kamu kerja sampai malam, terkadang sampai subuh?”, dia mengatakan “saya perlu uang”, “apakah orang tuamu tidak bisa membiayai”, dia mengatakan papanya adalah seorang pengusaha besar, uangnya sangat banyak. “Apakah dia menolak kamu kuliah di sini?”, “tidak”, “mengapa kamu kuliah di sini?”, “karena di sini murah”, “orang tuamu tidak sanggup?”, “tidak, orang tuaku sangat sanggup, tapi orang tuaku punya usaha yang sangat jahat, dia menipu banyak orang, merugikan banyak orang, bisnisnya jadi besar dengan menghancurkan pengusaha yang lebih kecil. Saya tidak mau satu sen pun dari dia”, dia anak muda yang luar biasa. Maka saya pikir satu saat dia akan dipakai oleh Tuhan dengan sangat besar jika dia terus pertahankan sikap seperti ini. Tapi banyak orang tidak peduli, “kalau papaku kaya ya sudah. Kalau papaku merugikan orang lain, itu urusan papaku dan Tuhan. Aku hanya menikmati saja”, itu hal yang sangat tidak baik.

Mari jaga diri kita dari kebejatan yang terjadi seperti yang dinyatakan Habakuk dan dinyatakan secara real oleh para imam kepala, Ahli Taurat dan juga Yudas. Mari singkirkan segala hal yang membuat kita tidak peka kepada firman dan boleh menikmati ketika Tuhan menggenapi firmanNya.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)