Anda disini : Home » Reformed Theology » Injil Lukas » Apa yang menghalangi kita menantikan kedatangan Tuhan?
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Apa yang menghalangi kita menantikan kedatangan Tuhan?

Pdt. Jimmy Pardede

(Lukas 21:20-24)
Lukas 21: 20-24, ayat-ayat ini adalah bagian dari ucapan akhir zaman dari Tuhan Yesus. Dan ucapan akhir zaman di Kitab Suci selalu berbentuk nubuat apokaliptik. Dan ini merupakan cara menulis atau genre yang harus ditafsirkan dengan benar. Karena bagian-bagian apokaliptik atau yang berisi nubuat bukan semacam teka-teki untuk ditafsirkan dan dirumuskan secara akurat. Setiap nubuat itu seperti lukisan yang indah, yang memberikan makna yang melampaui kata-kata namun memberikan penjelasan di dalam kerangka utama yang jelas. Kerangka utamanya jelas, tapi detailnya tidak jelas. Hal utamanya jelas tapi aspek-aspek detailnya itu sangat kabur. Inilah yang disebut dengan nubuat apokaliptik. Kitab Wahyu adalah nubuat yang bersifat apokaliptik. Yesaya 24-27 adalah bentuk yang sama, di dalam kata-kata Tuhan Yesus tentang akhir zaman kita temukan ada cara perkataan dan pembahasan yang sama juga. Jadi Yesus sedang menyatakan bahwa diriNya adalah Sang Nabi sejati. Dan sama seperti nabi-nabi besar dalam Perjanjian Lama, di dalam tulisan-tulisan mereka yang sangat banyak itu, ada bagian-bagian penghakiman bagi Yerusalem, demikian juga Yesus menyatakan hal yang sama, ada penghakiman bagi Yerusalem. Yesus sebagai Nabi harus menegur dan bahkan menjatuhkan hukuman bagi Yerusalem yang tidak setia. Sama seperti Yesaya menubuatkan Babel akan datang menghancurkan Yerusalem, Yeremia menyatakan Babel lewat Nebukadnezar menghancurkan Yerusalem. Kemudian Yehezkiel juga menubuatkan hal yang sama bahwa Roh Allah akan pergi, kemuliaan akan meninggalkan Bait Suci bahkan meninggalkan Yerusalem, dan itulah kesudahan Yerusalem karena akan dihancurkan oleh Babel. Kalimat-kalimat ini menjadi pola dalam Kitab Nabi-nabi dan di dalam Perjanjian Baru orang Yahudi mempunyai pengertian bahwa ketika akhir zaman akan terjadi, akan terjadi reenactment of biblical stories, penghidupan kembali, pertunjukan kembali. Akan ada sesuatu yang mirip dengan Perjanjian Lama dinyatakan, sehingga orang akan tahu kesudahannya sudah mendekat. Inilah yang disebut dengan apokaliptik, akan ada penghidupan kembali dari cerita-cerita Perjanjian Lama. Itu sebabnya dikatakan ketika Raja, Mesias itu akan datang, Dia akan didahului oleh Yohanes Pembaptis. Dan Yohanes Pembaptis disebut sebagai Elia yang akan datang. Mengapa dikatakan Elia yang akan datang? Karena ada penghidupan kembali kisah Perjanjian Lama di dalam zaman ketika Tuhan akan pulihkan segala sesuatu. Reformasi, terutama di dalam pemikiran Martin Luther, juga sangat banyak membahas tentang apa itu akhir zaman. Dan mereka tidak mau orang berpikir bahwa akhir zaman hanya melulu tentang kehancuran. John Calvin misalnya, di dalam commentary-nya tentang Injil Yohanes, berkali-kali memberikan penjelasan bahwa akhir zaman adalah tentang pemulihan. Bahkan dia mengatakan bahwa Yohanes adalah seorang yang mempunyai cara berpikir Ibrani Yahudi, meskipun dia menulis memakai bahasa Yunani, tapi kosa kata tertentu dalam bahasa Yunani mesti ditafsirkan dalam Kitab Septuaginta Perjanjian Lama. Misalnya ketika Yohanes mengatakan tentang pengadilan, penghakiman,harus dipahami dengan cara orang Yahudi memahami penghakiman. Dan bagi orang Yahudi penghakiman adalah titik yang sangat penting untuk memunculkan keadaan yang baik. Mengapa Tuhan memberikan air bah? Untuk membersihkan bumi sehingga ada kesempatan manusia hidup lagi. Mengapa Tuhan Yesus harus dihukum? Supaya ada harapan orang-orang yang harusnya mati bisa hidup di dalam Tuhan. Mengapa ada penghakiman Tuhan? Supaya ada harapan akan bumi yang baru. Jadi penghakiman dan juga keadaan judgement yang akhir selalu akan memberikan keadaan yang baik setelahnya. Ini yang ditekankan oleh John Calvin sehingga gambaran Tuhan yang menghakimi hanya menyatakan marahNya Tuhan, itu sebenarnya ditentang baik oleh Luther maupun Calvin.

Ketika Martin Luther mempelajari dari Kitab Suci, dia mendapatkan bahwa yang Tuhan tekankan itu bukan rasa takut, melainkan rasa waspada dan berjaga-jaga. Ini merupakan pengertian yang sangat dekat dengan Agustinus, Agustinus mengingatkan bahwa akhir zaman dan penghakiman final diberikan oleh Tuhan sebagai peringatan untuk kita senantiasa berjaga-jaga. Kalau Yesus besok datang, hari ini kita akan kerjakan apa. Kalau waktunya tidak panjang lagi, Saudara akan siapkan apa. Kalau waktunya tidak tentu, bisa sekarang bisa panjang, Saudara akan hidup dengan cara bagaimana? Apa hal yang akan Saudara atur, karena siapa tahu Tuhan masih lama akan datang, apa yang akan Saudara siapkan? Lalu kalau ternyata Tuhan datangnya besok, apa yang akan Saudara siapkan? Sehingga berita tentang penghakiman akhir selalu mempunyai dua hal yang harus kita pikirkan dengan bijaksana. Yang pertama, apa rencana jangka panjang kita kalau Tuhan masih lama datang, kedua apa rencana harian kita kalau besok Tuhan datang. Inilah yang menjadi bijaksana yang Martin Luther perlu digumulkan kembali di dalam gereja. Maka Yesus pun memberikan pengajaran yang membawa kita untuk punya bijaksana dalam dua hal ini, termasuk dengan yang dikatakan dalam Lukas 21 ini. Yesus mengingatkan bahwa Yerusalem akan dihancurkan. Perkataan ini sangat penting karena Tuhan Yesus ingin mengingatkan bahwa pekerjaan Tuhan mendatangkan KerajaanNya, selalu akan bentur dengan usaha orang untuk mendirikan monumen demi kebesaran dia sendiri. Di dalam sejarah ada dua kota yang Tuhan dirikan, kota pertama adalah kota yang didirikan oleh orang di dataran Sinear yaitu Kota Babel. Yang kedua adalah kota yang Tuhan sendiri dirikan yang dasarnya bukan didirikan oleh tangan manusia, kota itu adalah Yerusalem. Ada Babel dan Yerusalem, dua kota ini yang akan mendapatkan perseteruan dengan keras sekali di dalam Kitab Wahyu, Yerusalem dan Babel. Tapi kalau Saudara membaca Kitab Wahyu, Babel terus dibahas, sedangkan Yerusalem seperti tersembunyi. Babel terus menginjak-injak umat Tuhan, sedangkan Yerusalem seperti hilang dari tempat dan peredaran. Babel menghancurkan segala sesuatu dan Yerusalem tidak ditemukan di bumi ini. Di mana Yerusalem? Mengapa Yerusalem tidak muncul? Tapi begitu masuk pasal 19-22, Babel dihancurkan dan tiba-tiba Yerusalem muncul. Kemana Yerusalem selama ini? Kitab Wahyu mengatakan ada di sorga, sembunyi dulu di sorga, sampai Babel hancur di bumi, Yerusalem baru muncul. Ini cerita yang unik sekali. Perseteruan dua kota itu adalah antara Babel dan Yerusalem. Babel adalah lambang dari kemegahan manusia, kesombongan manusia, kehebatan manusia, keadaan manusia ingin membuat legacy “lihat hebatnya saya, lihat hebatnya kami”, lalu mereka mendirikan kota. Dari Kitab Kejadian, orang yang jatuh dalam dosa selalu ingin legacy, selalu ingin kenyamanan, keamanan dan benteng yang teguh untuk dipamerkan. Orang pertama yang mendirikan kota adalah Kain. Mengapa Kain disebut yang pertama mendirikan kota? Salah satunya adalah karena dia paranoid, “mungkin saya akan dibunuh jadi saya akan dirikan kota dengan benteng yang kuat”. Yang kedua adalah dia ingin menyatakan pencapaiannya, maka kotanya pun dinamai berdasarkan nama anaknya. Supaya orang tahu Kain survive dan Kain akan punya keturunan yang hebat, Kain akan menjadi nama yang dikenal dan memenuhi bumi dengan kekuatan yang dahsyat, dengan teknologi yang maju dan kemampuan untuk menguasai budaya. Jadi ada monumen untuk kebanggaan manusia didirikan oleh Kain. Dan ada monumen didirikan untuk kesatuan manusia dan kebanggaan dan kehebatan manusia yang didirikan oleh orang di Babel. Seluruh monumen ini didirikan tapi Tuhan tidak berkenan, Tuhan tidak berkenan atas kotanya Kain, Tuhan tidak berkenan atas Menara Babel, Tuhan tidak berkenan atas kemegahan Mesir. Tapi Tuhan sendiri menyiapkan sebuah umat yang akan dikaruniai sebuah kota. Di dalam kisah di Kitab Samuel, Yerusalem dimiliki oleh orang Israel bukan karena mereka dirikan, Yerusalem sudah ada lebih dulu. Orang-orang Yebus menguasai Yerusalem, lalu Daud mulai tergerak hatinya “saya mesti menyerang Yerusalem”. Entah mengapa dia menyerang Yerusalem, entah gerakan dari mana, pokoknya seluruh orang Kanaan mesti ditaklukan. Maka dia pergi menyerang Yerusalem, dan ini merupakan usaha yang sangat sulit karena Yerusalem terletak di atas bukit. Dan setiap kali orang ingin memanjat ke bukit untuk menyerang sebuah kota yang berbenteng, kesulitannya luar biasa besar. Waktu itu Daud mengalami kesulitan besar harus menyerang Yerusalem, yang faktor sulitnya mirip Yerikho. Yerikho mungkin tidak didirikan di tempat yang setinggi Yerusalem, tapi Yerikho didirikan di satu dasar yang tingginya lebih tinggi dari manusia. Sehingga kalaupun Saudara sudah meruntuhkan temboknya, Saudara harus memikirkan bagaimana memanjat dasar yang tinggi ini. Tapi unik, di Kitab Suci dikatakan runtuhnya tembok Yerikho itu caranya luar biasa bagus sehingga membentuk tangga. Jadi yang menghancurkan pasti bukan manusia, karena batunya runtuh dengan teratur berbentuk tangga. Yerusalem pun sulit ditaklukan, tapi Daud berhasil menaklukannya dan dia mendedikasikan kota ini untuk Tuhan. Sehingga Saudara bisa melihat dalam tradisi Israel, baik Daud maupun Yerusalem, dua-duanya pemberian Tuhan yang tidak disangka-sangka. Tidak ada orang yang membuat dinasti Daud menjadi besar, tidak ada orang yang menyangka orang Betlehem bisa menjadi raja. Munculnya Daud itu mendadak, tidak ada yang menyangka anak muda ini menjadi pemimpin. Tuhan yang mengirim anak muda ini bagi Israel. Jadi Daud adalah pemberian Tuhan bagi Israel. Ketika Daud muncul, semua orang kaget bagaimana bisa ada anak muda seberani ini, mematikan Goliat dengan cara yang begitu berani, lalu memimpin Israel berperang melawan Filistin, selalu menang, selalu menaklukan Filistin. Sehingga mereka mulai membandingkan anak muda ini begitu baik, begitu hebat memimpin perang dan begitu tulus hatinya. Waktu mereka melihat Saul, mereka lihat ini raja yang kurang baik, kurang pintar memimpin perang, terlalu banyak perhitungan untuk diri dan terlalu banyak iri dengan orang lain, ini raja yang kurang baik. Maka hati orang Israel mulai cenderung ke Daud. Akhirnya Tuhan benar-benar matikan Saul dan Daud pun naik jadi raja. Daud adalah pemberian Tuhan bagi Israel. Yerusalem adalah pemberian Tuhan bagi Israel, ini tradisi Yahudi. Dan tradisi ini yang dipahami dan diajarkan dalam Perjanjian Baru, karena dikatakan Anak Daud datang dari sorga, Yerusalem baru juga datang dari sorga. Anak Daud dan Yerusalem baru dua-duanya pemberian Tuhan dari sorga, bukan perjuangan Israel. Jadi Israel tidak membanggakan kehebatan mereka, “lihat bagaimana hebatnya kami mendidik dinasti ini sehingga muncul raja. Lihat bagaimana canggihnya kami mendirikan kota sehingga boleh ada Yerusalem dan Bait Suci di tengah-tengahnya”, tidak. Baik Yerusalem, Bait Suci dan Anak Daud, semua diberikan Tuhan, bukan diusahakan manusia. Pemberian Tuhan bukan tangan manusia, kehebatan Tuhan bukan keahlian manusia. Kesalahan orang Yahudi di abad pertama, mereka membanggakan monumen, lihat berapa besarnya Yerusalem, lihat berapa hebatnya tradisi Bait Suci. Dan mereka mengaitkan baik perkembangan budaya Yerusalem dengan komitmen agama mereka. “Siapa berani menyerang Yerusalem dan Bait Suci, maka kami akan serang kembali. Kalau perlu dengan darah kami”. Mereka rela korbankan nyawa untuk membunuh orang yang menghina Yerusalem dan Bait Suci. “Siapa yang mengucapkan perkataan yang menentang Yerusalem, akan kami matikan. Siapa yang menentang Bait Suci akan kami matikan”. Pada waktu itu Bait Suci berdiri dengan megah, tapi Yesus menyatakan kalimat-kalimat yang sangat menakutkan. Dia mengatakan “Bait Suci akan hancur”, dan kaliman Yesus itu menjadi kenyataan di tahun 70. Jadi tidak semua nubuat itu hanya berisi pesan-pesan untuk masa yang akan datang nanti. Karena kalau semua berita Alkitab tentang masa depan, tentang penghakiman, tentang akhir zaman, berbicara tentang penghakiman akhir, maka bagian-bagian dari Kitab Suci itu tidak berguna sekali, tunggu nanti saja. Begitu Tuhan datang untuk menghakimi, baru bagian-bagian ini berguna.

Tapi banyak bagian dari berita apokaliptik atau akhir zaman, sebenarnya berbicara tentang periode yang sudah pernah terjadi dalam sejarah. Itu sebabnya Vern Poythress memberikan tawaran kalau engkau mau menafsirkan apokaliptik, berita Wahyu atau berita nubuat, kamu harus lihat paling tidak ada 4 sisi. Sisi pertama adalah bahwa ini merupakan bahasa simbolik untuk apa yang sudah terjadi. Yang kedua, ini merupakan bahasa simbolik untuk apa yang akan terjadi setelah peristiwa si penulis ini selesai menulis. Akan terjadinya Matius atau Lukas, bukan akan terjadinya kita. Apa yang disebut akan terjadi oleh Lukas, bisa sudah terjadi pada zaman kita. Sisi ketiga, harus lihat pola yang berulang, yang diberikan nubuat bisa saja sudah terjadi, tapi tetap berlaku setiap zaman, pola berulang. Lalu keempat yang paling sedikit menurut Poythress adalah melihat ini sebagai bentuk final nanti. Bentuk final nanti dan justru itu yang tidak terlalu banyak. Termasuk di dalam nubuat tentang hancurnya Yerusalem, ini merupakan nubuat yang kebanyakan sudah disetujui oleh para ahli, sudah digenapi di tahun 70, waktu Yerusalem dihancurkan oleh Jenderal Titus. Ketika Yerusalem dihancurkan, pada waktu itu orang melihat dan menyadari nubuat Yesus benar. Dan waktu itu banyak orang Yahudi menjadi korban, tapi hampir tidak ada orang Kristen. Tidak ada orang Kristen yang menjadi korban, semua orang Kristen sudah lari meninggalkan Yerusalem. Baik karena penganiayaan orang Yahudi maupun, menurut kepercayaan sejarah gereja, karena perkataan Yesus. Yesus sudah mengingatkan “kalau kamu sudah melihat tanda-tanda orang kafir mendekati Yerusalem, cepat lari. Jangan masuk dalam berita yang pura-pura mengatakan: Tuhan akan bela kami, Tuhan suka Yerusalem, Tuhan mencintai bangsa ini, Tuhan mencintai Bait Suci. Tidak mungkin simbol-simbol keagamaan yang penting seperti ini akan hilang”, Yesus mengingatkan semua akan hancur. Dan Saudara bisa bayangkan berapa kontroversialnya kalimat Yesus yang mengatakan semua ini akan hancur. Itu sama seperti ada orang mengaku diri Islam, tapi mengatakan “Kabah akan hancur”, mana ada orang Islam mengatakan seperti ini. Kalau ada orang Islam berani berkata seperti itu, dia adalah musuhnya Islam. Yesus orang Yahudi, Dia mengatakan Bait Suci akan hancur, Dia mendeklarasikan diri sebagai musuh orang Yahudi. Dan jangan salah, orang berani mengatakan Bait Suci akan hancur, langsung jadi target pembunuhan. “Kamu bilang Bait Suci akan hancur? Nyawamu bayarannya”. Ada perkataan yang sangat keras dari orang-orang tradisi Zelot yang mengatakan ucapan orang harus dibayar dengan pedang, “kamu menghina Tuhan, saya akan bayar penghinaanmu dengan potong lidahmu. Kamu berani menghina Bait Suci, saya akan bayar dengan potong lehermu”. Jadi orang Yahudi bukan orang-orang yang kalem, yang tenang, yang saleh, mereka adalah orang-orang yang siap membunuh orang lain. Apalagi kalau ada pengajar dengan aliran aneh, mereka akan basmi orang ini. Itu sebabnya Kerajaan Roma mengatakan “dilarang membunuh orang, kecuali disetujui oleh pengadilan sah dari Roma”. Begitu ada orang dibunuh, Roma akan mengirim tentara untuk menangkap pembunuh itu apa pun sebab huru-hara ini. Tapi anehnya Roma jarang urus kalau ada pembunuhan secara massal, yang terjadi karena emosi sesaat. Kalau di Indonesia misalnya peristiwa orang diteriaki maling, dikejar kemudian dipukuli sampai mati, sadisnya bukan main. Pada waktu itu di Israel bisa terjadi kasus seperti itu. Ada orang dipukul ramai-ramai sampai mati, untuk itu Roma tidak akan ikut campur. Itu sebabnya orang Yahudi memilih cara ini untuk membunuh Stefanus. Stefanus tidak diadili oleh pengadilan Roma yang resmi, Stefanus hanya diadili oleh pengadilan agama. Dan pengadilan agama tidak boleh menjatuhi hukuman mati. Maka mereka memakai cara lain, seret dia ke jalan lalu ramai-ramai meleparinya dengan batu, sehingga orang merasa ini gerakan massa, bukan pengadilan Yahudi, mereka tahu ada celah dalam hukum Roma. Jadi orang Roma mengatakan “jangan bunuh orang, kalau berani membunuh orang, kami akan hakimi kamu dengan penghakiman Roma yang sangat keras”, ini untuk mencegah orang melakukan hukum sembarangan, sehingga Israel menjadi tempat yang luar biasa kacau. Dan Israel mesti dijaga kestabilannya karena ini batas tengah dari kuasa Roma yang berpusat di Alexandria dengan kuasa Roma yang berpusat di Mesopotamis. Dua kubu yang kuat ditengahi oleh Israel, daerah ini mesti damai. Maka Roma memberikan peringatan jangan ada hukuman mati. Tetapi orang-orang tetap mengancam “siapa pun yang menghina Bait Suci akan dimatikan, caranya apa akan kami cari, pokoknya orang itu harus mati”. Dan Yesus menyindir 2 hal, yang pertama Sabat, yang kedua Bait Suci. Dua-duanya sangat dibenci oleh orang Israel kalau ada yang menghina dua hal ini.

Penghinaan Bait Suci dan kepada Sabat selalu berujung pada kematian. Dan Yesus melakukan keduanya. Dia yang membiarkan murid-muridNya makan gandum pada hari Sabat, Dia yang menyuruh orang lumpuh mengangkat tilam waktu sembuh, juga di hari Sabat. Itu benar-benar konflik dengan perintah orang Yahudi. Orang Yahudi mengatakan “di hari Sabat jangan mengangkat tempat tidur”. Tapi setelah Yesus menyembuhkan orang lumpuh, Dia mengatakan “angkat tilammu”, dan orang itu taat, tidak peduli apa-apa, pokoknya disuruh angkat maka diangkat. Dan akhirnya dia langsung dikepung oleh orang Yahudi. Bahasa yang dipakai menurut tafsiran Krey Kinnear, orang yang mengangkat tilam itu bukan bertemu dengan orang Yahudi tapi dikepung oleh orang Yahudi. Dia mengangkat tilam di hari Sabat, tiba-tiba petinggi agama sudah mengepungnya. Dan Saudara bisa bayangkan berapa takutnya dia dikepung. Mereka dengan intimidasi dan ancaman siap untuk menghakimi orang ini, “mengapa kamu mengangkat tilammu di hari Sabat? Tidak tahukah kamu bahwa ini berujung pada hukuman dan mungkin kematian”, dan dia harus bela diri, dia memutuskan untuk menjual Penyelamatnya “yang menyuruh itu orang yang selamatkan saya, yang membuat kaki saya sembuh, Dialah yang harus kamu bunuh”, orang ini jahat. Akhirnya Yesus kena sama orang ini, dan ketika orang ini bertemu dengan Yesus lagi, Yesus mengingatkan “jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu tidak ada hukuman yang lebih berat”. Setelah dia mendengar Yesus berbicara seperti itu, langsung dia kembali ke orang Yahudi dan mengatakan “orang itu yang menyuruh saya mengangkat tilam”, ini yang terjadi. Bagi orang Yahudi, sindiran terhadap Sabat dan Bait Suci hukumannya mati. Kalau Saudara khotbah ini di Yerusalem, “Bait Suci akan hancur”, kira-kira orang Yahudi reaksinya bagaimana? Mereka akan mengatakan “untungnya Bait Suci belum dibangun”. Tapi bagi orang Yahudi di abad pertama, siapa yang berani bilang hancurkan Yerusalem, dia harus dibunuh. Tapi Yesus melakukan apa yang juga dilakukan Yeremia, Yeremia melakukan hal yang sama, Bait Suci akan hancur dan orang Yahudi mau bunuh Yeremia. “Kami akan matikan kamu”, Yeremia takut sekali dan Tuhan menyelamatkan dia. Sehingga Tuhan memberikan belas kasihan kepada orang-orang pemimpin yang masih mau menyelamatkan dia, “jangan bunuh, kurung saja”, akhirnya Yeremia ditaruh di dalam sumur, ini keadaan yang harus ditanggung Yeremia.

Yerusalem harus hancur, karena Tuhan ingin menyatakan ketika Kerajaan Tuhan datang seluruh kemegahan manusia akan diganti dengan kemuliaan salib. Kemuliaan salib yang akan menyatakan Kerajaan Allah, bukan kemegahan manusia, bukan kehebatan kita untuk mencari kedamaian. Maka Yesus mengingatkan “kalau kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara”, yaitu tentara-tentara dari Jenderal Titus, “ketahuilah bahwa keruntuhannya sudah dekat”. Pada waktu itu orang-orang di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan. Di Yudea daerah lebih besar, di sana bukan untuk membela Yerusalem dengan perang berjihad di situ, bukan perang bela agama, tapi kamu harus lari dari Yudea. Kalimat ini sangat tidak nasionalis, mengapa Yesus menyuruh orang kabur di tengah-tengah perang? Mengapa tidak suruh orang-orang berperang dengan berani? Tapi Yesus mengatakan “pergi dari Yudea ke pegunungan”. Dan orang di dalam kota harus mengungsi, yang berada di dalam pedesaan jangan masuk ke kota itu, jangan bela Yerusalem, itu intinya. Orang khotbah seperti itu, kalau bocor ke orang Farisi, matilah dia. Ada orang menyuruh bukan untuk berperang tapi malah lari, kenapa? Ayat 22, ini sangat mengagetkan, dikatakan “sebab itulah masa pembalasan dimana akan genap semua yang ada tertulis”. Yesus mengatakan Yerusalem sudah ditarget oleh Allah. Yerusalem jadi targetnya Tuhan karena kesombongan yang mereka buat dan karena kekerasan hati mereka. Mereka tetap tidak mau bertobat, mereka tolak Mesias, mereka bunuh rasul-rasul dan akhirnya mereka harus dimatikan. Stefanus mati di Yerusalem, sebelumnya Yesus mati di Yerusalem. Rasul pertama yang dipenggal, dipenggal di Yerusalem. Orang dimatikan di Yerusalem karena mengikuti Yesus. Maka Tuhan sangat marah terhadap kota ini, dan Tuhan sudah menargetkan kota ini akan hancur, kesudahannya sama pastinya dengan kesudahan dari Sodom dan Gomora. Yesus sedang mengingatkan Yerusalem akan dihancurkan oleh Tuhan, siapa yang tidak mau jadi musuh Tuhan, jangan tinggal di sini. Dan ada exodus besar-besaran dari orang Kristen, kira-kira tahun 50-70, orang Kristen terus rombongan keluar dari Yerusalem, entah karena penganiayaan atau karena perkataan Yesus ini. Mereka mulai meninggalkan Yerusalem dan kubu utama Kekristenan tidak lagi di Kota Yerusalem. Awalnya para rasul memulai pelayanan dengan berpusat di Yerusalem, setelah itu pusat dari gereja mulai pindah ke beberapa tempat. Yang pertama pindah ke Alexandria, kemudian juga ke Anthiokia yang ada di Siria. Tidak lama kemudian pindah ke Asia Minor. Kemudian kekuatan Asia Minor mulai diimbangi oleh Roma sebagai pusat Kekristenan. Dan dua pusat inilah yang menjadi besar sampai abad pertengahan, sehingga kita tahu ada gereja barat dan gereja timur.

Yerusalem sudah mulai dilupakan oleh Tuhan dan Tuhan berniat untuk menghakimi kota ini karena kesombongan dan kejahatannya. Oleh sebab itu Yesus mengingatkan hati-hati penghakiman Tuhan akan datang kapan pun, maka kamu harus waspada, dengar perkataan Tuhan. Dan di dalam bagian ini Yesus bahkan membalikan semua berkat menjadi kutuk “celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau menyusui bayi”, karena orang umumnya akan mengatakan “kalau kamu tinggal di Yerusalem ketika Yerusalem akan dipulihkan, berbahagialah kamu kalau kamu beranak cucu di situ”. Ketika Yerusalem baru dibangun, orang terus mendorong “ayo pindahkan keluargamu ke Yerusalem”, dari Babel pulang ke Yerusalem, beranak-cuculah dan bertambah banyak di daerah Yerusalem. Tapi Yesus mengatakan “celakalah kamu kalau justru menganggap bahwa mempunyai anak adalah bahagia besar pada waktu itu”. Jadi Yesus tidak mengatakan “celakalah kalau punya anak”, jangan salah tafsir di sini. “Pak, untung saya tidak punya anak, jadi saya sedang diberkati Tuhan”, tidak. Yesus sedang menyatakan pada waktu yang spesifik, kepada orang-orang di Yerusalem, jangan bangga kalau memenuhi Yerusalem dengan keturunannya, karena kota ini akan dihancurkan. Ayat 24 “mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa”, dan kalimat ini ditutup dengan perkataan “Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah bangsa-bangsa itu. Bangsa-bangsa lain akan menghancurkan Yerusalem, inilah monumenmu, inilah kebanggaanmu. Ketika kebanggaanmu membuatmu tidak peka kepada Tuhan dan tidak mengasihi Tuhan lagi, monumenmu akan berakhir tragis, ini inti pesan yang Tuhan mau bagikan.

Maka refleksi bagi kita sekarang, kita mesti bertanya monumen apa yang menghalangi kita mengharapkan Tuhan datang? Adakah hal yang akan Saudara katakan “Tuhan, jangan datang dulu”, “kalau Tuhan datang besok bagaimana?”, “rugi. Apa kebanggaan yang kita pegang lebih dari pengharapan akan Tuhan datang? Apa hal yang membuat kita mengatakan “sayang Tuhan datang. Saya sudah mau lakukan ini, sayang sekali Tuhan segera datang. Saya baru membuat rumah, mengapa Tuhan datang? Saya baru beli mobil, mengapa Tuhan datang?”. Hal-hal seperti ini membuat kita menantikan Tuhan dengan derajat yang kurang, dan itu yang Tuhan akan hancurkan. Kedua, kebanggaan apa yang kita mau bangun sehingga orang akan ingat ada saya yang pernah hidup. “Saya pernah hidup dan inilah yang saya lakukan”. Orang Israel membuat monumen untuk membanggakan diri, bukan sebagai tanggung jawab kepada Tuhan. Mari pikirkan hal yang sama, Saudara membangun usahakah, membangun karier atau apa pun dengan satu misi ini milik Tuhan dan untuk Tuhan, bukan untuk memperlihatkan berapa hebatnya saya. “Lihat berapa hebatnya bisnis yang saya kembangkan, supaya orang kenal Jimmy Pardede”, pada waktu itu perkataan seperti runtuhnya Yerusalem harus kita ingat. Hati-hati, Tuhan sangat kuat untuk menghancurkan kebanggaan yang membuat kita menghina Tuhan. Maka apa pun yang kita bangun, kita bangun untuk Tuhan. Dan apa pun yang kita bangun bukan untuk Tuhan, siap-siap dihancurkan oleh Tuhan. Inilah yang harus kita ingat, monumen adalah sesuatu yang akan Tuhan hina, karena Tuhan mendirikan kerajaanNya via salib, lewat jalan salib, bukan lewat jalan kemegahan. Yesus mendirikan kerajaan yang tidak bisa dibungkam oleh maut, melalui jalan salib, melalui jalan ketaatan. Mari belajar memahami apa yang Luther bagikan, yaitu teologi salib dan tanggung jawab kepada Tuhan. Kalau dua ini kita kerjakan dan dalam hidup kita jalankan, kita akan bahagia sekali. Karena teologia salib menegaskan “saya tidak mau bangun apa pun untuk kemegahan saya”. Dan pertanggung-jawaban iman menjelaskan saya harus kerja mati-matian untuk Tuhan karena ini adalah kepercayaan yang Tuhan berikan. Silahkan membuat bisnis Saudara besar, silahkan membuat karier Saudara maju sebaik mungkin, silahkan membuat karier Saudara terlihat indah dan baik karena tanggung jawab, bukan karena ingin mendirikan monumen. Tapi begitu motivasi beralih, “saya mau dirikan monumen untuk kemegahan saya”, pada waktu itu Tuhan akan melawan segala hal yang kita bangun untuk menghancurkan ketaatan kepada Tuhan dan untuk membesarkan kebanggaan diri. Ini yang diingatkan pada bagian ini. Mari runtuhkan legacy yang memutlakan dan yang menegakan nama diri, tapi mari tegakan legacy dari salib Kristus dan menyatakan ini sebagai identitas yang mau kita bangun dan harus dibangun oleh gereja Tuhan sepanjang masa. Kiranya berita akhir zaman ini menguatkan kita dan kita dibimbing terus untuk bersiap-siap, berjaga-jaga di dalam menantikan hari Tuhan.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)