Anda disini : Home » Reformed Theology » Surat Efesus » Efesus 6
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Efesus 6

Pdt. Agus Marjanto. M. Th.

Tema Pertama Surat Korintus

Kita sampai kepada akhir dari seluruh kisah yang ditulis oleh Paulus kepada seluruh jemaat di Efesus. Setelah pada bagian-bagian sebelumnya disampaikan apa yang harus Gereja lakukan adalah berjalan, yakni berjalan dalam kesatuan, berjalan dalam kesucian, berjalan dalam kasih, berjalan dalam terang, berjalan dalam hikmat bijaksana, dan berjalan dalam ketaatan Maka hal terakhir yang Paulus sampaikan adalah sekarang berjalanlah dalam kesiapan perang. Ketika Paulus menyatakan ‘berjalan dalam perang’, ia tidak mengggunakan kata-kata ini di pasal-pasal sebelumnya. Terlihat dengan jelas bahwa Paulus ingin membereskan hal-hal internal lebih dahulu di dalam Gereja, di dalam keluarga Kristen, dan di dalam pribadi Kristen. Ia membereskan dulu mengenai kesatuan, kehidupan suci, saling mengasihi, hidup saling terbuka di dalam hikmat dan ketaatan. Itu tidak berarti harus semuanya beres dan sempurna, baru kita boleh berperang. Tidak seperti itu. Tapi Paulus ingin mengatakan bahwa kamu harus sadar bahwa hidupmu ada di medan perang, maka kesadaran itu membuat engkau mau tidak mau harus bertempur, dan membereskan hal-hal internal terlebih dahulu. Jika tidak dibereskan terlebih dahulu, kamu pasti kalah. Banyak orang mau melayani. Itu tidak salah dan itu memang menjadi panggilan kita untuk melayani. Tetapi ketika pelayanan itu ada pada kita, kita harus senantiasa mengukur pelayanan yang kita ambil itu dengan progress internal hidup kita dihadapan Allah dan manusia. Jika tidak seperti itu kita akan mudah dijatuhkan di depan. Ketika Kristus pertama kali memanggil murid-muridnya, Ia tidak mengatakan. “ Ayo, semua murid-murid, engkau akan kujadikan penjala manusia..”, tetapi Ia mengatakan, “ Petrus ikutlah Aku. Aku akan menjadikan engkau penjala manusia.” Ketika berbicara tentang ‘Ikutlah Aku’, itu adalah berbicara tentang pemuridan dan pembentukkan. Kita seringkali hanya ingin melayani, namun kita tidak ingin dibentuk. Kita ingin membereskan yang diluar tapi yang di dalamnya kita rapuh.Kita harus ingat bahwa dari doktrin ortodoksi menjadi ortopraksi. Dari yang internal menjadi sesuatu yg bersifat eksternal keluar. Jikalau ini terbalik maka kita akan mudah dijatuhkan musuh. Selanjutnya, di dalam ayat ke-10 hingga ke-20, ini berbicara mengenai peperangan. Tema ini adalah tema yg besar. Tema ini sendiri adalah tema yg disebutkan oleh Allah sendiri, oleh Bapa, di dalam kejadian pasal yg ke-3, ketika kejatuhan manusia di dalam dosa, kalimat Allah adalah kalimat nubuatan tentang perang. Jangan pernah berpikir ada kedamaian di tengah-tengah dunia. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, maka hal yang langsung mengikutinya adalah perang. “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya..” Ayat itu mau bicara mengenai gereja yang akan mengalami sesuatu yg menyakitkan dari peperangan ini tetapi tidak akan mematikan, sebaliknya gereja dibawah pimpinan Kristus akan menghancurkan iblis beserta seluruh pekerjaannya, tepat diatas kepalanya. Bahkan tema perang ini adalah tema yang mendominasi di dalam Alkitab. Kita harus mengerti bahwa akhir dari seluruh hidup kita akan diakhiri oleh kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali bersama dengan puluhan ribu tentaranya, dan akan terjadi perang yang besar sebelum menutup daripada kiamat itu. Dan jika kita lihat ditengah-tengah itu, dari Yesus Kristus, Yohanes pembaptis, hingga seluruh rasul-rasul, mereka semua adalah orang yang berperang. Meskipun berbeda dengan perjanjian lama, karena perang di dalam perjanjian baru adalah perang secara rohani, tetapi tetap implikasinya adalah kematian secara fisik. Fox’s book of Martyrs mengatakan bahwa, “ Faith is life and death issue..” Iman menyangkut issue hidup dan mati. Ada peperangan yang sengit terjadi di dalamnya. Maka Paulus mengatakan bahwa Gereja harus tahu, Gereja harus kuat di dalam kuat kuasa-Nya, karena kita akan berjuang, akan ada peperangan melawan darah dan daging. Untuk apakah perang itu? Mengapa Gereja harus berperang? Kita lihat pada ayat yang ke-19, “juga untuk aku (kerinduan Paulus untuk didoakan), supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil..”. Perang diperlukan untuk menyatakan ‘mystery of the gospel’.

Di dalam Pasal 3 ayat 3, misteri Injil ini diproklamirkan di depan penguasa kerajaan kegelapan. Misteri ini berkenaan tentang The Lordship of Christ. Itu adalah inti daripada Injil. Karena di dalam Kristus, di dalam penguasaan-Nya, kita dikuasai oleh Allah Tritunggal. Allah berkehendak untuk menaklukan kita dan menguasai kita di dalam Kristus. Maka jikalau kita mengerti hal ini, kita pun harus mengerti bahwa di dalam Kristus akan muncul 2 dari sifat injil. Sifat Injil yang pertama adalah Injil selalu bersifat eksklusif. Eksklusif adalah suatu kebenaran pada kelompok ini saja. Ini berarti yang diluar ini adalah sesuatu yg tidak benar. Injil secara proposisi dan definisi harus eksklusif karena Injil adalah kebenaran. Maka ketika berbicara tentang Injil, sampai akhirnya, ini adalah sesuatu yang sifatnya tidak mungkin bisa diduakan dan mau tidak mau hanya satu, ini saja. Sifat yang kedua daripada Injil adalah sifat perang, karena injil menentang kedaulatan manusia. Di dalam seluruh aspek dan kalimatnya, Yesus Kristus dan Firman Tuhan akan berusaha ‘menaklukan’ umat-Nya, karena sebenarnya Gereja adalah sekumpulan orang-orang yang mengikuti Yesus Kristus sebagai kepala, dan sebagai Kepala, Yesus Kristus sudah berkata “jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki..”. Jika itu adalah kalimat daripada pemimpin gereja, kepala, dan tuan kita maka seluruh gereja akan bersuara yang sama. “Thy will be done..” Kita tahu bahwa ini bukanlah hal yang mudah, kadang dengan air mata dan kegalauan, kadang dengan hati yang pedih, namun seseorang yang telah dilahirbarukan akan mengerti bahwa kita memiliki satu nilai tertinggi, yaitu Allah dan kehendak-Nya. Maka ketika seluruh murid Yesus bertanya, “ Apa yang harus kami doakan ? “ Yesus berkata, “ Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu. Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu, di atas bumi seperti di dalam surga. “ Datanglah pemerintahan-Mu. Pemerintahan Allah itu datang melalui kehendak Allah yang jadi. Yohanes 14:6 “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Ini berarti segala sesuatu yg diluar Dia adalah kesesatan, kebohongan, dan kematian. Kita tidak bisa mengatakan, ‘banyak jalan menuju ke Roma’. Kita memilih Kristus atau tidak sama sekali. Sifat ini akan selalu menghasilkan perang. Kita juga harus bisa melihat, bahkan ketika saat teduh, ketika kita mendengarkan kotbah seperti ini atau kotbah hari minggu, jangan pikir itu kotbah biasa. Itu menuntut respon kita. Respon ketertundukan kepada Allah. Injil pada dasaranya, sifatnya adalah perang, tidak bisa tidak.

Pada Efesus 6:10-20, kita akan mendapatkan kunci bagaimana kita bisa menang dalam peperangan rohani ini, baik ketika kita sedang menampilkan diri sebagai orang Kristen atau ketika kita sedang berbicara secara verbal tentang Kristus. Maka kunci kemenangan perang, terdapat dalam tiga bagian besar disini. Pertama, Paulus menyatakan bahwa hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasanya. Setan akan berusaha untuk membuat apa saja agar kita bisa dijatuhkan oleh Dia. Maka hal yang pertama adalah kita harus bersandar sepenuhnya kepada Allah Tritunggal. Ayat-ayat ini, adalah ayat yang luar biasa penting karena Allah Tritunggal muncul bersama-sama, dan itu jarang. Mari lihat Pada ayat ke-10, ‘hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan..’ Itu berbicara mengenai Kristus. Pada ayat ke-11, ‘Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah’. Ini bicara mengenai Allah. Setiap kata ‘Allah’, kita menafsirkannya dengan Bapa. Lalu pada ayat ke-18, ‘dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh”. Roh Kudus muncul. Bapa, Anak, dan Roh Kudus, muncul di dalam satu perikop ini, Ini adalah kunci yang pertama. Bersandar kepada Allah Tirtuggal. Seberapa banyak dari kita yang sadar bahwa kita tidak bisa apa-apa dan kita tidak mampu? Ucapan berbahagia pada Kotbah di bukit dalam kitab Matius, diawali dengan, “ Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan sorga.” Itu bukan hanya kunci keselamatan, tetapi kunci kemenangan peperangan rohani. Seluruh peperangan di dalam Perjanjian Lama, itu adalah peperangannya Tuhan. Peperangan Tuhan itu berarti engkau, setiap nabi, harus bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, bersandar kepada Tuhan. Sama halnya dengan disini. Bersandarlah kepada Allah Tirtunggal. Pada saat kita berkata ‘saya mampu’, disitu kejatuhan terjadi. Hal yang paling sederhana yang Tuhan bukakan kepada kita di dalam Yosua, adalah ketika ia menggempur kota Yerikho dan Ai. Yerikho adalah kota yang besar dan dikatakan tidak pernah terkalahkan, merupakan jajaran kota terkuat di Kanaan. Karena Tuhan memimpin dan Yosua mau kait terhadap cara dan rencana Allah, bukan kepada pikirannya sendiri, tetapi sungguh-sungguh sadar bahwa ia tidak mampu dengan kekuatannya sendiri, dan ketika disuru putar-putar ia mau taat, karena ini adalah peperangan Tuhan. Maka seluruh pasukan Israel bisa mengalahkan Yerikho. Namun ketika di Ai, Yosua pikir ia telah memiliki pengalaman, tidak perlu lagi bergantung keada Firman Allah, tidak perlu lagi bertanya dan mencari wajah Allah, untuk menggempur Ai. Ai artinya adalah reruntuhan, dan penduduk disana memiliki rasa minder. Nama kota nya saja sudah ‘reruntuhan’, tapi menghadapi sesuatu yang demikian kecil, tentara Allah tidak pernah menang. Terhadap tantangan dan dosa sekecil apapun, jangan pikir engkau bisa menang kecuali kita sepenuhnya bergantung kepada Allah Tritunggal. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah dan jadilah kamu di dalam Tuhan, dan berdoalah setiap waktu di dalam Roh. Kunci menang perang, engkau harus bersandar sepenuhnya kepada Allah Tritunggal.

Kunci menang perang yang kedua adalah di dalam area ini secara khusus, dari ayat 11-18, maka Paulus menyatakan perlengkapan senjata Allah. Bukan satu, tetapi seluruh perlengkapan senjata Allah. The whole armor of God. Kita harus melihatnya satu persatu. Ayat 14, “ Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbaju zirahkan keadilan,” Berdiri tegap disini berarti memiliki kesiapan berperang. Setiap orang yang mau berperang harus sadar bahwa ini sedang di dalam peperangan. Salah satu masalah di dalam kekristenan adalah kita berpikir sekarang ini kita sedang berada di dalam liburan, sehingga akhirnya setan akan menjatuhkan kita dalam berbagai aspek. Kita itu jatuh dengan kerikil yang tajam, dengan hal-hal kecil yang kita tidak perhatikan, itu yang membuat kita jatuh.

Berikat pinggangkan kebenaran, Belt of truth. Apakah kita hidupnya sudah dibenarkan oleh Kristus? Apakah sungguh-sungguh kita mengalami justification itu? Apakah kebenaran itu ada didalam hidup kita? Kristus membenarkan kita. Apakah kita sungguh-sungguh mengalami apa yang Tuhan perbuat di dalam Kristus bagi kita?

Baju zirah keadilan. Dalam bahasa aslinya ‘Righteousness’, kebenaran. Keadilan dan kebenaran di dalam Alkitab biasanya membicarakan tentang kehidupan moral dan etika. Kita musti ingat bahwa kehidupan kita adalah kehidupan berperang. Setan akan menggunakan apa saja untuk menjatuhkan kita, termasuk dengan hal-hal remeh yang seringkali tidak kita perhatikan. Ketika kita masuk ke dalam Gereja, apakah kita memperhatikan bagaimana kita hidup? Musuh akan mengincar kita, memperhatikan kita diam-diam, membiarkan hal-hal moral etika yang tidak kita perhatikan menumpuk, hingga pada waktunya dimana ketika kita berada di dalam puncak pelayanan, itu akan dimunculkan oleh setan, maka jatuh dan hancurlah seluruh pelayanan kita.

Ayat 15, “kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera” Ini mengenai sepatu yang memiliki kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera. Apakah sungguh-sugguh hidup kita rela dipakai untuk memberitakan Injil? Berdoa kepada Tuhan, di mana Saudara harus tinggal, di mana harus bekerja. Mungkin Tuhan menginginkan Saudara pindah dari kota tempat anda tinggal atau perusahaan. Mengapa kita tidak mau pindah? Karena kita merasa nyaman disini. Kita tidak rela, dan kita tidak mau diutus oleh Tuhan. Banyak dari kita tidak melayani di tempat dimana Tuhan tidak tetapkan. Saudara harus mengambil suatu keputusan, berani berjalan ditempat yang Tuhan tuju. Ketika saya di Cape Town, ada satu kalimat yang begitu menusuk saya. Ada satu penginjil di depan 4200 misionaris lain yang nantinya kan kembali ke negara masing-masing, di situ kami sedang berdoa untuk negara-negara yang sulit dan menganiyaya kekristenan, lalu dia mengucapkan satu hal ini, “ Sebenarnya tidak ada satu tempat pun di dunia ini yang tertutup untuk Injil, yang ada sebenarnya adalah kita tidak rela untuk masuk. “
Itu kalimat yang sangat besar. Hal yang paling sederhana saja, seperti PI ke rumah sakit, itu hanya membutuhkan waktu yang sedikit, kita seringkali tidak rela untuk keluar sebentar dari rumah atau berhenti sebentar dari kesibukkan.

Ayat 16, “dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat. Perisai iman. Ini adalah suatu tameng yang besar dan menjadi perisai untuk mematahkan setiap panah api dari si jahat, segala tuduhan-tuduhan yang akan mematikan kita. Iman itu muncul dari pendengaran akan Firman. Ketika kita mendengarkan Firman, lalu Firman itu kita cerna, maka dengan sendirinya iman kita akan bertambah kuat. Saudara tak mungkin akan membentuk sebuah perisai iman tanpa membaca Firman. Bagaimana dengan pembacaan Firman saudara secara pribadi? Apakah ada pembacaan Firman Tuhan setiap hari yang terstruktur sehingga semakin hari iman Saudara akan semakin kuat? Saudara seringkali bertanya, ‘mengapa ya orang itu kuat? Kok orang itu dipakai Tuhan ya? Kok orang itu cinta Tuhan ya?’ Ketika saudara bertanya demikian, lihatlah apakah yang Saudara kerjakan dirumah setiap hari? Tidak ada anak emas di dalam kerajaan Allah. Yang ada, setiap dari kita diminta untuk bertumbuh. Ketika saudara melihat orang yang seperti itu, ingatlah kuncinya adalah bergumul bersama Allah di dalam Firman setiap hari.

Ayat 17, “dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah” Sekali lagi ini berbicara mengenai keselamatan. Keselamatan yang dari tangan Tuhan. Apa bedanya dengan belt of truth? Di dalam belt of truth, kita itu bertumbuh di dalam kebenaran Kristus, sedangkan ketopong kesalamatan adalah keselamatan yang kita terima di dalam Kristus.

Yang terakhir ada pedang roh, yaitu Firman Tuhan. Yesus pun ketika dicobai oleh setan, maka apa yang dilakukan oleh-Nya adalah Ia menyatakan Firman, Ia mengutip Firman, Ia menyatakan prinsip-prinsip Firman kepada setan. Berikatpinggangkan kebenaran, berbajuzirahkan keadilan, berkasutkan kerelaan, perisai iman, dan ketopong keselamatan. 5 perlengkapan senjata Allah ini adalah sifatnya defensif. Hanya satu perlengkapan yang sifatnya adalah ofensif, yaitu pedang roh, untuk menaklukan musuh, kita memerlukan Firman Allah. Untuk menghancurkan musuh kita perlu mengerti Firman Allah. Maka biarlah kita boleh memperdalam hidup kita dengan mengecap dan mengerti Firman itu. Firman itu menjadi makanan kita setiap hari. Kalau Firman itu tidak kuat, kita hanya bisa bertahan, tapi kita tidak mungkin maju di dalam peperangan rohani.

Kunci yang ketiga untuk menang di dalam peperangan rohani adalah mengenai 2 semangat yang harus kita punya. Kita melihatnya pada ayat 18-19. Semangat pertama yang harus kita punya adalah tekun. Bagaimana kita bisa belajar ketekunan adalah melalui berdoa. Salah satu hal yang kurang dalam generasi sekarang adalah sifat tekun. Seseorang mungkin pintar, tapi tidak tekun. Alkitab mengajarkan bagaimana kita bisa tekun, memiliki jiwa yang tekun, tekun iman, tekun hidup adalah mulai dengan belajar ketekunan di dalam doa. Dan tentu ini tidak berarti kita musti tekun dengan kekuatan sendiri, karena bagimanapun ini adalah pekerjaan Allah Tritunggal di dalam hidup kita, khususnya di dalam doa agar akhirnya kita bisa bertekun. Ketekunan itu penting, Alkitab mengatakan siapa yang bertahan sampai akhirnya, dia yang akan diselamatkan. Berarti yang diselamatkan adalah yg tekun. Apakah ini berarti kita jadi seperti Arminian? Berusaha untuk tekun supaya bisa selamat, berarti kita diselamatkan dengan pekerjaan kita sendiri. Itu adalah pengertian yang salah. Pengertian yang sesungguhnya adalah, jikalau kita adalah orang Kristen yang sejati, maka Roh Kudus akan bekerja dalam diri kita, Dia akan menumbuhkan hal-hal yang ada di dalam Firman Tuhan, dan Ia akan menghantar kita sampai tekun. Tetapi kita harus merespon untuk mau dididik tekun. Di dalam TULIP, T adalah Total Depravity, dan P adalah Perserverance of the saints. Kita lihat disini, berarti mulai dari sinner, hingga menjadi ‘saint‘ yang bertekun. Itu merupakan pekerjaan Allah Tritunggal. Allah Bapa-Unconditional Election, Allah Anak-Limited atonement, dan Allah Roh Kudus-Irresistible grace. Maka, jika kita bisa bertekun itu adalah pekerjaan Allah Tritunggal di dalam hidup kita, namun kita musti melatihnya, dan arena yang Tuhan pakai untuk kita berlatih adalah doa. Maka dari itu doa penting sekali. Calvin menyatakan bahwa doa yang terus menerus adalah latihan tertinggi dari iman. Hal yang kedua, di dalam tekun, ketekunan itu membuat kita menang. Di dalam peperangan ini atau di dalam perlombaan kristiani, prinsipnya adalah bukan siapa tercepat, tetapi siapa yang tekun sampai finish. Charles Spurgeon mengatakan, “ Karena anugerah Allah, maka siput itu sampai ke bahtera Nuh.” Pada ayat ke 19, Paulus pun mengingatkan ‘ jangan lupa berdoa untuk aku”, ini dimaksudkan agar kita juga tidak lupa untuk mendoakan hamba-hamba Tuhan. Paulus pun minta didoakan dengan tekun, karena paulus tahu ini adalah peperangan yang sengit. Semangat yang kedua ketika setiap umat Allah berperang adalah terus maju dan tidak boleh mundur. Ketika Paulus menuliskan ini dia sedang menggambarkan baju perang tentara Romawi. Ada helm, baju sirah, ikat pinggang, kasut, dan pedang. Seluruhnya itu perlengkapan untuk melindungi yang di depan, sedangkan yg di belakangnya dibiarkan kosong. Di belakang tidak ada perlengkapannya. Pemerintah Romawi ingin menekankan satu hal, bahwa ketika berperang engkau harus maju, tidak boleh mundur. Begitu mundur langsung mati. Sekali maju harus selesaikan, tidak boleh mundur. Allah menyatakan pada umatNya ‘engkau maju perang’, satu-satunya yg membuat kalah adalah ketika umatNya tersebut mundur sebelum perang selesai. Kita musti tekun, musti maju, tidak boleh mundur, ketika ini ada, maka Alkitab menyatakan kita lebih dari seorang pemenang. Pada ayat 13, dikatakan ‘Tetap berdiri’, bukan duduk. Ini berarti kita masih punya tenaga sisa. Perang terus-menerus akan membuat kita lelah dan lemas. Tetapi ini tidak, walaupun perang besar, tapi kita harus tetap berdiri, maka dikatakan kita akan lebih dari seorang pemenang.

Paulus mengakhiri kitab ini dengan mengajak kita menyadari bahwa engkau sudah ditebus, mendapatkan cosmic drama, perubahan dalam hidup, masuk dalam Gereja, harus berjalan dalam apa, dan harus sadar ini bukan zaman untuk damai, ini zaman untuk berperang. Bersiap-siaplah sebagai orang-orang yang berperang dihadapan Allah. Bertekunlah, maju terus sampai akhir. Karena kemenangan orang kristiani, bukan siapa tercepat, tetapi bagi siapa yang tekun sampai finish. Kita tidak dipanggil untuk harus menjadi pertama, tapi kita dipangil untuk meyelesaikan seluruh pertandingan kita. Dalam sebuah olimpiade di Barcelona beberapa tahun yang lalu, John Steven Acquary, ia adalah seorang atlet maraton dari Afrika. Di dalam perlombaan maraton itu ia terjatuh dan kakinya terluka dan berdarah, sehingga ia kesakitan dan harus terpincang-pincang. Namun ia tetap berusaha untuk menyelesaikan maraton tersebut hingga selesai. Ketika dia ditanya mengapa ia mau menyelasikan perlombaan tersebut, karena bisa saja dia untuk menyerah. Saat itu John Steven menjawab,“ Negaraku tidak mengirimku jauh-jauh 5000 mil untuk memulai pertandingan, tetapi negaraku mengutus aku untuk menyelasikan pertandingan ini.” Kita adalah orang-orang yang ditetapkan oleh Allah di dalam kekekalan, kita tidak diciptakan dan tidak dikirim jauh-jauh ke dunia ini untuk memulai pertandingan, tetapi kita dipimpin oleh Tuhan untuk menyelesaikannya. Bukan untuk menjadi yang tercepat, tapi yang bertekun hingga selesai. Kita harus sadar bahwa kita harus menggenapkan kehendak Allah sampai akhir, maka rencana keselamatan Allah di dalam kekekalan menjadi sesuatu yang nyata ditengah-tengah dunia, di dalam cosmic drama dan diselesaikan oleh kita di dalam ketekunan. Kiranya namaNya dipermuliakan di dalam hidup kita yang hanya satu kali saja ini.