Anda disini : Home » Reformed Theology » Surat Efesus » Efesus 4
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Efesus 4

Pdt. Agus Marjanto, M.Th.

PA Efesus 4

Pada pasal 4 Paulus mengarahakan pembahasannya dari Gereja kepada individu. Di sini Saudara harus memperhatikan alur yang Paulus berikan, mulai dari kairos yaitu pekerjaan Allah Tritunggal di dalam kekekalan menjadi sesuatu pekerjaan yang nyata di dalam sejarah yang dinyatakan di dalam Gereja dan sekarang masuk ke dalam setiap individu. Dalam pasal 4 & 5, Saudara akan menyadari bahwa Theology sekarang menjadi aplikasi. Truth menjadi obedience, orthodoxy menjadi orthopraxy. Kenyataan yang kekal menjadi kehidupan sehari-hari dalam jemaat. Tidak ada aktivitas kita di dalam dunia ini yang bukan merupakan respon kepada pekerjaan Allah di dalam kekekalan. Seluruh daripada respon kristiani di dalam kehidupan sehari-hari, semua itu sebenarnya adalah respon kepada pekerjaan Allah Tritunggal di dalam kekekalan. Di dalam ayat pertama dikatakan bahwa Paulus menasehatkan, di dalam bahasa aslinya adalah mendesak. Di sini Paulus ini mendesak agar jemaat Efesus dapat berjalan sesuai dengan identitas dan panggilan. Setiap kita harus berjalan berpadanan dengan panggilan dan identitas kita. Hidup sesuai dengan identitas orang-orang yang di sekitar kita yang sudah mengalami pekerjaan Allah Tritunggal. Maka kita harus mengerti di dalam area ini, bahwa dosa membawa kepada kita suatu efek yaitu disintegrate atau perpecahan. Apa yang kita tampilkan di luar berbeda dengan apa yang ada di dalam. Apa yang kita kerjakan seringkali berbeda dengan tujuan dari diri kita diciptakan. Apa yang menjadi tujuan hidup kita berbeda sekali dengan apa yang menjadi maksud Allah. Dalam Yesaya 6, Saudara akan mendapatkan kisah pemanggilan Yesaya. Di saat Yesaya berjumpa dengan Allah, ia mengatakan bahwa dirinya celaka karena ia najis, padahal kalau kita selidiki Yesaya adalah orang yang paling suci pada zamannya. Begitu juga dengan nabi yang paling tidak taat yaitu Yunus, padahal nama Yunus berarti adalah burung merpati yang merupakan binatang yang sangat taat. Dan ini mau mengatakan bahwa orang yang penurut pun waktu berjumpa dengan kehendak Tuhan akan setengah mati, ia akan lari. Yesaya pun bereaksi serupa di mana ia yang adalah orang paling suci pada zamannya, sewaktu berjumpa Allah berkata “celakalah aku”. Kata celaka disini seperti sebuah gelas yang jatuh dan pecah hingga berkeping-keping ke segala arah atau disintegrate. Paulus ingin menyatakan bahwa kita sudah memiliki Kristus, pekerjaan yang besar yang dilakukan Allah Tritunggal ada di dalam hidup kita. Maka kita harus berjalan berpadanan dengan hal tersebut, jangan lagi hidup terpecah tetapi berjalan sesuai identitas. Identitas kita apa? Identitas kita adalah seorang yang sudah diberi hikmat Allah yang besar itu, yang tersembunyi berabad-abad sebelumnya dan sekarang terjadi di dalam hidup kita. Bukan hanya sekedar kita diberi tetapi pekerjaan Allah Tritunggal ini terus bekerja di dalam hidup kita hingga akhir zaman. Banyak orang Kristen yang gagal dalam area ini. Ini adalah suatu progressive sanctification. Jadi pekerjaan Allah Tritunggal di dalam keselamatan adalah justification. Tetapi respon kita adalah progressive sanctification yaitu hidup dalam ketaatan dan banyak orang Kristen yang gagal dalam area ini karena mereka tidak mau taat. Dan kalau kita tidak taat, maka dunia akan mempermalukan Allah karena mereka melihat kita bobrok. Banyak orang itu tidak berjalan sesuai dengan panggilannya. Banyak orang itu munafik, penipu, bahkan hamba Tuhan pun banyak yang demikian. Kita harus membereskan hal ini. Dalam Efesus pasal 4, Tuhan menghendaki agar kita meminta kepada-Nya, kemauan dan kemampuan untuk menjalan hidup sesuai dengan apa yang kita telah peroleh dari Dia. Banyak orang Kristen itu penipu dan akhirnya menyebabkan orang yang belum percaya sulit untuk bertemu dengan Kristus.

Di dalam pasal 4 ayat pertama sampai pasal 6 ayat 20, maka kita akan menemukan 7 panggilan atau hal yang harus kita jalani dalam panggilan hidup kita ketujuh hal ini adalah:
1. (Efesus 4:1-16) Paulus mengatakan “Berjalanlah di dalam kesatuan”, walk in unity.
2. (Efesus 4:17-32) “Berjalanlah dalam kesucian”, walk in holiness.
3. (Efesus 5: 1-8A) “Berjalanlah dalam kasih”, walk in love.
4. (Efesus 5: 8b-14) “Berjalanlah dalam terang”, walk in light.
5. (Efesus 5: 15-21) “Berjalanlah dalam kebijaksanaan”, walk in wisdom.
6. (Efesus 5: 22 – 6:9) “Berjalanlah dalam ketaatan”, walk in obedience.
7. (Efesus 6: 10-20) “Berjalanlah dalam kesiapan”, walk in readiness.
Itu adalah 7 hal yang Paulus katakan. Untuk saat ini kita akan membahas 2 hal saja di dalam pasal 4. Pasal 4 itu terbagi menjadi 2 yaitu ayat 1-16 dan ayat 17-32 yaitu mengenai hidup di dalam kesatuan dan hidup di dalam kesucian.

Bagian pertama. Di dalam ayat ke-2-17, Paulus menyatakan untuk hiduplah berpadanan dengan panggilanmu. Di sini Paulus berbicara kepada seluruh jemaat Efesus untuk hidup saling mengasihi, hidup dengan lemah lembut, saling membantu. Paulus menggunakan kalimat-kalimat yang bagi kita umum semua tetapi bagi kita ini adalah panggilan pertama untuk kita berjalan sesuai dengan panggilan. Paulus meminta jemaat Efesus untuk memelihara kesatuan jemaat local. Gereja yang mulia itu selalu jatuh dalam 2 kesalahan besar. Pertama adalah tidak berani menyatakan kebenaran, yang penting fellowship. Kedua adalah tidak memelihara kasih dan kesatuan yang ada. Paulus menyatakan dalam point ini mengenai kebenaran dan Paulus mendesak kita untuk bersatu. Kenapa Paulus meminta kita memelihara kesatuan? Di sini ada 2 hal utama. Pertama, karena dengan memelihara kesatuan kita menghormati pekerjaan Allah Tritunggal. Di dalam ayat ke-3, kita diminta bukan untuk membuat persatuan tetapi kita diminta untuk memelihara persatuan yang sudah dibuat oleh Allah. Kesatuan adalah anuegerah dari Allah untuk GerejaNya. Dari ayat 4-6, dituliskan setidaknya adalah 7 kata mengenai one atau kesatuan. Dan 7 melambangkan angka kesempurnaan dan itu artinya Allah Trintunggal sudah mengerja dengan sempurna atau lengkap kesatuan di dalam gereja atau umat-Nya. Sehingga kita harus memeliharanya dengan hati kita yang sungguh-sungguh. Kesatuan gereja adalah sesuatu yang sulit sekali. Kita mudah sekali masuk di dalam perpecahan Gereja bahkan dalam Gereja Reformed sekalipun demi nama kebenaran atau prinsip yang kita pegang, tetapi sebenarnya yang kita pegang itu bukan kebenaran atau prinsipnya tetapi ego atau ambisi kita. Dan sebenarnya itu sangat mendukakan hati Allah. Masalahnya adalah karakter atau ego kita yang ditonjolkan di depan dan atas nama kebenaran kita mendiskreditkan orang lain, dan mempertahankan pendirian kita yang sebenarnya bukan doktrin dasar. Dan itulah yang akan memecah semua gereja perlahan-lahan. Sebaliknya kalau kita melihat ayat ke-3, mengatakan kita harus “making every effort”, berarti kita harus berusaha sebisa kita untuk memelihara kesatuan. Ayat ke-7 berbicara mengenai penjelasan dari Paulus bahwa kita harus memelihara persatuan dengan ikatan damai sejahtera meskipun kita memiliki anugerah, kedudukan dan karunia yang berbeda-beda. Karena semuanya itu disatukan di dalam Kristus. Kristus adalah segala-galanya dari Gereja Tuhan yang berinkarnasi bahkan hingga mati di atas kayu salib. Ini adalah berbicara mengenai penurunan Kristus dan sekarang Ia ditahtakan. Dan ini berkatian dengan persatuan di dalam Roh sehingga kita diajarkan untuk mengenal cara kerja Kristus. Belajar mengenal jalan Kristus. Dan cara kerja ini adalah cara kerja dimana diri dikosongkan hingga seluruh kehendak Allah jadi dan baru setelah itu ditinggikan. Waktu kita berbicara bahwa kita pengikut Kristus, sebenarnya kita berbicara apa sih? Di sini kita harus berhati-hati karen mengikut Kristus berbeda dengan bidaya kristiani seperti memakai kalung salib, dll. Menjadi pengikut Kristus berarti mengikuti jalan Kristus yang adalah sangkal diri, pikul salib dan ikut Kristus yang tidak lain adalah direndahkan, dikosongkan sampai seluruh kehendak Allah jadi. Kita seringkali mau diperintah untuk berbuat apapun saja kecuali diri kita dijadikan tidak berarti. Kita mungkin mau melakukan segala sesuatu yang penuh dengan pengorbanan tetapi ujungnya adalah self-actualization. Suatu keinginan untuk mendapatkan suatu greatness dalam diri, dan orang berlomba-lomba untuk mengejar akan hal ini. Dan dalam hal ini sama sekali tidak ada spirit daripada kerendahan hati ataupun kelembutan, kesabaran, kasih. Tetapi jikalau dikosongkan, atau direndahkan kita sama sekali tidak ada yang mau. Perjamuan Kudus yang dipimpin oleh Yesus sendiri, sebelum penyaliban Yesus, merupakan suatu pernyataan hati yang terdalam daripada Yesus, tetapi pada saat yang sama pada muridpun berbicara mengenai siapa yang lebih besar di antara mereka. Begitu juga pada saat Yesus menyatakan mengenai kematian-Nya, pada murid pun berdebat mengenai siapa yang lebih besar. Setiap salib diberitakan, maka pada saat itu langsung responnya adalah perdebatan mengenai siapa yang lebih besar. Ini hal yang luar biasa menyakitkan hati Tuhan, hal seperti ini jugalah yang ada di dalam diri kita semua. Kalau kita belajar memelihara kesatuan di dalam kebenaran, kita akan belajar mengenai cara kerja Kristus. Kristus datang untuk membawa perdamaian bagi kita, itu berarti Dia menjadi orang tengah antara kita dan Bapa di surga. Menjadi orang tengah itu bukanlah hal yang mudah dan mengenakkan. Apa benefitnya kalau kita memelihara kesatuan ? Ketika kita memelihara kesatuan maka kita akan bertumbuh rohani di dalam satu jemaat dalam Kristus (ayat 15). Paulus meminta kita untuk berpegang dalam kebenaran di dalam kasih bukan hanya kebenaran. Kenapa memunculkan unsur kasih? Karena tidak ada orang bisa bertumbuh seperti yang Tuhan kehendaki di dalam segala hal, kecuali di dalam aspek community. Alkitab berkali-kali menyatakan bahwa umat-Nya dipanggil di dalam community dan harus hidup di dalam community. Kita sering ingin hidup itu bertumbuh di dalam sistem existential, ini adalah tidak mungkin. (ayat 16) Love in community adalah penting sekali untuk kita bertumbuh. Karena itu kita harus selalu berdoa agar Tuhan selalu menyatukan Gereja, kita harus belajar pikul salib lebih banyak. Lebih baik orang menganggap orang lain itu lebih utama daripada dirinya sendiri seperti Kristus yang berinkarnasi secara sukarela. Kalau saudara ingin melihat gereja ini bertumbuh, Saudara harus mengikuti apa yang Firman katakan, yaitu saling memperhatikan dan mengasihi yang lain, dan ini bias dimulai daripada berdoa syafaat untuk orang lain. (ayat 13-14) Dengan memelihara kesatuan kita makin mengenal kebenaran. Seringkali dalam diri kita ada bagian-bagian yang kita tidak mau untuk diproses oleh Allah. Biarlah kita boleh mengerti Allah untuk memproses diri kita dalam community.

Bagian kedua (ayat 17-32) adalah walk in holiness. Berjalan dalam kesucian artinya berjalan dalam umat Allah tidak seperti orang dunia. Orang dunia adalah orang yang tidak mengenal Allah, sedangkan kita adalah orang yang mengenal Kristus dan harus hidup dalam kesucian. Kita bisa hidup dalam kesucian karena kita sudah dibaharui oleh Roh. Salah satu tanda kesejatian adalah hidup dalam kesucian. Alkitab memberikan bermacam-macam tanda kesejatian. Banyak orang dalam gereja yang menganggap diri orang yang sejati dalam iman tetapi sebenarnya bukan orang sejati. Apa yang membedakan sejati dengan yang tidak sejati? Sesuatu yang sifatnya justification tidak bisa terlepas dari sanctification. Apakah kita mencintai kesucian? Apakah kita berlutut untuk meminta kuasa untuk hidup suci? Kesucian itu bukan sesuatu jasa untuk pergi ke surga. Tetapi orang yang sudah menerima Kristus, menerima Roh Kudus yang akan membukakan kepada kita kesadaran akan kesucian Allah Bapa yang membuat diri kita kagum dan takjub. Bahkan Roh Kudus memberikan kepada kita kemampuan untuk hidup suci. Salah satu tanda kesejatian adalah hidup dalam kesucian karena kita sudah diperbaharui oleh Allah.