Anda disini : Home » Reformed Theology » Surat Efesus » Efesus 3
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Efesus 3

Pdt. Agus Marjanto, M.Th.

PA Efesus 3

Hari ini pembahasan kita adalah Efesus pasal yang ketiga. Metode pembelajaran dalam Bible Study adalah dengan mempelajari Alkitab dalam kerangka besar, tidak masuk ke detail. Karena pada intinya adalah Saudara dapat membaca, melihat dan menganalisa sendiri, sehingga saudara bisa mengerti strukturnya. Jadi bukan seperti khotbah yang dijelaskan ayat demi ayat, tetapi adalah struktur itu yang paling penting sehingga hal-hal yang penting akan dimunculkan untuk membangun daripada cara berpikir saudara di dalam satu perikop itu, atau satu pasal itu. Sebelum kita masuk ke dalam efesus pasal yang ketiga, saya akan memberikan ringkasan sekali lagi mengenai pasal yang pertama dan pasal yang kedua. Pasal yang pertama menyatakan berkenaan dengan misteri kekekalan, sesuatu hal yang dikerjakan Allah Tritunggal di dalam kekekalan yang akan tetap menjadi misteri jikalau itu tidak dinyatakan kepada kita. Hal itu adalah kosmik drama perkerjaan Allah yang tidak terlihat dan itu adalah berkat-berkat rohani, Spiritual Blessings. Banyak orang berpikir bahwa yang paling penting adalah berkat-berkat jasmani. Itu cara berpikir yang salah. Berkat-berkat rohanilah yang membuat hidup diarahkan kepada yang benar, hidup yang memiliki identitas, hidup yang memiliki tujuan. Di dalam pasal yang pertama, Paulus menyatakan kosmik drama itu adalah pekerjaan Allah Tritunggal di mana kita itu dipilih, dipredestinasikan, dan diadopsi. Ada redemption yang terjadi, ada forgiveness yang diberikan kepada kita, dan bahkan ada Roh Kudus yang memimpin kita, menjamin bahwa seluruh iman yang sudah dimulai daripada Allah Tritunggal itu akan diakhiri di dalam kesempurnaan sampai kepada kekekalan. Karena seluruh daripada kosmik drama itu adalah suatu misteri di dalam kekekalan, dikerjakan di dalam Kristus, hanya dikerjakan di dalam Kristus saja, itulah sebabnya di dalam pasal pertama terakhir, maka Paulus menyatakan biarlah kita boleh berdoa, atau dia mendoakan supaya kita boleh semakin mengenal kemuliaan Kristus, pribadi Kristus yang mulia. Karena di dalam Dialah seluruh misteri kekekalan itu, pekerjaan Allah Tritunggal itu dikerjakan bagi kita. Di dalam Kristus, hanya Kristus saja. Setelah pasal yang pertama berbicara mengenai kosmik drama, sesuatu pekerjaan Allah Tritunggal yang bekerja di dalam kekekalan yang kalau itu tidak dinyatakan kepada kita, tak mungkin kita bisa mengertinya. Pasal yang kedua menyatakan realitas sejarah yang terjadi. Realitas sejarah yang terlihat, kalau seseorang mendapatkan anugerah kosmik drama tersebut, di dalam Kristus. Yang tadinya orang itu mati mengikuti jalan pemerintah-pemerintah, penguasa kegelapan angkasa itu, tetapi sekarang hidup, dari desakan of disobedience, menjadi desakan of obedience. Dari anak-anak ketidaktaatan, menjadi anak-anak taat. Di dalam Efesus pasal yang kedua, Saudara akan menemukan apa arti kesejatian bagi orang Kristen. Saudara boleh cek diri masing-masing apakah Saudara orang Kristen yang sejati atau tidak. Seorang yang rajin datang ke gereja setiap minggu belum tentu orang Kristen yang sejati. Kalau Saudara jarang ke gereja dan merasakan kegelisahan, itu pun tidak menandakan kesejatian karena orang agama lain pun dapat mengalami hal yang serupa karena setiap manusia memiliki sense of divinity. Paulus mengatakan “engkau itu dulu mati, engkau adalah anak yang dimurkai, the son of disobedience. Anak anak yang tidak taat, sekarang engkau menjadi the sons of obedience”. Dengan tepat sekali Paulus menyatakan apa itu mati dan hidup, apa arti orang menerima Kristus Yesus. Itu artinya tanda kesejatian adalah engkau rela dan mau taat. Apakah dalam hidup Saudara ada pertumbuhan ketaatan setiap kali? Pertumbuhan rohani itu adalah bukan saja bicara mengenai kognitif, bukan cognitive conversion. Pertumbuhan rohani adalah spiritual conversion, dan spiritual conversion itu adalah pengenalan kepada Allah, dan pengenalan kepada Allah itu akan mendorong kita untuk semakin mengaguminya, semakin terpesona kepada Dia, semakin takut kepada Dia, semakin hormat kepada Dia, dan semakin taat kepada Dia. Dan Paulus menyatakan respon terhadap hal ini, karena engkau sudah mengerti, engkau mati sekarang hidup. Ingat, jangan melupakan itu. Ingatlah selalu, dulu engkau itu seperti apa, ingatlah segala sesuatu yang Tuhan sudah berikan padamu. Pasal pertama sampai dengan ketiga adalah berbicara mengenai ortodoksi atau doktrin yang solid, pasal keempat sampai keenam adalah bicara mengenai praktika atau aplikasi. Dan doktrin yang solid ini dimulai daripada pekerjaan Allah Tritunggal. Ini adalah sesuatu yang disebut sebagai Trinitarian Perspective. Segala sesuatu yang kita lakukan adalah harus bersumber daripada pekerjaan Allah Tritunggal. Tidak pernah ada etika dan keputusan hidup yang benar di dalam kekristenan, yang tidak dimulai dari pekerjaan Allah Tritunggal.

Efesus pasal yang ketiga berbicara mengenai Gospel and Church. Dan saya akan membaginya menjadi tiga hal ini. Yang pertama, pertama adalah Gospel, apa itu injil ? Paulus menyatakan Injil adalah pernyataan rahasia kekayaan hikmat Allah yang tidak terjangkau, yang tersembunyi berabad-abad dari generasi ke generasi. Injil itu apa? Injil itu tentang Kristus itu betul, Injil itu mengenai Kristus pribadinya dan pekerjaannya itu betul. Tapi Paulus menyatakan Injil adalah pernyataan pewahyuan. Pewahyuan itu apa? Pewahyuan adalah membukakan sesuatu, menyatakan sesuatu yang tadinya tertutup. Injil adalah pengwahyuan rahasia kekayaan hikmat Allah yang tidak terjangkau, yang tersembunyi berabad-abad dari keturunan generasi ke generasi. Paulus memunculkan kemuliaan Injil. Injil tidak seperti buku-buku yang lain, Injil itu satu-satunya buku yang mewahyukan, menyatakan rahasia kekayaan hikmat Allah yang tidak terjangkau. Kalau kita memperhatikan ayat ke-8 dan 9 maka kita akan memperoleh definisi Injil daripada Paulus yaitu segala sesuatunya, dan Paulus menyatakan di dalam bagian ini bahwa Injil adalah pewahyuan rahasia kekayaan hikmat Allah yang tidak terjangkau, yang tersembunyi berabad-abad dari generasi ke generasi. Mari kita lihat ayat yang ketiga sampai dengan ayat yang kesepuluh. Di dalam ayat yang ketiga sampai ayat yang kesepuluh, saudara akan menemukan dua kata yang penting sekali di sini. Kata yang pertama adalah mistery of Christ (ayat4) dan kedua (ayat 6) adalah mystery of the member of the Kingdom of God. Di dalam Mystery of Christ, Paulus mau menyatakan bahwa cosmic drama, pekerjaan Allah Tritunggal itu di dalam Kristus, yang tidak terlihat itu, dan juga history of reality itu, seluruhnya itu adalah rencana keselamatan Allah yang tidak terduga dan semua itu hanya ada di dalam Kristus Yesus. Tadi saya sudah bicara, di dalam pasal yang pertama, itu semua ada di dalam Kristus Yesus, yang kalau Saudara tidak membuka Injil, Saudara tidak mungkin menemukan bahwa Kristus Yesus adalah Person in Charge yang melalui-Nya seluruh berkat dari Allha Tritunggal diperoleh . Dan injil membukakan mengenai hal ini, mystery of Christ. Seluruh rencana keselamatan Allah dilakukan itu hanya di dalam Kristus. Dan dijelaskan bahwa semua ini dinyatakan kepada rasul-rasul dan nabi-nabi melalui Roh untuk menyatakan siapa Kristus itu. Inilah miseri yang pertama. Injil itu menyatakan mystery of Christ.

Salah satu bentuk kemunduran rohani adalah dengan menganggap bahwa Injil itu biasa saja, Alkitab itu biasa saja. Menganggap bahwa pertemu dengan Kristus biasa saja. Paulus tidak seperti demikian, Paulus itu terus menerus hidupnya mengagumi Kristus dan tulisan-tulisan Firman Tuhan. Dia menganggap bahwa kalau bisa mengerti akan Firman Tuhan itu adalah suatu hak istimewa di dalam hidupnya. Paulus bukan saja menyatakan tentang anugerah, setiap kali dia berbicara mengenai anugerah, dia berbicara mengenai kekayaan, kelimpahan, kemuliaan. Di sini kita bisa melihat bagaimana Paulus sangat menghargai akan anugerah Tuhan ini. Kita tidak boleh take it for granted daripada seluruh anugerah yang Tuhan berikan kepada kita. John owen menyatakan bahwa hal yang paling membahagiakan hidup, yang memberikan kekuatan, jangkar yang dalam, sebenarnya adalah karena kita itu tahu bahwa kita itu diadopsi menjadi anak-anak Allah. Adakah kita memiliki perasaan seperti John Owen? Atau kita merasa biasa-biasa saja. Tidak seharusnya kita merasa biasa-biasa saja. Karena kita adalah orang-orang yang seharusnya dimurkai, tetapi sekarang mendapatkan anugerah daripada pekerjaan Allah Tritunggal di dalam cosmic drama, sehingga kita bisa memahami Firman Tuhan.

Misteri yang kedua adalah bahwa orang-orang kafir, seperti Saudara dan saya ikut serta dalam mendapat warisan. Engkau dan saya menjadi anggota satu tubuh yang sama, berbagian di dalam janji Kristus Yesus, seturut dengan Injil. Di sini kita dapat memahami bahwa membership of the Kingdom of God, keanggotaan daripada kerajaan Allah, itu sudah dibuka. Ini adalah prinsip yang besar sekali. Di mata orang Yahudi kita adalah kafir, orang tidak mengenal Allah, di mata mereka kita sangat-sangat rendah. Karena kafir itu tidak mungkin masuk surga, mereka bahkan mengatakan bawha orang-orang kafir itu anjing, kita hina, bangsa yang dikutuk oleh Allah, sama seperti Sidon, Tyrus, Babel, Mesir semuanya bangsa-bangsa yang dikutuk oleh Allah. Sama seperti minggu lalu, saya khotbahkan mengenai perempuan Siro Fenesia yang datang kepada Yesus untuk mendapat berkat. Yesus bilang bahwa tidak pantas memberikan roti kepada anjing. Dan sewaktu dikatakan demikian perempuan ini tidak marah. Di sini Yesus sengaja mengutarakannya di depan semua orang Yahudi, yang melihat perempuan itu sebagai anjing, untuk menunjukan bahkan anjing pun punya iman yang sejati di dalam Aku. Bagi orang Yahudi untuk masuk surga haruslah masuk ke dalam Yudaisme dahulu, harus disunat, dan melakukan hal lainnya. Bahkan sampai Yesus bangkit, dan sebelum Roh Kududs turun, orang-orang yang sudah terima Yesus Kristus (Petrus, Andreas,dkk masih berpikir bahwa untuk dapat diselamatkan, mereka harus masuk di dalam Yahudi, tidak bisa dengan cara lain. Sampai suatu hari, Tuhan memberikan pernyataan kepada Petrus untuk pergi ke rumah Kornelius. Tetapi Petrus menolak karena kornelius itu orang kafir. Sampai Petrus diberi penglihatan, maka Petrus akhirnya tahu bahwa dia harus pergi ke rumah Kornelius. Pada waktu dia pergi ke tempat Kornelius, Petrus membicarakan tentang Yesus Kristus, ketika belum selesai Petrus bicara, ia kaget karena Kornelius dan seluruh keluarganya berbahasa roh. Hal ini terjadi sewaktu khotbah, bukan nyanyi.

maka Petrus kaget, kenapa mereka bisa berbahasa roh,sama seperti yang Petrus alami ketika Pentakosta. Di sinilah Petrus tahu, bahwa keselamatan itu hanya di dalam Kristus, karena kafir pun mengalami peristiwa yang sama dengan Pentakosta. Di sini ada suatu hal yang penting adalah bahasa roh. Kalau tidak ada bahasa roh pada waktu itu, maka sampai mati pun Petrus akan berpikir bahwa untuk masuk surga harus Yahudi, dan orang kafir tidak mungkin masuk surga. Di dalam konteks ini bisa ditarik lebih dalam, bahwa bahasa Roh itu membuka membership pada orang non-Yahudi. dan di dalam konteks inilah, maka Paulus menyatakan bahwa Injil adalah pernyataan rahasia kekayaan hikmat Allah yang tidak terjangkau, yang tersembunyi berabad-abad dari keturunan-keturunan, karena di dalamnya ada rahasia tentang Kristus, dan tentang keanggotaan kerajaan Allah.

Sekali lagi, Kita harus mengerti bahwa ini adalah privilege, yang tidak terselami, tidak bisa kita jangkau, terlebih lagi karena kita adalah Gentiles atau kafir. Dan ini adalah hal yang unsearchable, tidak mungkin bisa dijangkau oleh seluruh bangsa. Bahkan bagi orang Yahudi sekalipun, pada waktu itu mereka tidak bisa mengerti bahwa Yesus adalah Tuhan, terlebih bagi kita, yang tidak hanya berbeda tempat, tapi juga berbeda waktu, berbeda budaya. Kalau kita bisa punya satu fokus iman yang sama, yaitu Yesus Kristus, dan di dalam Dia, kita bisa mendapatkan segala berkat yang Tuhan berikan kepada kita, apabila kita bisa mengerti smua ini, ini semua adalah karena anugerah Allah yang berlimpah-limpah.

Hal yang kedua, mengenai Gereja. Gereja adalah institusi yang ditentukan di dalam kekekalan sebagai alat Tuhan satu-satunya, yang berdiri di hadapan manusia dan di hadapan kerajaan setan, untuk menyatakan rahasia kekayaan hikmat Allah yang tidak terjangkau, yang tersembunyi, berabad-abad, yang diturunkan dari generasi ke generasi. Kalau sebelumnya Paulus berbicara mengenai Injil, sekarang Paulus berbicara mengenai inti sebenarnya Gereja itu untuk apa. Gospel itu isinya kekayaan rahasia hikmat Allah, dan gereja bertugas untuk memberitakannya di dalam dunia. Hal yang Penting waktu berbicara mengenai Gereja, kita harus mengerti gereja itu apa? Kita harus menghargai apa yang Tuhan anggap mulia, dan apa yang Tuhan anggap benar. kita harus belajar mensinkronkan konsep kita dengan konsep Tuhan. Mungkin kita menganggap Gereja adalah hal yang biasa-biasa saja, tetapi di sini ditegaskan bahwa Gereja adalah satu-satunya institusi yang ditunjuk dari kekekalan. Sesuai dengan maksud dan rencana kekekalan, untuk menyatakan rahasia ini kepada seluruh manusia, dan kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di angkasa. Paulus menyatakan bahwa dirinya adalah orang yang dipenjarakan (ayat pertama) karena Paulus melakukan tugasnya, makanya dia ada di dalam penjara. Lalu pada ayat 13, Paulus mengatakan agar jemaat Efesus jangan tawar hati melihat kesesakan Paulus karena kesesakannya itu adalah kemuliaan bagi mereka. Paulus mengabarkan kekayaan hikmat Allah, dan sekarang jemaat-jemaatnya tahu kenapa Paulus bisa ada di penjara, dan agar Jemaat tidak menjadi tawar hati melihat penderitaan Paulus, karena Penderitaan itu adalah konsekuensinya. Paulus mengajarkan kepada jemaat di Efesus untuk melihat penderitaan dari perspektif ini, bahwa penderitaan yang dialami adalah suatu privilege yang Tuhan berikan. Ketika membicarakan Suffering and the Gospel, maka akan ada tiga prinsip yang muncul. Pertama, Suffering adalah konsekuensi dari gereja yang memberitakan Injil, yang menyatakan rahasia kekayaan hikmat Allah yang tidak terjangkau. Kedua, Suffering adalah strategi atau cara yang dipakai oleh Allah untuk menyatakan dan menyebarkan Injil-Nya. Ketiga, Suffering adalah reward atau upah bagi orang atau gereja yang mengabarkan Injil. Penderitaan adalah suatu mahkota mulia. Untuk mengerti penderitaan sebagai reward, rasanya sulit. Semakin sering seseorang menginjili, maka ia akan makin sadar bahwa sebenarnya hal yang terindah di dalam hidup (dalam konteks pelayanan) adalah kita boleh menderita sebagai orang-orang yang memberitakan Injil, bukan menderita karena mencuri, tapi karena menberitakan Injil. Misalnya, orang yang mati martir itu hanya orang-orang khusus, tapi ini adalah suatu hal yang mulia. Penderitaan adalah hal yang mulia bagi orang-orang yang meberitakan Injil. Poin yang kedua, penderitaan sebagi cara atau strategi yang Tuhan pakai (Kolose 1:24-29). Di sini disebutkan bahwa Kristus ada di tengah-tengah kamu, Gentiles. Di sini Paulus tidak sedang berbicara mengenai sesuatu yang sifatnya hakekat/ontologis. Kristus itu cukup untuk keselamatan kita,tidak perlu ditambahkan apapun saja. Di sini yang Paulus maksudkan adalah scope-nya, perluasannya, karena Kristus hanya dikenal di tengah-tengah orang Yahudi pada waktu itu, tetapi ketika Kristus ingin menyelamatkan orang lain, yang Gentiles, orang itu mau menderita bagi Kristus, maka orang yang kafir tadi akan mulai bertanya-tanya, kenapa orang itu mau menderita untuk Kristus, mau menderita untuk orang yang bahkan tidak kami kenal. Di sini orang mulai mengerti apa yang berharga, yang mulia, dan yang terpenting di dalam hidup mereka, dan di sini juga orang akan melihat dan mengerti bahwa Kristus itu tidak seperti yang mereka kira. Ini adalah strategi yang Allah pakai supaya Injil boleh diberitakan di seluruh dunia. Pertama Injil, kedua Gereja yang dipanggil untuk mengabarkan Injil. Poin ketiga, Doa mengenal kasih Kristus adalah kekuatan untuk gereja terus menerus dapat menjalankan tugasnya. (Efesus 3:14-19) Paulus menyadari bahwa ini adalah suatu kemuliaan yang tidak dikenal, dan kemuliaan yang tidak dikenal ini akan mendapatkan tantangan baik bagi orang yang mendengarnya, maupun kerajaan setan. Maka implikasi dari hal ini adalah suatu kehidupan yang tidak normal, kehidupan yang tidak wajar. Hasilnya adalah hidup yang seakan-akan dijatuhi hukuman mati. Jemaat di efesus mendapat penganiayaan dalam berbagai bidang, baik sosial, kepercayaan, perdagangan, dan sebagainya. Efesus adalah tempat pemerintahan, pusat bisnis, pusat penyembahan berhala. Efesus begitu rusak, banyak pelacuran dan penyembahan berhala, dan sangat sedikit jemaat Tuhan yang ada di kota Efesus. Jemaat di Efesus banyak mengalami penderitaan, mereka juga mengalami kesulitan dan kesesakan karena pemimpin mereka juga menderita. Dan mereka juga harus berjuang untuk mengatasi pola pikir mereka yang lama bahwa penderitaan berarti tidak diberkati. Di dalam kesulitan-kesulitan seperti ini, Paulus menyatakan bahwa penderitaan adalah kemuliaan. ini tidak mungkin dilakukan kecuali jemaat Efesus bisa mengerti kasih Kristus yang sesungguhnya dan mengalami kepenuhan Allah. Paulus juga menyadari bahwa tidak mungkin jemaat Efesus bisa mengerti hal ini, kecuali mereka melihat penderitaan dari perspektif kasih Kristus.
Terakhir, (baca di Wahyu 2:1-7) Hanya ketika kita dipenuhi oleh kasih Kristus, maka kita akan bisa mengasihi orang lain. Apakah kita benar-benar mengenal kasih Kristus sampai tingginya, panjangnya, dalamnya? Karena tanpa kasih Kristus yang sesungguhnya, kita akan jatuh seperti jemaat Efesus pada Wahyu pasal 2. Tujuh gereja Asia Minor di kitab Wahyu adalah proyeksi dari setiap Gereja yang pernah berdiri di seluruh dunia, sepanjang waktu. Setiap gereja memiliki karakternya masing-masing, dan ketika kita bisa melihat secara general. GRII ini lebih cocok kepada Efesus dibandingkan Smyrna atau gereja lainnya. Kita berada di kota metropolitan, golongan menengah ke atas, bisa menganalisa sesuatu, memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang besar dan mana yang salah. Jemaat di Efesus mau sungguh-sungguh kerja keras, mau menderita, mengerti ajaran yang sehat dan yang tidak sehat. Tetapi di tengah semuanya itu Kristus memberikan suatu peringatan, bukan peringatan mengenai hal-hal yang besar, tetapi justru mengenai hal yang mendasar. Efesus dicela karena kehilangan kasih yang semula. Kalau begitu, apa yang mendasari seluruh kerja keras, penderitaan, dan apapun yang dilakukan Jemaat di Efesus? Kalau bukan Kasih,dasarnya apa? Tanpa Kasih, semua perjuangan yang kita lakukan dalam pelayanan akan menjadi sia-sia. kita tidak sedang melayani Tuhan, Kita melayani diri kita, yang kita anggap kita sudah mendapatkan kebenaran.