Anda disini : Home » Reformed Theology » Surat Efesus » Efesus 2
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Efesus 2

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

PA Efesus 2

Pasal pertama surat Efesus sedang membicarakan pekerjaan Allah dalam spiritual blessings & cosmic drama. Hal ini tidak mungkin terlihat dan dimengerti bagi kita, kecuali Allah mewahyukannya, sehingga kita dapat membacanya dalam Alkitab. Jika Tuhan tidak membukakan rahasia ini dalam Alkitab, kita tidak akan mengetahui pekerjaan Tuhan dalam cosmic drama. Begitu misteri ini dibukakan Tuhan bagi kita, maka semua spiritual blessings itu menjadi batu karang teguh untuk pikiran tindakan, proses, dan seluruh tujuan hidup kita. Segala blessings ini didapat didalam Kristus.

Pasal kedua Efesus (ayat 1-10) menyatakan realita sejarah dari orang-orang yang ditebus. Dalam pasal ini, Paulus menyatakan realita sejarah kepada orang-orang yang disingkapkan cosmic drama itu, yaitu umat Tuhan yang telah ditebus. Realita sejarah yang dibukakan adalah fakta bahwa seluruh manusia sudah mati (ayat 1), namun dalam penebusan Yesus Kristus, umat pilihan telah dihidupkan kembali (ayat 5). Paulus juga menjabarkan kondisi kematian yang dialami manusia (ayat 1-3), yaitu “mengikuti jalan dunia ini” dan “menaati penguasa kerajaan angkasa” (ayat 2). Ini adalah kondisi dari seluruh manusia. Kita dapat melihat perubahan hidup orang yang mendapat anugerah Tuhan. Kita dapat menyaksikan seseorang yang dahulu perbuatannya jahat, kemudian setelah bertobat orang tersebut memiliki hidup yang baik. Namun pekerjaan Allah dalam cosmic drama tidak dapat kita lihat. Pilihan Allah kepada manusia yang dipilihnya terjadi dalam kekekalan, hal inilah yang tidak dapat kita saksikan sendiri tanpa wahyu Tuhan. “Orang-orang durhaka” pada ayat kedua, memiliki terjemahan bahasa Inggris “the sons of disobedience.” Disobedience artinya adalah ketidaktaatan. Jadi, orang-orang durhaka adalah orang-orang yang tidak menaati Allah. Kita dapat menyimpulkan bahwa mereka yang mati rohani adalah mereka yang hatinya tidak mau taat kepada Allah. Pada ayat ketiga, Paulus mengatakan bahwa dirinya pun dahulu mati rohani sama seperti seluruh manusia. Kapankah Paulus mati rohani? Pernahkan dulu ia melacur, memakai jimat, atau mencuri? Tidak! Dia dahulu adalah seorang yang begitu ketat mengerjakan agama Yahudi, dia adalah orang yang tidak hidup sembarangan. Ia begitu rajin untuk beribadah dan menggerakkan orang-orang lain untuk beribadah. Namun, ia menyadari hidupnya dahulu tetaplah mati. Lalu apa bedanya hidup yang mati dan hidup? Bedanya bukan pada melakukan hal-hal ritual agama atau tidak, tetapi pada taat atau tidak taat kepada Tuhan. Orang-orang yang telah dihidupkan dalam Kristus adalah orang-orang yang di dalam hatinya ditanam kerinduan untuk rela taat kepada Tuhan, rela menggenapi rencana Allah, dan selalu berseru “kiranya kehendak-Mu itu jadi ya Tuhan!”

Ayat kesepuluh ditujukan bagi mereka anak-anak yang telah dihidupkan di dalam Kristus, yaitu kepada anak-anak ketaatan. Sekali lagi, perubahan yang sejati tidak terlihat dari fenomena, tetapi dalam diri, yaitu hati yang taat pada Tuhan. Kita dapat memeriksa apakah kita sudah dihidupkan kembali di dalam Kristus dengan menilik apakah kita sudah memiliki kerinduan untuk taat pada Allah? Sesungguhnya mereka yang hatinya masih tidak mau taat kepada Allah sedang menempatkan diri sebagai allah bagi dirinya sendiri. C.S Lewis pernah memaparkan dua macam penggolongan manusia. Golongan pertama yaitu orang-orang yang berseru kepada Tuhan “Thy will be done.” Kelompok yang kedua adalah sekelompok orang yang mendengar Allah berkata kepada mereka “your will be done.” Oswald Chambers menjelaskan bahwa sifat dosa bukanlah semata-mata keadaan tidak bermoral, namun kesadaran diri yang menuntun kita untuk menjadi allah bagi diri sendiri. “Menjadi allah bagi diri sendiri” dapat dilakukan baik dalam sifat moral atau pun tidak bermoral, sehingga dalam sikap bermoral pun kita dapat tetap berdosa. Seperti halnya Paulus, ia dahulu dalam segala kesalehannya, ia tetap menjadi allah bagi dirinya, sehingga ia menyadari bahwa dirinya dulu mati. Pada ayat keempat dan keenam. Paulus menjelasan bahwa orang-orang yang mati adalah orang-orang yang tidak melihat Allah dan tidak mau mengakui adanya Allah yang begitu penuh kasih karunia di dalam Kristus.

Dalam ayat 11 dan ayat 12, ada dua kali pengulangan kata “ingatlah.” Kita sebagai orang-orang yang telah menerima kasih karunia Allah yang begitu besar—seperti yang telah dijelaskan Paulus pada Efesus 1-2:10)—harus memilih dua respon yang benar kepada Tuhan. Respon pertama adalah selalu mengingat pekerjaan Tuhan bagi hidup kita. Ingat bahwa dahulu kita adalah orang kafir yang melawan Allah. Jikalau kita melupakan ini, kita akan menjadi orang yang picik di hadapan Tuhan, sebab kita merasa diri kita baik. Ingatlah terus dulu kita ini apa. Kita hanyalah orang berdosa yang seharusnya dibuang Allah. Ingat bagaimana penyertaan Allah dulu dalam hidup kita. Kita dapat belajar dari Israel dulu. Israel sangat mendukakan hati Allah di tanah Kanaan, sebab salam tawarikh, mereka menyembah ilah-ilah bangsa kafir dan memotong anak mereka untuk dipersembahkan kepada dewa molok. Bagaimana mungkin bangsa israel yang sudah ditolong Tuhan dengan begitu luar biasa dapat serong hatinya dan melawan Tuhan? Mereka menyaksikan laut yang terbelah dua demi mereka dapat melewati laut Teberau untuk meninggalkan Mesir, Tuhan menyediakan tiang awan saat panas dan tiang api saat dingin. Namun akhirnya bangsa Israel tidak ingat apa yang sudah Tuhan kerjakan dan menyembah ilah-ilah. Betapa ironis!

Pada pasal pertama dan kedua, Paulus mengatakan betapa besar kasih karunia dan berkat dalam hidup orang percaya. Paulus menggunakan kalimat dan kosakata yang menggambarkan betapa kaya rahmat, karunia Tuhan yang tidak dapat terhitung besarnya (Ef 1:5-7). Banyak diri kita saat ini hidup dalam dosa, sebab kita tidak ingat betapa banyak kasih karunianya dalam hidup kita. Saat perjamuan terakhir Tuhan Yesus mengatakan “lakukanlah ini untuk mengingat akan Aku.” Sungguh mengherankan! Tuhan Pencipta langit dan bumi, meminta kita untuk mengingat Dia. Tidak ada faedahnya bagi Tuhan kalau kita mengingat-Nya, sebab Ia tidak membutuhkan kita. Ia mengatakannya bukan untuk diri-Nya, namun demi manusia yang Ia kasihi agar tidak binasa karena tidak mengingat Tuhan dan pekerjaan-Nya. Jika kita tidak mengingat apa yang Tuhan di Kalvari, kita akan sangat mudah jatuh dalam dosa. Respon yang kedua yang harus kita miliki dalam merespon keselamatan adalah kita harus hidup dalam persekutuan. Pada ayat 14, Paulus sedang berbicara tentang kesatuan. Kemudian pada ayat 15 menjelaskan bahwa tidak ada pemisahan antara orang Yahudi, maupun orang non Yahudi, yang telah direkonsiliasi di dalam Kristus. Dalam Yesus Kristus, semua orang baik Yahudi ataupun non-Yahudi dapat menjadi satu persekutuan bersama kepada Tuhan. Terjadi rekonsiliasi antara manusia dan Allah, serta antara manusia dan manusia. Pada waktu itu, Efesus merupakan jajahan Roma. Saat itu Roma memiliki filosofi Pax Romana, yaitu kedamaian di tengah-tengah Roma. Namun Paulus mengajukan filosofi lain bagi orang Kristen, yaitu Pax Christi. Kristus yang menjadi pendamai kita. Pada ayat 21, Paulus menekankan agar umat Tuhan satu dengan lain bersekutu dengan damai untuk membangun “bait Allah yang kudus di hadapan Tuhan.” Ada orang-orang dalam gereja, namun tidak mau memperhatikan orang lain dan hanya mau diri yang dipikirkan. Kepada orang-orang ini, Paulus menegur mereka dengan mengingatkan bahwa Kristus ingin agar gereja-Nya bersatu dalam persekutuan dengan-Nya. Dari Kejadian hingga Wahyu, Tuhan membukakan bahwa keluarga dan gereja adalah dua inistitusi yang didirikan oleh Allah sendiri. Keduanya harus kita jaga baik-baik. Kristus membentuk gereja-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri. Saya mendapatkan kesempatan untuk menghadiri konferensi Lausanne di Afrika. Perjalanan begitu panjang, pada awalnya saya agak terpaksa untuk hadir. Isi dari sesi demi sesi berisi kisah orang-orang yang menceritakan kisah orang-orang yang mati martir dimana-mana. Namun, kemudian di akhir, semua orang berlutut menyanyikan Crown Him with Many Crowns. Sungguh pemandangan yang begitu agung! Banyak orang dari berbagai macam ras dan telah mengalami berbagai macam penganiayaan menyembah Kristus bersama-sama. Umat Tuhan disatukan bukan karena kesamaan lahiriah kita, namun karena pekerjaan Allah Tritunggal dalam cosmic drama. Hargailah itu dengan kesatuan gereja. Pada pasal pertama Efesus dan pada pasal kedua, ayat 19-22, Paulus membukakan cosmic drama, kemudian ia mulai masuk ke dokrin Kristologi. Sesungguhnya dia sudah cukup menutup dengan Kristologi, namun dia kemudian menutup dengan doktrin Gereja. Hal ini menunjukkan betapa berharganya Gereja dalam hati Tuhan. Mata Tuhan melihat Gereja-Nya. Hati Tuhan ada pada gereja. Gereja ada pada pusat jantung Allah. Kiranya Tuhan terus memimpin hidup kita untuk melihat bahwa Gereja bukanlah bangunannya, tetapi kesatuan umat Allah di dalam Kristus!