Anda disini : Home » Reformed Theology » Surat Efesus » Efesus 1
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Efesus 1

Pdt. Agus Marjanto, M.Th.

PA Efesus 1

Kitab Efesus dimulai dengan suatu doxology, suatu pujian syukur kepada Tuhan Allah. Pada ayat yang ke-3, terdapat kata “Terpujilah Allah” , suatu thanks giving kepada Allah. Ini adalah satu kata yang dikeluarkan setelah kata salam daripada Paulus. Tetapi ketika Ia memuji Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, dan kita bertanya kepada Paulus, “Paulus engkau memuji Allah untuk apa?” Jawaban dari pertanyaan inilah kemudian diuraikan semuanya dalam ayat ke-3 s/d 14. Paulus memuji Allah untuk sesuatu cosmic drama yang ia itu mengerti, yang adalah pekerjaan Allah Tritunggal.

Pasal pertama merupakan suatu pewahyuan dari misteri kekekalan. Ini adalah sesuatu cosmic drama dari Allah Tritunggal yang dikerjakan dalam Yesus Kristus yang tidak mungkin kita kenal selain Tuhan mewahyukannya kepada kita. Tetapi begitu dibukakan, ini akan menjadi seluruh identitas kita, ini akan menjadi suatu proses di mana kita akan mengalaminya dan akan menjadi kepenuhan dan tujuan hidup kita. Ayat ke-3 sampai dengan ayat ke-11 adalah wahyu yang diterima oleh Paulus dan hal ini membuat dirinya takjub dan sangat memuji Allah dalam Kristus Yesus. Apa yang dinyatakan kepada Paulus adalah seluruh pekerjaan yang dilakukan oleh Allah. Dan bagi Paulus ini adalah sesuatu yang berlimpah-limpah, yang luar biasa besar.

Dalam ayat ke-18 Paulus menyimpulkan semua cosmic drama. Kita akan menjumpai hal yang serupa di dalam pasal yang ke-2 ayat 4. Kalimat-kalimat seperti ini menggambarkan betapa menakjubkan pewahyuan Allah di mata Paulus. Sehingga kalau kita mengetahuinya itu adalah suatu berkat, suatu anugerah. Paulus mengatakan berkali-kali dengan kalimat-kalimat yang megah akan hal ini. Hal seperti demikian juga kita peroleh sama seperti jemaat Efesus. Cosmic Drama seperti ini adalah suatu spiritual blessing bagi yang memperolehnya. Spiritual blessings are the best blessings.

Sebagai orang Kristen kita harus mencermati akan pengertian blessings. Ada 2 macam blessings: material and spiritual blessing. Celakanya bagi orang Kristen adalah banyak yang menganggap bahwa blessings dari Tuhan bukan spiritual blessing tetapi material blessings. Kita jarang sekali seperti Paulus yang begitu takjub dan merasa tidak layak karena mendapatkan spiritual blessing. Saya sarankan dalam pertumbuhan iman saudara, mintalah hal-hal yang bisa dijawab oleh Allah saja. Jika Saudara perlu pekerjaan atau uang bukankah Saudara bisa meminta seseorang, bahkan kalau sakit pun bisa pergi ke dokter. Banyak hal yang dapat diberikan oleh manusia. Tetapi kita harus memperhatikan baik-baik bahwa Paulus di sini ingin mengarahkan kita kepada spiritual blessings, dan meminta kepada Tuhan untuk hal-hal yang hanya bisa dikerjakan oleh Tuhan saja. Mintalah hati yang takut akan Tuhan, hati yang hormat kepada Dia, hati yang sungguh-sungguh mengasihi Dia. Semua itu adalah spiritual blessings, semua itu adalah karya dalam Allah Tritunggal yang dilakukan dalam Yesus Kristus melalui Roh Kudus. Dan kita akan berbicara, berdoa dan bernyanyi kepada Tuhan dan mengatakan bahwa “Engkau sungguh baik, maka terpujilah Tuhan Bapa kita di dalam Yesus Kristus yang telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga.”
Spiritual blessings are the best blessings. Dan ini adalah realita berkat yang sesungguhnya dan hal ini hanya bisa diberikan oleh Allah saja. Dikarenakan hanya bisa diberikan oleh Allah saja, maka Saudara akan tahu bahwa kita tidak bisa mengembalikan spiritual blessing dengan apa saja kecuali dengan pujian dan doxology. Kalau Saudara diberikan uang, maka dapat mengembalikan 10 – 20 % nya sebagai wujud syukur kepada Tuhan. Kalau diberikan kesehatan, maka Saudara dapat memberikan tubuh Saudara sebagai persembahan hidup yang kudus. Tetapi dalam spiritual blessings, Saudara tidak bisa membayarnya, tidak ada balasan apa pun yang dapat mencukupinya dan Saudara harus mengakui bahwa semua itu dalah anugerah Tuhan. Dan kemudian pertanyaannya adalah spiritual blessingnya apa ? Maka disini kita berbicara mengenai 7 hal di sini: (ayat 4) Election, (ayat 5) Predestination, (ayat 6) Adoption. Hal ini seperti seorang fakir miskin yang diadopsi ke dalam suatu keluarga yang berada. (ayat 7) Redemption, (ayat 6) Forgiveness. Kita tidak mungkin mendapatkan pengampunan tanpa penebusan (There is no forgiveness without redemption), (ayat 9) Revelation.

Cosmic drama akan tetap tersimpan jikalau Tuhan tidak menyatakan misteri kehendak-Nya kepada kita. Kalau kita bisa mengenal Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus itu adalah anugerah Tuhan. Jikalau kita bisa mengerti doktrin mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam kekekalan, maka sebenarnya itu adalah anugerah yang besar, karena Allah menyatakan misteri ini. Ini adalah revelation atau apocalyptic. Kita tidak akan mengerti election, predestination, adoption, forgiveness, kita tidak akan mengerti semuanya itu kecuali Allah membukakannya kepada kita. Dan ini merupakan Divine Revelation.

1. (ayat 13) Dimeteraikan dengan Roh Kudus yang dijanjikan.
Hal ini berbicara mengenai kepastian akan masa depan, iman yang akan disempurnakan di masa depan. Semua ini adalah murni pekerjaan Allah Tritunggal. Dalam kedua belas ayat ini, kita akan menemukan bahwa Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus itu muncul. Boleh dikatakan bahwa seluruh Cosmic Drama ini dimulai dari Allah Bapa, dilakukan oleh Allah Anak dan dituntaskan oleh Allah Roh Kudus. Ini adalah pekerjaan Allah Tritunggal semata, tidak ada pekerjaan manusia. Kalau kita boleh selamat, mengenal Yesus Kristus, lahir baru dan mengenal pengudusan, kesempurnaan serta penggenapan dari iman kita, semua ini adalah pekerjaan Allah Tritunggal bukan pekerjaan kita. Dalam pasal 2:8-9, Ini adalah pekerjaan dari Allah Tritunggal yang memulai, menopang dan memberikan jalan-Nya dan juga yang mengakhirinya. Tidak ada satu bagian dari diri manusia yang memiliki andil daripadanya. Ini adalah apa yang Alkitab dengan jelas katakan. Sehingga jikalau kita bertekun dalam iman kita, maka seluruh dari hidup kita pada akhirnya akan berjumpa dengan jutaan, ratusan bahkan milliaran orang akan bertekuk lutut dan berkata bahwa “Engkaulah yang telah menjadikan semua ini ada dan terpujilah nama-Mu saja.” Tidak ada orang yang andil dalam masalah keselamatan. Alkitab dengan menyatakan hal ini. Sehingga seluruh hasilnya akan menuju pada Soli Deo Gloria (Kemuliaan hanya bagi Allah).

Sola Gratia, Sola Fide, Sola Scripture, Soli Deo Gloria, Solus Christos adalah 5 sola daripada Reformasi. Kita harus memperhatikan baik-baik apa yang menjadi penekanannya bukan pada kata Fide, Scriptura, Gratia, Christos, bukan Deo Gloria. Yang merupakan penemuan daripada reformator bukan iman, Kristus, Alkitab, Anugerah melainkan Reformator dengan tepat menekankan mengenai Sola (satu-satunya). Apakah Katolik pada waktu itu tidak memiliki atau mengatakan Alkitab, Kristus, Deo Gloria ? Ada. Tetapi Katolik pada waktu itu tidak mengatakan mengenai Sola atau satu-satunya. Kalau kita tidak memuji Allah sebagai satu-satunya, maka kita memasukkan suatu unsur manusia di dalamnya. Dan secara prinsip kita menentang apa yang dikatakan Efesus 1:1-14. Walaupun kita mendengarkan kotbah dan maju ke depan saat altar calling, memberikan suatu keputusan dalam hidup untuk meninggalkan dosa, dan semua orang bertepuk tangan melihat keteguhan komitmen hati kita, Tetap kita harus mengingat pernyataan Paulus bahwa saat orang berdosa menjadi orang suci semua itu adalah pekerjaan Allah Tritunggal saja.Penekanan mengenai keselamatan hanya pekerjaan Allah Tritunggal saja, menjadi dasar di dalam kita memahami seluruh pasal selanjutnya dalam surat Efesus ini. Bukan hanya itu, hal ini pun adalah dasar di dalam kita bertindak, berdoa, bermotivasi, kesatuan gereja, kehidupan suami-istri, orang tua-anak. Semua hal ini dapat kita lihat dalam Efesus pasal 4-6. Kehidupan orang Kristen/ kehidupan kita yang ada di depan mata, yang kita jalani sehari-hari, merupakan respon kita terhadap Cosmic Drama yang kita ketahui. Kalau hal ini tidak kita nyatakan, maka kita akan memiliki satu kehidupan yang partial, disintegrate, kehidupan yang tidak tersambung. Sebaliknya, seluruh kehidupan, perkataan, pekerjaan yang kita lakukan di dalam konteks obedience merupakan suatu respon terhadap cosmic drama yang dikerjakan dalam Allah Tritunggal ini. Itulah sebabnya pujian hanya diberikan kepada Allah saja, tidak ada andil dari manusia. Maka di dalam area seperti ini, biarlah kita boleh mengerti dimana kita harus melakukan penekanan.

Sekarang kita akan memperhatikan ayat 15-23. Bagian ini merupakan respon terhadap ayat 1-14. Salah satu respon daripada Paulus adalah dia tidak berhenti berdoa untuk meminta Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Kristus. Apa yang Paulus minta adalah untuk menyatakan bahwa kehidupan Kristiani yang bertumbuh itu sebenarnya adalah pada pengenalan akan cosmic drama ini yang dikerjakan oleh Allah dalam Yesus Kristus. Jikalau kita mengenal dan berubah melalui pengenalan tersebut, maka hidup kita akan semakin berubah dan disucikan, makin bersyukur dan memiliki fondasi yang kokoh. Kalau kita memperhatikan kembali ayat 3-14, kita akan menjumpai bahwa kata yang diulang-ulang adalah kata “di dalam Kristus”. Di sini kita harus memperhatikan baik-baik betapa Paulus menekankan Pribadi Yesus Kristus. Paulus peduli dengan jemaat Efesus yang pada waktu itu konteks kehidupan sekitar Efesus penuh dengan kehebatan salah satu dari 7 keajabian dunia kuno, yaitu Dewi Artemis dengan kuilnya. Dewi Artemis adalah satu patung Dewa perempuan dengan ratusan buah dada. Itu menggambarkan mengenai Dewi kesuburan. Kalau seseorang sedang dalam kesulitan keuangan, maka jikalau ia meminta kepada Dewi Artemis maka hidupnya akan berhasil dan berlimpah-limpah. Kalau sedang dalam penyakit, pergi ke Dewi Artemis maka ia akan mendapatkan kesehatan yang berlimpah-limpah. Seluruh orang Efesus bahkan seluruh dunia datang ke kota Efesus karena pada saat itu ini adalah agama yang terkenal. Dan jika Paulus berkata mengenai Kristus di sana, maka resikonya adalah kematian. Paulus perlu untuk menekankan mengenai “di dalam Kristus” karena Paulus harus membereskan seluruh cara pikir jemaat di Efesus. Dia mau mengatakan bahwa tidak ada satupun yang diberikan oleh Allah itu ada di luar Kristus. Seluruh berkat Tuhan berikan dengan berlimpah-limpah di dalam Kristus. Jikalau kita mengerti hal ini, maka kita akan mengetahui bahwa semuanya adalah untuk memuji kemuliaan-Nya.

Bagian berikutnya daripada ayat 15-23 adalah mengenai bagaimana kita harus berespon kepada cosmic drama tersebut. Di sini kita dapat memperhatikan bahwa respon Paulus di sini ada 2, yaitu mengucap syukur atas iman dan karena kasih yang terjadi antara orang kudus. Iman berisi mengenai kebenaran dan kasih keluar daripada apa yang diimani. Iman yang sejati akan menghasilkan kasih yang sejati. Di sini Paulus mengatakan bahwa dirinya tidak berhenti atau tidak putus-putusnya mengucap syukur atau memberikan pujian kepada Allah. Saat kita melihat pekerjaan Tuhan, mengenai bagaimana Ia melahir-barukan kita, apakah Saudara memiliki hati yang tidak putus-putusnya mengucap syukur? Kita sering melakukan ucapan syukur kepada Allah, tetapi yang dilakukan Paulus disini adalah tidak henti-hentinya mengucap syukur, berarti ada suatu kontinuitas dalam pengucapan syukur tersebut. Di sini kita melihat bagaimana Paulus memiliki kerohanian yang stabil dan mahir. Berapa kali Saudara mengucap syukur? Dapatkah Saudara tidak berhenti mengucap syukur? Mengucap syukur tidak henti-hentinya berarti ada suatu freshness. Ini suatu yang tidak mudah. Kalau kita sebagai dokter, saat pertama kali kita menjumpai pasien yang kecelakaan kita akan memiliki compassion untuk segera menanganinya, tetapi setelah 10 tahun compassion seperti itu tidak berhenti-henti berarti dia seorang yang mahir. Begitupun saat kita menjadi guru atau pengkotbah, saat kita memiliki compassion yang tidak redup, kita adalah orang yang mahir. Karena itu mintalah hati yang tidak berhenti-henti mengucap syukur. Kalau kita di dalam Kristus, marilah kita mengingat apa yang terjadi saat kita hidup di dalam kristus. Mungkin sudah bertahun-tahun kita menjadi orang Kristen, kita sudah ditebus dan seluruh hutang kita sudah dibayar lunas oleh Tuhan, bahkan kita memperoleh harta yang kekal, tetapi kenapa kita tidak bisa bersyukur terus menerus? Bukankah seharusnya bukan kita yang menerima berkat tersebut? Semua itu kita terima karena anugerah dari Tuhan. Paulus menyadari hal ini sehingga dia terus menerus mengucap syukur tidak habis-habisnya. Kalau kita mengerti ini maka kita pun seharusnya tidak mudah menghakimi sesama orang Kristen sejati karena kasih yang sejati akan muncul dengan sendirinya dari hati kita, karena pride tidak mungkin muncul jikalau kita mengerti akan cosmic drama tersebut. Kasih yang sejati akan muncul di dalam iman yang sejati, yang mengerti akan cosmic drama tersebut.

Paulus berrespon dengan tidak berhenti berdoa. Ia tidak berhenti berdoa untuk meminta kepada Tuhan berkat bagi jemaat. Maka sekali lagi hal ini adalah hal yang hanya bisa dikerjakan orang Roh Kudus saja untuk mengenal Kristus. Saat kita mengenal Kristus maka kita akan mengenal 3 hal ini: pertama adalah pengharapan panggilan, kedua adalah kekayaan kemuliaan, ketiga adalah kuasa Allah yang besar yang bekerja saat ini. Di dalam pasal 1 ayat 22 dan 23 & Efesus 2: 19-22 adalah suatu ciri daripada kitab Efesus. Ada suatu keunikan ayat-ayat dalam Efesus ini. Ujung akhir dari pasal berbicara mengenai eklesiologi. Pasal yang pertama berbicara mengenai cosmic drama, dalam pasal kedua berbicara mengenai history of reality atau apa yang Tuhan lakukan dalam time and space. Dalam pasal 1 dan 2 kita lihat dimulai dengan berbicara mengenai Christology tetapi uniknya setiap akhir dari pasal selalu diakhiri dengan pembahasan mengenai gereja. Di sini kita dapat mengerti bahwa apa yang Allah kerjakan dalam kekalan akan berujung di dalam Gereja. Gereja adalah sesuatu yang sangat vital di dalam visi Allah. Gereja bukan sekedar institusi, tetapi hasil dari pekerjaan Allah dalam cosmic drama. Karena itu kita harus menghormati Gereja yang sejati. Itulah sebabnya Saulus yang menghancurkan Gereja pada saat itu harus berhadapan langsung dengan Tuhan. Sehingga melalui peristiwa itulah Paulus menjadi tokoh Alkitab satu-satunya yang bisa mengkaitkan Gereja dengan Kristus. Kalau kita benar-benar menghargai Kristus maka kita harus benar-benar menghargai Gereja juga, karena hasil pekerjaan Allah dalam cosmic drama adalah Gereja. Hati-hati dalam kehidupan bergereja kita karena Gereja adalah suatu hal yang menjadi isi hati Tuhan.