Anda disini : Home » Reformed Theology » 10 Hukum Taurat » Jangan Mencuri
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Jangan Mencuri

Ev. Jimmy Pardede, M.A.

(Imamat 19: 9-18)
Kita akan melihat apa yang dimaksudkan dengan jangan mencuri, tapi tiap kali kita menyelidiki Hukum Taurat, apalagi menyelidiki 10 poin dalam Keluaran 20 maka kita harus mengerti seluruh Hukum Taurat diberikan untuk menjadi prinsip utama di dalam kehidupan manusia. Tuhan memanggil manusia untuk menjadi umatNya yang kudus, Tuhan memanggil orang-orang untuk ditebus menjadi kumpulan umat yang bukan lagi milik dunia ini, yang bukan lagi menjadi pola pikir dunia, tapi menjadi milik Tuhan. Kalau umat ini sudah menjadi milik Tuhan, lalu dia hidup di dunia bagi Tuhan, maka keselamatan yang dia peroleh adalah satu titik awal untuk seluruh kehidupan yang dipersembahkan kepada Tuhan. Kalau kita memandang dengan salah, melihat keselamatan sebagai tujuan akhir yang kita mau capai, lalu inilah satu-satunya yang penting dalam hidup, maka Saudara salah menilai konsep keselamatan. Manusia tidak dipanggil untuk diselamatkan. Manusia diselamatkan untuk mengerjakan sesuatu bagi Tuhan. Karena itu pertanyaan paling dasar bukan “saya sudah selamat atau belum?”, tapi pertanyaan yang justru lebih utama “saya sudah hidup bagi Tuhan atau belum?”. Bagaimana mungkin hidup bagi Tuhan kalau belum selamat, maka Tuhan menyelamatkan, Tuhan memberikan penebusan, setelah itu Tuhan menuntut kita untuk hidup bagi Dia. Tuhan tidak menciptakan manusia hanya supaya drama keselamatan dilaksanakan, Tuhan tidak menciptakan manusia hanya untuk membuat mereka dibiarkan jatuh dalam dosa setelah itu ditebus, setelah itu selesai. Tuhan menciptakan manusia untuk menyatakan kemuliaan Tuhan di dunia ini. Itu sebabnya kehidupan manusia yang ada di dunia seharusnya mencerminkan semua sifat Tuhan. Kalau keberadaan kita di dunia tidak memancarkan kemuliaan Tuhan, Tuhan di dalam anugerahNya berkenan untuk terus mengoreksi. Tuhan memberikan Firman, Tuhan menuntut, Tuhan menuntun, Tuhan memberikan kebenaran, Tuhan memberikan pelatihan sehingga semua kebenaran yang kita ketahui boleh kita terapkan dalam hidup. Maka orang Kristen yang tidak pernah menanyakan apa yang harus saya lakukan itu adalah orang yang tidak pernah mengerti apa makna Firman Tuhan bagi kita. Banyak orang Kristen mengatakan “kadang-kadang Firman Tuhan kurang relevan dengan hidup saya” tapi ini terjadi karena dia menolak mengubah cara berpikir dalam hidup. Dia terus berfokus pada diri lalu minta Tuhan untuk sesuaikan dengan program saya, Tuhan sesuaikan dengan apa yang menjadi cita-cita saya. Waktu yang Tuhan nyatakan berbeda dengan apa yang saya cita-citakan dan yang saya tuju, saya mengatakan “apa yang Tuhan nyatakan tidak sesuai dengan apa yang menjadi pergumulan hidup”. Maka pergumulan hidup Saudara yang harus diubah, bergumul untuk cari tahu kehendak Tuhan, bergumul untuk berdoa dan minta Tuhan perbaiki hidup kita yang rusak. Inilah pergumulan yang sejati. Dan setiap orang yang dengan tulus mencari kehendak Tuhan dengan cara ini akan menemukan Firman Tuhan di setiap bagian sangat relevan, sangat penting dan sangat limpah di dalam hidup. Orang yang merasa sudah rohani justru orang yang tidak rohani, orang yang merasa diri masih sangat jelek ini justru orang yang mempunyai kerohanian lebih dewasa. Orang yang merasa perlu dibimbing, orang yang merasa perlu diubah, waktu baca Alkitab terus koreksi diri bukan koreksi orang. Orang yang mendapat anugerah dari Firman Tuhan, merasa Firman Tuhan menegur saya. Saudara merasa Firman bagus karena menegur orang lain, itu bukan orang yang benar. Saudara harus merasa Firman itu menegur saya, baru Firman ini bagus.

Taurat sangat diperlukan oleh manusia, kita harus terus belajar “Tuhan bagian apa dalam hidup saya yang masih harus terus dikoreksi, Tuhan bagian apa yang saya sudah nyaman tapi ternyata perlu diubah oleh Tuhan? Kadang-kadang orang Kristen, apalagi dalam gerakan Reformed Injili sangat berpusat pada angka, prestasi diidentikan dengan angka. “Kamu sudah jangkau berapa orang? Kamu sudah bawa berapa orang? Kamu sudah menginjili berapa orang?”. Tapi pertanyaan berikut adalah “rohanimu bagaimana? Apakah engkau punya kerohanian yang sungguh-sungguh ditundukan kepada Tuhan? Usahamu bagaimana? Pelayananmu bagaimana? Sikapmu kepada orang bagaimana? Maka Firman Tuhan berbicara dengan sangat ketat dan kehidupan kita yang dipimpin oleh Roh Kudus adalah kehidupan yang Tuhan pakai untuk membentuk kita perlahan-lahan menjadi makin lama makin terkonfirmasi bahwa kita adalah orang yang sudah diselamatkan oleh Tuhan. Maka Tuhan memberikan FirmanNya, Tuhan memberikan 10 peraturan yang dieksposisi dengan cara sangat luar biasa dalam 5 kitab pertama. Tuhan merangkumnya dalam 10 peraturan dalam Keluaran 20. Dikatakan oleh Paulus, ketika peraturan ini diberikan banyak orang mati lalu ketakutan menimpa semua orang. Tapi ketika berita Injil diberikan, sukacita dibagikan kepada semua orang. Maka sepertinya ada kesan Hukum Taurat ketika diberikan menjatuhkan kutuk kepada manusia, tetapi ketika berita Injil dibagikan memberikan kebebasan kepada manusia. Ini sense yang kita bisa tangkap. Tuhan memberikan peraturan sangat ketat dan di dalam berita Injil memberikan pembebasan. Tapi Yohanes Calvin dengan sangat cerdas menggabungkan keduanya, dia mengatakan “pembebasan yang dikerjakan oleh Injil membuat saya bisa menaati Taurat dengan kerelaan hati. Pembebasan yang dikerjakan oleh Injil membuat saya mengerjakan Taurat tanpa ancaman hukuman”. Maka yang didorong oleh pengertian yang sejati dari Injil adalah setelah saya dipertobatkan sekarang saya mengerti dan rela untuk mengerjakan apa yang Tuhan perintahkan. Dan Saudara kalau sudah kerjakan apa yang Tuhan perintahkan, rela menjalani apa yang Tuhan mau, Saudara akan temukan damai sejahtera itu perlahan-lahan Tuhan bagikan. Ada orang-orang yang sepertinya harus rugi waktu menaati perintah Tuhan, tetapi dia sadar kerugian secara uang tetapi keuntungan secara rohani itu jauh lebih penting. Itu sebabnya dalam bagian-bagian Hukum Taurat perlu penjelasan untuk membuat kita mengerti bahwa kita perlu standar ini supaya hidup kita beres. Bahkan seorang bernama Thomas Aquinas waktu dia membahas tentang Taurat, dia mengatakan bahwa seluruh hukum di dunia harus tunduk kepada Taurat. Karena Taurat adalah pernyataan dari sifat Tuhan. Tuhan menyatakan sifatNya, keadilanNya, kesucianNya dan itu dirumuskan dalam Taurat dan seluruh peraturan harus tunduk kepada Taurat ini. Peraturan dari negara mana pun, entah negara itu takut Tuhan atau tidak, semua peraturan yang baik itu akan menemukan tempatnya dalam Taurat. Maka pada Taurat ada keseimbangan antara kasih Allah dan keadilan Allah. Peraturan mana pun yang dinyatakan dengan tegas, itu harus mempunyai kekuatan untuk menghakimi pelanggarnya. Inilah perjanjian yang Tuhan katakan di dalam Taurat “Aku menyatakan peraturanKu dan Aku mempunyai kekuatan untuk memastikan peraturan ini jalan”. Maka selain Dia memberikan peraturan, Dia memastikan orang akan tunduk. Itu sebabnya peraturan datang dengan ancaman bagi siapa yang melanggar. Tapi kita perlu tahu setiap ancaman yang Tuhan berikan itu adalah ancaman karena belas kasihan, Tuhan tidak pernah mengancam hanya untuk kesewenang-wenangan Dia untuk merasakan senang karena orang merasa terancam. Tuhan memberikan ancaman karena kalau kita melanggar apa yang kita dapatkan dalam hidup jauh lebih parah dari pada apa yang Dia nyatakan sebagai ancaman dari pelanggaran itu. Dari Martin Luther lalu Yohanes Calvin, ketika membaca Hukum Taurat ini, mereka mengatakan membaca Taurat harus melihat pembahasan positif jangan hanya lihat aturan perintah negatif. Perintah larangan mengatakan “jangan”, tapi eksposisinya adalah dorongan untuk melakukan sesuatu. Maka kalau Saudara mentaati Taurat dengan tidak melakukan sesuatu, Saudara belum mentaatinya kalau Saudara belum melakukan apa yang eksposisinya. Kalau Tuhan perintahkan “jangan membunuh”, maka sebenarnya yang Tuhan tuntun bukan hanya “jangan membunuh”, maka kita tidak membunuh. Tapi kita menghargai nyawa orang lain, lalu mempunyai penghormatan dan kasih. Demikian juga dengan “jangan mencuri”. Di dalam perintah jangan mencuri terkandung penjelasan yang sangat limpah tentang beberapa hal.

Yang pertama adalah tentang harta. Dalam ayat 10 dikatakan “juga sisa-sisa buah anggurmu jangalah kau petik untuk kedua kalinya. Dan buah yangberjatuhan di kebun anggurmu janganlah kau pungut. Tapi semuanya itu harus kau tinggalkan bagi orang miskin dan orang asing. Akulah Tuhan Allahmu”. Tuhan menyatakan setiap orang yang punya kebun jangan lupa bagian itu adalah pemberian Tuhan kepadamu dan dalam pemberian Tuhan itu ada bagian milik orang lain yang dititipkan kepada kita. Ini merupakan cara penjelasan yangs angat indah. Tuhan mau setiap hasil ladang yang tersisa, jangan diambil. Kalau Saudara petik anggur dari satu pokok lalu pindah ke pokok yang lain, maka yang tersisa dari pokok yang pertama, Saudara tidak boleh balik lalu ambil. Kalau anggur yang Saudara petik jatuh, Saudara tidak boleh pungut. Yang jatuh jadi haknya orang miskin, yang tertinggal di pohon menjadi haknya orang miskin dan orang asing. Maka orang yang punya ladang akan terus petik dan membiarkan yang sisa menjadi milik orang lain. Ini merupakan cara Tuhan menyatakan bahwa semua harta yang dimiliki oleh manusia itu diberikan oleh Tuhan. Tuhan yang memberikan kepada kita, Tuhan yang memberikan di dalam posesi kita. Uang Saudara, rumah Saudara, harta apa pun yang Saudara miliki, semua pemberian Tuhan langsung kita terima. Bukan karena kita telah melakukan sesuatu. Kalau orang menanam anggur, dia mungkin bisa dengan bangga mengatakan “saya kerja keras untuk anggur ini. Maka dikatakan Paulus “memang benar kamu yang menanam, kamu yang menyiram, tetapi yang penting bukan yang menanam, bukan yang menyiram tetapi Tuhan yang memberikan pertumbuhan”. Kalau punya pohon mangga, apakah Saudara berdaulat penuh atas pohon itu? tidak. Apakah Saudara bisa tumbuhkan buahnya? Kalau belum musimnya, Saudara bisa bentak-bentak pohonnya? tidak bisa. Buah itu keluar semua anugerah Tuhan, kita tidak mengerti mengapa dari air dan pupuk yang kita taruh bisa keluar buah. Maka apa pun yang Saudara kerjakan yang menghasilkan uang, menghasilkan kelimpahan harta yang Saudara miliki, jangan lupa itu dari Tuhan, Tuhan yang berikan. Dan waktu Tuhan berikan, Tuhan berikan di dalam anugerahNya untuk menjadi milik dari setiap individu. Orang yang mendapat anugerah dari Tuhan, dia harus ingat Tuhan memberikan dan boleh dapat karena Tuhan yang beri. Prinsip yang kedua, saya dapat dari Tuhan, berarti saya harus pertanggung-jawabkan kepada Tuhan. Saya dapat dari Tuhan, saya ingat Tuhan yang beri dan saya ingat setiap hal yang Tuhan berikan Tuhan tuntut tanggung jawab. Yang diberi banyak akan dituntut banyak, yang diberi sedikit akan dituntut sedikit. Yang dapat banyak kelimpahan, Tuhan akan tuntut tanggung jawab sangat banyak. Lalu bagian selanjutnya mengatakan yang banyak dipercayakan akan banyak lagi dituntut. Tuhan mempercayakan apa kepada kita? Tuhan akan tuntut pertanggung-jawaban. Seberapa besar engkau mempertanggung-jawabkan semua yang Tuhan sudah berikan. Kadang-kadang manusia di dalam dunia lihat orang lain punya harta lebih banyak, langsung iri. Lihat orang lain punya kedudukan, punya pangkat, punya kenikmatan lebih tinggi, kita langsung iri kepada orang itu. Lalu langsung kita merasa “dia tidak berhak dapat, saya yang berhak dapat. Dia tidak berhak menikmati cara hidupnya sekarang, dia tidak berhak menikmati harta sebanyak ini, harusnya saya yang dapat”. Pengertian inilah yang akhirnya membuat orang mencuri, orang merasa Allah bertindak tidak adil. “Mengapa Engkau memberikan limpah kepada yang satu dan memberikan yang kurang kepada yang lain?”. Konsep keadilan dari Alkitab bukan konsep sama rata, sama rasa, semua dapat sama, semua dapat baju sama, warna sama, kualitas sama, ini sistem dari komunis yang sudah terbukti gagal. Keadilan Alkitab mengijinkan keragaman berkat boleh kita terima. Berkat Tuhan itu bukan hanya harta, Tuhan kadang memberikan berkat dalam kelimpahan yang bentuknya beda dari harta. Berkat Tuhan tidak bisa dikecilkan hanya dengan uang”. Saudara diberkati dengan uang banyak, puji Tuhan. Saudara diberkati dengan uang sedikit, tetap puji Tuhan. Karena setiap pemberian besar atau kecil, Tuhan akan tuntut, inilah konsep keadilan Tuhan. Bukan sama rata, sama rasa, tapi yang diberi banyak dituntut banyak, yang diberi sedikit akan dituntut sedikit. Yang punya uang milyaran, Tuhan akan tanya “uang milyaranmu dipakai untuk apa”, yang punya uang ratusan ribu, Tuhan tetap akan tanya “uang ratusan ribumu dipakai untuk apa?”. Kalau saya dapat berkat dari Tuhan, saya harus ingat berkat sekaligus pujian sekaligus tanggung jawab. Pdt. Dr. Stephen Tong mengatakan salah satu bentuk ujian yang Tuhan sering pakai itu uang. Waktu Saudara kurang, Saudara bersikap apa kepada Tuhan? Waktu Saudara lebih, Saudara bersikap apa kepada Tuhan? Ini akan menentukan seberapa besar rohani Saudara bertumbuh di hadapan Tuhan. Yang tidak tanggung jawab, tidak peduli tentang uang, dia adalah orang yang rohaninya sangat rusak. Alkitab sudah mengatakan bahwa pencuri adalah satu pekerjaan yang Tuhan sangat hina. Dalam Taurat dikatakan “jangan mencuri”, di dalam Amsal dikatakan orang yang tidak menghargai waktu dan usaha dan tidak mengumpulkan pada waktunya, maka dia akan menjadi orang yang membebani orang lain dan dia disamakan dengan pencuri. Gaya hidup mewah itu sama sekali tidak Alkitabiah. Orang puritan dari Inggris yang pindah ke Amerika, salah satu yang mereka tekankan sebagai standar hidup adalah kesederhanaan, mereka merasa berdosa kalau habiskan uang lebih banyak dari seharusnya hanya karena sesuatu yang bersifat mewah. Kalau kemewahan harus dibayar dengan harga yang begitu besar, itu adalah dosa. Orang Kristen sejati akan membuat satu bangsa kaya, karena mereka akan melakukan tindakan ekonomi yang perlu. Salah satu dusta teori ekonomi yang banyak dipercaya adalah konsumerisme akan meningkatkan pendapatan, meningkatkan ekonomi, membuat perputaran ekonomi cepat. Tetapi faktanya adalah konsumerisme tidak membuat perputaran ekonomi cepat, membuat hutang naiknya cepat. Negara yang membuat hutang dari credit card sekarang adalah Amerika. Bahkan ada satu ekonom mengatakan Amerika akan masuk dalam krisis yang berikut, yang namanya krisis credit card. Yang dulu krisis perumahan, yaitu surat rumah dijual-belikan dengan harga yang melambung luar biasa, padahal harga rumahnya tidak segitu. Akhirnya mereka langsung collapse, sebentar lagi mereka akan collapse karena credit card dipakai gampang sekali. Saya heran, dunia sekarang sangat menghargai tukang hutang, yang bayar cash mesti bayar full, yang hutang boleh separuh harga, inilah generalisasi dari zaman sekarang. Tapi sebenarnya credit card akan menumpuk hutang, akan menumpuk perputaran ekonomi yang terlalu cepat dan tidak perlu. Waktu perputaran ekonomi terlalu cepat dan tidak perlu, negara ini dalam pertumbuhan ekonomi yang semu. Dan setiap hal yang semu akan kembali kepada yang asli, dia akan collapse. Sifat mencuri sudah mulai ada, dan lingkungan kita yang sangat mengidolakan kekayaan mendorong kita untuk berada dalam posisi terjepit. Kalau tidak punya barang ini, termasuk golongan masyarakat rendah. Kalau tidak bisa punya mobil merk ini, termasuk golongan masyarakat rendah. Ini mendorong orang untuk terus bergerak, akhirnya mulai merasa uang tidak cukup, karena ingin semua barang, ingin semua barang karena semua orang punya, ini prinsip yang aneh. Tapi Alkitab sudah mengatakan Tuhan tahu keperluanmu, Tuhan tahu engkau perlu, Tuhan tahu masa hidupmu akan berapa lama dan selama masa hidup itu Saudara jalani, Tuhan tidak akan meninggalkan Saudara. Kalau ini menjadi janji kita, biar kita tenang di hadapan Tuhan. Apa gunanya mencuri kalau Tuhan sudah janji untuk cukupkan. Saya pernah dengar hamba Tuhan berkhotbah mengatakan orang Kristen kalau mencuri, itu benar-benar mempermalukan nama Tuhan, seolah-olah Tuhan tidak sanggup pelihara anak-anakNya. Maka jangan sampai kita jatuh dengan mempermalukan Tuhan seperti ini. Yang kita miliki cukup. Dan kalau yang kita miliki sepertinya kurang, nanti Tuhan akan cukupkan. Ini iman yang sangat kita perlu untuk berjalan di zaman kita sekarang, dimana semua dinilai dengan uang dan uang seberapa banyak pun tidak pernah cukup untuk kehidupan standar yang kita boleh jalani. Tapi Alkitab mengatakan hargai yang Tuhan berikan dan setelah itu boleh menikmati dengan baik apa yang sudah dimiliki. Semua bentuk keserakahan yang menuju kepada dosa yang lebih besar, ini akan mendorong orang untuk masuk dalam cobaan, untuk akhirnya mencuri. Di dalam pelajaran ekonomi dikatakan ilmu ekonomi adalah dengan modal sekecil-kecilnya mencari keuntungan sebesar-besarnya. Saya tidak tahu ini kalimat dari siapa dan ilmu ekonomi tidak pernah mengajarkan seperti ini. Dosen ekonomi saya mengatakan “kalau ada diantara orang yang punya gelar ekonomi lalu mengatakan ilmu ekonomi dengan modal sekecil-kecilnya ambil keuntungan sebesar-besarnya, saya akan copot gelar ekonomimya. Tapi ternyata di buku sekolah ada, di buku ekonomi “dengan modal sekecil-kecilnya mencari keuntungan sebesar-besarnya” ini tidak ada. Tidak ada tokoh yang mengatakan seperti ini. Ilmu ekonomi itu belajar mendistribusi dengan tepat dan belajar mengefisiensikan pengeluaran. Jadi kalau Saudara belajar ilmu ekonomi, Saudara belajar mendistribusikan dengan tepat semua harta yang Saudara miliki. Itu sebabnya dalam pengertian yang sehat seluruh ilmu di dunia itu punya unsur benar yang sebenarnya berasal dari Alkitab. Tugas orang Kristen adalah menggali, bagian kita yang masih benar itu apa, lalu tonjolkan itu. Ilmu ekonomi mengatakan “distribusikan dengan adil”, berarti kalau Saudara dapat uang dan merasa ini adalah berkat Tuhan bagi saya, lalu setiap berkat yang Tuhan berikan bagi Saudara itu selalu harus ingat bahwa dari setiap berkat itu Tuhan minta ada 3 hal. Pertama, Tuhan berikan uang atau harta di dalam genggaman Saudara untuk dinikmati, jangan merasa bersalah kalau menikmati uang Saudara. Saudara punya uang lebih bisa liburan ke Swiss, ya silahkan, asal benar bisa punya uang itu. Kalau liburan Saudara hanya punya kapasitas pergi ke Lembang, ya jangan paksakan ke Swiss, apalagi sampai hutang. Setelah Saudara sadar uang yang dimiliki boleh dinikmati, jangan lupa tidak semua boleh, hanya sebagian. Sebagian lagi harus berikan untuk Tuhan. Mengapa berikan untuk Tuhan? Karena Tuhan yang berikan untuk Saudara, seluruh harta itu sebenarnya milik Tuhan. Semua yang Saudara punya itu milik Tuhan, kalau Tuhan mau minta semua, Saudara harus rela. Kalau ada satu momen Tuhan mengatakan “semua milikmu berikan kepadaKu” harus rela. Karena Tuhanlah yang memiliki semua hidup Saudara dan semua properti yang Saudara miliki. Ketika ada anak muda yang datang kepada Tuhan Yesus, Tuhan mengatakan “Aku minta satu syarat lagi, jual semua hartamu berikan kepada orang miskin, ikut Aku”. Mengapa Tuhan berhak menjual seluruh harta? Karena Dia pemilik sejatinya. Kalau Dia adalah pemilik sejatinya, apakah boleh memindahkan? pasti boleh. Kalau Saudara punya aquarium 2, Saudara mau pindahkan satu batu dari satu aquarium ke aquarium yang lain, bolehkah ikan dari aquarium ini protes? Ikan itu tidak bisa melakukan apa-apa, karena memang dia tidak berhak, Saudara yang berhak. Maka kalau Tuhan mau ambil semua harta Saudara pun, Dia berhak. Tapi kalau Dia masih memberikan kesempatan Saudara boleh menikmati, nikmatilah dengan bijaksana. Jangan jadikan uang kesempatan untuk jatuh dalam dosa.

Jadi punya banyak uang punya potensi berdosa. Tapi punya banyak uang juga punya banyak tanggung jawab besar untuk Saudara distribusikan untuk Tuhan. Maka semua yang Tuhan berikan boleh dinikmati, tapi ingat ada beberapa bagian untuk Tuhan. Bagian untuk Tuhan hakNya Tuhan, bagian untuk Tuhan tidak diminta dengan memohon-mohon, tapi diminta dengan otoritas berikan persembahan. Itu sebabnya dalam kebaktian harusnya gereja berani mengatakan “berikan persembahan dengan sukarela dan sukacita”. Gereja berhak dengan otoritas ini karena otoritas dari Tuhan yang diberikan kepada gereja, asal gereja ini distribusikan keuangan dengan benar, itu adalah otoritas yang harus didengar. Dan yang ketiga, ada bagian untuk memajukan lingkungan, memajukan orang lain. Saudara punya uang, Saudara harus ingat bagian ini harus diberikan kepada orang lain, dan jangan buang uang ini kepada orang yang dengan mudah cuma minta-minta. Saya tidak mengatakan Saudara tidak boleh memiliki kemurahan hati, tapi saya minta Saudara punya hikmat. Kadang orang merasa kalau sudah memberi uang kepada yang mengemis, semua tanggung jawab moral selesai. Lalu pengemis itu dapat 500, 1.000, semua dikumpulkan, ternyata pengemis itu lebih kaya dari Saudara, mungkin. Uang bagian yang diberikan Tuhan kepada kita, ada bagian orang lain untuk memajukan mereka, bukan untuk meruntuhkan mereka. Kalau Saudara memberi pada 1 orang, orang itu menjadi malas, orang itu tidak kerjakan apa-apa, Saudara menjerumuskan dia. Orang malas perlu didorong untuk kerja. Itu sebabnya bagi sayahal yang paling mungkin untuk Saudara menolong orang lain selalu berkait dengan dunia pendidikan. Tolong orang pintar yang tidak mampu untuk studi, ini sangat baik. Tolong orang yang tidak sanggup tuntut ilmu pengetahuan karena begitu mahalnya pendidikan, Saudara bisa tolong dia. Saudara tidak bisa mengharapkan biaya sekolah, biaya universitas yang mahal bisa turun. Setiap universitas akan memberikan pendapatan yang layak untuk dosen-dosennya, tapi pendapatan yang layak berarti harus ada pemasukan, pemasukan dari orang yang mau kuliah. Orang yang mau kuliah mesti bayar mahal, bagaimana dengan yang tidak mampu? Untuk orang tersebut ada jalur khusus dan Saudara bisa berbagian di dalam memperbaiki masyarakat dan memperbaiki kualitas hidup manusia. Itu sebabnya dalam Alkitab dikatakan ada bagian untuk orang lain, ada bagian untuk menolong yang lapar, untuk menolong yang tidak mampu, untuk menolong yang sudah kerja keras tapi tetap kurang. Biarlah kita punya kepekaan untuk hal ini. Setiap Saudara dapat uang, dapat harta, doa sama Tuhan “mana yang boleh aku pakai ya Tuhan? Mana yang untuk Engkau? Mana yang untuk tolong orang lain. Dan yang untukorang lain, saya ingin tahu siapa yang boleh saya tolong”. Kalau Saudara terus bergumul seperti ini, tidak mungkin tiba-tiba keinginan untuk mencuri. Saudara sibuk untuk memikirkan apa yang harus dilakukan dengan yang ada. Saudara tidak harus menjadi milyarder dulu untuk melakukan hal ini, gaji Saudara begitu terbatas, tetap bisa melakukan ini. Dengan keuangan terbatas tetap bisa tolong orang lain. Jadi kalau Saudara terus pikir “saya kurang, saya miskin” lama-lama Saudara jadi pencuri. Tapi kalau Saudara mengatakan “saya limpah, saya harus berbagi” tidak mungkin godaan untuk mencuri itu datang. Biarlah kita menaati Firman Tuhan dengan pengertian yang utuh sehingga kita boleh makin limpah mengerti kebenaran yang Tuhan bagikan.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)