Anda disini : Home » Reformed Theology » 10 Hukum Taurat » Jangan Berzinah
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Jangan Berzinah

Ev. Jimmy Pardede, M.A.

(Keluaran 20: 14, Imamat 20:10-24)
Perintah yang singkat “jangan berzinah” ternyata mempunyai penerapan yang begitu dalam, yang mengaitkan begitu banyak sisi dari peraturan Tuhan. Ketika Tuhan memerintahkan “engkau jangan mengikuti kebiasaan bangsa-bangsa yang Aku lenyapkan dari tengah-tengah kamu”, dan waktu Tuhan membagikan apa-apa saja yang mereka sudah kerjakan, kita mungkin sangat kaget, kita heran mengapa ada manusia bisa melakukan itu. Dan kecemaran mereka begitu luar biasa, sehingga setiap larangan Tuhan adalah cerminan dari betapa rusaknya manusia. Hukum Taurat tidak diberikan untuk mencegah dosa yang akan datang, Hukum Taurat diberikan untuk menggambarkan apa yang sudah terjadi. Ini seperti alat rontgen, ini seperti satu diagnosa yang melihat kerusakan manusia. Kalau manusia tidak mengenal Tuhan, maka manusia makin lama makin dibiarkan Tuhan untuk terus berada dalam kecemaran. Di dalam Roma 1 dikatakan setelah manusia meninggalkan Tuhan, menolak menyembah Tuhan, Tuhan menyerahkan mereka ke dalam kecemaran mereka sendiri. Tuhan biarkan mereka, Tuhan ijinkan mereka terus berada dalam dosa, dan dosa itu membuat mereka makin lama makin rusak. Ketika Tuhan membiarkan manusia, manusia tidak tetap berada dalam keadaan netral, mereka terus jatuh, mereka terus menjadi hina. Di dalam Alkitab dinyatakan bahwa manusia adalah gambar Allah. Tetapi setelah manusia jatuh dalam dosa, iblis berusaha merusak gambar Allah ini, sehingga bumi bukan penuh dengan kemuliaan Allah tapi penuh dengan pribadi-pribadi yang najis sama seperti setan sendiri adalah najis. Tuhan mengatakan bahwa gereja adalah umat yang dipanggil keluar, dipanggil dari kecemaran dunia. Ini tidak berarti nahwa kita harus menghindarkan diri dari dunia, Paulus mengatakan itu tidak mungkin “kalau saya harus berhenti berinteraksi dengan dunia berarti saya harus dipanggil Tuhan lalu saya mati, baru saya bisa berhenti”. Saya tidak mungkin tidak berkontak dengan dunia, saya tidak mungkin tidak punya relasi dengan orang-orang di dunia, tetapi panggilan Tuhan bagi umatNya adalah supaya ada sekelompok orang yang terus dimurnikan oleh Firman. Tuhan sudah menyatakan kalau Dia sudah berfirman, lalu FirmanNya diabaikan, maka ganti Dia yang akan mengabaikan dan membiarkan kita hidup makin lama makin cemar. Ini peringatan dari Roma 1. Seringkali kita pikir kita yang menentukan kapan Tuhan boleh bicara, kapan tidak. Ketika Dia mengatakan “Aku mau berbicara” tapi Saudara tulikan telinga dari Firman, Tuhan akan mengatakan “baik, kalau begitu Aku biarkan engkau makin lama makin cemar”, inilah yang terjadi di dalam Roma 1. Maka Paulus menyatakan Tuhan sudah menyatakan diri dan manusia tahu, tapi mereka mengabaikan apa yang Tuhan sudah nyatakan, maka Tuhan membiarkan mereka. Karena mereka mengabaikan Tuhan, Tuhan pun ganti mengabaikan mereka. Ketika reaksi kita adalah mengabaikan maka ganti Dia akan mengabaikan kita dan membiarkan kita makin lama makin cemar. Ini peringatan supaya kita menghargai setiap seruan supaya kita kembali kepada Tuhan. Dan Roma 1 mengatakan tanda kecemaran manusia adalah kehidupan seksual yang tidak bisa dikekang lagi. Tanda kecemaran bukan hanya kekerasan, tanda kecemaran juga adalah penyimpangan seksual. Tanda kecemaran adalah pencarian kenikmatan melalui seks dengan cara yang tidak diperkenan Tuhan. Tanda kehancuran manusia adalah ketika hawa nafsu ganti menguasai manusia, bukan manusia menguasai hawa nafsu.

Pada awal abad 20 ada pemikir Prancis yang bernama Michel Foucault yang menulis pada pertengahan abad 20, dia menyelidiki tentang abad 18 dan 19, dan biasanya orang mengatakan pada abad ke-18 dan 19 Eropa itu sangat sopan, sangat penuh dengan dignitas, sangat penuh dengan cara hidup yang agung dan menghindarkan diri dari semua hal yang remeh dan yang cemar. Tapi Foucault mengatakan itu bukan fakta, faktanya adalah di dalam sejarah orang pada abad 18 dan 19 di Eropa sangat menekankan seksualitas. Mereka sangat menekankan pemuasan birahi mereka. Dan dalam penyelidikan Foucault dikatakan setidaknya ada 3 cara orang mengekspresikan seksualitas mereka. Yang pertama adalah dari bisang agama sendiri, orang terus digali kecemaran seksualitasnya lalu dibagikan kepada orang lain, tanpa sadar ini mengangkat tema seks menjadi satu tema yang begitu sering dibicarakan di dalam gereja Tuhan tanpa ada solusi yang benar. Lalu golongan kedua menurut Foucault adalah orang-orang yang membahas seksual dengan cara akademis tapi sambil membahas akademis sebenarnya sedang memuaskan hawa nafsu mereka sendiri dengan memakai kedok pembahasan akademis. Lalu golongan ketiga menurut Foucault adalah kelompok orang-orang yang hidup di Eropa yang mengaitkan antara romantisisme dengan erotisme, mereka adalah orang-orang yang meninggikan cinta tapi akhirnya jatuh dalam hawa nafsu. Penyelidikan Foucault banyak yang kritik, tapi bagi saya setidaknya poin ketiga ini sangat benar. Masuk abad 19, Eropa dilanda oleh wabah bernama romantisisme. Dan dalam romantisisme orang mengagungkan cinta, mengagungkan perasaan satu kepada yang lain, dan mengabaikan segala kekakuan norma-norma Kristen seperti pernikahan. Maka Saudara bisa lihat pemusik-pemusik agung seperti Chopan, tidak pernah menikah dengan seorang maka perempuan lalu tinggal bersama. Lalu seorang bernama Franz Liszt, sudah 3 kali mencuri istri orang lalu tinggal dengan dia. Franz Liszt ini orang yang betul-betul tampan dan mempunyai kemampuan bermusik yang luar biasa. Dikatakan kalau dia main, orang bisa histeris mendengarnya, jadi ini adalah boyband korea sebelum boyband korea ada. Dia kalau main piano, semua kagum bahkan perempuan-perempuan akan duduk di depan dan semua histeris. Ada orang yang mengatakan engkau mendengar permainan musiknya 5 menit, engkau sudah jatuh cinta kepada dia. Maka dia coba dekati istri bangsawan, dan hanya bicara 1 menit, istri bangsawan sudah jatuh cinta sama dia, kemudian dia tanya “minggu depan kita lari bersama mau tidak?”, “mau”, lalu larinya mereka bersama ini dianggap sebagai hal yang romantis. Ini bukan romantis ini sesat, ini bukan romantis tapi ini menjijikan bagi Tuhan! Ini yang terjadi pada abad 19, konsep romantisisme, konsep aku jatuh cinta kepada orang ini adalah cinta yang harus kita agungkan dan tinggikan. Tapi Alkitab tidak mengatakan itulah sesuatu yang diperkenan oleh Tuhan. Maka dunia memberi tawaran, ini menyenangkan, ini seperti hidup dalam dunia impian. Tapi Alkitab mengatakan “tidak, orang yang mengabaikan lembaga yang Tuhan sudah tetapkan adalah orang yang akan makin terjerumus di dalam dosa dan kecemaran. Pada waktu itu ketika orang lari dengan istri orang lain, kemudian tinggal bersama, boleh menikmati hidup dan kehidupan seks yang menyenangkan, ini dianggap sebagai suatu kebebasan.Tidak ada lagi masyarakat yang akan menghakimi, tidak ada gereja yang akan mengutuk, tidak ada lagi pemerintah yang akan memenjarakan, semua dibebaskan. Kebebasan seperti ini dianggap sesuai dengan motto modernisme yaitu hidup kebebasan dan juga kelepasan dari keterikatan tradisi. Tapi ini sebenarnya tanda kecemaran manusia, akhirnya manusia makin jatuh dalam relasi yang memanfaatkan satu dengan lain, makin mengutamakan kesenangan dan hawa nafsu, makin meninggikan semua yang bisa diterima dari orang lain untuk kesenangan pribadi. Maka Alkitab sangat mencela setiap tindakan penyelewengan dari seksual manusia. Maka Tuhan mengingatkan penyelewengan seksual dan penyimpangan yang berat ini, semuanya bermula karena perintah “jangan berzinah” ini sudah diabaikan oleh manusia. Manusia bertanya “apa itu berzinah? Kalau saya sudah cocok dengan orang lain mengapa tidak boleh? Kalau saya sudah bosan dengan pasangan saya, mengapa tidak boleh bubar?”. Tetapi orang yang mengatakan ini adalah orang yang tidak mengerti konsep pernikahan yang sejati. Alkitab mengatakan bahwa konsep pernikahan harus mencerminkan konsep perjanjian antara Tuhan dengan manusia. Tuhan mengikat DiriNya dengan manusia dalam perjanjian, bahkan Tuhan pun tidak bebas secara mutlak. Tuhan yang bebas mengikat kebebasanNya dalam kalimatNya sendiri, maka Tuhan menyatakan “Aku bersumpah demi diriKu sendiri, Aku akan memberkati keturunanmu” ini diucapkan kepada Abraham. Di dalam Surat Ibrani dikatakan Tuhan bersumpah demi diriNya sendiri karena tidak ada yang lebih besar dari Dia. Orang bersumpah atas otoritas yang lebih tinggi, Tuhan bersumpah atas diriNya sendiri. Dan Allah yang setia mengatur relasinya dengan manusia dalam konsep perjanjian.

Dalam konsep perjanjian ini Tuhan menggabungkan 2 hal yang sangat dianggap kontradiksi. Yang pertama Tuhan menggabungkan kewajiban. Dan yang kedua, Tuhan menggabungkan juga kerelaan. Karena ada perjanjian, Tuhan wajib menjalankan. Tetapi karena ada belas kasihanNya, Dia rela menjalankan. Waktu Tuhan mengatakan kepada Israel “Aku akan membebaskan engkau keluar dari Mesir” dia melakukan ini karena dikatakan “Aku kasihan melihat engkau, hatiKu tergerak oleh belas kasihan karena engkau ditindas oleh orang Mesir”. Tapi Tuhan juga sudah mengatakan kepada Abraham “400 tahun dari sekarang Aku akan bebaskan umatKu dan mereka akan datang ke Tanah Kanaan ini”. Berarti Tuhan sudah berjanji, waktu Tuhan sudah berjanji Dia genapi janjiNya karena kewajiban atau kerelaan? Karena kewajiban dan kerelaan, 2 ini disatukan. Ini sebabnya konsep perjanjian begitu penting karena mengaitkan antara kewajiban dengan kerelaan. Biasanya kita akan minta salah satu saja, kalau wajib berarti saya tidak rela melakukan, kalau rela tidak perlu diwajibkan. Tetapi dalam konsep perjanjian Tuhan mengatakan “Aku wajib dan rela, engkau pun harus melakukan hal yang sama, engkau wajib tapi juga engkau harus belajar menaati perjanjian”. Tetapi hanya Tuhan waktu memberikan peraturan menuntut bukan hanya ketaatan secara lahiriah, tapi Tuhan menuntut ketaatan dari hati sekalipun. Itu sebabnya di Imamat 19 dikatakan “kasihi sesamamu manusia”, dalam Ulangan 6 dikatakan “engkau harus berpaut hanya kepada Tuhan, kemudian engkau harus mengasihi Tuhan”. Ini perintah yang memerintahkan kepada kita untuk perasaan kita pun diatur sebagaimana yang Tuhan mau. Inilah cara Tuhan memberikan peraturan, peraturanNya bukan bersifat lahiriah, Dia memerintahakan kepada kita bahkan untuk mengasihi. Itu sebabnya manusia ingin tahu tentang pernikahan, tentang konsep janji, harus kembali kepada Tuhan. Tuhan menyatakan bahwa janji yang Tuhan nyatakan, Tuhan berikan adalah sesuatu yang harus dengan wajib kita kerjakan tapi juga dengan rela dan sukacita kita kerjakan. Itu sebabnya dalam perjanjianNya, Tuhan menuntut hati. Tuhan mengatakan “kasihilah. Engkau harus punya kasih”. Dan kasih yang dimaksudkan adalah kasih yang ada di dalam diri kita karena Tuhan terlebih dahulu mengasihi kita. Lalu kita bagikan kepada pribadi yang tepat yaitu Tuhan sendiri. Maka dikatakan “kasihi Tuhan Allahmu dengan sepenuh hati, sepenuh kekuatan, sepenuh jiwa” setelah itu “kasihi sesamamu seperti dirimu sendiri”. Habis itu perintahnya selesai. Jadi apakah kita tidak perlu mengasihi ciptaan yang lain? Saudara perlu memelihara ciptaan, Saudara perlu membuat mereka tetap ada dan tetap baik, tetapi Saudara tidak mungkin mengasihi mereka. Karena kasih sejati adalah kasih antar relasi yang merupakan gambar Allah, yang merupakan pribadi yang Tuhan ciptakan. Maka kita bisa mengasihi dengan cara yang sempurna seperti Tuhan mengasihi karena kita adalah gambar Allah. Itu sebabnya Tuhan memerintahkan “kasihi sesamamu manusia, kasihi Tuhan Allahmu”, Tuhan tidak perintahkan “tunggu sampai engkau jatuh cinta, baru engkau mencintai”. Berarti kasih, Saudara bisa berikan dengan rela, tapi juga wajib Saudara berikan ketika Tuhan memerintahkan. Dan perintah “jangan berzinah” punya konsep positif atau perintah yang memerintahkan kita dengan positif yaitu hormati lembaga pernikahan, hormati apa yang sudah Tuhan nyatakan sebagai perjanjian. Israel tidak menaati perjanjian, Tuhan membuang mereka. Orang tidak menaati lembaga pernikahan, Tuhan akan biarkan mereka makin lama makin cemar. Karena itu kita sampai terkejut membaca bacaan kita, kenapa ada perintah laki-laki jangan bersetubuh dengan perempuan yang bukan istri, perempuan jangan bersetubuh dengan laki-laki yang bukan suaminya. Dosa bermula karena kita mengabaikan satu aspek perintah kemudian kita hidup dengan bangga karena sudah melawan aspek itu. Orang yang menghina pernikahan, bangga mengatakan “kami tidak tunduk lagi kepada lembaga pernikahan” akhirnya kehidupan makin rusak dan makin kacau. Saya pernah membaca artikel pendek tentang pornografi internet, dikatakan bahwa di dalam surveinya pornografi dari internet meskipun beda orang, meskipun beda yang membuat, semua punya tujuan yang mirip, membuat orang tidak puas ketika sampai pada level pornografi tertentu. Hargai pernikahan! Hargai relasi seks yang benar! Waktu ini dicemarkan, waktu ini dianggap hina, Saudara akan makin terjerumus dan makin mengabaikan apa yang menjadi prinsip dan keindahan yang Tuhan sudah tetapkan. Di Amerika, ada orang mengatakan “perlukah penekanan Paulus satu laki-laki satu perempuan atau penekanan Kejadian satu laki-laki satu perempuan, itu ditekankan terus?”. Karena sekarang bukan hanya satu laki-laki dan satu perempuan, satu laki-laki dengan satu laki-laki juga ada, mereka mengatakan Alkitab terlalu kaku karena tidak mengikuti perkembangan zaman, padahal homoseksual sudah ada sejak dulu, ini perkembangan zaman yang diulang-ulang. Jadi kalau Alkitab tidak sesuai dengan kaum gay, Alkitab harus diganti. Kalau Alkitab menyinggung kelompok minoritas tertentu, Alkitab mesti diganti. Saya akan beri tahu, Alkitab tidak pernah peduli siapa yang dia singgung, karena yang dia singgung adalah dosa dan orang cemar supaya orang itu bertobat dan kembali dari kecemarannya.

Jangan berzinah artinya hargai relasi pernikahan, hargai perjanjian nikah antara satu laki-laki dengan satu perempuan di hadapan Tuhan. Dan inilah yang Tuhan tuntut dalam perkataan jangan berzinah. Gregory Beale seorang ahli Perjanjian Baru pernah mengatakan dalam konsep perjanjian berkali-kali dalam Alkitab ditekankan, dalam perjanjian ada Tuhan berbicara dan umat berdoa. Selalu ada relasi dan komunikasi yang wajib dipelihara. Ini yang menjadi dasar juga. Saudara menjalani perjanjian, Saudara perlu mengingat ada kewajiban untuk komunikasi, ada kewajiban untuk cinta, ada kewajiban untuk mengasihi, ada kewajiban untuk menjadi akrab dan dekat, dan ada kewajiban untuk menyalurkan cinta kasih dan komunikasi itu dalam level yang paling dalam yaitu relasi seksual. Ini semua berkaitan, hubungan seks bukan untuk saya lega dan saya senang. Di dalam Alkitab, di Kitab Korintus, kita sering salah mengartikan, Paulus mengatakan “lebih baik menikah dari pada hangus karena hawa nafsu” benarkah ini perkataan Paulus? Saudara kalau membaca Kitab Korintus, mesti ingat bahwa Paulus sedang merespon kalimat dari orang Korintus. Maka ada yang menafsirkan sebenarnya kalimat “lebih baik menikah dari pada hangus karena hawa nafsu” adalah kalimat yang dikatakan oleh orang Korintus, benar tidak kalimat ini? Paulus membahas dengan cara yang unik, dia mengatakan “kalau engkau tidak sanggup kekang hawa nafsu, pernikahanmu pun akan menjadi pernikahan yang rusak. Kalau engkau tidak sanggup menghargai sesamamu manusia, pernikahanmu pasti menjadi pernikahan yang rusak”. Maka tidak ada pernyataan “kalau kamu punya hawa nafsu terlalu besar, maka pernikahan menjadi solusi” bukan itu. Paulus mengatakan “kalau begini caranya, engkau harus belajar berdiam dan hidup dengan tenang seperti aku” atau mungkin sebaiknya tidak perlu menikah. Karena kalau pernikahanmu untuk memanipulasi orang lain, apa gunanya. Karena itu di bagian itu dikatakan suami istri harus dekat, harus saling cinta, harus tidak menjauhkan diri satu dengan yang lain, supaya tidak ada godaan yang masuk. Kemudian setelah itu haruslah punya waktu untuk berpisah untuk berdoa kepada Tuhan. Maka yang bisa mengintervensi kedekatan suami istri hanya Tuhan. Alkitab membagikan ini dengan bijaksana yang dalam. Kita terus pelajari lebih dalam lagi. Relasi pernikahan relasi yang unik, relasi suami istri adalah relasi yang agung, relasi yang Tuhan ijinkan ada komunikasi sampai level paling dalam karena ini mencerminkan komunikasi kita dengan Tuhan. Tuhan berfirman, kita berdoa. Suami istri tidak lagi dua tapi menjadi satu. Dan menjadi satu di dalam keintiman yang hanya Tuhan ijinkan sebagai bentuk komunikasi cinta kasih dan relasi komitmen paling dalam di dalam konsep pernikahan. Saudara kalau cabut ini dari keseluruhan kerangkanya, Saudara akan menjadi manusia yang makin hancur dan rusak. Relasi seksual tidak bisa lepas dari kasih, komitmen, pernikahan, perjanjian, dan keintiman komunikasi antara suami istri. Itu sebabnya konsep pernikahan harus menjadi inti yang dihargai dan relasi seksual menjadi pernyataan relasi kasih, keintiman, kedekatan , dan juga keterbukaan antara suami dan istri. Ketika kita melihat lakimat ini “jangan berzinah”, “asal saya tidak tidur dengan perempuan lain. Tapi apakah engkau memelihara pernikahanmu sebagaimana yang seharusnya? Apakah ada keterbukaan, keintiman dan relasi yang dekat? Kalau tidak ada, Saudara sedang melanggar perintah ini. Kalau Saudara sedang mengidamkan orang lain lebih dari pasangan Saudara sendiri, Saudara melanggar perintah ini! Saudara lebih akrab berbicara dengan orang lain dari pada pasangan sendiri, Saudara akan mengatakan “tapi kan karena pasanganku sulit untuk diakrabi, karena orangnya seperti ini” Tapi Alkitab mengatakan kalau Tuhan memberitakan sedemikian maka harus ada usaha dari kita untuk kerjakan. Usaha untuk melakukan apa yang Tuhan sudah perintahkan. Ada satu pengkhotbah yang tulisan khotbahnya sangat bagus sekali, dia mengatakan bahwa ketika pasangan mulai membandingkan pasangannya dengan orang lain, biasanya dia akan membandingkan sifat bagus dari orang lain lalu bandingkan dengan sifat jelek pasangannya. Misalnya seorang perempuan, “suami saya itu tidak sabaran orangnya, tapi di kantor saya ada teman saya yang sabar sekali” ini berarti membandingkan kesabaran satu orang dengan ketidaksabaran suaminya, membandingkan kebagusan atau keunggulan orang lain, diadu dengan kejelekan suaminya. Kalau Saudara mengatakan itu, Saudara sedang membandingkan kejelekan orang ini dengan keunggulan orang lain, ini tidak fair. Mestinya Saudara balikkan, bandingkan kejelekan orang lain dengan kebagusan pasangan, Saudara mengatakan “di kantor orangnya itu tidak sabaran semua, suamiku sabar”, jangan bandingkan sebaliknya. Jika tidak demikian, Saudara sedang masuk dalam pencobaan yang besar, saudara sedang masuk dalam ujian. Saudara berdoa “jauhkan kami dari pencobaan”, nanti ada suara dari sorga yang menjawab “kamu sendiri yang terus lari ke pencobaan. Kamu doa minta dijauhkan, kamu sendiri terus mengarah ke situ”. Maka ketidakadaan keterbukaan dan keintiman di dalam pernikahan ini melanggar hukum itu. Tuhan tidak mengatakan “jangan berzinah” hanya supaya orang tidak melanggar secara seksual saja, tetapi supaya orang menghargai yang Tuhan tempatkan menjadi pasanganku dialah pribadi yang Tuhan sudah percayakan untuk menjadi pendampingku dan aku menjadi pendamping dia. Inilah relasi pernikahan yang Tuhan mau. Kedekatan Tuhan dengan umatNya harus dicerminkan dengan kedekatan antara suami dan istri. Maka ketika Saudara mempunyai pasangan, Saudara jangan terus lihat kejelekan dia lalu mulai kritik kejelekan dia, lalu mulai merasa “saya lebih gampang kalau bicara dengan orang lain”. Ada orang nyaman sekali bicara dengan orang lain, akhirnya masuk di dalam perzinahan karena sibuk dengar pembicaraan dengan orang lain lalu merasa nyaman dengan pembicaraan itu. Bahkan orang yang sangat saleh pun bisa jatuh dalam hal ini. Tuhan mengingatkan perjanjian berarti wajib dan rela, bukan cuma salah satu. Saudara harus lakukan kewajiban dan harus pada poin tertentu akhirnya merasa rela. Saya wajib mengasihi sampai akhirnya saya rela untuk mengasihi. Maka relasi pernikahan menuntut kerelaan, tapi jangan lupa untuk menjadi rela harus wajib dulu. Saudara kalau mengabaikan kewajiban, Saudara akan hidup di dalam zaman yang sesukanya sendiri, begitu banyak peraturan yang dihantam, begitu banyak hal yang penting diabaikan karena atas nama kerelaan. Kalau tunggu sampai orang rela, sampai sekarang tidak ada orang yang jadi Kristen. Orang jadi Kristen karena rela, tapi waktu dia rela dia harus dibentuk dengan kewajiban pikul salib. Melakukan hal yang dia tidak suka dulu, meninggalkan hal yang dia suka. Waktu dia lakukan rasanya berat, tapi makin lama akan menjadi makin mampu. Itu sebabnya Taurat lalu setelah itu Injil, martin Luther tafsirkan wajib setelah itu kerelaan lakukan. Waktu belum ada wajib, kita tidak tahu apa yang sudah kita rela lakukan.

Waktu ada kewajiban awalnya kita terpaksa, lama-lama rela lakukan, ini baru namanya perjalanan iman yang makin lama makin dewasa. Saudara kalau pergi ke gereja merasa diwajibkan atau sukacita? Orang dewasa bilang “sukacita”, anak-anak bilang “wajib”. Orang tidak rela datang kepada Tuhan maka harus ada wajib dulu. Tapi kalau wajib terus sampai mati, Saudara tidak akan menikmati perintah Tuhan. Ada saat dimana Saudara mengatakan “saya rela lakukan, saya bukan wajib lagi melakukan”. Maka antara suami istri pun Tuhan tuntut hal yang sama, kalau engkau belum sanggup dengan kerelaan membatasi matamu untuk hanya fokus kepada pasangan, kamu harus wajibkan dirimu untuk lakukan. Kalau engkau belum sangggup dengan keterbukaan dan kenyamanan pasangan, engkau harus wajib lakukan. Karena ketika engkau tidak lakukan, maka peluang dosa perzinahan mulai muncul, dan dia jauh lebih kuat dari pada Saudara. Jangan merasa diri kuat. Maka Tuhan mengatakan “relasi pernikahan harus dijaga dengan komunikasi, cinta kasih, keterbukaan yang total”. Jangan simpan apa pun dari pasangan. Maka kalau Saudara menikah, saya sarankan salah satu hal yang secara praktis, Saudara bisa lakukan untuk keterbukaan adalah beri semua password jejaring sosial yang Saudara miliki. Pasanganmu harus bisa akses mail, facebook dan lain-lain, supaya ada keterbukaan. Saudara harus dengan rela mengatakan “engkau pasanganku, saya harus merelakan diri, engkau mau tahu apa, silahkan akses apa pun bisa”. Sebab Alkitab mengatakan “laki-laki dan perempuan itu telanjang, tapi mereka tidak merasa malu”, ketika laki-laki dan perempuan bersatu, mereka merasa “kami jadi satu, bukan lagi dua”. Kalau Saudara mengatakan “kan hal-hal ini private, pribadi”, saya akan katakan “Saudara memang pribadi, dua jadi satu pribadi”, maka Saudara tidak lagi punya privelege untuk simpan sesuatu. Kalau dari awal terus hidup sendiri, maunya sendiri, tertutup, tidak mau bagi apa pun dengan orang lain, ya jangan menikah. Alkitab bahkan mengatakan cuma satu yang kita boleh simpan sendiri, tidak perlu bagikan dengan pasangan, yaitu relasi doa kita dengan Tuhan. Dikatakan “harus ada waktu engkau harus saling berjauh untuk mendekat kepada Tuhan dalam doa” ini yang Tuhan nyatakan. Dosa perzinahan adalah dosa yang paling banyak menerjang siapa pun. Orang yang jadi hamba Tuhan pun bisa jatuh di sini, orang yang melayani puluhan tahun pun ternyata jatuhnya di sini. Mengapa bisa jatuh? Karena bibit-bibit awal perzinahan yang muncul tidak dia cegah. Bibit-bibit saling tertutup, bibit-bibit dekat dengan orang lain, bibit-bibit mulai mengijinkan orang lain masuk dalam hidup, ini tidak diawasi sama sekali. Maka Firman Tuhan mengatakan jaga ini baik-baik, menjauhkan diri dari perzinahan kemudian Saudara akan dijaga oleh Tuhan. Kiranya ini membuat kita semakin setia kepada Tuhan dan boleh membuat kita makin bijak dalam cara hidup kita bagi Tuhan.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)