Anda disini : Home » Reformed Theology » 10 Hukum Taurat » Jangan Berzinah – bagian 2
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Jangan Berzinah – bagian 2

Ev. Jimmy Pardede, M.A.

(Imamat 18: 1-5, 20)
Dalam Hukum Taurat ada pengertian yang sangat indah yang mengaitkan antara iman dan kehidupan sehari-hari, antara ibadah dengan semua peraturan moral, antara semua tata cara dan ceremony-ceremony ibadah dengan semua kondisi hati dan tingkah laku yang sesuai di masyarakat. Jadi ada kaitan antara relasi aku dengan Tuhan dan dengan cara aku beribadah, begitu juga dengan cara saya berelasi dengan orang lain. Ini merupakan sesuatu yang di dalam zaman modern sudah sulit untuk ditemukan. Karena kita hidup dalam cara yang terpecah, kita hidup dalam cara yang tidak lagi harus mengaitkan antara apa yang saya kerjakan di dalam keseharian saya dengan Tuhan. Apa kaitan pergaulanku dengan Tuhan? Apa kaitan antara apa yang aku makan dengan Tuhan? Apa kaitan antara apa yang aku kerjakan dengan Tuhan? Kita sudah kehilangan keterkaitan ini dan karena itu ketika kita melihat Kitab Suci pun yang kita cari hanyalah “apa yang dilarang, saya tidak lakukan. Apa yang Alkitab tidak larang, saya kerjakan”. Ini adalah prinsip yang tidak bertanggung jawab. Taurat artinya instruksi, pengajaran, dorongan bagi Saudara untuk melakukan sesuatu dalam hidup. Berarti konsep yang benar adalah “yang harus saya lakukan itu apa?” ini pertanyaan yang benar. Yang kita tanya kepada Tuhan bukan “ini boleh atau tidak?”, tapi yang kita tanya adalah “apa yang harus saya lakukan. Hukum Taurat sudah mengaitkan antara hidupku, antara apa yang aku makan, antara apa yang aku ekrjakan dengan iman kepada Tuhan. Dan di dalam zaman Timur Dekat Kuno waktu Kitab Imamat ditulis, kitab ini ditulis di tengah-tengah budaya yang juga menyatakan hal yang sama, kitab ini ditulis di tengah-tengah budaya yang mengatikan antara hidup dengan penyembahan. Zaman dulu ketika orang mau beribadah kepada Tuhan, mereka mau beribadah kepada dewa-dewa palsu mereka, maka mereka akan lakukan itu dengan cara-cara yang secara moral sangat rusak. Mereka akan tidur dengan pelacur-pelacur yang ada di kuil untuk menyatakan inilah cara kami untuk menyembah dewa kesuburan. Dewa kesuburan harus disembah dengan hubungan seks karena ini adalah cara menyatakan bahwa kami merindukan kesuburan. Kalau mereka menyembah dewa lain, mereka akan melihat bahwa kaitan antara dewa dan manusia itu dinyatakan dengan hubungan seks di dalam kuil. Jadi kerusakan moral yang begitu rusak mewarnai cara ibadah dan moral kehidupan mereka. Waktu Tuhan menyatakan “Israel, kamu jangan seperti mereka” Tuhan memberikan prisnsip yang baru yang mengaitkan antara penyembahan kepada Tuhan dengan moralitas yang tidak bercacat, semuanya menjadi satu. Maka Saudara beribadah kepada Tuhan di gereja, Saudara beribadah dengan cara Saudara makan, dengan cara Saudara menjalani hidup, pekerjaan dan pernikahan Saudara.

Inilah yang Tuhan mau nyatakan, maka Dia katakan “jangan berzinah, jangan tiru kebiasaan bangsa-bangsa lain”. Mengapa tidak boleh berzinah? Alkitab menyatakan karena Tuhan Allahmu menyatakan diri dalam perjanjian dengan umatNya, dan perjanjian antara Tuhan dan umatNya ini adalah perjanjian yang sakral, yang harus dihargai dan yang harus dicerminkan oleh pernikahan. Ketika menikah, 2 orang mengikat janji, dan janji ini adalah janji untuk menyatakan kesetiaan sampai maut memisahkan. Itu sebabnya pernikahan bukan hanya sekedar satu aspek hukum, sesuatu yang akan mengatur secara hukum relasi antara 2 orang, relasi natar keluarga, relasi antar anak-anaknya dan nanti pembagian warisan dan lain-lain, bukan. Relasi yang sebenarnya dari pernikahan itu diatur dalam perjanjian yang adalah gambaran dari perjanjian antara Allah dengan manusia. Waktu Allah menyatakan perjanjian dengan manusia, di dalam Yeremia 33 Tuhan mengatakan “Aku mengikat perjanjian dengan Daud dan itu tidak akan batal, Daud akan terus punya keturunan dan akan ada orang yang Aku angkat menjadi Raja Israel karena janjiKu itu”. Dan Tuhan mengatakan “janjiKu dengan Daud batal, kalau janjiKu dengan matahari, bulan dan bintang batal”, maksudnya adalah kalau siang dan malam tidak lagi datang, janjiKu dengan Daud batal. Siang sampai sekarang tetap datang, tepat waktu lagi tidak pernah terlambat. Kalau kondisi alam berjalan sesuai dengan yang Dia atur dan rencanakan maka janji Dia dengan Daud tidak akan pernah batal. Ini adalah konsep penting yang harus kita pelajari. Di dalam pernikahan mencerminkan kerelaan Saudara untuk kita taat kepada Tuhan. Kasih kita kepada Allah dicerminkan dengan ketaatan pada perjanjian yang Tuhan nyatakan. Maka kalau Saudara mau menyatakan “aku setia kepada Tuhan dalam perjanjian” Saudara akan membuktikan didalam kesetiaan perjanjian nikah yang Saudara sudah jalankan. Ini adalah poin pertama yang dinyatakan dalam perintah “jangan berzinah” yaitu engkau harus hidup dengan setia, karena Tuhan Allahmu adalah Allah yang setia dengan perjanjian dan Dia menuntut engkau setia dengan perjanjian yang engkau sendiri ikat dengan pasangan. Waktu Saudara mengucapkan janji di hadapan Allah Tritunggal dan jemaatNya, ini sudah menjadi janji yang mengikat suatu perjanjian yang tidak bisa dibatalkan oleh apa pun. Maka orang yang menghina perjanjian nikah adalah orang yang gampang menghina Tuhan. Dengan sepele mengatakan “saya janji sama Tuhan, saya batalkan”. Kalau mau menilai orang bisa dinilai dari berapa sering dia batalkan janji. Jadi orang yang mudah mundur dari janji, ini orang yang tidak benar. Apalagi orang berani mundur dari janji yang dia ucapkan di hadapan Tuhan, ini sangat tidak benar.

Itu sebabnya Alkitab mengaitkan antara kesetiaanku dengan Tuhan, dengan komitmen dan kesetiaanku menjalani hidup, ini semua menjadi satu. Orang beriman tingkah lakunya benar, orang beriman akan mencerminkan imannya di dalam kehidupan yang saleh dan yang diperkenan oleh Tuhan. Itu sebabnya pernikahan menjadi ukuran benarkah engkau setia kepada Tuhan, benarkah engkau taat kepada Tuhan, benarkah engkau mengasihi Tuhan dan mau hidup setia kepada Dia.Tapi kita hidup di zaman di mana pernikahan itu diremehkan “sudahlah, kalau memang tidak cocok, bubar saja, kamu bisa cari orang lain, pernikahan itu kan masih bisa diatur, semua masih bisa diatur”. Tapi kalau kita mengatakan “tidak, hidup harus setia, satu pasangan saja, tidak boleh cari yang lai, seumur hidup sampai mati memisahkan”. Kalau kita bilang begitu sering dibilang “itu kan orang Kristen fundamentalis kuno”. Satu tulisan dari seorang bernama Wendy Plum di New York Times, dia mengatakan “saya merasa hidup waktu saya dekat dengan selingkuhan saya” dia mengaku tentang perselingkuhannya, pernikahannya rusak lalu dia menulis “saya merasa hidup waktu saya dekat dengan selingkuhan saya. Dalam perselingkuhan itu ada satu gairah baru yang sudah padam, yang saya tidak miliki lagi dengan pasangan. Dalam relasi dengan selingkuhan saya menemukan satu semangant baru yang dulu saya miliki, tapi sekarang sudah padam. Saya merasa hidup sampai saya sadar saya sudah rusak. Saya merasa hidup sampai saya sadar saya tidak setia dengan komitmen saya” ini bukan orang Kristen yang bicara. Wendy Plum bukan orang Kristen dan dia mengatakan “saya merasa saya tidak setia kepada perjanjian, saya merasakan satu hal bahwa kenikmatan yang saya dapat untuk sementara menunjukkan saya hanyalah seekor binatang. Saya binatang karena saya selingkuh” kita binatang kalau kita selingkuh. Karena hanya binatang yang tidak menghormati perjanjian. Dan kalau Saudara selidiki, tetap ada binatang yang hormati, katanya paus biru akan setia dengan pasangannya. Wendy Plum mengatakan “saya merasa hidup saya rusak, saya mirip binatang yang tidak setia dengan perjanjian”. Saudara kalau lihat anjing, mana ada anjing yang setia dalam pernikahan, musim kawin kesatu dengan A, musim kawin berikut sudah dengan B, musim kawin berikut lagi dengan C, bahkan dalam satu musim kawin bisa dengan beberapa anjing jantan. Lalu ketika mempunyai anak, tidak diketahui siapa papanya, dan dia tidak mencarinya. Binatang tidak pernah tuntut tanggung jawab, binatang tidak mengerti apa itu relasi pernikahan, binatang tidak pernah mengerti kalau berelasi harus setia, tidak perlu, binatang tidak tahu itu. Maka Wendy Plum mengatakan “setelah saya menyadari rusaknya saya, saya baru sadar saya bukan manusia”. Waktu dia mau bongkar kepada suaminya, ternyata suaminya pun selingkuh. Lalu Wendy Plum mengatakan “perasaanku teriris-iris, baru sadara lagi ternyata saya binatang yang egois. Saya selingkuh saya tidak peduli perasaan pasangan saya, pasangan saya selingkuh saya marah sama dia”. Ini yang terjadi, ini fakta, maka Edward Welch mengutip dan mengatakan ini sebenarnya konsep yang bisa diperbaiki kalau kita mau tunduk kepada Alkitab. Alkitab sudah mengatakan “kasihi istri, tunduk kepada suami”. Tuhan sudah mengatur bagaimana relasi di dalam pernikahan ini boleh menjadi baik. Tetapi manusia yang mengabaikna, karena manusia mengabaikan maka manusia terjerumus dalam segala bentuk dosa yang akhirnya menjauhkan kita dari Tuhan, menjauhkan kita dari hidup yang damai, menjauhkan kita masuk ke dalam sengsara yang tidak habis-habis. Inilah keadaan yang harus diperbaiki dengan Kitab Suci dengan prinsip yang benar. Maka kalau kita mau kembali kepada Tuhan, kita harus mengatakan “Tuhan, aku mau setia kepada pasangan, aku mau belajar untuk memelihara kesetiaan itu”. Dan memelihara kesetiaan bukan hanya di dalam tampilan luar. Kalau tampilan luar itu gampang, Saudara bisa saja kelihatan begitu bagus, di rumah perang dunia, atau di rumah bagus di sini perang dunia, atau lebih konsisten di sini dan di rumah perang dunia terus. Tapi kalau Saudara mengatakan “saya relasinya bagus”, bagus karena apa? Bagus karena terpaksa atau memang dari dalam hati, ini yang unik dari perjanjian Tuhan. Tuhanketika membuang Israel, membuang mereka ke Babel, di dalam Kitab Yeremia setelah waktunya genap, Tuhan mengatakan “Aku merayu kamu kembali” ini bagi saya perkataan yang sangat manis. Saya belum menemukan ada kalimat rayuan yang lebih maut dari pada yang ditulis di Kitab Yeremia. Bayangkan kita anggap Tuhan adalah Sang Suami, Israel adalah istriNya, lalu istriNya ini sudah begitu tidak setia, sudah selingkuh begitu banyak, Tuhan mengatakan “sekarang cukup, Aku buang kamu”. Tapi setelah dalam pembuangan, dekat lagi, Tuhan bicara dengan kata-kata yang manis dan merayu dia untuk dia mau kembali, ini semua ditulis di Yeremia. Saudara kalau baca Yeremia, Saudara tidak bisa tidak menangis, kalau Saudara benar-benar meresapi apa yang tertulis, Saudara tahu kesedihanNya Dia, Saudara tahu betapa sakit hatinya Dia untuk mengatakan “celaka kamu” kepada orang yang sangat Saudara kasihi. Salah satu pengkhotbah yang besar, George Whitefield, tiap khotbah pasti mencucurkan air mata, menangis, waktu ditanya mengapa menangis, dia mengatakan “Saya tidak tahan harus mengucapkan ucapan-ucapan kutuk, ucapan peringatan kepada orang yang sangat saya kasihi. Kita sering kali tegur orang karena memang tidak suka orangnya, karena kita benci dia, karena kita tidak cocok. Tapi kalau Saudara sungguh-sungguh mencintai, Saudara berhak tegur. Saudara tidak peduli orang itu tutup mulut jangan tegur, mengapa? bukankah kita harus saling mengur? Alkitab mengatakan “kalau engkau menegur jangan berbuat dosa” Imamat 19. Kalau kamu mau menyatakan kesalahan orang, jangan berbuat dosa. Berbuat dosa itu apa? kalau engkau tidak mengasihi dia, tidak perlu tegur. Maka kalau Saudara dikasihi, Saudara akan ditegur. Orang peduli kepada Saudara, orang akan koreksi Saudara. Tapi kalau orang jiwanya cuma benci, tunjukkan kesalahan orang, bangga karena diri lebih baik dari orang lain, orang ini tidak perlu menegur siapa pun. Tapi kalau teguran itu masih dapat dari orang yang penuh belas kasihan, maka teguran ini dikatakan dengan hati yang tersayat.

Yeremia sambil menangis sambil mengatakan “kamu akan dibuang” tapi setelah itu kalimat berikut dari Yeremia sangat indah “Tuhan merayu kembali Israel. Aku mau kamu kembali, Aku mengampuni kamu, Aku mau relasi antara Aku dan kamu pulih”, lalu Tuhan mengatakan “Aku akan memberikan hati yang baru, perjanjian yang baru, engkau akan dekat, akan mengasihi Tuhan, tidak perlu diajar, hatimu akan terpaut kepada Tuhan”. Inilah perjanjian yang sejati. Perjanjian bukan dipertahankan dengan satu tampilan sepertinya baik, kalau Saudara baik kepada pasangan karena terpaksa, itu bukan baik, itu bukan yang diharapkan. Tapi kalau Saudara baik memang dari hati Saudara mengasihi, inilah yang namanya menjalin relasi. Menjaga relasi dalam perjanjian pernikahan ini sangat penting. Banyak orang mengatakan kepada saya kalau pernikahan di awal-awal selalu indah, di belakang baru mulai bahaya. Pernikahan saya baru 3 tahun, dan saya tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi saya ingat nasihat Pdt. Stephen Tong “jangan pikir apa yang terjadi pada orang lain tidak mungkin terjadi kepadamu”. Hamba Tuhan sering kali mengatakan “ini terjadi begini” setelah itu keluarganya kena. Maka kita harus jaga-jaga, jangan pikir kita kebal dari semua peringatan-peringatan yang Alkitab nyatakan. Ada orang yang mengatakan kepada saya “tahun-tahun pertama itu sorga, tahun-tahun berikutnya Taman Eden, tahun berikutnya lagi ular masuk, tahun-tahun berikutnya lagi tahun pengusiran”, lalu saya tanya “berapa periode tahun baru kemudian berubah?”, “tidak tentu, pokoknya kamu lihat saja, pernikahan makin panjang makin susah, makin berat, makin konflik makin susah diperbaiki”. Tetapi ini teori pertama, ada orang dengan teori kedua “pernikahan di awal itu berat, tapi setelah lewat beberapa tahun menjadi Taman Eden” saya bingung yang mana dulu. Tapi saya bersyukur pertama kali pelayanan di Bintaro, kali pertama saya khotbah di situ saya diantar pulang oleh sepasang orang tua yang sudah senior, mungkin sudah 60 lebih, saya diantar pulang. Di perjalanan itu mereka romantis sekali, begitu akrab satu sama lain. Mempertahankan perjanjian bukan hanya sekedar tidak bercerai, karena kalau hanya mempertahankan tidak bercerai, ini nanti akan ada bom waktu yang akan meledak. Meledak kalau tidak diperbaiki. Bagaimana memperbaikinya? Alkitab mengatakan perbaikinya itu simple, simple tapi susah. Istri tunduk kepada suami, suami kasihilah istri. Dua perintah simple yang sering kali sulit kita jalankan. Ada satu orang datang kepada saya “saya akan tunduk kepada suami saya kalau dia mengasihi saya dulu”, lalu suaminya mengatakan “saya juga akan mengasihi dia kalau dia mau tunduk”. Saudara kalau mau melihat perintah Tuhan, Saudara mengharapkan orang lain dulu jalankan, tidak akan jadi! Mari kita jalankan bagian kita demi Tuhan. Saudara jalankan bagian Saudara karena Tuhan tuntut kerjakan itu. Yang suami kasihi istri, Saudara tidak bisa bilang “saya dulu mengasihi dia karena dulu dia gampang dikasihi, sekarang susah dikasihi. Ketika Saudara mendapatkan perintah dari Tuhan “hormati suami” tidak ada syarat tambahan “hormati suami yang layak dihormati” tidak,belajar hormat dulu, belajar tunduk kepada dia selama dia tidak memerintahkan Saudara hal yang berdosa yang melanggar perintah Tuhan. Maka kalau Saudara belajar menjalankan bagian Saudara di dalam perintah Tuhan, Saudara akan temukan setidaknya masalah keluarga Saudara selesai sebagian. Kalau Saudara tunggu dia dulu baru saya, masalah tidak akan selesai-selesai. Itu sebabnya Alkitab mengatakan jadikanlah hidup yang setia kepada pasangan, ini adalah hal pertama yang dibagikan dalam perintah jangan berzinah. Mari kita belajar, setiap orang dengan pasangannya boleh menjadikan pasangannya itu teman yang paling baik, orang yang paling dikasihi, teman yang paling akrab, teman yang paling dekat dan pelihara kedekatan ini dengan relasi yang baik. Seringkali kita gagal karena kita tidak mau memikul salib untuk memperbaiki relasi. Relasi yang rusak didiamkan, makin lama makin keruh, tapi kalau mau bayar harga, mari mulai perbaiki, mari kembali pada kehangatan yang mula-mula, inilah yang benar. Maka relasi pernikahan adalah perjanjian, tapi Tuhan sendiri sudah menyatakan perjanjian tidak pernah dijalani dengan dingin, selalu ada kehangatan yang terpelihara dari pihak Tuhan setelah itu dari pihak manusia kepada Tuhan. Ini yang pertama, belajar hidup dalam kesetiaan.

Kemudian hal kedua, perintah jangan berzinah juga memerintahkan kita untuk hidup dalam kesopanan. Perintah ini juga bukan hanya untuk orang menikah, “pokoknya kamu berelasi baik dengan pasangan, kamu menikmati hubungan seks dengan pasangan” inilah koridor yang Tuhan tempatkan. Tetapi selain itu, perintah ini juga memberikan satu koridor kepada yang belum menikah dan yang sudah menikah untuk tidak menciptakan budaya yang membuat seksualitas menjadi sesuatu yang diobral kemana-mana. Pernikahan memberikan pagar yang mulia kepada relasi seksual, menjadikan relasi itu yang indah, yang intim, yang agung, yang penuh pernyataan cinta kasih. Tetapi lingkungan akan membuat itu menjadi hina, membuat itu penuh dengan jiwa hawa nafsu dari binatang. Itu sebabnya ketika Saudara melihat perintah jangan berzinah, Saudara belum menikah, Saudara harus ingat perintah ini memerintahkan Saudara untuk tidak sembarangan memperlakukan orang lain, tidak mengumbar hawa nafsu dengan sembarangan dan tidak hidup dalam budaya yang sama dengan dunia. Tadi saya sudah katakan orang Muslim kemana-mana dengan pakaian mereka, mereka bangga sekali, mereka tidak tergoyahkan meskipun sekeliling mereka memakai baju yang sudah tidak bisa tutupi perut, tidak bisa tutupi paha, tidak bisa tutupi apa-apa. Orang Kristen bagaimana? Saya tidak mengerti orang Kristen yang pamer badan dengan pakaiannya, apa yang mau dibanggakan? Saudara pamer badan, yang Saudara undang bukan laki-laki yang mengagumi Saudara, tapi binatang-binatang yang mengagumi Saudara. Orang yang lihat orang lain dengan hawa nafsu, memanfaatkan orang lain, ini bukan manusia, ini binatang. Lalu Saudara undang binatang untuk kagumi Saudara, ini luar biasa menjelekkan martabat Saudara sendiri. Ada orang yang pakai baju mini supaya di suitin sama orang. Kalau Saudara mau mempunyai hidup yang anggun yang penuh dengan kesopanan, Saudara harus mengundang orang yang sopan juga menghargai Saudara. Jangan senang dikagumi, mengapa badan Saudara pamerkan kepada orang yang bukan suami Saudara? Mengapa badan Saudara pamerkan, dilihat banyak orang, kemudian Saudara dikagumi begitu banyak orang? Saya tidak minta Saudara pakai kerudung, pakai rok sampai mata kaki, tapi Saudara tahu sendiri rambu-rambu yang benar itu bagaimana. Saya sendiri kalau ditanya orang “pakaian yang benar bagaimana?”, saya tidak terlalu pikirkan, saya tidak sibukkan diri dengan lihat-lihat pakaian orang lalu menilai orang, tapi saya minta Saudara punya kesadaran sendiri. Karena waktu Saudara pakai baju yang mengundang, yang memperhatikan bukan orang yang benar, yang akan perhatikan adalah orang yang tidak benar. Biarlah cara berpakaian kita mengundang kesopanan, biarlah cara berbicara kita mengundang kesopanan, biarlah cara hidup kita membuat orang ragu untuk memandang remeh kepada kita. Kekristenan identik dengan kesopanan, Saudara baca sejarah, zaman mana pun tidak pernah orang Kristen menyatakan identitasnya dengan cara hidup sembrono, dengan bicara sembrono, pergaulan sembrono dan cara berpakaian sembrono, tidak pernah. Itu sebabnya cara hidup yang modest adalah salah satu cara untuk menjalani perintah jangan berzinah. Tuhan mau jangan berzinah berarti Saudara tidak membuat suasana dimana perzinahan menjadi suatu yang umum dan biasa. Jangan biasakan ketika berbicara Saudara berbicara terus dengan kalimat-kalimat vulgar, orang yang pikirannya kotor pasti mulutnya pun kotor, ini kalimat dari Tuhan Yesus. Maka kalau saya bercanda dengan orang lalu orang itu terus bercanda hal-hal yang jorok, hal-hal yang berbau seksual, saya sudah tahu di dalamnya penuh dengan kekotoran seperti apa. Maka hindari pergaulan seperti itu, hindari mulut yang begitu kotor, hindari pakaian yang tidak sopan, hindari orang-orang yang menganggap remeh semua norma kesopanan ini. Ini poin kedua.

Poin ketiga, mentaati perintah jangan berzinah berarti menghidupi kehidupan yang penuh dengan temperance. Temperance berarti kemampuan untuk menahan diri, menahan hawa nafsu, bukan mengumbarnya. Dalam budaya Yunani, mereka percaya ada 4 cardinal vertue, 4 kebajikan utama. Ada 2 yang penting yang ingin saya soroti, yaitu yang pertama kebaijkan yang namanya keberanian. Saudara punya keberanian artinya Saudara takut tapi Saudara mengatasi rasa takut, ini baru berani. Ini adalah mental yang sangat dikagumi orang Yunani. Orang pemberani bukan orang yang tidak mengenal takut. Kalau Saudara mendengar perkataan “ini orang yang hebat, dia tidak mengenal takut sedikit pun”, dia bukan orang yang berani bagi orang Yunani. Bagi orang Yunani, orang yang berani adalah orang yang pernah takut tapi mengatasi rasa takutnya. Jadi Saudara-saudara buat list apa yang Saudara takuti, lalu belajar menghadapinya. Saudara terus lari, akan takut terus. Saudara belajar menghadapi, akhirnya Saudara menjadi orang yang berani. Orang Yunani mengatakan berani berarti Saudara takut kemudian hadapi menjadi berani. Setelah itu ada yang namanya temperance, temperance ini bukan orang yang tidak punya hawa nafsu, tapi orang yang punya hawa nafsu tapi sanggup mengekang. Kalau kita mengatakan “ya Tuhan, saya takut berdosa, cabutlah keinginanku untuk hal-hal seksual”, ini salah, ini namanya melarikan diri dengan cara kebiri. Di dalam biara supaya orang-orang tidak jatuh dalam dosa seksual, dipotong alat kelaminnya, setelah dipotong tidak sanggup berdosa, mau berdosa apa daya tidak sanggup. Tetapi yang diajarkan oleh Yunani adalah waktu Saudara punya hawa nafsu, Saudara bisa kekang, ini yang benar. Maka temperance ini sangat penting untuk kita pelajari. Saudara diciptakan Tuhan bukan tanpa hawa nafsu, Saudara bisa mengalami dorongan, mengalami gairah, mengalam rangsangan yang bisa membuat Saudara jatuh dalam dosa, tapi temperance mengatakan “cegah semua itu, belajar untuk menahan diri, belajar untuk mempunyai kekuatan untuk menang atas dosa”, ini yang ketiga. Orang yang kuat sejati adalah orang yang sadar lemah, “jangan masukan saya dalam pencobaan”, ini yang akan berhasil. Temperance ini sangat perlu, bagaimana saya melawan godaan hawa nafsu, bagi yang belum menikah bisa mempertahankan hidup dengan menjadi contoh bagi orang lain, hidup dalam ketenteraman, hidup dalam ketenangan dengan kemenangan semuabentuk hawa nafsu yang tidak sesuai. Dan Tuhan mengarahkan kita di dalam koridor ini, tujuannya cuma satu, supaya Saudara menikmati relasi dengan pasangan, menikmati kedekatan dengan dia, menikmati cinta kasih danrelasi yang bagus dengan pasangan. Karena ketika Saudara melakukan hal ini dan hidup di dalam ketenteraman dengan pasangan Saudara, Saudara akan menikmati berkat Tuhan dengan limpah. Masing-masing pasangan tidak mungkin tidak ada kesulitan, semua punya buku sulitnya sekali. Tapi yang Tuhan mau adalah di dalam segala kesulitan kita boleh belajar mentaati perintah Tuhan. Jangan berzinah dengan tetap setia, tetap hidup sopan dan tetap belajar mengekang segala hawa nafsu yang sepantasnya tidak muncul. Kiranya Tuhan memberkati dan menguatkan kita mentaati segala perintah Tuhan.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)