Hukum Ketiga: Jangan Menyebut Nama Tuhanmu dengan Sembarangan – bag. 2 | GRII Bandung
Anda disini : Home » Reformed Theology » 10 Hukum Taurat » Hukum Ketiga: Jangan Menyebut Nama Tuhanmu dengan Sembarangan – bag. 2
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Hukum Ketiga: Jangan Menyebut Nama Tuhanmu dengan Sembarangan – bag. 2

Ev. Jimmy Pardede, M.A.

(Keluaran 20:7, Keluaran 34: 4-7, 11-14)

Hukum ketiga mengatakan jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan. Kita sudah membahas dalam minggu lalu kalau menyebut nama Tuhan dalam berkat tanpa benar-benar ingin orang yang mendengar dapat berkat, ini menyebut nama Tuhan dengan sembarangan. Lalu kalau kita bersumpah demi nama Tuhan untuk hal-hal yang remeh, ini pun menyebut nama Tuhan dengan sembarangan. Atau kita menyebut tentang Tuhan, tetapi kita tidak mengenal Dia, ini pun menyebut nama Tuhan dengan sembarangan.

Kita akan melanjutkan dengan 2 hal lagi mengapa orang bisa disebut salah, menyalahi peraturan menyebut nama Tuhan dengan sembarangan. Kita menyebut nama Tuhan dengan sembarangan kalau kita menyebutkan nama Tuhan tanpa mengerti karakter yang dimiliki Tuhan. Kita menyebut nama Tuhan tanpa hati yang mengenal seperti apa Tuhan. Orang yang kenal siapa Tuhan, dia tidak akan sembarangan menyebut nama ini. Karena dia tahu dibalik nama ini ada pengertian yang sangat dalam, yang menuntut segenap hormat untuk boleh disebutkan. Karena itu kita harus mengerti dulu waktu Alkitab menyatakan nama Tuhan, ini adalah nama yang Tuhan pakai untuk memperkenalkan diriNya sendiri. Tuhan memilih kata ini untuk menyatakan diriNya kepada manusia. Kata-kata apa yang dipakai dalam Alkitab?

Yang pertama ketika Tuhan menyatakan diriNya, Dia menyebut diriNya dengan Allah atau Elohim. Orang sering kali menyatakan kalau kita menyembah Allah yang ada di dalam Alkitab, kita harusnya tidak boleh memakai kata Allah, karena ini adalah kata yang dipakai oleh budaya lain, ini adalah kata yang dipakai oleh agama lain. Kalau kita mau kembali ke Alkitab, kita harus memakai kata Elohim. Tetapi yang tidak dimengerti oleh orang-orang ini adalah kata Elohim pun tadinya dipakai untuk allah yang bukan Allah yang sejati. Kata Elohim pun secara umum dinyatakan untuk menyebut kekuatan atau kuasa yang melampaui segala sesuatu. Lalu mengapa Tuhan pilih kata ini untuk menyatakan diriNya? Ketika Tuhan memilih kata untuk menyatakan diriNya, kata ini ditebus dari pengertian sebelumnya. Jangan terjebak dengan pengertian kata tanpa mengerti makna di baliknya. Orang mengatakan jangan sebut Allah, sebut Elohim, karena Elohim itulah Tuhan menyatakan diri, itu memakai Bahasa Ibrani. Tetapi di dalam Bahasa Yunani, Tuhan tidak paksa penulis-penulis Perjanjian Baru untuk pakai kata Elohim, mereka memakai Theos. Kata yang dipakai orang Yunani untuk menyebut dewa-dewa mereka. Lalu ada yang mengatakan “jangan pakai Allah, itu adalah nama dewa-dewa lalu dipakai untuk Allah kita”. Tuhan sengaja memakai kata yang sudah dipahami terlebih dahulu, lalu dikuduskan dan mengatakan “kata ini Aku untuk menyatakan namaKu” ini kata yang pertama, Elohim. Mengapa Tuhan memakai kata ini? karena kata ini mengandung pengertian pribadi yang paling tinggi, kekuataan yang paling dahsyat dan kuasa yang paling besar dari segala yang ada. Maka ketika Allah menyatakan diri, Dia mengatakan “Akulah Allah ini”.

Lalu di dalam Alkitab kata Elohim juga dipakai untuk memperkenalkan Allah dengan cara yang unik karena nama ini digabung dengan pengertian-pengertian yang lain. Salah satu yang sering kita dengar adalah “Allah yang Maha Kuasa”. Kata “Allah yang Maha Kuasa” atau Elshadai, ini sangat unik. Karena di dalam Alkitab ketika Tuhan mengatakan “Akulah Allah yang Maha Kuasa” selalu diikuti dengan janji yang memberikan berkat. Allah yang Maha Kuasa, lalu Dia adalah Allah yang akan memberikan berkat. Ketika Tuhan menyatakan diri kepada Abraham, Dia mengatakan “Akulah Allah yang Maha Kuasa, berdirilah dihadapanku dengan tidak bercacat dan Aku akan memberkati engkau dengan memberikan keturunan, memberikan tanah ini dan memberikan namamu menjadi besar”. Jadi Allah menyatakan diri sebagai Allah yang Maha Kuasa, lalu dikaitkan dengan memberi berkat. Kata Elshadai sangat banyak di Kitab Ayub, karena Ayub sedang bergumul apa yang Allah inginkan di dalam dirinya, apa yang Allah mau di dalam hidupnya, apa yang Allah mau di dalam penderitaannya. Lalu ketika dia menyebut Allah Maha Kuasa, dia tahu bahwa kata ini sering diparalelkan dengan Allah yang siap memberikan berkat. Ini hal yang unik, Allah yang Maha Kuasa menyatakan diriNya kepada manusia sebagai Allah yang senantiasa memberikan berkat. Jadi nama Tuhan adalah yang berkuasa, yang berotoritas dan yang senang memberikan berkat. Ketika kita mengatakan “oh, Allahku” kita mempunyai konsep ini, Dialah yang paling agung, Dialah yang paling berkuasa, tetapi Dia juga yang senantiasa memberikan kelimpahan berkat supaya manusia boleh menikmati apa yang Dia berikan kepada kita. Alkitab tidak menyatakan Allah sebagai Pribadi yang menyatakan kuasa, menyatakan kekuatan hanya di dalam penghakiman saja. Tuhan adalah Allah yang berkuasa menyatakan berkat kepada umatNya. Maka inilah cara Allah menyatakan diri, di dalam Kitab Kejadian Tuhan menyatakan DiriNya dengan Elshadai, lalu Abraham mengerti “Engkau adalah Allah yang akan memelihara hidupku, Engkau adalah Allah yang akan menggenapi janjiMu”. Apa yang Allah sudah janjikan pasti terjadi dalam kehidupan Abraham. Apa yang Allah nyatakan pasti akan menjadi genap karena Dia adalah Allah yang berkuasa. Kalau seseorang menjanjikan sesuatu, tapi dia tidak mempunyai kuasa untuk menjalankan, janji itu menjadi kosong. Atau kalau orang punya kuasa yang besar, tapi tidak berniat untuk memberikan sesuatu, maka tidak mungkin orang lain mendapatkan sesuatu. Kalau Allah adalah yang berkuasa tetapi Dia tidak suka menyatakan berkatNya maka kita akan hidup dengan cara yang sangat kasihan. Kalau Allah yang senang memberikan berkat, tapi Dia tidak punya kuasa, maka kita mengharapkan berkat tapi Allah tidak sanggup memberikan. Tetapi Alkitab mengatakan Allah adalah Allah yang Maha Kuasa, Allah yang kekuatanNya sangat dahsyat, dan karena itu Dia menyatakan pemeliharaanNya bagi banyak orang. Itu sebabnya banyak orang ketika menyelidiki kata Elshadai, apa maksudnya? Shadai dalam Ibrani artinya maha kuasa, kekuatan yang sangat besar yang siap menghakimi. Tetapi ketika mereka selidiki, Shadai juga berarti gunung, bisa juga berarti ibu yang memlihara anaknya dengan memberikan susu. Maka mereka melihat keseluruhan konsep Allah yang Maha Kuasa, ini sangat dalam maknanya. Ketika kita mengatakan “aku menyembah Tuhan” benarkah kita menyembah Tuhan dengan mengenal siapa Dia. Kalau Saudara mau kenal siapa Dia, nama Tuhan pun menyatakan kepada kita kelimpahan pengertian tentang siapa Dia. Kalau kita sembarang sebut “oh Tuhan, oh Allah” tapi kita tidak tahu apa yang dimaksudkan kata yang dalam yang dipakai Tuhan untuk menyatakan diriNya, maka kita sedang menyebut namaNya dengan sia-sia. Alkitab memperingatkan orang-orang “jangan mengatasnamakan Tuhan sembarangan bicara tentang Tuhan, jangan sembarangan ketika engkau berbicara kepada Allah”, mari kita belajar gentar kepada Allah. Kita sudah sering berdoa sehingga ketika berdoa tidak ada lagi perasaan gentar waktu berbicara dengan Tuhan. Tapi kita harus tahu Tuhan menyatakan diri sebagai Allah yang punya kuasa menghakimi, punya kuasa memberikan penghakiman kepada segala sesuatu, Dia adalah Allah yang harus disembah. Tetapi Alllah yang berkuasa ini adalah Allah yang menyatakan berkat dengan limpah. Dia menyatakan janjiNya, dan Dia menyatakan DiriNya sebagai yang berkuasa memelihara janji. Maka ketika Dia memanggil Abraham, Dia menyatakan kepada Abraham “ini Aku”, “siapakah Engkau?”, Elshadai, Allah yang berkuasa, Allah yang menghakimi, Allah yang bisa menghancurkan segala sesuatu tetapi juga adalah Allah yang kekuatanNya dipakai untuk menjalankan janjiNya memberikan berkat. Orang kalau mau menyatakan diri sebagai yang suka memberikan berkat akan memilih nama-nama yang enak, seperti “yang penuh kasih, yang penuh perhatian, sang maha pengasih, sang maha pembelai” misalnya, bukankah ini lebih cocok? Aku akan memberkati engkau maka Aku adalah yang sangat lembut, Aku Allah yang benar-benar lembut”, tetapi Allah menyatakan “Aku sanggup menghakimi, Aku yang punya segala kuasa, Aku yang tak tertandingi oleh siapa pun, dan Aku adalah yang ingin memberikan berkat” di sini kekuatan kita. Jangan terhibur oleh kalimat-kalimat kosong, jangan terhibur oleh konsep-konsep yang tidak ada artinya. Banyak kali orang Kristen terlalu senang dengan kalimat-kaimat yang enak di telinga, tapi kalau diselidiki tidak punya makna sama sekali. Kalau kita menjadi orang Kristen, biar kita menjadi orang Kristen yang punya pemikiran paling serius waktu mau kenal Tuhan. Waktu mau mengenal kebenaran pakai konsentrasi paling penuh untuk memahami Dia dengan segenap hati, dengan segenap pikiran dan dengan segenap kekuatan. Maka waktu kita merenungkan tentang Tuhan, “Tuhan, siapakah Engkau? mengapa Engkau menyatakan DiriMu sebagai Allah yang Maha Kuasa? Alkitab menyatakan apa yang harus kita pahami dengan nama ini adalah bahwa Dia sumber berkat, tetapi Dia yang berkuasa punya otoritas untuk menyatakan “Akulah yang Maha Kuasa, Akulah yang kuat, Akulah yang menghakimi”. Saudara kalau tidak punya kekuatan, Saudara mau membagi-bagikan berkat, Saudara bisa tahu bahwa Saudara akan diremehkan, Saudara akan dianggap sebagai sumber yang bisa diperas habis-habisan. Ini bukan Allah yang memberikan berkatNya secara murah, secara gampangan, tetapi ketika Saudara mendapatkan, Saudara harus tahu ini sesuatu yang Tuhan berikan tidak harus Tuhan berikan ke semua orang, dan tidak harus Tuhan berikan kepada Saudara sekalian.

Lalu nama Tuhan yang kedua, saya akan ambil beberapa nama yang Tuhan pakai untuk diriNya, yang populer, lebih banyak dipakai. Nama yang kedua adalah nama yang paling sering dianggap sebagai nama pribadi dari Allah sendiri yaitu TUHAN. Di dalam Alkitab pakai huruf besar semua TUHAN, di dalam bahasa asli itu adalah YAHWEH atau YEHOVA. Di dalam Bahasa Yunani memakai 4 huruf konsonan, maka sering diterjemahkan dalam huruf latin sebagai YHWH. Waktu ditulis di dalam konsonan, karena di dalam Alkitab Bahasa Ibrani, semua ditulis di dalam konsonan, tidak ada vokal, vokal ditambahkan belakangan. Maka waktu ditulis dalam YHWH, ini disebut sebagai kata yang menyatakan Allah sebagai Kepala Perjanjian. Ini menyatakan bahwa Allah adalah Yehova, Allah adalah YHWH, Allah adalah yang menyatakan diri sebagai penyebab dari segala yang ada. Waktu orang-orang sarjana Perjanjian Lama mencari tahu apa sebenarnya arti YHWH, apakah ada kata yang menjelaskan? Lalu mereka coba cari akar katanya, mereka coba cari padanannya, apa pengertiannya, maka mereka hanya bisa mendapatkan kata yang paling dekat yang mungkin menggambarkan pengertian tentang nama Tuhan, itu adalah Haya yang artinya menjadi. Ini artinya apa? Aku adalah yang akan menjadi atau apa? Maka kebanyakan ahli Perjanjian Lama menafsirkan nama Tuhan yaitu Yehova atau Yahweh itu mempunyai arti Aku adalah yang menjadikan segala sesuatu. Dia adalah yang membuat tidak ada menjadi ada, yang lain semua di luar Dia menjadi ada karena Dia. Dia adalah sumber keberadaan yang lain. Inilah yang dipahami ketika orang Yunani, ketika orang Israel berbahasa Yunani, di dalam zaman kira-kira abad ke-2 SM mau menerjemahkan Perjanjian Lama, waktu mereka mau menerjemahkan Perjanjian Lama, mereka bingung untuk menerjemahkan nama Tuhan ini harus pakai apa. Ketika Tuhan menyatakan diri sebagai yang memperkenalkan diriNya kepada Musa, Allah mengatakan “Aku adalah Aku” ini harus diterjemahkan apa? Lalu ketika mereka bergumul, mereka memutuskan untuk Tuhan, Yahweh harus pakai kata Kurios, menyatakan bahwa ini adalah Tuan yang berkuasa atas segala sesuatu, ini adalah Tuan yang paling tinggi otoritasNya dibandingkan segala sesuatu. Dan dalam Perjanjian Baru kata kurios juga dipakai untuk menyebut Yesus, Yesus Tuhan. Kalau kita mengerti hal ini, dalam budaya Israel kalau mereka berani pakai kata YHWH diterjemahkan sebagai Tuhan, lalu Yesus pun diberikan julukan sebagai Tuhan, kita mengerti bahwa mereka menyetarakan Yesus dengan Tuhan. Di dalam bahasa Yunani kata kurios bisa dipakai untuk menyebut raja, kaisar, tuan tanah. Tetapi kita tidak menganggap penulis Perjanjian Baru memakai kata Tuhan untuk menggambarkan tuan, tuan tanah, raja, kaisar, karena pada faktanya kata kurios itu dipakai untuk menerjemahkan Yahweh. Dan ini adalah nama yang dianggap sangat kudus, nama yang menjadi nama pribadi Allah. Kalau pakai kata Elohim bisa menjelaskan pribadi yang kuat, besar dan ini bisa dipakai orang-orang kafir untuk menamakan dewa-dewa mereka sendiri, untuk memanggil dewa-dewa mereka. Tetapi ketika orang Israel mengatakan Yahweh, maka ini adalah nama satu-satunya yang dianggap sebagai nama pribadi Allah, yang Dia nyatakan kepada bangsa Israel.

Lalu hal ketiga, nama Tuhan yang Tuhan nyatakan, Dia menyatakan diriNya sebagai Tuhan semesta alam, di dalam Bahasa Indonesia. Ini adalah terjemahan dari pengertian bahwa Allah adalah yang menguasai sekumpulan besar. Kata ini pun susah diterjemahkan, apa maksudnya Tuhan yang menguasai sekumpulan besar? Yahweh yang adalah Penguasa dari segala sesuatu, Sabaoth, Penguasa dari sekelompok besar. Lalu orang mulai menerjemahkan, mungkin sekelompok besar itu adalah ciptaan yang begitu banyak ini dikuasai oleh Dia. Tetapi kalau kita melihat Alkitab, kata Yahweh, Sabaoth, atau Tuhan semesta alam itu selalu dikenakan dengan sekumpulan orang Israel atau sekumpulan malaikat. Maka kata ini mempunyai pengertian bahwa Tuhan adalah pemimpin dari sekelompok pasukan yang sangat besar sehingga jumlahnya tidak bisa dihitung. Tuhan adalah Pemimpin dari pasukan besar bala tentara di sorga. Ini hal yang ketiga, Tuhan memperkenalkan diri sebagai Panglima dari bala tentara yang besar, Tuhan memperkenalkan diri sebagai yang mempunyai komando atas sepasukan yang tidak lagi bisa dihitung. Tuhan adalah Panglima dari sejumlah besar malaikat. Kalau Tuhan adalah Panglima bala tentara yang besar, siapa kita boleh sebut namaNya sembarangan?

Maka mari kita sebut nama Tuhan dengan perasaan hormat, kita menyatakan bahwa kita adalah orang yang mengenal sifat-sifat Tuhan yang dinyatakan dalam namaNya, dan kita berhati-hati ketika menggunakan nama ini. Berbicara kepada Tuhan atau berbicara atas nama Tuhan selalu harus dengan hati-hati diucapkan. Alkitab mengatakan “biarlah perkataanmu sedikit dari pada banyak kata-kata, lalu menunjukkan banyak ketidakhormatan kepada Tuhan”, inilah yang harus kita ingat.

Lalu nama terakhir yang saya mau ambil adalah nama yang sangat unik, nama yang ada dalam Perjanjian Baru dengan limpah, yaitu nama Allah sebagai Bapa. Allah disebut Bapa. Dia adalah Penguasa segala malaikat, Dia adalah Pencipta segala sesuatu, Dia punya kuasa yang lebih besar dari siapa pun, sekarang boleh kita sebut Bapa. Siapa Bapa kita? kita mengatakan “Bapaku ada di sorga”. Mengapa Dia boleh menjadi Bapa kita? Yesus Kristus mengatakan “karena kita di dalam Dia, maka kita pun boleh menyebut Dia sebagai Bapa. Dia adalah BapaKu dan Dia juga adalah Bapamu, Dia adalah AllahKu dan Dia juga adalah Allahmu. Aku akan pergi kepada Dia, AllahKu dan Allahmu, BapaKu dan Bapamu”. Yang boleh menyebut Dia Bapa hanya Yesus, karena Anak Allah hanya satu yaitu Yesus Kristus, tidak ada anak yang lain. Ketika Tuhan mengatakan “Israel adalah anak sulungKu” ini adalah kalimat nubuat bahwa karena Anak Allah yaitu Kristus, maka Israel boleh menjadi anak. Jadi mengapa kita boleh sebut Dia Bapa? Karena Kristus telah menebus kita, karena Kristus mengatakan “sekarang statusKu menjadi milikmu juga, statusKu sebagai Anak sekarang menjadi milikmu, statusKu menyebut Dia Bapa sekarang juga menjadi milikmu”. Maka kita menjadi anak karena adopsi, kita boleh menyebut Dia Bapa karena adopsi, karena kita diangkat. Kalau tidak diangkat, tidak punya hak untuk menyebut Dia Bapa. Maka sekarang kita punya Bapa di sorga. Waktu kita punya Bapa di sorga, Dia menjadi Bapa yang ideal, seluruh Bapa yang ada di bumi harus menyontoh kepada Dia. Maka jangan berpikir terbalik, kalau papa Saudara di dunia terlalu rusak hidupnya, jangan anggap Bapa di sorga sama dengan papa di dunia. Papa di dunia harus tunduk pada Bapa yang sejati di sorga. Sifat-sifat yang mulia, yang penuh hormat dan penuh kasih yang ada pada Bapa, itulah yang harus diadopsi oleh ayah di dunia. Maka konsep berpikir harus dibalik, Dia yang ideal kemudian kita menjadi turunanNya, kita mencontoh kepada Dia, jangan terapkan apa yang ada di dunia kepada Allah. Bapa di sorga adalah model sejati, karena itu kita harus tunduk kepada Dia. Kalau Saudara mengenal Bapa yang sejati di sorga, Saudara bisa punya kesempatan untuk menjadi bapa yanag belajar taat kepada Bapa yang sejati ini. Maka kita boleh menyebut Allah sebagai Bapa. Ini kalimat yang intim, anak menyebut papanya, bapa, itu ada perasaan intim yang dekat sekali. Demikian juga dengan kita, sekarang kita mempunyai relasi yang dekat dengan Allah, kita boleh menyebut Dia Bapa yang di sorga. Di dalam Doa Bapa Kami, Tuhan Yesus berkata “kalau engkau berdoa, katakanlah begini Bapa kami yang di sorga”. Sambil mengatakan Bapa, sambil ingat Dia ada di sorga, belum bersama dengan kita sekarang. Dia ada di sorga, kita di bumi, Dia tinggi, kita rendah, Dia mulia, kita hina, maka meskipun kita memanggilNya Bapa, perasaan hormat tetap ada. Tetapi Allah kita bukan Allah yang jauh, bukan Allah yang tidak mau berkait apa pun dengan kita, tetapi Dia adalah Bapa yang mengasihi anak-anakNya. Di dalam Alkitab menyatakan Allah mengatakan bahwa sampai putih rambutmu Aku tetaplah Dia yang akan menggendong engkau. Mengapa Allah mengatakan begini? Karena kalau orang lain punya berhala, waktu mereka akan lari karena diserang bangsa lain, mereka akan gendong patung berhala mereka. Tapi Tuhan mengatakan “Aku tidak perlu engkau pikul, Aku yang akan pikul engkau, Aku yang akan jadi Bapamu, Aku yang akan membuat engkau aman di dalam perlindunganKu”. Kalimat manis seperti ini mana mungkin tidak membuat kita merindukan Tuhan, mana mungkin tidak membuat kita makin kagum kepada Dia. Sekarang engkau boleh menyebut Dia Bapa dengan keintiman yang sangat dekat. Maka biarlah kita belajar menghormati Dia dalam segala hal, menghormati Dia dalam sikap kita, kata-kata kita, hidup kita yang tunduk kepada Tuhan, ini semua akan membuat kita orang Kristen yang sejati.

Allah menyatakan diri sebagai Pencipta, Allah menyatakan diri sebagai Penguasa dari malaikat yang begitu banyak. Allah menyatakan diri sebagai yang membuat engkau menjadi umatNya dan mengikat perjanjian dengan engkau. Allah menyatakan diri sebagai Bapa, sama seperti bapa yang memperhatikan anak, sama seperti bapa yang menganggap anaknya penting dan harus menjadi curahan cinta kasihnya, demikian Allah sekarang menganggap kita sebagai anak yang penting dan menjadi curahan cinta kasih Dia. Ini yang pertama, jadi waktu kita belajar hormat kepada Tuhan, mengerti kandungan nama di baliknya.

Lalu hal kedua, bagaimana kita bisa mengucap dengan hormat nama Tuhan? Kita harus ingat bahwa kita sedang memperkenalkan nama Tuhan dengan seluruh keberadaan kita. Saya memperkenalkan nama Tuhan bukan hanya dengan mulut, tapi juga dengan hidup. Saya memperkenalkan nama Tuhan bukan cuma menyebut Tuhan kepada Dia, tetapi hidupku jauh dari Dia. Manusia akan melihat Saudara antara kata-kata, hati dan perbuatan sinkron atau tidak. Cara kita menghormati Tuhan adalah dengan melekatkan nama Tuhan sebagai kata-kata yang keluar dari mulut dan dilekatkan di dalam hidup yang sungguh-sungguh mencerminkan orang yang mau taat kepada Tuhan. Saya tidak mengatakan kita semua harus sempurna, saya mengatakan kita semua harus mengejar untuk menjadi sempurna. Yohanes Calvin pernah mengatakan bahwa panggilan kita bukan untuk menjadi sempurna, tapi justru itulah mengapa kita harus berjuang karena sekarang kita belum sempurna, besok belum sempurna, nanti kalau Tuhan datang kedua kali, baru sempurna. Berarti sebelum Tuhan datang kita masih harus koreksi diri, masih harus perbaiki diri. Niat hidup seperti inilah yang membuat kita mengatakan “aku adalah umat Tuhan” dan nama Tuhan tidak sembarangan diucapkan. Nama Tuhan tidak dipermalukan, nama Tuhan tidak dibusukan oleh kehidupan kita yang busuk. Maka kita mengatakan kepada Tuhan “saya mau hari demi hari menjadi orang yang lebih baik”. Jonathan Edwards pernah berkhotbah di dalam bagian yang akan masuk dalam religious affections, Jonathan Edwards mengatakan “lihat Paulus, lihat orang-orang kudus dalam Perjanjian Baru, mereka lebih sibuk berusaha mentaati Tuhan dari pada sibuk mencari tahu mereka selamat atau tidak”. Ini dikatakan Jonathan Edwards setelah ada orang yang bertanya terus “saya ini sudah selamat belum? status saya bagaimana?”, Jonathan Edwards mengatakan “mengapa kamu tidak mencari tahu saya masih berdosa di mana, lalu coba perbaiki itu”. Status kita sebagai anak Allah sudah pasti ketika kita beriman kepada Tuhan, tetapi status itu menjadi awal kita bergumul tentang hal yang lebih penting lagi. Keselamatan Saudara tidak penting sepenting Saudara berusaha hidup suci. Keselamatan Saudara adalah modal awal untuk Saudara hidup suci. Keselamatan Saudara bukan tujuan akhir Tuhan memanggil Saudara. Keselamatan Saudara adalah starting point untuk Saudara boleh hidup bagi Tuhan. Dan keselamatan adalah kesempatan untuk memakai hidup kita sebagai hidup yang nama Tuhan boleh dilekatkan di dalamnya. Tuhan mengatakan “Aku memanggil Israel supaya namaKu boleh dilekatkan di umat ini. Aku memanggil engkau sebagai bangsa supaya namaKu boleh dinyatakan melalui umat ini”. Maka inilah yang membuat kita tidak menyebut nama Tuhan dengan sembarangan. Orang yang sembarangan berdosa, sebut nama Tuhan, dia melanggar hukum ketiga. Orang yang menyebut nama Tuhan tanpa mengerti betapa dalamnya pengertian nama Tuhan, dia melanggar hukum ketiga. Orang yang mengatakan berkat atas nama Tuhan, tapi tidak sungguh-sungguh orang itu mau diberkati, dia melanggar hukum ketiga.

Inilah mengenai hukum ketiga, kita sudah belajar mengenai 5 hal yang bisa dikaitkan dengan membusukkan nama Tuhan. Hal pertama, Saudara mengucapkan berkat tanpa berniat orang itu diberkati atas nama Tuhan, Saudara berdosa. Yang kedua, Saudara bersumpah atas nama Tuhan untuk hal-hal remeh, Saudara berdosa kepada Tuhan, apalagi bersumpah untuk hal bohong. Ketiga, Saudara berbicara tentang Tuhan tapi konsep tentang Tuhan salah semua, Saudara sedang berdosa kepada Tuhan. Yang keempat, Saudara menyebut nama Tuhan tanpa mengingat keagungan nama Dia, tanpa mengingat besarnya Dia, Saudara berdosa kepada Tuhan. Jangan tiru orang-orang agama lain, orang agama lain kaget pun sebut nama Tuhan. Jangan biasakan nama Tuhan keluar dari mulut dengan sembarangan seperti ini. Hal kelima, Saudara tidak menjalankan hidup yang sembarangan. Karena dengan menjalankan hidup yang sembarangan, Saudara mengidentikan diri Saudara dengan Kristus, lalu orang melihat Saudara akan menghina nama Tuhan dan nama Tuhan dibusukkan. Kiranya ini menjadi peringatan kembali supaya kita hidup makin setia kepada Tuhan