Anda disini : Home » Reformed Theology » 10 Hukum Taurat » Hukum Keempat : Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Hukum Keempat : Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat

Ev. Jimmy Pardede, M.A.

(Keluaran 20 : 8-11; 31: 12-17)

Perintah keempat adalah perintah yang sangat keras, karena Tuhan mengatakan “Hormati Hari Sabat, ingat dan kuduskan Hari Sabat”. Lalu dalam pasal 31 dikatakan “siapa yang melanggar harus dihukum mati. Dia harus dilenyapkan dari bangsanya dan dia harus dihukum mati” 3 kali diulangi. Jadi Saudara bisa tahu berapa beratnya penekanan Tuhan bagi peraturan yang keempat ini. Hormati Hari Sabat, jangan melakukan pekerjaan apa pun pada Hari Sabat, siapa yang melakukan pekerjaan pada Hari Sabat harus dihukum mati, dia harus dimusnahkan, dilenyapkan dari bangsanya. Lalu diulangi sekali lagi, harus dihukum mati. Mengapa Tuhan ancam dengan 3 kali peringatan keras ini? Mengapa melanggar Hari Sabat jadi begitu menyakiti hati Tuhan, sehingga siapa yang melanggar harus dilenyapkan dari bangsanya. Sebelum menjawab ini kita harus tahu dulu apa yang dimaksud dengan Sabat, mengapa harus ada Sabat? Dan di pasal 20:10 dikatakan bahwa hari ke-7 adalah Hari Sabat Tuhan. Kita harus mengerti mengapa Tuhan sangat keras dalam peraturan ini. Karena Hari Sabat adalah hari dimana Tuhan berhenti dari segala pekerjaanNya. Dalam Kitab Kejadian 1 di katakan Tuhan menciptakan segala sesuatu , dari hari pertama sampai hari keenam, Tuhan terus bekerja. Dan di dalam hari-hari itu Tuhan menciptakan seluruh ciptaan, dan di dalam hari-hari itu dikatakan “jadilah petang, jadilah pagi”. Jadilah petang, jadilah pagi itu hari pertama, jadilah petang jadilah pagi itulah hari kedua, dan seterusnya sampai hari ke-6. Tapi sampai hari ke-7 tidak ada lagi perkataan “jadilah petang dan jadilah pagi”, dan waktu masuk hari ke-7 Tuhan tidak melakukan pekerjaan penciptaan apa pun, tetapi memberkati ciptaan lalu mengatakan bahwa ini adalah hari di mana Dia beristirahat dari pekerjaanNya. Berarti Sabat itu adalah di mana Tuhan mengalami rest, beristirahat. Maksudnya ini adalah satu hari di mana Tuhan menikmati apa yang sudah Dia ciptakan. Ini adalah hari di mana Dia mengalami istirahat dan hari ini bukan hari yang sama dengan hari yang kita lalui sekarang. Hari pertama dan keenam dinyatakan dengan jelas “ini hari pertama, ini hari kedua, jadilah petang jadilah pagi”, hari ketujuh tidak ada penunjuk waktu seperti itu. Hari ketujuh bukan hari yang sama seperti ini, hari ketujuh Tuhan bukan hari yang sudah terjadi ribuan tahun yang lalu dan berhenti pada saat itu. Hari ketujuh adalah hari kekal di mana Tuhan beristirahat dari pekerjaanNya. Dan hari ketujuh adalah hari di mana Tuhan mengatakan bahwa manusia boleh masuk dalam istirahat yang sama. Berarti hari ketujuh adalah hari undangan dari Tuhan. Tuhan mengatakan kepada manusia setelah Dia menciptakan seluruh ciptaan dan memberkatinya, seolah-olah Dia mengatakan “mari hai manusia, mari berdiam bersama dengan Aku mengalami istirahat yang kekal, mari berdiam bersama Aku menikmati berkat yang kekal dan sempurna” inilah undangan Tuhan.

Tuhan menjadikan segala sesuatu lalu menciptakan manusia sebagai mahkota ciptaan, sebagai gambarNya yang akan menguasai seluruh ciptaan. Setelah itu Tuhan menyatakan Hari Sabat, ini merupakan suatu undangan dari Tuhan “mari hai manusia, masuklah di dalam istirahat ini, masuklah di dalam perhentian yang kekal bersama dengan Aku”. Berarti ini adalah hari di mana kita menikmati relasi dengan Tuhan yang sempurna, ini adalah hari di mana kita boleh bersama dengan Tuhan, memandang kemuliaanNya dan berhenti dari segala jerih lelah kita. Dalam Kitab Wahyu dikatakan bahwa bahagia adalah bagi orang yang mati. Orang yang mati di dalam Tuhan mulai saat ini, karena mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka. Maka Sabat identik dengan hari di mana kita boleh bersama dengan Tuhan dengan sempurna. Manusia tidak boleh sembarangan masuk Sabat, manusia harus diuji terlebih dahulu. Itu sebabnya setelah manusia dijadikan, Tuhan tidak langsung berkata “Adam, Hawa mari masuk di dalam Sabat”, mereka harus diuji dulu. Karena tidak ada seorang pun yang tidak suci boleh masuk di dalam Sabat Tuhan. Tidak seorang pun yang tidak beristirahat, tidak dalam keadaan yang benar, tidak dalam keadaan yang suci dan tidak dalam keadaan yang benar boleh masuk ke dalam Sabat Tuhan. Itu sebabnya Adam harus diuji, itu sebabnya ada pohon pengetahuan yang baik dan jahat.

Di dalam PA saya sudah membahas bahwa pengertian yang baik dan jahat bukanlah mengerti mana yang baik dan jahat, bukanlah mampu membedakan ini baik dan ini jahat, tetapi pengetahuan yang baik dan jahat adalah otoritas menentukan mana yang baik dan jahat. Pengetahuan ini bukan sembarangan pengetahuan, ini bukan sekedar tahu saja, tapi ini adalah otoritas sehingga orang yang mengetahui yang baik dan jahat boleh menentukan mana yang benar dan salah, siapa yang harus dihukum siapa harus diberikan anugerah, siapa yang boleh luput dari penghakiman dan siapa yang tidak. Ini adalah otoritas hakim dan otoritas raja. Jadi Tuhan meletakkan pohon yang baik dan jahat, menyatakan bahwa ini adalah ujian bagi manusia. Maukah engkau terus tunduk kepada otoritas Tuhan? Atau memilih untuk memiliki otoritas sendiri? Maukah engkau mengatakan yang Tuhan anggap baik, itu saya anggap baik, yang Tuhan anggap jahat itu saya anggap jahat, saya tidak mampu tentukan, saya tidak punya otoritas tentukan. Maka pohon ini menjadi ujian dan kalau Adam dan Hawa melewati ujian, baru mereka boleh masuk dalam Sabat Tuhan. Kalau manusia melewati ujian, barulah mereka boleh masuk dalam Sabat Tuhan. Tetapi Kitab Suci mengatakan Adam gagal, manusia jatuh dalam dosa, manusia memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat. Dan karena itu Tuhan usir mereka dari Taman Eden, mereka dijauhkan dari pohon kehidupan dan istirahat bersama Tuhan, belum terjadi pada waktu itu. Karena itu sejarah manusia terus berlanjut sampai Kristus datang memulihkan segala sesuatu.

Itu sebabnya hanya di dalam Kristus manusia boleh mengalami istirahat ini. Dalam Wahyu 13 dikatakan “bahagia bagi orang yang mati kalau dia mati di dalam Tuhan, karena dia boleh berjerih lelah dari pekerjaannya”. Maka hari dimana kita mati atau hari dimana Tuhan datang kembali adalah hari murka bagi orang tidak percaya, tapi itu adalah hari bahagia bagi orang yang percaya. Itu adalah the day of wrath bagi orang-orang yang tidak percaya, tetapi itu adalah the day of rest bagi orang-orang percaya, ini perbedaan yang sangat kontras. Adam gagal tapi Kristus berhasil. Adam gagal dalam ujian, Kristus membawa manusia lulus dari ujian ini, Kristus dengan sempurna menjalani hidup dan Dia mati di kayu salib menebus yang lain yang tidak sempurna, sehingga semua boleh disempurnakan dan boleh masuk di dalam Sabat Tuhan. Di dalam Kekristenan mula-mula mereka beribadah pada hari yang sama dengan orang Yahudi, dan mereka juga beribadah di Sinagoge, tempat yang sama dengan orang Yahudi. Lalu mereka memeritakan Mesias yang sudah datang, sedangkan orang Yahudi yang lain memberitakan Mesias yang akan datang. Maka terjadi konflik “mengapa kamu memberitakan Kristus yang sudah datang?”, lalu orang-orang Yahudi mengatakan “kami mempercayai bahwa Kristus masih akan datang, Dia belum datang”. Orang Kristen mengatakan “Dia sudah datang dan Dia sudah dipaku di kayu salib dan Dia bangkit”. Orang Yahudi marah “masakan Mesias kita mati di kayu salib. Mesias tidak menderita, Mesias tidak mungkin sengsara, Mesias tidak mungkin mengalami mati dengan cara terkutuk seperti itu. Tetapi orang Kristen membuktikan dari Kitab Suci, bahwa Kitab Suci Perjanjian Lama sudah berbicara bahwa Sang Mesias harus menderita. Tetapi perdebatan ini makin keras, dan posisi Yahudi yang lebih kuat dari pada orang Kristen mula-mula, mereka mengatakan “pisahkan dirimu dari kami, jangan beribadah di tempat kami karena kamu bidat, kamu sesat. Jangan beribadah di hari yang sama dengan kami, karena engkau menjalani ibadah dengan konsep yang berbeda dari kami. Akhirnya orang Kristen menyingkir dari sinagoge, dan mereka beribadah di rumah-rumah, mereka memilih hari Minggu untuk beribadah, tidak lagi hari Sabtu. Karena hari Minggu adalah hari dimana Kristus sudah bangkit. Yohanes Calvin dalam Institutio mengatakan orang Yahudi masuk dalam Hari Sabat terus menantikan hari yang akan datang itu, hari yang Tuhan janjikan dimana Dia akan mengirimkan Sang Mesias. Tapi orang Kristen, hari Minggu beribadah memperingati Kristus yang sudah datang dan sudah bangkit.

Maka Calvin dalam buku itu membuat sindiran, dia mengatakan “orang Yahudi beribadah dalam mimpi yang tidak akan terjadi. Orang Kristen beribadah di dalam memori atas apa yang sudah terjadi”. Minggu bukan Sabat, Minggu adalah hari di mana kita memperingati SabatNya Tuhan. SabatNya Tuhan adalah undangan dari Tuhan kepada manusia untuk masuk dalam istirahat yang abadi. Mitologi kuno mengatakan allah atau dewa-dewa menciptakan manusia rendahan untuk menjadi budak, atau yang kebetulan muncul dari bangkainya dewa, tapi Alkitab mengatakan Allah menciptakan manusia untuk mewakili Dia di bumi. Jadi manusia hanya bisa benar-benar bernilai kalau seluruh konsep Alkitab dipakai untuk memberikan pemahaman terhadap nilai manusia. Siapa manusia? gambar Allah, apa istimewanya manusia? wakil Allah, apa yang menjadi harapan manusia? boleh mengerjakan tugas, setelah tugas selesai boleh beristirahat di dalam Allah, ini menjadi harapan kita. Jadi kalau melihat seluruh gambaran besar desain Allah mengapa manusia diciptakan, Saudara harus mengerti hal ini. Kita diciptakan untuk bekerja, sama seperti Tuhan sudah bekerja. Manusia kerja sampai dia dipnggil Tuhan, dia boleh beristirahat dari jerih lelahnya. Manusia terbagi dalam 2 golongan, pertama adalah orang berdosa kalau sampai periode akhir dia mengalami the wrath of God, murka Allah. Tapi sebagian lain yang percaya pada periode akhir, dia mengalami the rest with God, beristirahat bersama dengan Allah. Ini perbedaan yang sangat beda, sangat bertolak belakang. Yang satu menghadapi hari ini dengan kengerian besar, yang satu lagi menantikan hari ini untuk bisa beristirahat dari jerih lelah. Maka yang menjadi pertanyaan adalah Saudara menantikan hari ini atau tidak? Saudara bekerja untuk mengharapkan suatu saat saya masuk hari ini atau tidak?

Dalam buku ketiga Institutio, Yohanes Calvin mengatakan setiap orang harus memeditasi kehidupan yang akan datang, harus merenungkan apa yang akan menjadi bagiannya dalam kehidupan yang akan datang. Saudara merenungkan ini sambil mengharapkan bahwa nanti bisa beristirahat dari jerih lelah. Tapi kalau selama hidup tidak pernah berjerih lelah, mau mengharapkan istirahat seperti apa? Itu sebabnya dikatakan “mari berjerih lelah” setelah berjerih lelah, Saudara boleh beristirahat. Manusia bergiat untuk mengharapkan Sabat, inilah pola yang Tuhan mau latih kepada Israel, karena itu Dia berikan hukum yang keras ini. Latihan pun hukumnya sangat keras, karena Sabat ini tidak boleh dimasuki oleh orang fasik, tidak boleh dimasuki oleh orang yang tidak mengerti, tidak boleh dimasuki oleh orang yang tidak beriman. Maka Tuhan mengatakan “yang tidak menghargai Sabat, singkirkan dari Israel, karena Israel menjadi gambaran dari orang yang akan mengalami istirahat dengan Allah”. Itu sebabnya ketika Saudara melihat Taurat, Saudara harus tahu Taurat menjadi suatu cerminan betapa Tuhan membenci dosa-dosa tertentu. Tetapi hukuman yang diterapkan dalam Taurat, tidak boleh lagi diterapkan dalam gereja. Peraturan Israel adalah peraturan hukum bangsa, sama seperti Undang-Undang Negara Indonesia, bolehkah negara kita menetapkan hukuman mati? Maka kalau negara menetapkan hukuman mati, boleh, tapi bolehkah gereja menetapkan hukuman mati? Sama sekali tidak boleh. Bolehkah organisasi massa menetapkan hukuman mati? Sama sekali tidak boleh. Sebelum dunia Perjanjian Baru, otoritas itu diberikan di dalam Israel, maka Israel boleh menetapkan hukuman mati karena mereka memiliki otoritas itu. Itu sebabnya cara kita memandang Alkitab harus hati-hati dalam menerapkannya. Dalam pengertian yang salah, kita akan menciptakan masyarakat yang akhirnya menghina kekristenan.

Tuhan mengatakan siapa yang tidak menghargai Sabat akan disingkirkan, ini menjadi simbol bahwa yang masuk dalam Sabat Tuhan tidak satu pun yang tidak percaya kepada Tuhan, tidak satu yang tidak sungguh-sungguh beriman. Dalam kehidupan kita bergereja ada yang sungguh-sungguh beriman ada yang tidak, ada yang sungguh-sungguh mengenal Tuhan ada yang tidak. Saya berharap, saya berdoa kepada Tuhan, seluruh Saudara yang hadir sudah sungguh-sungguh beriman kepada Dia, tapi saya tidak bisa menjamin itu. Maka saya mohon Saudara benar-benar belajar mengenal siapa Kristus, benar-benar beriman kepada Dia, karena saya sangat berharap saya bisa menikmati istirahat nanti bersama dengan Tuhan, bersama dengan seluruh Saudara sekalian. Tetapi di Alkitab dikatakan yang tidak beriman tidak bisa masuk, yang tidak beriman tidak menantikan the day of rest, tetapi menantikan the day of wrath, murka Tuhan. Maka di dalam Sabat sudah ada cerminan ini, yang tidak menghormati akan disingkirkan, yang tidak menghargai akan disingkirkan. Maka di dalam Kitab Taurat dikisahkan satu kali ada satu orang kumpulkan kayu bakar pada Hari Sabat, lalu ketahuan, maka dia dikurung di satu tempat. Lalu Musa bertanya kepada Tuhan “apa yang harus dilakukan kepada orang ini? Memang di dalam Taurat, Engkau mengatakan harus dimatikan, tetapi saya takut salah tafsir. Saya ingin memastikan apa yang harus dilakukan kepada dia”, lalu Tuhan berfirman “matikan dia, jangan kasihan kepada dia, singkirkan yang jahat dari tengah-tengahKu”. Maka orang itu dimatikan. Ini adalah satu contoh, di dalam Sabat Tuhan tidak ada orang fasik, di dalam Sabat Tuhan tidak ada orang tidak percaya. Tuhan mengatakan “hormati Hari Sabat, karena Hari Sabat adalah hari yang melatih spiritual kita untuk menantikan Hari Sabat yang sejati. Sabat menyatakan bahwa engkau akan berhenti dari semua jerih lelahmu. Ini yang menguatkan kita untuk melayani, ini yang menguatkan kita dalam hidup. Apa yang Saudara alami dalam hidup? Saudara mengalami sakit hati, kalau Saudara tidak mempunyai pengharapan Sabat, sakit hati Saudara akan mematikan Saudara. Saudara mengalami dikecewakan orang, kalau Saudara tidak mempunyai pengharapan Sabat, kecewa itu akan mematikan Saudara. Kalau Saudara dendam kepada orang, Saudara tidak mempunyai pengharapan Sabat, dendam itu akan mematikan Saudara. Semuahal yang sulit di dunia akan membuat Saudara masuk ke kubur dengan kesulitan. Tapi kalau Saudara menantikan Sabat, kesulitan apa pun memang sudah, tetapi Saudara mengatakan “suatu saat nanti saya akan berhenti mengalami kesulitan seperti ini, suatu saat nanti saya akan menikmati segala jerih lelah yang saya kerjakan”. Satu kali Petrus bertanya kepada Tuhan Yesus “Tuhan, kami sudah tinggalkan semua untuk mengikuti Engkau, apa yang akan kami dapatkan?”. Saya pikir kalau Petrus menanyakan hal itu, Tuhan akan marah, “apa yang akan kami dapat?”, “kamu mau dapat apa? memang kamu yang lebih keras kerjaNya dari saya” saya pikir Tuhan Yesus akan menjawab seperti itu. Ternyata Tuhan mengatakan “engkau akan diberikan berkali lipat dari bumi ini dan nanti akan mendapatkan kemuliaan upah di sorga. Waktu dikatakan “upahmu besar di sorga” inilah rest yang dimaksudkan. Makin kerja keras makin merindukan saat di mana bersama-sama dengan Tuhan. Saudara mengatakan “ketika saya harus beristirahat, inilah hari yang saya nantikan”. Ini bukan orang cinta mati, ini adalah orang yang giat bekerja. Calvin mengatakan dalam buku 3 Institutio, orang yang merindukan kehidupan yang akan datang bukan orang yang bosan dunia, bukan orang yang punya dead wish, bukan orang yang bunuh diri, tetapi ini adalah orang yang sudah sangat giat dan rindu menikmati hasil giatnya itu. Maka orang yang sudah melayani dengan giat, dia akan mempunyai pengharapan nanti bersama dengan Tuhan akan menikmati istirahat dari pekerjaannya, dari jerih lelahnya. Tetapi orang yang tidak kerjakan apa-apa pasti takut pergi ke sana, tidak mau pergi ke sana, karena masih menikmati apa yang diberikan dunia ini dan tidak pernah ber-labor dengan keras di sini. Mari kita belajar menghargai Sabat dengan harapan suatu saat nanti akan bersama dengan Tuhan.

Dan bagaimana pelatihan yang baik untuk mengharapkan Sabat yang sejati? Alkitab mengatakan “dengan menghormati Hari Sabat” inilah pelatihannya. Maka mari kita baca Keluaran 20:8 “ingatlah dan kuduskan Hari Sabat. Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu. Tetapi hari ketujuh adalah Hari Sabat Tuhan Allahmu”. Maka untuk melatih kita menantikan Sabat yang sejati nanti, kita diijinkan Tuhan untuk masuk Sabat demi Sabat setiap minggu, di mana kita bekerja dari hari pertama sampai keenam, kemudian kita menikmati relasi dengan Tuhan. Siapa yang tidak menikmati Hari Minggu sebagai relasi dengan Tuhan, akan sulit mengatakan “saya rindu bersama dengan Tuhan dalam Sabat yang kekal nanti”. Siapa yang hari demi hari terus kerja, ketika Hari Minggu mengatakan “saya mau bebas di Hari Minggu” tidak mungkin mempunyai pengharapan akan Sabat yang sejati. Maka ayat ini berguna bagi kita bukan supaya kita tidak dihukum, tapi sebagai pelatihan spiritual bagi kita. Kita menantikan Sabat yang sejati, mari kita nantikan dengan berlatih menantikan saat di mana kita boleh menikmati Tuhan. Inilah mengapa Hari Minggu kita beribadah kepada Tuhan. Saya bukan orang yang ketat, yang seperti orang-orang Farisi harus membuat daftar list kegiatan apa yang boleh dan tidak boleh di Hari Minggu. Ada orang Kristen yang mirip orang Yahudi, membuat daftar apa yang boleh dan apa yang tidak. Orang Yahudi kalau membuat daftar, panjangnya bukan main. Kalau Saudara baca sejarah Yahudi, orang-orang Yahudi waktu merumuskan peraturan, Saudara akan heran, mereka kumpul dan bisa berdebat mana yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan dalam Sabat. Bayangkan kalau hal ini diteruskan sekarang, “Hari Minggu boleh ngapain? Ke mall?”. Jadi Saudara tidak masuk dalam perdebatan seperti ini, tidak ada gunanya legalisme mana boleh dan mana yang tidak boleh, kalau hati Saudara tidak benar-benar lakukan. Orang yang menaati setiap poin dari Taurat tanpa hati melakukan, percuma, tidak ada faedahnya. Tetapi orang yang dengan hati mengatakan “ini aku rela lakukan untuk Tuhan” itulah orang yang akan bertumbuh di dalam iman yang sejati. Jadi pada Hari Minggu kita tidak membuat list. Tidak ada gunanya legalitas seperti ini kalau hati tidak benar-benar mau ikut. Tapi kalau Saudara merasa tidak sejahtera waktu melakukan ini Hari Sabat, silahkan berpegang pada keyakinan Saudara di hadapan Tuhan tanpa menghakimi orang lain yang melakukan sesuatu yang berbeda. Karena kita tidak tahu motivasi orang itu apa, ada yang setia menjalankan Sabat sepanjang hari tidak melakukan apa pun hanya dengan berserah kepada Tuhan, dia memiliki faedah yang sejati. Ada yang sepanjang hari tidak melakukan apa pun kecuali hal rohani tetapi hatinya tetap tidak tergerak dekat kepada Tuhan, ini pun percuma. Maka hal yang mau ditekankan pada peringatan hukum ke-4 adalah selalu ingat mengapa Saudara masuk dalam Hari Sabat yang sementara ini.

Biarlah kita ingat hari-hari yang lalu kita sudah bekerja, hari ini kita mau menikmati Tuhan. Dan Tuhan Yesus mengatakan di dalam Kitab Injil, Sabat diberikan untuk manusia. Karena Tuhan yang mempunyai Sabat, Tuhan mengatakan “mari manusia, tinggal bersama Aku di dalam Sabat”. Jadi Tuhan mau berikan ini sebagai hadiah. Lalu mengapa hukumnya begitu keras? karena Tuhan berikan ini hanya kepada orang yang sungguh-sungguh percaya, maka ini menjadi suatu kekuatan bagi kita yang sungguh-sungguh percaya. Mari kita belajar waktu mau masuk Hari Minggu, waktu mau beribadah kepada Tuhan, kita minta kepada Tuhan “Tuhan, berikan saya hati yang menantikan FirmanMu. Berikan saya hati yang menantikan bersekutu bersama saudara seiman, berikan saya hati yang menantikan saat boleh berdoa kepada Tuhan bersama-sama umat Tuhan”. Kalau Saudara tidak bisa menikmati kebaktian Hari Minggu sebagaimana seharusnya, Saudara minta kekuatan dari Tuhan. Orang yang tidak bisa menikmati ibadah, tidak terlatih untuk menantikan Sabat. Dan kalau tidak terlatih menantikan Sabat yang sejati, Saudara tidak terlatih untuk punya kekuatan dalam hidup. Saudara yang sudah alami mungkin mengerti apa yang saya maksud, kalau belum saya beri tahu dalam hidup akan banyak hal yang membuat Saudara mau hancur, banyak hal yang membuat Saudara seperti tidak bisa bertahan lagi, ada banyak hal yang membuat Saudara berkata kepada Tuhan “Tuhan, saya tidak punya kekuatan cukup untuk menghadapi apa yang Tuhan ijinkan saya hadapi”, tetapi orang yang mengerti Sabat akan mengatakan “meskipun saya tidak sanggup, meskipun sepanjang hidup saya hanya penuh dukacita dan segala sengsara, tapi saya tahu akhirnya nanti saya akan masuk dalam Sabat Tuhan”, ini hanya bisa diikuti ketika Saudara melatih diri di dalam Sabat sementara di dunia ini, Saudara menikmati segala yang ditawarkan di dalam ibadah. Mari berdoa supaya Saudara pun boleh menikmati semua hari-hari Minggu dimana kita boleh bertemu dengan Tuhan, sehingga kita menantikan kapan Sabat sejati boleh kita masuki.