Anda disini : Home » Latar Belakang Lagu » The Church’s One Foundation
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

The Church’s One Foundation

Lagu The Church’s One Foundation adalah sebuah lagu hymn yang diciptakan karena adanya desakan dari pengajaran sesat yang berkembang pada zaman itu. Pada tahun 1980, muncul sebuah karya yang sangat kontroversial karena mem-pertanyakan keakuratan sejarah Alkitab. Karya ini memicu seorang uskup Afrika Selatan yang bernama John William Colenso menuliskan sebuah buku yang isinya menolak bahwa Musa adalah penulis the Pentateuch, mengatakan bahwa tokoh Joshua hanyalah sebuah mitos, mengatakan bahwa Kitab Tawarikh hanyalah se-buah karya fiksi dan juga Ia meragukan akurasi akan kalimat Yesus mengenai Musa. Tulisan daripada Colenso sendiri akhirnya menuai pertentangan dari uskup yang lain yang bangkit untuk melawan dan menyatakan bahwa Colenso adalah bidat. Pertentangan ini menimbulkan perpecahan di dalam gereja di Afrika selatan hingga akhir hidup daripada Colenso. Di tengah pertikaian ini, seorang Uskup bernama Samuel John Stone memperhatikan suatu kondisi dimana jemaat mengucapkan pengakuan iman rasuli dengan sikap yang acuh tak acuh, mereka mengucapkan pengakuan ini tanpa pengertian yang jelas akan apa yang mereka ucapkan. Karena hal ini Stone membuat 12 hymn yang menjelaskan setiap bagian dari pada pengakuan Iman rasuli, dan salah satu dari kedua belas hymn tersebut ada lah lagu “The Church’s One Foundation” atau “Di Atas Satu Alas”. Di dalam konteks seperti ini, maka memahami bahwa lagu tersebut memiliki kedalaman theologis didalam teks lagu di setiap baitnya. Hymn ini terdiri dari 5 bait, di mana setiap baitnya mem-iliki prinsip-prinsip doktrin gereja yang kental.
Di bait pertama dijelaskan bahwa dasar daripada gereja adalah Yesus Kristus yang turun dari Surga lalu menebus akan gereja-Nya dengan mengorbankan diri-Nya, sehingga gereja adalah ciptaan yang baru melalui Firman dan air baptisan. Di bait ini kita dapat belajar bahwa dasar gereja bukanlah otoritas dari petinggi, bukan juga orang kaya, tetapi dasar gereja adalah Kristus yang sudah menebus kita. Ge-reja berdiri di tengah dunia dengan Kristus yang menjadi pusatnya. Gereja berada untuk menjalankan akan kehendak Allah bukan ambisi pribadi orang-orang terten-tu. Gereja berdiri untuk memberitakan Kristus bukan ajaran yang menyenangkan hati manusia. Oleh karena itu gereja hadir dengan satu tuntutan untuk memiliki kesetiaan kepada Kristus dan kebenaran.
Di dalam bait yang kedua, dijelaskan bagaimana gereja yang terdiri dari berbagai bangsa tetapi satu di dalam Kristus. Di dalam pengakuan iman rasuli kita mengucapkan “Gereja yang Kudus dan Am”. Kata ‘Am’ yang berarti gereja yang satu. Di dalam teologi reformed, kita mempelajari perbedaan antara gereja yang kelihatan dan yang tidak kelihatan. Gereja yang kelihatan adalah gereja lokal atau denominasi yang banyak tersebar di seluruh dunia. Tetapi gereja yang tidak kelihatan adalah gereja yang satu yaitu tubuh Kristus. Di dalam konteks gereja yang tidak kelihatan inilah kita memahami bait ke dua ini. Tuhan memiliki anggota gereja dari berbagai bangsa bahkan dari berbagai zaman. Tetapi perbedaan tempat dan waktu ini tidak menjadikan gereja terpecah atau terpisah, tetapi semuanya dipersatukan di dalam satu tubuh dengan Kristus sebagai kepala gereja. Di sini kita dapat belajar untuk melihat bahwa gereja berdiri bukan untuk gereja itu sendiri (sebagai salah satu denominasi) tetapi gereja berdiri untuk meninggikan Kristus sebagai kepala gereja dan menjalankan apa yang menjadi kehendak Allah demi Kemuliaan Allah.
Pada bait ketiga dan keempat digambarkan bagaimana di dalam perjalanan gereja di tengah-tengah dunia ini diwarnai dengan berbagai tantangan baik dari luar oleh pihak yang tidak menyukai gereja dengan segala bentuk penganiayaan terhadap gereja, maupun dari dalam gereja sendiri yaitu dari pihak-pihak yang ada-lah murid Kristus yang palsu atau pengkhianat dengan menyesatkan dan meme-cahkan gereja. Kondisi inilah yang seringkali kita jumpai di sejarah gereja maupun juga kisah-kisah yang terjadi pada zaman ini. Tantangan seperti ini akan menjadi kesulitan yang menjadi kesusahan bagi gereja yang sejati, tetapi dikatakan bahwa malam yang penuh dengan kesedihan akan diganti dengan Fajar yang penuh dengan pujian. Inilah penghiburan bagi gereja, Tuhan berjanji akan selalu menyer-tai dan memberikan kekuatan serta penghiburan. Di dalam waktu-Nya Tuhan akan menyatakan kuasanya dan gereja akan menang karena Allah penguasa seluruh alam semesta menyertai akan gereja-Nya dan pada akhirnya di dalam konsumasi, Gereja Tuhan akan bersukacita dan tenang dalam kedamaian bersama dengan Tu-han.
Pada bait kelima, dijelaskan bahwa gereja yang disatukan bersekutu dengan Allah Tritunggal dan juga seluruh jemmaat Tuhan yang telah menang dan diakhiri dengan satu harapan agar Tuhan membangkitkan dan menyatukan kita juga di dalam terang. Bait ini merupakan cicipan penggambaran daripada titik konsumasi, di mana dari seluruh perjalan-an gereja Tuhan yang penuh dengan dinamika dan tantangan, semuanya akan diakhiri dengan persatuan dalam Allah Tritunggal beserta dengan seluruh jemaat Tuhan yang juga sudah menang. Dari penggambaran ini ktia semua mendapatkan suatu pengharapan akan titik akhir dari segala perjuangan kita dalam kehidupan bergereja. Mungkin seringkali, kita menjumpai akan permasalahan-permasalahan yang sangat mennyedihkan hati dan membebani kehidupan kita dan membuat kita pernah berpikir untuk menyerah dan meninggalkan akan gereja Tuhan. Di dalam kondisi seperti ini, biarlah kita mengingat bahwa kita dipanggil Tuhan untuk bergereja bukan dengan bersandar kepada kekuatan kita sendiri tetapi bersandar kepada Kristus. Ingatlah juga bahwa segala perjuangan kita, jikalau kita perjuangkan dengan penuh ketaatan, kesetiaan dan kemurnian hati kita dihapan Tuhan, bukan suatu perjuangan yang tidak ber-pengharapan tetapi suatu perjuangan yang mengarah kepada satu titik konsumasi yang Tuhan sudah berikan.
Zaman dimana kita hidup saat ini adalah zaman dimana peranan gereja di tengah-tengah dunia ini sedang berada di ujung tanduk. Di satu sisi kita melihat bahwa secara tampak luar gereja berkembang, bahkan pergerakan lembaga-lembaga pelayanan non gereja pun berkembang, tetapi waktu kita menyelidiki dengan seksama mengenai fungsi daripada gereja maupun lembaga non-gereja ini maka kebanyakan yang akan kita jumpai adalah kondisi yang sangat menyedihkan. Prinsip-prinsip mengenai dasar maupun panggilan daripada gereja satu persatu mulai memudar bahkan banyak gereja maupun lembaga pelayanan yang sudah tidak lagi mencerminkan akan tugas dan panggilan gereja. Gereja kehilangan akan identitasnya dan menjadi serupa dengan lembaga sosial atau kemanusiaan yang didirikan oleh dunia, ajaran yang diberikan bukan lagi Firman Tuhan tetapi ajaran yang ‘ inspiratif ’ dan tidak jauh berbeda dengan ajaran para motivator. Tetapi di sisi lain kita melihat bahwa kehadiran gereja di tengah dunia ini semakin crucial, karena zaman ini adalah zaman yang semakin tersesat di dalam ajaran-ajaran yang kosong, banyak orang yang mencari akan makna hidup yang sejati yang dapat membawa mereka kepada kehidupan yang berarti dan sejati. Kehadiran gereja yang sejati seharusnya dapat membawa zaman ini untuk kembali kepada Allah, gereja menjadi pusat dimana kehendak Allah dinyatakan dan menjadi wadah di-mana kebenaran Allah berada. Maka melalui lagu hymn ini kita kembali diingatkan dan diajarkan akan tugas dan panggilan gereja. Biarlah lagu hymn ini menyadarkan dan kembali menggugah hati kita untuk menjadi umat Allah yang berkumpul di dalam gereja dan mengerjakan kembali tugas gereja yang sejati demi kemuliaan Allah dan memperluas kerajaan Allah.