Anda disini : Home » Latar Belakang Lagu » Ia Meneduhi Jiwaku ~ He Hideth My Soul
GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA - Bandung
 
 

Ia Meneduhi Jiwaku ~ He Hideth My Soul

Kegelisahan adalah fakta hidup manusia di dalam dunia ini. Ada orang-orang yang gelisah karena kesulitan ekonomi, ada juga yang lain gelisah karena tekanan sosial, dan yang lain lagi gelisah karena rusaknya relasi dengan sesama. Tetapi apakah benar bahwa itu semua adalah sumber permasalahan dari kegelisahan jiwa kita?
Firman Tuhan mengajarkan kepada kita bahwa sumber permasalahan dari kegelisahan yang melanda seluruh umat manusia sebenarnya adalah rusaknya relasi manusia dengan Allah. Kita diciptakan untuk berteduh di dalam naungan kasih Allah, namun kita memusuhi Allah dan berdosa melawan Dia. Dari rusaknya relasi dengan Allah inilah timbul segala kegelisahan-kegelisahan yang lain.
Marilah kita perhatikan hidup Tuhan Yesus. Ia hidup dalam keterbatasan ekonomi, dipandang hina secara sosial, dan dimusuhi oleh berbagai pihak: baik kaum Farisi, Herodes, Pilatus, bahkan oleh murid-Nya sendiri. Namun, di tengah segala kesesakan hidup tersebut, Tuhan Yesus sangatlah stabil dan penuh dengan damai sejahtera, karena Ia senantiasa berpaut kepada Bapa-Nya yang terkasih dan Ia selalu berteduh di dalam kasih Bapa-Nya. “Aku tinggal di dalam Bapa, dan Bapa di dalam Aku” (Yohanes 14:11). Apakah hati kita pun bisa mengalami perteduhan yang dialami oleh Yesus Kristus di dalam Bapa?
Lagu “Ia Meneduhi Jiwaku” yang diciptakan oleh Fanny Crosby merupakan pujian kepada Tuhan Yesus Kristus, yang disebut sebagai Juruselamat yang ajaib (A wonderful Saviour), karena Ia meneduhi jiwa kita ibarat batu karang yang besar dan kokoh. Ditengah perjalanan hidup kita yang diibaratkan sebagai perjalanan di gurun dunia, kita berteduh di bawah batu karang tersebut. Terlebih lagi, dari batu karang tersebut memancar air kehidupan, sehingga jiwa kita yang haus bisa mendapatkan kelegaan yang sungguh.

Kita hanya bisa mendapatkan kedamaian jiwa yang sejati di dalam Tuhan Yesus Kristus. Dengan pengorbanan-Nya di atas kayu salib, kita diperdamaikan dengan Allah. Bagi kita yang berteduh di dalam Kristus, Allah bukan lagi musuh kita, melainkan Bapa kita. Roh Kudus memampukan kita, di dalam segala pergumulan hidup kita yang berat, untuk berseru kepada Allah dan memanggil-Nya, “Bapa” (Roma 8:15)! Terlebih lagi, dengan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus, kita dimampukan untuk mengalami kesembuhan demi kesembuhan dari kerusakan natur kita di dalam dosa. Dari kebangkitan-Nya, air hidup itu memancar secara berlimpah, sampai kepada kekekalan!
Apa yang menjadi sumber penghiburan terbesar di dalam hidup Saudara? Kemapanan ekonomi, kuasa, atau kebijaksanaan kita sendiri? Itu semua bukanlah mata air hidup yang di dalamnya kita bisa mendapatkan sukacita dan kedamaian yang berkelimpahan. Itu semua bisa menjadi berhala yang menggantikan sumber sukacita kita yang sejati. Kembalilah kepada Yesus Kristus, Gembala jiwa yang Agung itu, yang memanggil hatimu untuk berbalik dan kembali berteduh di dalam Dia